1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Neraca Politik Luar Negeri Jerman Selama Memimpin UE

28 Juni 2007

Prestasi kerja pemerintah Jerman selama 6 bulan terakhir membawa Eropa melangkah ke depan. Hanya dalam beberapa hal tidak banyak yang berhasil dipacu.

Menlu Steinmeier menarik neraca kepemimpinan Jerman
Menlu Steinmeier menarik neraca kepemimpinan JermanFoto: AP

Belum pernah para tokoh pemerintahan rela mengorbankan sedemikian banyak waktu tidurnya, demikian kelakar Menlu Frank Walter Steinmeier saat mempresentasikan kesimpulan dari neraca kepeminpinan Jerman. Tetapi menurut dia, maraton pertemuan, KTT dan konferensi-konferensi lain yang dipimpin Jerman membawa hasil: "Saya yakin, dalam enam bulan ini citra Jerman bertambah, bukan hanya di Eropa. Dan kita telah memberikan kontribusi, sehingga dalam enam bulan ini ada kemajuan bagi Eropa."

Steinmeier memuji hasil KTT terakhir yang mencegah Eropa jatuh ke jaman satu generasi sebelumnya. Perdebatan alot mengenai masa depan konstitusi UE dapat diselesaikan. Tetapi tema-tema lainnya masih tetap sarat konflik. Misalnya hubungan yang sulit dengan Polandia. Halaman depan sebuah majalah mingguan Polandia yang menggambarkan bersaudara kembar Kaczynski menyusu pada Merkel dikomentari Menlu Steinmeier sbb: "Karikatur itu kampungan, tak bermutu. Sedangkan tuduhan politiknya –dari mana pun datangnya– tidak dapat dibenarkan."

Masalah lain yang tidak terpecahkan adalah Timur Tengah. Kuartet Timur Tengah memang aktif kembali, tetapi situasi di Palestina bertambah buruk dengan terjadinya adu kekuatan antara Fatah dan Hamas: "Saat ini faktanya Palestina terbagi dua antara Tepi Barat Yordan dan Jalur Gaza. Ini tidak boleh menjadi perspektif bagi Palestina."

Untuk jangka panjang UE harus berpegang pada penyelesaian dua negara dan untuk waktu dekat harus diperhatikan pelayanan kebutuhan sehari-hari di Jalur Gaza. Demikian pula dalam soal hubungan antara UE dan Rusia, Menlu Steinmeier tidak dapat melaporkan kemajuan. Perundingan untuk membuat perjanjian kerjasama yang baru, masih tetap belum dimulai, karena sengketa antara Polandia dan Rusia menyangkut pasokan daging masih tetap merupakan perintang utama.
Dan tetap belum jelas pula masa depan Provinsi Kosovo yang saat ini masih menjadi bahasan dalam Dewan Keamanan PBB. Menlu Steinmeier menganggap resolusi PBB mengenai Kosovo tetap diperlukan, walaupun Rusia masih tetap tidak memperlihatkan kesediaan untuk berkompromi: "Karena kehadiran Eropa di Kosovo dalam wujud tentara dan polisi memerlukan landasan hukum yang pasti. Dan menurut saya yang memungkinkannya hanyalah resolusi Dewan Keamanan."

Walaupun dalam enam bulan terakhir ini memang tidak semua masalah politik luar negeri dapat terselesaikan, Menlu Steinmeier nampak puas dengan tanggapan positif dunia internasional atas masa kepemimpinan Jerman dalam UE.