Netanyahu Ingin Menangkan Pemilu Lewat Program Vaksinasi
7 Januari 2021
PM Israel Benjamin Netanyahu mempercepat program vaksinasi nasional jelang pemilu Maret mendatang. Keberhasilan Israel mengakhiri pandemi lebih dini akan menentukan masa depan politisi yang dijerat kasus korupsi itu.
PM Israel, Benjamin Netanyahu, saat menerima dosis pertama vaksin corona buatan Pfizer-BioNTech, 19 Desember 2020.Foto: Amir Cohen/REUTERS
Iklan
Bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, imunisasi kilat yang berhasil dilakukan Israel dalam dua pekan terakhir masih kurang cepat. Jelang pemilihan umum Maret mendatang, dia menjadikan program vaksinasi nasional sebagai batu loncatan mengamankan jabatannya.
Bersamaan dengan kedatangan vaksin virus corona, Netanyahu secara agresif mengkampanyekan keberhasilan pemerintahannya membawa Israel keluar dari pandemi. Analis meyakini, dia bertaruh pada program imunisasi massal dan stimulus ekonomi untuk memenangkan pemilu.
Sejak menjadi warga Israel pertama yang divaksin dalam sebuah seremoni meriah di televisi dua pekan lalu, kantor perdana menteri Israel giat memublikasikan serangkaian pernyataan, twit atau video, di mana Netanyahu mengklaim diri bertanggung jawab bahwa vaksin corona mulai tersedia untuk khalayak umum.
"Saya yang membawa vaksin ini, dan Anda yang menyuntikannya,” kata dia kepada petugas kesehatan di sebuah klinik di utara Israel. "Seluruh dunia kagum terhadap Israel. Mereka menulis bahwa Israel adalah sebuah keajaiban.”
Vaksinasi massal sebagai ladang elektoral
Negeri Yahudi itu sejauh ini tergolong sukses menjalankan imunisasi massal. Dalam hanya dua pekan, sudah sebanyak 1,4 juta warga yang mendapat vaksin buatan BioNTech-Pfizzer. Angka tersebut mewakili 15 persen populasi, dan tercatat paling tinggi di dunia menurut hitungan per kapita, seperti yang dihimpun Our World in Data dengan membandingkan data statistik per negara.
Iklan
Hingga akhir Maret, pemerintah Israel berambisi menuntaskan program vaksin bagi mayoritas penduduk, bertepatan dengan jadwal pemilihan umum.
Associated Press melaporkan, Netanyahu secara pribadi menerima gelombang pertama pengiriman vaksin di bandar udara. Dia juga tampil menyambut warga ke-500.000 dan kesejuta yang mengantre untuk divaksin. Kedua acara disiarkan langsung di televisi nasional dan YouTube.
PM Benjamin Netanyahu, saat menerima pengiriman pertama vaksin Pfizer-BioNTech di Tel Aviv, 9 Desember 2020.Foto: Abir Sultan/REUTERS
Pemimpin Partai Likud itu juga gemar mengisahkan persahabatannya dengan direktur eksekutif Pfizer dan Moderna.
"Saya berbicara dengan mereka setiap waktu,” kata dia, mengesankan betapa koneksi pribadinya itu membantu Israel memperoleh jutaan dosis vaksin yang masih langka.
Kultus individu picu perpecahan
Strategi kampanye Netanyahu yang menitikberatkan pada pencitraan diri turut menumbuhkan sikap antipati di partai sendiri. Gideon Saar, salah seorang figur kunci di Partai Likud, membelot bulan lalu dan menuduh perdana menteri itu menggunakan partai sebagai alat pribadi untuk menghadapi dakwaan hukum di pengadilan.
Pernyataannya itu serupa dengan komentar Zeev Elki, bekas penasehat dekat Netanyahu, yang lalu menyebrang ke kubu Saar. Dia mencibir laku sang perdana menteri sudah "menghancurkan Partai Likud.”
"Tuan Perdana Menteri, Anda membawa atmosfer kultus individu, praktik menjilat, serta rasa takut mengritik dan keberpihakan hukum.”
Proses hukum terhadap Netanyahu berpusara pada dugaan korupsi. Dia dituduh bersekongkol dengan pemilik media demi pemberitaan yang positif. Butir dakwaan teranyar mencantumkan 150 insiden, di mana Netanyahu tercatat mengintervensi pemberitaan di media.
Bekas serdadu elit Israel itu menuduh rival politiknya digerakkan oleh rasa pahit dan kebencian terhadapnya. Dia mengatakan, sementara mereka fokus pada politik, dia menjalankan "operasi imunisasi raksasa” yang akan menjadikan Israel sebagai negara pertama yang mengalahkan pandemi corona.
rzn/pkp (ap, haaretz, jpost)
Tiga Skandal Mengancam Nasib Netanyahu
Tanpa oposisi kuat di dalam negeri, PM Israel Benyamin Netanyahu seharusnya bisa merasa jumawa. Namun karirnya kini berada di ujung tanduk menyusul skandal korupsi yang melibatkan orang-orang terdekatnya.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Lane
Tiga Menohok Netanyahu
Sejumlah skandal pernah menerpa orang nomor satu di Israel ini. Tapi karir politik Benjamin Netanyahu tidak pernah menyurut. Terutama ketika kelompok oposisi melemah dan Donald Trump menduduki Gedung Putih, Sang Perdana Menteri sepantasnya merasa tak tersentuh. Namun tiga kasus dugaan korupsi kini mengancam menamatkan karirnya.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Lane
Perhiasan buat Sara
Skandal pertama yang membelit Netanyahu melibatkan hadiah bernilai tinggi yang ia dapat dari Arnon Milchan, taipan Yahudi yang memiliki bisnis hiburan di Amerika Serikat. Polisi meyakini Milchan memberikan beragam hadiah bernilai hingga 180.000 Dollar AS, termasuk di antaranya cerutu, champagne dan perhiasan buat sang Isteri, Sara.
Foto: picture-alliance/dpa/A. Sultan
Kepentingan Bisnis Konglomerat Hiburan
Dugaan korupsi dilayangkan karena Milchan pada saat itu memiliki stasiun televisi Israel Channel 10 yang membutuhkan bantuan dana dari pemerintah untuk bertahan hidup. Polisi sedang menyidik apakah kepentingan bisnis Milchan berkaitan dengan pemberian hadiah bernilai mahal tersebut.
Foto: Ben Horton/Getty Images for Magnolia Pictures
Bola Panas Mozes
Skandal kedua melibatkan konglomerat lain, Arnon Mozes, pemilik koran beroplah terbesar kedua di Israel, Yedioth Achronoth. Meski awalnya bermusuhan secara politis, Netanyahu kemudian bersedia membantu Mozes menggembosi oplah Israel Today yang merupakan pesaing terbesar Yedioth Achronoth. Sebagai imbalannya Mozes menjanjikan dukungan lewat harian miliknya tersebut.
Foto: Reuters/G. Tibbon
Pengkhianatan Teman Lama
Rekaman percakapan antara Mozes dan Netanyahu jatuh ke tangan kepolisian secara tidak sengaja, ketika penyidik sedang menginvestigasi kasus lain. Kebocoran itu menjadi petaka buat Netanyahu karena Sheldon Adelson, pemilik harian Israel Today, banyak membiayai kampanye Netanyahu sebelum menjadi perdana menteri. Sheldon lantas terang-terangan mengaku "kecewa" terhadap bekas anak didiknya itu.
Foto: Getty Images/W. McNamee
Kapal Selam Datangkan Petaka
Adapaun skandal terakhir yang menerpa Netanyahu dipicu oleh perjanjian pembelian kapal selam dari Jerman senilai dua miliar Dollar AS. Tersangka utama kasus korupsi dalam pembelian kapal selam itu adalah David Shimron, kuasa hukum dan keponakan Netanyahu. Ia ditangkap polisi bersama Mickey Ganor yang melobi pemerintah Israel untuk membeli produk ThyssenKrupp.
Foto: picture alliance/Photoshot/Pool/A. Cohen
Status Tersangka dari Kepolisian
Kasus terakhir tergolong pelik karena bekas kepala staf Netanyahu, Ari Harow, telah sepakat untuk menjadi saksi kunci dalam kasus tersebut. Bersamaan dengan itu polisi mengumumkan bahwa Netanyahu secara resmi menjadi tersangka dalam setidaknya dua kasus "penipuan dan korupsi."
Foto: Getty Images/AFP/J. Guez
Tak Surutkan Dukungan Politik
Skandal seputar Netanyahu akhirnya membuat Partai Likud ketar ketir. Petinggi partai berulangkali terlibat adu mulut antara satu sama lain di depan publik mengenai masa depan sang Perdana Menteri. Namun hingga kini Likud belum mengubah sikap terkait Netanyahu. "Perdana menteri tidak perlu mengundurkan diri. Dia cuma harus membuktikan diri tak bersalah," kata Ketua Dewan Koalisi Likud, David Bitan.