Nepal Dilanda Kekacauan
27 Juni 2008
Perdana Menteri Koirala: "Saya ingin bebas dari rasa sakit dan beban yang diakibatkan oleh jabatan ini. Oleh sebab itu saya menyatakan pengunduran diri saya."
Patah semangat akibat perebutan kekuasaan dalam minggu-minggu belakangan ini Girija Prasad Koirala yang berusia 82 tahun tampil di depan sidang konstituante yang merupakan parlemen sementara Nepal. Kepada para anggota sidang itu Koirala mengimbau agar partai-partai Nepal hendaknya juga tetap bekerja sama di masa depan. Dikatakannya:
"Hanya dengan kekompakan kita memproklamirkan republik dan menyingkirkan raja dari istananya. Kalau kita menyimpang dari jalan ini, maka itu dapat membahayakan negeri kita, Nepal."
Di luar gedung parlemen, orang kuat Nepal, yaitu pemimpin kelompok maois, Prachanda, tampil di depan pers dan mengumumkan:
"Pembentukan pemerintahan baru dan pemilihan presiden pertama Nepal akan dituntaskan dalam hari-hari mendatang. Saat itulah pengunduran diri perdana menteri mulai berlaku secara formal."
Prachanda dapat menjadi perdana menteri baru, karena dalam pemilu untuk menentukan sidang konstituante bulan April lalu partainya merupakan yang terkuat. Beberapa hari lalu Partai Maois menarik menterinya dari pemerintahan sementara yang terdiri dari tujuh partai. Masalahnya mereka tidak puas dengan lambannya proses pemilihan pemerintah yang baru dan pemilihan presiden. Bagi Koirala ini merupakan pukulan besar.
Nepal seperti di persimpangan jalan. Pembentukan pemerintahan di republik termuda dunia itu berjalan lamban, warganya merasa jengkel. "Semua tambah mahal", keluh seorang perempuan yang dijumpai di jalan. Dikatakan selanjutnya:
"Untuk orang-orang miskin seperti saya, ini benar-benar menyakitkan. Tidak ada bensin, harga-harga bahan pangan terus naik."
Dalam setengah tahun harga beras naik 23 persen, gas untuk masak bahkan 30 persen lebih tinggi dari enam bulan sebelumnya. Ini bencana besar bagi sebuah negara termiskin di dunia, dimana sepertiga penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Begitu pula Jivan Thapa, seorang pemilik kios, merasa putus asa:
"Uang yang masuk tidak cukup untuk membiayai keluarga. Juga karena inflasi. Mereka yang kaya punya cukup uang untuk beli mobil sendiri. Tapi kami, bisa berbuat apa?"
Ibukota Nepal Kathmandu Kamis (26/06) lumpuh akibat pemogokan umum. Empat partai oposisi menyerukan kepada warga agar memprotes tingginya harga bahan bakar, yang baru saja dinaikkan sebanyak 25 persen oleh pemerintah.
Awal pekan ini perusahaan-perusahaan transportasi sudah melumpuhkan lalulintas di Nepal. Mereka mogok karena pemerintah melarang menaikkan tarif angkutan, padahal harga minyak di pasaran dunia juga terus naik. Setelah kekacauan selama dua hari, pemerintah Nepal mengalah dan mengijinkan kenaikan tarif angkutan sebesar 28 persen. Bagi Pramod, seorang pegawai negeri, itu merupakan skandal. Dikatakannya:
"Pemerintah terus menaikkan harga, tetapi gaji kami tidak. Ini sangat menyusahkan hidup kami." (dgl)