Neraca 100 Hari Pemerintah Jerman
4 Februari 2010
Harian Jerman Berliner Zeitung menulis:
Penilaian yang bisa diberikan tentang FDP di bawah pimpinan Guido Westerwelle setelah 100 hari ikut dalam koalisi pemerintahan kurang lebih begini: Mereka tidak bisa memerintah. Mereka tidak mampu menjalankan pemerintahan. Dengan melibatkan FDP, Angela Merkel telah menyertakan sebuah tim yang kacau dan tidak bisa diperhitungkan ke dalam kabinet. Mitra koalisi yang kecil ini tidak tahu apa yang ingin dilakukannya. Hampir segala hal kini dijalankan berbeda dari yang dijanjikan sebelum pemilu. Merkel memerintah dengan orang-orang yang masih berada dalam masa pubertas politik. Jika mereka tidak cepat dewasa, kita masih akan mengalami 1360 hari-hari yang berat, dengan banyak teriakan dan keputusan yang salah.
Harian Jerman lainnya, Frankfurter Rundschau, berkomentar:
Setelah merebut lebih 14 persen suara dalam pemilu, FDP tiba-tiba harus memenuhi harapan-harapan yang lebih besar. Dan mereka kewalahan. Mereka hanya melaksanakan politik yang menguntungkan kelompok pendukungnya. FDP melewatkan sebuah peluang baik untuk menarik perhatian kelompok-kelompok yang lebih luas. Kubu liberal demokrat juga harus berhadapan dengan mitranya Unikristen, yang sama sekali tidak mau dipandang sebagai hantu neoliberalisme, sebagaimana dituduhkan kalangan oposisi sebelum pemilu.
Tema lain yang jadi sorotan pers adalah hubungan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Awal minggu ini, Gedung Putih mengumumkan bahwa Barack Obama tidak akan menghadiri pertemuan puncak Uni Eropa – Amerika Serikat yang akan dilangsungkan bulan Mei mendatang di Madrid, Spanyol. Pada saat yang sama diumumkan, Obama akan berkunjung ke Indonesia dan Australia. Bagi Amerika Serikat, Uni Eropa jadi makin tidak penting, demikian penilaian harian Austria die Presse. Selanjutnya harian ini menulis:
Keputusan Obama untuk tidak menghadiri pertemuan puncak UE-AS pada musim semi mendatang di Spanyol mungkin membuat banyak orang Eropa tersinggung. Tapi dari sudut pandang Obama, yang tengah menghadapi tekanan kuat di dalam negeri, keputusan ini bisa dimengerti. Kunjungan ke Madrid tidak akan membawa banyak hasil selain foto-foto yang bagus. Bagi Obama, ikut serta dalam pertemuan puncak itu sama saja dengan buang waktu. Bagi Uni Eropa, pembatalan ini adalah sebuah tamparan. Dengan jelas ditunjukkan pada pimpinan dan publik Eropa, posisi mana yang mereka tempati dalam hierarki prioritas internasional Obama, yaitu bahwa mereka tidak penting. Presiden Amerika Serikat memusatkan perhatiannya pada bagian lain dunia, misalnya ke Asia.
Harian Perancis Le Monde berkomentar:
Setahun yang lalu, masuknya Obama ke Gedung Putih dirayakan di Eropa. Banyak pihak mengharapkan perbaikan hubungan transatlantik. Sekarang, banyak yang kecewa. Paris, Madrid dan Berlin merasa diremehkan. Tapi Eropa salah sendiri. Perjanjian Lisabon tadinya dimaksudkan memberi profil luar negeri yang lebih tajam. Tapi hal itu tidak terlihat sampai sekarang. Eropa harus menyadari, ia bukan mitra strategis yang penting bagi AS. Eropa harus belajar dari kenyataan itu, jika tidak ingin makin tersisihkan.
HP/EK/dpa/afp