Olahraga Jadi Pelipur Lara bagi Pengungsi di Stadion Beirut
15 Mei 2026
Tak pernah terlintas di benak Hassan Seif al-Din bahwa ia akan mengajar bela diri untuk anak-anak di sebuah stadion sepak bola di Beirut, ´Lebanon. Namun, situasinya memang jauh dari ideal.
Pelatih berusia 65 tahun itu mengungsi ke Stadion Kota Olahraga Camille Chamoun dari pinggiran kota Dahiyeh. Bersama ribuan orang lainnya. Kini ia tinggal di tenda yang berada di dalam stadion tersebut.
Sebelumnya, eskalasi konflik kembali terjadi pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Beberapa hari kemudian, konflik meluas hingga Lebanon. Pada April, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyebut lebih dari satu juta orang di Lebanon telah mengungsi. Hal tersebut terjadi lantaran Israel menarget kelompok Hizbullah di negara tersebut. Hassan adalah salah satu dari para pengungsi itu.
“Banyak pengeboman di sekitar kami. Jadi kami melarikan diri dan akhirnya mengungsi di sini,” kata Hassan kepada DW.
Setibanya di stadion, ia berusaha tetap menjaga rutinitas latihan bela dirinya.
“Saya berlatih (bela diri) sendiri di sini. Dua sampai tiga jam setiap hari,” ujarnya.
Tampaknya, banyak anak-anak memerhatikan Hassan yang sedang berlatih.
“Saya pikir, ‘kenapa tidak saya latih dan memberi sedikit kebahagiaan pada mereka lewat olahraga yang saya lakukan. Ini akan membantu mereka melupakan apa yang terjadi di kota. Sekaligus membangun kekuatan fisik dan mental mereka.’” ucap Hassan.
Salah satu murid barunya bernama Adnan. “Saya sangat suka cara dia (Hassan) mengajar kami. Terutama soal cara membela diri dan membangun rasa percaya diri,” katanya kepada DW. “Saya jadi tahu bagaimana harus bertindak kalau ada orang yang menyerang atau mencoba menculik saya di jalan.”
Olahraga sebagai pelipur lara
Bagi Hassan, ini bukan hanya soal bela diri. Ini tentang memberi distraksi pada anak-anak yang hidupnya telah berubah drastis setelah kehilangan rumah dan mengalami serangan bom. “Para pengungsi ini membawa trauma mereka masing-masing,” katanya.
Dengan memberi aktivitas, anak-anak jadi punya kegiatan yang bisa dinantikan.
“Dengan kelas ini, mereka bisa melupakan hal yang terjadi di luar dan menikmati kebersamaan. Punya pelatih dan tim adalah sesuatu yang baru bagi mereka. Adaptasinya pun tidak sulit. Kini, mereka sudah seperti keluarga.”
“Sangat berarti bagi mereka untuk bisa berbahagia. Melupakan rasa sakit yang ada di luar stadion. Kadang mereka datang untuk membangunkan saya dan berkata, ‘Ayo coach, waktunya latihan.’”
Klub sepak bola ikut membantu
Stadion tersebut sudah lama menjadi markas tim nasional Lebanon. Juga turut menyaksikan suka duka bangsa itu. Ada kemenangan atas Korea Selatan dalam kualifikasi Piala Dunia pada 2011. Ada juga kedatangan Pele dalam laga persahabatan yang masih kerap diperbincangkan para lansia. Peristiwa itu dihadiri lebih dari 35.000 penonton pada 1975.
Adapun ia menjadi saksi sejarah konflik Lebanon. Tempat itu pernah hancur dalam invasi Israel pada 1982. Lalu dibangun kembali pada 1990, setelah perang saudara selama 15 tahun berakhir. Pada 2024, stadion ini juga menjadi lokasi pemakaman Hassan Nasrallah. Pemimpin Hizbullah itu tewas dalam serangan Israel.
Sepak bola adalah olahraga paling populer di Lebanon. Kini, sejumlah klub bola ikut turun tangan membantu warga terdampak.
“Saya senang stadion ini bisa menjadi tempat berlindung,” kata Wael Chehayeb, Komite Eksekutif Federasi Sepak Bola Lebanon kepada DW. “Di sisi lain, saya juga sedih karena tempat yang biasanya membahagiakan harus digunakan seperti ini.”
Beberapa klub sepak bola juga ikut berkontribusi memperbaiki situasi pengungsian.
“Klub Akhaa turut jadi relawan di sekolah-sekolah umum pengungsian,” kata Chehayeb.
“Klub Safa dan Nejmeh menampung beberapa keluarga di stadion mereka dan menyediakan makanan. Sementara itu, Klub Ansar membantu urusan pangan.”
Walau tidak semua fasilitas stadion bisa digunakan, para pemain bola tetap berlatih. Sebab, kehadiran mereka membakar semangat para pengungsi.
Hassan: saya bahagia dan yakin anak-anak bisa jadi juara nasional
Bagi keluarga Howaida Amin Mzannar yang melarikan diri dari sebuah desa di Lebanon selatan, situasinya sangatlah sulit.
“Kami sudah lama mengalami situasi di perbatasan,” kata Mzannar kepada DW. “Sekarang kami di sini, tapi entah besok akan di mana. Ada tekanan psikologis karena ketidakpastian masa depan.”
Satu-satunya penghiburan datang dari tetangga baru mereka di stadion.
“Ada rasa solidaritas di antara orang-orang; semua saling membantu,” katanya.
“Hidup menjadi sederhana dan mengikuti rutinitas harian: bersih-bersih, duduk bersama, sementara anak-anak mencoba menciptakan kehidupan yang normal.”
Sementara itu, Hassan berencana untuk terus membantu sesuai kemampuannya.
“Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi pengungsi sekaligus pelatih di waktu yang sama. Meski terjadi secara tak terduga, ini kehendak Tuhan,” katanya.
“Saya benar-benar bahagia di sini. Percaya atau tidak, saya ingin tetap di sini dan melatih anak-anak selama satu, dua, atau bahkan tiga tahun. Dalam satu setengah tahun, saya yakin bisa melahirkan juara nasional.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Yuniman Farid