1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Temui Trump, Netanyahu Bahas Program Nuklir Iran

Sorta Caroline AFP, AP, Reuters | Zac Crellin
28 Juli 2026

PM Israel Benjamin Netanyahu menyambangi Presiden AS Donald Trump pada Selasa (28/7). Pertemuan ini diselenggarakan di tengah ketegangan antara kedua negara seputar Perang Iran.

Palm Beach, AS 2025 | Pertemuan Netanyahu dan Trump.
Pertemuan Netanyahu dan Trump tahun lalu, sebelum AS-Israel kembali menyerang Iran pada Februari 2026.Foto: Jonathan Ernst/REUTERS

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba di Washington, Amerika Serikat (AS), pada hari Selasa (28/07) untuk menemui  Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ini akan menjadi kunjungan pertama Netanyahu ke Gedung Putih sejak AS dan Israel kembali menyerang Iran pada akhir Februari lalu, yang memicu perang yang berkelanjutan hingga saat ini.

"Ini merupakan kehormatan besar, namun juga tanggung jawab yang besar,” kata Netanyahu sebelum berangkat dari Israel pada hari Senin (27/07).

"Kami akan membahas semua isu yang ada dalam agenda, terutama Iran. Tentu saja, tujuan kami adalah menjaga keamanan dan juga memperluas lingkar perdamaian di sekitar kami,” tambah PM Israel tersebut.

Pertemuan ini digelar di tengah tekanan dalam negeri yang meningkat di kedua negara. Netanyahu akan kembali mencalonkan diri sebagai PM Israel dalam pemilu Oktober mendatang di tengah hubungannya yang memburuk dengan Trump. Pertemuan ini adalah kesempatan bagi Netanyahu meredam ketegangan hubungan kedua negara.

Presiden AS sedang berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang melawan Iran yang berisiko memperburuk ekonomi AS dan mendorong kenaikan harga bahan baku, menjelang pemilihan paruh waktu yang akan diselenggarakan pada November mendatang.

Februari lalu, Trump dan Netanyahu sepakat membangun aliansi untuk memulai perang bersama melawan Iran, menyingkirkan rezim dan berencana mencoba membangun pemerintahan Iran yang lebih bersahabat dengan Barat.

Belum berhasil mencapai tujuan mereka, Iran menggencarkan serangan balasan, meluncurkan pesawat nirawak dan rudal yang menghantam pangkalan AS serta gedung-gedung pencakar langit di negara-negara Teluk, serta memblokade Selat Hormuz. Trump pun menghadapi tekanan besar baik dari dalam negeri juga sekutu-sekutunya di kawasan Teluk untuk mengakhiri konflik tersebut.

Netanyahu ingin melanjutkan pertempuran Iran dan sekutunya, Hizbullah, di Lebanon, namun Trump menempuh jalur berbeda dengan mengupayakan negosiasi bersama dengan Teheran. Dalam hal ini AS kembali jadi pihak yang menentukan arah konflik, menekan pengaruh Israel.

Hubungan antara kedua pemimpin tersebut ‘pasang surut' dan mencapai titik terendah pada bulan April selama negosiasi gencatan senjata AS-Iran. Trump menggambarkan Netanyahu dalam sebuah wawancara sebagai "orang yang sangat sulit”.

"Pihak Amerika menegaskan kepada Israel bahwa merekalah yang memimpin perang ini,” tulis jurnalis dan analis politik Israel, Amit Segal, pada Senin di surat kabar harian Israel Hayom.

Program nuklir Iran masih jadi bahasan utama

Dengan ketegangan AS-Iran yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir, Netanyahu berencana membagikan informasi intelijen Israel mengenai program nuklir Teheran kepada Trump, menurut seorang sumber anonim karena tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

Dalam acara "Sunday Morning Futures” di Fox News Channel bersama Maria Bartiromo, Netanyahu mengatakan harapannya bertemu Trump "untuk mendengarkan apa yang ada dalam pikirannya” mengenai Iran.

"Karena menurut saya, dalam banyak hal, ini adalah keputusannya(Trump) mengenai bagaimana langkah selanjutnya,"kata Netanyahu,"Jika ia bisa melakukannya tanpa ke pertempuran militer yang intens, itu tidak masalah. Mengapa tidak?”

Perebutkan Selat Hormuz, AS dan Iran Kembali Saling Serang

01:51

This browser does not support the video element.

"Namun bagaimanapun juga, mereka harus menghentikan program nuklir mereka,” tegas Netanyahu mengenai Iran.

Netanyahu juga memanfaatkan wawancara tersebut untuk memperingatkan Iran agar tidak menyerang negaranya, dengan mengatakan bahwa Israel akan "merespons dengan sangat keras.”

Selain itu, kedua pemimpin berencana membahas perjanjian kerangka kerja AS-Israel dengan Libanon terkait perang Israel-Hizbullah serta perluasan perjanjian Abraham, perjanjian normalisasi hubungan Israel-Uni Emirate Arab dan Bahrain.

Dukungan masyarakat AS terhadap Israel menyusut

Dukungan masyarakat AS terhadap perang dengan Iran telah turun ke level terendah sejak dimulainya konflik lima bulan lalu, menurut survei terbaru yang dilakukan oleh kantor berita Reuters dan lembaga survei Ipsos.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan selama akhir pekan dan dipublikasikan pada hari Senin (27/07) menunjukkan hanya sepertiga warga AS yang masih mendukung operasi militer negaranya.

Sementara itu, 69% berpendapat bahwa Presiden AS Donald Trump gagal menjelaskan pentingnya keterlibatan AS dalam konflik tersebut.

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait