1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Neraca Kepemimpinan Jerman di Dewan Eropa

3 Juli 2007

Awal 2007 para pakar menumpukan harapan yang besar ketika Jerman mengawali tugasnya memimpin Dewan Eropa. Bagaimana penilaian para pakar dan Kanselir Jerman sendiri mengenai kepemimpinannya di Uni Eropa?

Deutschland EU Symbolbild EU-Ratspräsidentschaft
Foto: AP

Kini enam bulan telah berlalu dan mulai tanggal 1 Juli 2007, Angela Merkel menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada PM Portugal José Sócrates. Kemana arah dan apa yang akan dicapai Uni Eropa sampai akhir tahun ini, dengan Portugal sebagai Ketua Dewan Eropa masih harus ditunggu. Angela Merkel tidak akan melupakan penampilannya di depan parlemen Eropa di Brussel, satu hari menjelang dimulainya KTT Uni Eropa. Tanggal 20 Juni malam itu terjadi gangguan teknik di ruang sidang, pengeras suara tidak berfungsi dan Kanselir Merkel harus berkali-kali mengulang dari awal, sebelum akhirnya ia dengan lancar dapat menyampaikan neraca periode kepemimpinan Jerman di Dewan Eropa.

Orang harus sedikit bersabar di Eropa, demikian kata Ketua Parlemen Eropa Hans Gert Pöttering, sehubungan usaha mengatasi gangguan teknis tersebut. Merkel juga harus bersabar menghadapi suara-suara sumbang yang mewarnai jalannya KTT, namun akhirnya ia berhasil membawa para pimpinan politik negara Uni Eropa menyepakati reformasi perjanjian baru organisasi tersebut. Perjanjian baru yang menggantikan istilah konstitusi dan memberi keistimewaan bagi Inggris dan Polandia. Di akhir periode kepemimpinan Jerman, ke-27 anggota Uni Eropa kurang menunjukkan gambaran yang baik. Demikian kritik yang disampaikan anggota parlemen Eropa dari Partai Hijau Cem Özdemir:

„Sebuah perhimpunan yang anggotanya saling mempercayai dan memiliki satu tujuan, penampilannya tentu berbeda. Situasi sekarang mengingatkan akan sebuah pasangan yang berada di ambang perceraian. Jika orang memandang sikap Inggris dan Polandia, maka akan timbul pertanyaan besar, bagaimana kelanjutannya di masa depan.”

Sementara Beate Kohler-Koch pakar Eropa dari Universitas Mannheim yakin hasil kepemimpinan Jerman dan hasil akhir KTT Uni Eropa baik, hanya caranya bernegosiasi, sebaiknya dipertimbangkan kembali untuk ke depan. Pakar politik dari Universitas Köln Wolfgang Wessels juga berpendapat hasilnya lebih dari yang diharapkan. Tapi dalam perjanjian dasar terjadi kemunduran jika dibandingkan dengan usulan konstitusi. Dengan kompromi dan pengecualian, tranparansi yang sudah kurang selama ini akan hilang sama sekali. Demikian dikatakan Wessels.

Suara yang sumbang di dalam Uni Eropa juga membuat cemas pakar politik Universitas Münster Wichard Woyke. Ia memprediksi akan terjadinya putaran perundingan yang lebih keras. Misalnya untuk menetapkan anggaran belanja Uni Eropa untuk periode mulai tahun 2013. Menurut Woyke, sistem mayoritas yang diputuskan sekarang baru akan berlaku 10 tahun ke depan. Sebelum itu terjadi, masih akan berlangsung diskusi keras dan alot dalam masalah keuangan. Hal yang lebih jelas tampak di bidang kerjasama dalam negeri dan kehakiman, karena masing-masing anggota dapat memutuskan apakah mereka akan ikut di dalamnya atau tidak. Hal ini menunjukkan ada kecepatan yang berbeda di dalam Uni Eropa.

Tanggapan Angela Merkel tentang hal tersebut disampaikannya dalam sebuah wawancara dengan televisi Deutsche Welle- DW TV

„Dengan perjanjian baru ini di Uni Eropa terdapat situasi, dimana parlemen Eropa memiliki hak yang sama atau hampir sama dalam mengeluarkan undang-undang di samping Dewan Eropa. Hak untuk mengajukan usulan dimiliki Komisi Eropa, dan sekarang orang harus membayangkan, dalam komisi terdapat 27 Komisaris, yang dikirimkan setiap negara. Dalam Parlemen Eropa terdapat wakil dari semua negara anggota. Dengan landasan perjanjian, kami dapat menyepakati hal-hal yang tidak harus langsung diikuti semua negara. Misalnya dalam pemberlakuan mata uang Euro misalnya. Dalam politik dalam negeri dan hukum, di masa depan juga akan selalu ada kemungkinan diinjaknya rem oleh negara yang tidak mau ikut ambil bagian. Tapi itu tidak akan menyebabkan Uni Eropa dalam kelompok-kelompok melakukan hal lain di luar dasar-dasar perjanjian, karena itu akan berarti mengabaikan pengawasan parlemen dalam melakukan referendum. Saya tentunya tidak dapat menyuruh separuh anggota parlemen ke luar, karena mereka bukan termasuk kelompok negara yang ingin melakukan suatu hal secara bersama. Artinya kami butuh landasan perjanjian bersama. Dan jika misalnya kami ingin memberikan suara bersama, kami juga harus tahu, bagaimana aturan mainnya, tidak dapat dibentuk dua kelompok negara yang melakukannya secara berbeda. Jadi Uni Eropa dengan dua kecepatan dapat saja terjadi dalam beberapa bidang, tapi itu bukan penyelesaian untuk masalah bagaimana perkembangan Uni Eropa selanjutnya. Dan untuk mengatasi perlindungan iklim, putaran perdagangan dunia, mewakili kepentingan Eropa, melindungi hak cipta di dunia, semua itu hanya dapat dilakukan Uni Eropa secara bersama, dan bukan Uni Eropa dengan dua kecepatan.“

Demikian Angela Merkel dalam wawancara dengan Deutsche Welle. Selama memimpin Dewan Eropa Angela Merkel menjadi pusat perhatian. Ia disambut seperti Miss World, kemampuan melobbyna dipuji baik di dalam negeri maupun di lingkup internasional. Apakah Merkel juga merasa puas?

„Saya pribadi juga merasa sangat puas, karena saya dapat memperoleh pengalaman dalam semua perundingan itu, dimana kami selalu bertemu kembali dengan teman, mitra dan pendukung. Anda tidak akan dapat melakukan apa pun sendirian apakah itu dalam kelompok G-Delapan atau di Uni Eropa dengan 27 anggotanya. Jika yang lainnya juga tidak yakin bahwa sudah tepat waktunya untuk memutuskan sesuatu, maka orang akan berdiri seorang diri. Saya tidak pernah melakukannya, dan itulah sebenarnya inti dari pengalaman yang baik ini. Uni Eropa dan G-8 mengerti bahwa banyak pergerakan yang terjadi di dunia dan jika kami ingin mewujudkan keinginan, jika kami ingin menjadi pionir di berbagai bidang, maka kami harus tampil terpadu. Dan kenangan ini akan tetap abadi, karena dari situ juga dapat dihimpun kekuatan untuk menyelesaikan masalah yang baru.“

Dari agenda acara raksasa, menghidupkan kembali reformasi konstitusi Eropa, perlindungan iklim, bantuan untuk Afrika, apakah ada tema-tema dimana Angela Merkel terlalu banyak memberikan janji, dimana ia masih ingin mencapai hasil yang lebih baik?

„Sebenarnya kami di pihak Eropa misalnya dalam kelompok G-8 juga memiliki sasaran yang ambisius. Tapi masalah utama saya sekarang bukanlah mengatakan apakah saya pribadi terlalu banyak berjanji dan lainnya menganggap kurang atau dari pandangan lainnya lebih. Pokok utama yang sangat memuaskan saya, adalah bahwa orang datang dari posisi yang sangat berbeda, tapi dengan pertemuan pribadi, yang misalnya tidak mungkin dilakukan lewat konferensi video, apakah itu tentang hasil dalam Dewan Eropa ataupun hasil KTT G-8, dengan pertemuan pribadi tercipta suatu iklim di mana orang berkata, walaupun kami memiliki pendapat yang berbeda kami harus bersama-sama mencapai suatu hal. Masing-masing harus melakukan kompromi, dan sesudahnya saya tidak menggerutu, apa yang seharus saya korbankan apa yang tidak. Secara keseluruhan kami maju selangkah, dan itulah yang berharga bagi saya.“

Itulah yang disampaikan Angela Merkel dalam wawancaranya dengan Deutsche Welle sebagai neraca kepemimpinan Jerman pada Dewan Eropa.