1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KriminalitasNigeria

Nigeria: Gereja Diserang, Lebih dari 160 Jemaat Diculik

Kate Hairsine sumber: AP, AFP, Retuers
20 Januari 2026

Kelompok bersenjata bersenjata menculik jemaat dari sedikitnya dua gereja di negara bagian Kaduna. Insiden ini menambah daftar konflik internal di Nigeria yang menargetkan warga sipil, baik Kristen maupun Muslim.

Nigeria Kaduna 2026 | Sekolah dibuka kembali setelah penutupan terkait keamanan – Kendaraan polisi di Jalan Yakowa
Polisi telah meningkatkan pengamanan di negara bagian Kaduna dalam beberapa bulan terakhir setelah serangkaian penculikan massal [FILE: 12 Januari 2026]Foto: Nuhu Gwamna/REUTERS

Seorang pemimpin Christian Association of Nigeria (Asosiasi Kristen Nigeria) mengatakan bahwa 163 jemaat diculik saat kebaktian Minggu (18/1) dari dua gereja di negara bagian Kaduna.

“Para penyerang datang dalam jumlah besar, memblokir pintu masuk gereja, lalu memaksa para jemaat keluar menuju semak-semak,” kata Pendeta Joseph Hayab, ketua Christian Association of Nigeria untuk wilayah utara, pada Senin (19/7).

“Jumlah sebenarnya yang mereka bawa adalah 172 orang, namun sembilan berhasil melarikan diri, sehingga 163 orang masih berada di tangan mereka,” ujarnya.

Seorang politisi yang mewakili wilayah tersebut di parlemen negara bagian, Usman Danlami Stingo, pada hari Senin menyebut adanya tiga serangan terpisah selama kebaktian gereja Minggu. Menurut Associated Press, ia menyebut jumlah korban penculikan mencapai 168 orang.

Seorang juru bicara kepolisian mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa orang-orang bersenjata dengan “senjata canggih” menyerang dua gereja tersebut. Namun, polisi masih berupaya memastikan jumlah pasti orang yang diculik.

Serangan itu terjadi di desa Kurmin Wali, sebuah komunitas hutan yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen. Daerah tersebut tergolong terpencil dan sulit dijangkau karena kondisi jalan yang buruk, kata juru bicara polisi.

Polisi menyatakan bahwa pasukan serta lembaga keamanan lainnya telah dikerahkan ke lokasi, dan upaya sedang dilakukan untuk melacak para penculik serta menyelamatkan para sandera.

Penculikan untuk tebusan meningkat di Nigeria

Serangan semacam ini umum terjadi di Nigeria bagian tengah dan utara, di mana berbagai kelompok kriminal atau “bandit”, serta kelompok bersenjata berbasis agama, kerap menyerang komunitas terpencil yang memiliki keamanan terbatas dan minim kehadiran pemerintah.

Pada November 2024, kelompok bersenjata menculik lebih dari 300 siswa dan guru dari sebuah sekolah Katolik di negara bagian Niger, yang berbatasan dengan Kaduna. Mereka kemudian dibebaskan beberapa minggu kemudian dalam dua tahap.

Penculikan di Nigeria sebagian besar bermotif tebusan, dengan kelompok bersenjata menggunakan dana tersebut untuk mendanai kejahatan lain dan menguasai desa-desa.

Fenomena ini telah berkembang menjadi sebuah “industri terstruktur yang berorientasi pada keuntungan”, dengan laba sekitar 1,66 juta dolar AS (sekitar Rp28,2 miliar) dalam periode Juni 2024 hingga Juli 2025, menurut laporan terbaru dari konsultan berbasis di Nigeria, SBM.

Apakah umat Kristen menjadi sasaran?

Distrik Kajuru merupakan salah satu titik rawan serangan bandit di negara bagian Kaduna, yang selama ini menyaksikan bentrokan antara petani Kristen dan penggembala ternak Muslim Fulani.

Kekerasan tersebut berakar pada persaingan memperebutkan lahan dan sumber daya yang semakin menipis, meskipun di permukaan sering terlihat sebagai konflik berlatar belakang etnis dan agama.

Nigeria secara demografis terbagi antara Muslim (sekitar 56 persen) dan Kristen (43 persen), dengan umat Kristen terutama bermukim di wilayah selatan dan umat Muslim di wilayah utara.

Para ahli menilai bahwa baik umat Kristen maupun Muslim sama-sama menjadi sasaran dalam berbagai konflik di Nigeria, sering kali tanpa pembedaan, dan bahwa klaim mengenai perang agama merupakan penyederhanaan yang berlebihan.

Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyoroti ketidakamanan di Nigeria dengan menekankan pada pembunuhan terhadap umat Kristen.

Pemerintah Nigeria, di sisi lain, menolak karakterisasi krisis keamanan yang memburuk sebagai sebuah “genosida terhadap umat Kristen.”

Pada Desember 2024, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap pihak yang oleh AS dan pemerintah Nigeria disebut sebagai militan yang terkait dengan kelompok Islamic State atau IS, di negara bagian Sokoto di wilayah barat laut Nigeria.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait