Buntu dengan Netanyahu, Trump Lanjut Berunding dengan Iran
12 Februari 2026
Lapangan Azadi, Teheran, kembali menjadi panggung sejarah pada Rabu (11/2) kemarin. Bendera berkibar, lagu-lagu revolusi dikumandangkan, dan Presiden Masoud Pezeshkian berdiri di hadapan ribuan warga yang memperingati hari lahir Republik Islam. Empat puluh tujuh tahun lalu, revolusi menggulingkan monarki Shah dan membuka era kepemimpinan ulama di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Namun perayaan tahun ini berlangsung dalam suasana genting. Sehari sebelumnya, ketika pemerintah menyalakan kembang api di langit Teheran, sejumlah warga justru meneriakkan slogan dari balkon apartemen mereka: "Matilah Khamenei” dan "Matilah wahai diktator.” Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan teriakan itu menggema di beberapa sudut kota, meski aparat keamanan memperketat pengawasan.
Di atas panggung di Teheran, Pezeshkian menegaskan Iran "tidak akan tunduk pada agresi” dan tidak akan menyerah pada "tuntutan berlebihan” dari Amerika Serikat (AS). Dia kembali menegaskan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan siap diverifikasi. Pada saat yang sama, dia menyebut pihaknya tetap membuka dialog demi "perdamaian dan ketenangan kawasan.”
Perang di cakrawala
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump belum menutup kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Usai mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kelompok tempurnya ke Timur Tengah, dia kini mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua. Baru-baru ini, serdadu AS dilaporkan menembak jatuh sebuah drone yang mendekati armada tempurnya, serta membantu kapal berbendera AS yang hendak dihentikan Iran di Selat Hormuz.
Di tengah atmosfer panas itu, diplomasi tetap berjalan. Jumat (6/2) lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff. Namun hingga kini belum jelas kapan putaran berikutnya akan digelar. Pejabat senior keamanan nasional Iran, Ali Larijani, menyebut hanya terjadi "pertukaran pesan” dan tidak ada proposal konkret dari Washington.
Di Washington, Trump menyatakan pembicaraan harus terus berlanjut untuk melihat apakah kesepakatan bisa dicapai. "Jika bisa, itu pilihan yang saya utamakan,” tulisnya di Truth Social. Dia mengingatkan bahwa pada perundingan sebelumnya Iran memilih tidak membuat kesepakatan dan "mereka dipukul”, sebuah rujukan pada serangan AS terhadap situs nuklir Iran dalam perang 12 hari Iran–Israel pada Juni lalu.
Isu utama tetap sama: program nuklir Iran. Barat meyakini Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah. Pezeshkian kembali menegaskan program atom Iran "sepenuhnya damai” dan siap untuk "verifikasi apa pun” oleh inspektur internasional.
Lobi Netanyahu di Washington
Di Gedung Putih, Rabu (11/2) waktu setempat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu duduk berhadapan dengan Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Pertemuan itu berlangsung tertutup tanpa konferensi pers.
Menurut kantor perdana menteri Israel, kedua pemimpin membahas negosiasi dengan Iran, situasi Gaza, dan perkembangan regional. Netanyahu menekankan "kebutuhan keamanan Israel” dalam konteks perundingan nuklir Iran. Israel memandang program nuklir dan rudal Iran sebagai ancaman eksistensial.
Sejak lama Israel menolak kesepakatan yang hanya membatasi nuklir tanpa menyentuh program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap sekutu-sekutunya di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon dan kelompok-kelompok di Suriah serta Yaman.
Bagi Israel, Iran tidak hanya mengancam dengan ambisi senjata nuklir, melainkan juga dengan pengembangan peluru kendali berdaya jelajah tinggi yang mampu menjangkau negeri Yahudi tersebut.
"Perdana Menteri menekankan bahwa negosiasi harus mencakup pembatasan rudal balistik dan penghentian dukungan terhadap sekutu regional,” demikian sikap yang berulang kali disampaikan pejabat Israel.
Namun, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan kepada Financial Times bahwa memperluas perundingan hingga mencakup program rudal balistik Iran berisiko memicu "tidak lain kecuali perang baru.” Dia menilai positif jika Amerika bersedia menoleransi pengayaan uranium Iran dalam batas-batas yang jelas.
Peluang damai
Fidan mengatakan kepada Financial Times bahwa dirinya meyakini Teheran "secara sungguh-sungguh ingin mencapai kesepakatan yang nyata” dan bersedia menerima pembatasan tingkat pengayaan uranium serta rezim inspeksi yang ketat, seperti yang pernah disepakati dalam perjanjian 2015 dengan Amerika Serikat dan negara-negara lainnya.
Diplomat Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan melalui mediasi Oman pekan lalu untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi, setelah Presiden Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di kawasan tersebut, yang memicu kekhawatiran akan kemungkinan aksi militer baru.
"Hal yang positif adalah bahwa pihak Amerika tampaknya bersedia menoleransi pengayaan uranium Iran dalam batas-batas yang ditetapkan secara jelas,” kata Fidan kepada Financial Times. Dia terlibat dalam komunikasi dengan Washington maupun Teheran.
"Pihak Iran kini menyadari bahwa mereka perlu mencapai kesepakatan dengan Amerika, dan Amerika juga memahami bahwa Iran memiliki batas-batas tertentu. Tidak ada gunanya mencoba memaksakan kehendak.”
*Editor: Rizki Nugraha