1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanGlobal

OCD: Ketika Pikiran Begitu Mengancam

28 September 2026

Tadi sudah matikan kompor belum? Apakah tanganku sudah kucuci bersih? Apa aku menyakiti anakku? Pikiran dan tindakan kompulsif jadi beban mengisolasi penderitanya. Salah satu bentuk terapi dapat membantu.

Gambar Simbol OCD | Seorang perempuan mencuci tangannya.
Menurut Asosiasi Gangguan Obsesif Kompulsif Jerman, Perempuan lebih sering mengalami gangguan ini terutama yang terkait dengan kebersihan melebihi laki-laki.Foto: Microgen/Depositphotos/IMAGO

Bagi Alex, gangguan itu dirasakannya di usia 13 tahun. Ia harus selalu mengenakan tujuh barang di tubuhnya, tidak bisa tidak. Di ponselnya, ia menyimpan tepat 400 kontak. Alex, yang nama lengkapnya tidak dapat kami sebutkan, menyebut dirinya sebagai "Kontrolletti” dalam bahasa Jerman atau lebih dikenal sebagai pengidap OCD.

Hal ini tidak sebatas kebiasaan menghitung barang atau kontak di ponsel. Pada suatu hari, Alex menjadi takut menyentuh gagang pintu. Setelah itu, situasi kian memburuk, ia jadi takut berbelanja, berkunjung ke rumah orang lain, menghindari seks - semuanya kian sulit diatasi. 

Setelah menggunaakan toilet umum, perempuan berusia 36 tahun itu harus mandi dan terus menerus mencuci tangannya. Dia tidak lagi mencuci peralatan makan yang sudah digunakan, melainkan langsung membuangnya. Kompulsi mengontrol kehidupannya.

Alex merasa begitu malu, "Kamu melihat dirimu menjadi gila,” katanya.

Self-harm: Mengapa Kesehatan Mental Sering Terabaikan?

02:19

This browser does not support the video element.

Ketika pikiran mengancam, kompulsi muncul

Alex adalah salah satu dari dua juta orang Jerman yang, menurut Asosiasi Gangguan Obsesif-Kompulsif Jerman menderita gangguan obsesif-kompulsif. Menurut perkiraan ilmiah, sekitar dua hingga tiga persen populasi dunia terpengaruh. 

Psikolog Inggris Paul Salkovkis menjelaskan gangguan ini dengan model kognitif. Hal ini dimulai dengan pikiran yang terus-menerus muncul, seperti yang mungkin kita semua pernah alami, "Aku belum mematikan kompor.” Setelah berpikir sejenak, "Ah, sudah mati, lagipula aku memang tidak menggunakannya.” Pikiran itu pun sirna.

Tidak demikian halnya pada orang dengan gangguan obsesif-kompulsif. Pikiran itu tetap ada di kepala dan dianggap mengancam, "Jika saya belum mematikan kompor, seluruh rumah bisa terbakar dan orang-orang bisa tewas.” Akibatnya, muncul rasa takut akan membahayakan orang lain dan rasa tegang yang begitu besar. Tindakan kompulsif dengan memeriksa kompor berulang kali adalah upaya bagi para penderita untuk menetralkan perasaan tidak menyenangkan tersebut, kata Dr. Katharina Bey, Psikoterapis dan Kepala Klinik Rabat Jalan Khusus Gangguan Obsesif-Kompulsif  RS Universitas Bonn. 

"Rasa takut memang berkurang untuk sementara, tetapi penilaian terhadap pikiran tersebut sebagai sesuatu yang penting atau mengancam justru semakin kuat,” kata Bey kepada DW. Ini merupakan mekanisme yang dapat memperkuat gangguan tersebut.

Menurut Katharina Bey, ancaman yang sangat serius bagi para penderita gangguan ini adalah pikiran obsesif-kompulsif yang agresif atau seksual. Misalnya seperti melukai seseorang dengan pisau, mendorong anak sendiri dari tangga, atau takut karena merasa menjadi seorang pedofil.

"Meskipun hal itu bertentangan keras dengan keinginan para penderitanya dan jauh dari karakter dan kepribadian mereka,” kata Bey.  Justru karena pikiran-pikiran yang begitu tidak masuk akal, maka terasa sangat mengancam, jelas psikoterapis itu lebih lanjut.

Perempuan Asia: Merebak Kekelaman

16:54

This browser does not support the video element.

Dari mana asal-usul gangguan obsesif-kompulsif?

Sebuah studi yang baru diterbitkan jurnal ilmiah Nature Neuroscience memberi pentunjuk baru akan asal-usul gangguan obsesif-kompulsif. Dalam penelitian tersebut, teridentifikasi 36 varian gen yang memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan ini.

Hasil studi ini dapat membantu orang-orang yang menderita gangguan obsesif-kompulsif untuk mengurangi rasa malu, kata Bey, "Ada dasar biologis dari gangguan yang saya alami.” Namun, genetika bukanlah segalanya. "Sekitar 50 persen dipengaruhi oleh gen, 50 persen oleh faktor lingkungan,” jelas Bey.

Jika ditinjau ulang, lewat pengamatan ada korelasi antara komplikasi persalinan dan gangguan obsesif-kompulsif, kata Bey, namun ia juga mengingatkan agar berhati-hati dalam menafsirkan data semacam itu.

"Pengalaman kehilangan kendali dapat berperan,” kata Bey. Misalnya, kematian orang yang dicintai atau perceraian orang tua yang tidak dijelaskan dengan baik kepada anak. Perilaku kompulsif dianggap sebagai cara untuk mendapatkan kembali rasa kendali atau cara membatasi diri dari orang lain.

Antidepresan dan terapi kognitif

Jessica Teitz juga menderita gangguan obsesif-kompulsif. Ia mengatakan, ia sama sekali tidak peduli dari mana asal obsesi tersebut. Sebab, itu tidak membantunya mengatasi penyakit tersebut. Bagi sosok yang kerap dipanggil Jess ini, obat antidepresan dan terapi perilaku kognitiflah yang membantunya. Eksposur dengan pengelolaan reaksi punya peran penting. Bentuk terapi ini menempatkan pasien secara sengaja pada situasi yang tidak menyenangkan bagi mereka. Hal ini dianggap sangat efektif untuk mengobati gangguan obsesif-kompulsif.

Gangguan obsesif-kompulsif yang dialami Jess juga bermula sejak masa kanak-kanak. Selama bertahun-tahun, kondisinya tidak terdeteksi dan tidak diobati, seperti halnya pada banyak penderita lainnya. Kondisinya menjadi begitu parah hingga Jess, sebagai seorang remaja putri, tidak lagi mampu berinteraksi dengan orang lain.

Baru setelah dibantu dengan penghambat reuptake serotonin selektif (SSRI), sejenis obat antidepresan, Jess pelan-pelan dapat meninggalkan rumah dan memulai terapi.

Dalam terapi perilaku kognitif, Jess harus menghadapi secara langsung pikiran dan situasi yang memicu perilaku kompulsif. Rasa takut dan ketegangan yang muncul harus diterima dan ditahan, bukan ditekan lewat perilaku kompulsif, jelas Bey.

Melalui cara tersebut pasien akan menyadari bahwa mereka mampu mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak akan terjadi hal buruk apa pun jika mereka tidak menuruti dorongan kompulsif mereka.

"Secara paradoks, pikiran dan perasaan tersebut akan berkurang ketika diberi ruang,” kata Bey. Hanya dengan cara inilah para penderita dapat menyadari bahwa sebuah pikiran atau perasaan belum tentu harus berujung pada tindakan yang sesuai.

Kembali ke kehidupan nyata

Alex dan Jess telah kembali ke kehidupan mereka sehari-hari berkat terapi. Kompulsi memang belum sepenuhnya hilang, tetapi mereka telah belajar mengatasinya. Ketika dorongan kompulsif muncul, mereka membiarkan pikiran itu ada dan mengingat apa yang penting bagi mereka. "Aku ingin hidup, aku ingin ini, dan kemudian semuanya kembali normal,” kata Alex.

Terapai ini telah menjadikannya orang yang sangat bersyukur, yang kini dapat merasa bahagia atas hal-hal kecil, setelah hidupnya selama bertahun-tahun terasa begitu terkungkung.

Jess telah menyelesaikan pelatihan sebagai instruktur yoga dan kini menawarkan kelas yoga bagi orang-orang yang mengalami pikiran kompulsif dan kegelisahan batin. Kedua perempuan ini aktif terlibat dalam Asosiasi Gangguan Obsesif-Kompulsif Jerman.

Mereka menyarankan orang-orang yang menderita pikiran atau tindakan kompulsif untuk mencari bantuan sesegera mungkin.

"Semakin lama kamu mengalaminya, semakin sulit untuk pulih dan semakin lama pula terapi yang dibutuhkan,” kata Jess. "Bantuan tersedia. Carilah bantuan itu.”

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid