1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiGlobal

OECD: Ekonomi Global Diprediksi Tumbuh, Tapi Ada Ancaman

Saim Dušan Inayatullah sumber: AFP, dpa, Reuters
23 September 2026

OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 2,9% meski perang di Timur Tengah masih berlangsung. Namun, inflasi, kenaikan harga energi, utang pemerintah, dan risiko investasi AI tetap membayangi.

Prancis Paris 2013 | Pemaparan prospek ekonomi dalam OECD Week
Forum OECD yang berbasis di Paris menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 meski inflasi masih berlanjutFoto: Eric Piermont/AFP/Getty Images

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 menjadi 2,9%, meski perang di Timur Tengah masih membayangi perekonomian dunia.

Proyeksi terbaru OECD, yang dirilis Rabu, naik 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan pada Juni. Namun, pertumbuhan global masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 3,4%.

OECD merupakan forum yang beranggotakan 38 negara industri dan berkantor pusat di Paris.

OECD: Pertumbuhan 2026 tetap tangguh

OECD mengatakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 tetap “tangguh” dan kondisi keuangan yang lebih luas masih mendukung.

Menurut OECD, dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi global sejauh ini tertahan oleh sejumlah faktor, termasuk cadangan minyak yang besar, tambahan pasokan dari luar negara-negara Teluk, serta dukungan pemerintah.

“Cadangan minyak yang besar, tambahan pasokan dari luar negara-negara Teluk dan langkah-langkah dukungan pemerintah yang bersifat diskresioner semuanya membantu meredam dampaknya terhadap ekonomi global,” kata OECD.

Investasi di bidang kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) juga berpotensi mendorong pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraan. Namun, OECD memperingatkan bahwa pertumbuhan dapat melambat apabila investasi tersebut tidak menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa dampak konflik terhadap ekonomi global tidak sepenuhnya menghapus faktor-faktor pendukung pertumbuhan. Namun, OECD tetap memperingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat menekan perekonomian.

Pertumbuhan 2027 dipangkas, inflasi tetap mengancam

Meskipun proyeksi 2026 dinaikkan, OECD memangkas perkiraan pertumbuhan global untuk 2027 sebesar 0,1 poin persentase menjadi 3%.

Pemerintah di berbagai negara juga mulai menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak dan gas.

OECD menekankan bahwa prospek ekonomi bergantung pada apakah konflik di Timur Tengah dapat diselesaikan secara berkelanjutan. Menurut organisasi tersebut, pertempuran yang terus berlangsung kemungkinan akan mendorong inflasi lebih tinggi.

Krisis tersebut juga telah menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

“Kenaikan imbal hasil obligasi semakin menegaskan perlunya upaya yang lebih besar untuk mengendalikan dan mengalokasikan kembali belanja pemerintah, meningkatkan efisiensi sektor publik, serta memperkuat penerimaan negara,” kata OECD.

Langkah tersebut, menurut OECD, diperlukan untuk memastikan keberlanjutan utang dalam jangka panjang sekaligus mempertahankan kemampuan pemerintah merespons guncangan besar.

Risiko cuaca dan investasi AI jadi perhatian

Selain konflik dan tekanan inflasi, OECD juga mengidentifikasi risiko terkait kondisi cuaca sebagai ancaman terhadap pertumbuhan global.

Pola El Nino, misalnya, berpotensi menyebabkan gangguan pasokan dan meningkatkan biaya pangan.

Di sisi lain, investasi AI menjadi salah satu faktor yang dapat mengubah prospek pertumbuhan. OECD mengatakan investasi tersebut berpotensi menghasilkan pertumbuhan yang lebih kuat dari proyeksi saat ini.

Perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah membuat harga minyak dan gas melonjakFoto: Matthew Hoen/NurPhoto/picture alliance

Namun, manfaat tersebut tidak terjamin. Jika investasi AI tidak memberikan hasil sesuai harapan, pertumbuhan ekonomi global justru dapat melambat.

Dengan demikian, OECD mempertahankan proyeksi pertumbuhan global 2026 pada tingkat 2,9%, tetapi memperingatkan bahwa prospek ekonomi tetap bergantung pada perkembangan konflik, tekanan inflasi, keberlanjutan utang pemerintah, serta risiko gangguan pasokan akibat kondisi cuaca.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid