Berduit dan bersenang-senang bukanlah segalanya: Sebuah studi terkini menunjukkan warga negara mana yang paling bahagia di dunia. Temuan yang mengkhawatirkan: Kaum muda merasa terasing dari kebahagiaan mereka sendiri.
Gambar ilustrasi tentang kebahagiaanFoto: Matthias Balk/dpa/picture alliance
Iklan
Apakah kita benar-benar merasa puas dengan hidup kita? Apakah kebahagiaan itu ada dalam pelukan pasangan, dalam tawa anak-anak kita, atau dalam rutinitas pekerjaan yang tak pernah habis? Atau apakah itu mungkin, sekadar ilusi yang mengendap di bawah permukaan harapan-harapan yang tak terungkap?
Di negara-negara kaya yang penuh kemegahan, bahkan ketika segalanya tampak diselimuti kemewahan, banyak yang tetap merasa sepi, terpinggirkan, dan tak merasa ada kepuasan jiwa.
Di tengah kemegahan gedung pencakar langit dan arus kekayaan yang mengalir, ternyata yang lebih dibutuhkan untuk kebahagiaan adalah kesejahteraan mendasar dan rasa keamanan yang memberikan harapan dan fondasi yang memberi ketenangan bagi jiwa.
Kebahagiaan itu, sejatinya, adalah sesuatu yang lebih rumit ketimbang angka-angka ekonomi. Ia terletak pada penilaian subjektif kita tentang kehidupan kita sendiri, dan setiap pencapaian, setiap langkah kecil yang kita ambil adalah cermin dari seberapa jauh kita merasa hidup itu memiliki makna.
Melalui sebuah studi internasional yang mendalam, yang merupakan bagian dari "Studi Kesejahteraan Global" (GFS), tim peneliti mencoba menggali apa yang dimaksud dengan kehidupan bahagia dan di negara mana orang-orang sangat puas, sejahtera, berkembang, yang dianggap menjadi sumber kebahagiaan.
Studi ini mengungkapkan kisah-kisah kehidupan yang tak seragam, tergantung pada negara dan pengalaman pribadi mereka. Sejahtera atau berkembang berarti berjuang untuk kehidupan yang penuh makna, kegembiraan, dan kemajuan pribadi.
Inilah Negara Paling Bahagia dan Paling Sedih Sejagad
Dari hasil penelitiannya, PBB telah merilis daftar negara-negara paling bahagia di dunia hingga yang paling tidak bahagia. Hasil penelitian menunjukkan nomor satunya adalah ...
Foto: picture-alliance/Zuma Press/A. Widak
Norwegia- si nomor 1 yang baru
Norwegia telah menggeser tetangganya di Skandinavia, Denmark, untuk duduki tempat teratas dalam peringkat negara paling bahagia tahun ini. Norwegia telah menginvestasikan pendapatan besar dari minyak untuk masa depan daripada menghabiskannya sekarang, guna memastikan generasi mendatang dapat merasakan manisnya kekayaan sumber daya alam.
Foto: Reuters/NTB Scanpix/Nils-Erik Bjoerholt
Rasa kebersamaan
Negara-negara Nordik secara teratur bertengger di peringkat atas karena mengedepankan kepentingan bersama, demikian menurut Meik Wiking, pemimpin riset kebahagiaan Happiness Research Institute di Kopenhagen. Bersama Norwegia dan Denmark, Islandia (peringkat 3), Finlandia (5) dan Swedia (10) - termasuk di antara sepuluh negara paling bahagia.
Foto: DW/B. Riegert
Inilah performa negara-negara Eropa
Swiss yang berada di posisi 4 dan Belanda di urutan 6 adalah negara-negara Eropa lainnya yang masuk dalam kelompok 10 besar negara paling bahagia di dunia. Jerman tetap stabil di tempat ke-16 untuk dua tahun berturut-turut, sementara Inggris maju ke peringkat 19 pada tahun ini.
Foto: Fotolia/Paul Schwarzl
Amerika semakin sedih
Pada tahun 2007, Amerika Serikat ada di peringkat ke-3 di antara negara-negara OECD. Tahun ini, urutannya melorot ke-14 dalam peringkat keseluruhan. Penyebabnya, terjadinya penurunan dukungan sosial dan peningkatan korupsi, demikian kata laporan itu.
Foto: picture alliance/AA/S. Corum
Bagaimana dengan yang lainnya?
Cina berada di urutan 79, Rusia urutan 49 dan sedangkan Jepang pada posisi 51. Sementara India melorot ke posisi 122 pada tahun ini.
Foto: picture alliance /dpa/L.Xianbiao
Perang merampok kebahagiaan mereka
Perang sipil di Suriah dan Yaman telah membajak kebahagiaan warga negara di kedua negara itu sehingga menempatkan mereka di sepuluh negara paling tidak bahagia di dunia.Yaman di posisi 146, sedangkan Suriah di urutan 152.
Foto: Reuters/O. Sanadiki
Afrika dalam krisis
Delapan dari sepuluh negara terbawah negara paling tidak bahagia tercatat dari Afrika. Ada 6 faktor untuk menilai tingkat kebahagiaan di 155 negara "kepedulian, kebebasan, kemurahan hati, kejujuran, kesehatan, pendapatan dan pemerintahan yang baik." Afrika Tengah tercatat sebagai negara paling tidak bahagia di dunia.
Foto: picture-alliance/AP
Bhutan – sang inisiator
PBB telah membuat laporan ini setiap tahunnya sejak tahun 2012, setelah Bhutan mengajukan proposal. Negara kecil ini ingin mengenali kebahagiaan sebagai tujuan universal dan pedoman untuk kebijakan publik. Pada tahun ini, Bhutan berada di urutan 97, turun 13 peringkat dari tahun sebelumnya.
Foto: MDR
Indonesia no 81, Vietnam paling buncit di Asia Tenggara
Dengan berada di urutan ke 26, Singapura masuk sebagai negara paling bahagia di Asia Tenggara. Thailand menyusul di belakangnya di peringkat ke 32, sementara Malaysia di peringkat 42, Filipina di posisi ke 72. Posisi juru kunci di Asia tenggara dipegang Vietnam yang berada di urutan 94. Sementara Indonesia tercatat di urutan ke 81. Ed: Zahidul Haque/world happiness report(ap/yf)
Foto: Reuters/D. Whiteside
9 foto1 | 9
Survei dalam studi ini menanyakan tentang kesehatan fisik, kebahagiaan, makna hidup, karakter, hubungan, keamanan finansial, dan kesejahteraan spiritual seseorang. Itu adalah faktor-faktor yang menurut para peneliti membentuk ukuran kesejahteraan secara holistik.
Iklan
Pencarian ilmiah untuk kehidupan yang memuaskan
Hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal "Nature Mental Health". Temuannya sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain.
Para peneliti menulis, studi ini bukan tentang peringkat negara karena yang menjadi subjek bukan hanya negaranya saja, tetapi juga jawaban responden dari negara tersebut, dan hasil dari 22 negara tidak mewakili seluruh dunia.
Namun, ada satu benang merah yang melintas di banyak tempat: Orang yang memiliki pekerjaan, yang menjalani hubungan, atau yang rutin menghadiri acara keagamaan biasanya memiliki kehidupan yang lebih memuaskan.
"Perbedaan gender itu kecil; orang yang sudah menikah secara konsisten melaporkan tingkat kemakmuran yang lebih tinggi daripada orang dengan status lain; orang yang bekerja dan pensiunan memiliki kinerja lebih baik daripada orang yang tidak bekerja; tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan partisipasi yang lebih sering dalam acara keagamaan, seperti kebaktian gereja, terkait dengan tingkat kemakmuran yang lebih tinggi," jelas Leonie Steckermeier, profesor muda sosiologi terapan di Universitas Kaiserslautern-Landau, Jerman, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Survei global bertentangan dengan Laporan Kebahagiaan Dunia
Selain informasi demografi dan pertanyaan tentang masa kanak-kanak, berbagai bidang kehidupan diteliti: Kesehatan, kesejahteraan subjektif, makna hidup, karakter, hubungan, dan keamanan finansial.
Hal ini menghasilkan indeks yang "berkembang” atau sejahtera. Konsep "berkembang" atau sejahtera ini dimaksudkan untuk menangkap kualitas semua aspek kehidupan seseorang secara komprehensif. Untuk tujuan ini, lebih dari 200.000 orang dari 22 negara berbeda di seluruh dunia disurvei, termasuk Indonesia dan Jerman.
Survei ini akan diulang setiap tahun dengan orang yang sama di tahun-tahun mendatang agar dapat menganalisis perubahan dari waktu ke waktu.
Para peneliti sangat menghargai kumpulan data yang luas dari studi baru ini, yang hasilnya sangat berbeda dari hasil Laporan Kebahagiaan Dunia tahunan, papar Prof. Dr. Hilke Brockmann, pengajar di Fakultas Sosiologi Universitas Bremen: "Peringkat negara tidak sesuai dengan Laporan Kebahagiaan Dunia (WHP) tahun ini, yang (selalu) menempatkan negara-negara Skandinavia yang kaya di peringkat teratas. Sebaliknya, Indonesia berada di peringkat pertama dalam GFS, tetapi ke-83 dalam WHP 2025."
Lakukan Ini Jika TIDAK Ingin Bahagia
Orang punya hak dan kemampuan untuk mengubah situasi supaya merasa bahagia. Jadi apa saja yang bisa diubah? Simak poin-poin berikut dan jangan dilakukan.
Foto: Colourbox
Selalu Beranggapan, Hidup Sangat Berat
Orang tidak bahagia selalu melihat diri sebagai "korban" hidup yang berat. Mereka juga ingin semua orang mengasihani dan menghibur mereka. Orang bahagia tahu, hidup kadang berat, tapi bertendensi hadapi kesulitan dengan memandangnya sebagai tantangan untuk sukses. Mereka bertanggungjawab jika terjerumus dalam kesusahan dan berusaha keluar secepat mungkin.
Foto: Fotolia/michaeljung
Fokus Pada Hal Buruk, Bukan Hal yang Baik
Dunia memang tidak sempurna. Tapi orang tidak bahagia hanya memperhatikan segala sesuatu yang buruk, dan menutup mata terhadap hal-hal yang baik. Mereka selalu mengeluh. Sementara orang bahagia sadar akan isu-isu global, tapi bisa mengimbangi hal-hal negatif dengan yang positif. Mungkin hari ini hujan, tapi matahari kadang juga bersinar.
Foto: Irna
Membandingkan dengan Orang Lain dan Iri
Orang yang tidak bahagia percaya, keberuntungan orang lain menyebabkan mereka tidak beruntung. Mereka selalu membandingan diri dan kesuksesan mereka dengan orang lain. Ini memicu rasa iri dan tidak senang. Bagi orang bahagia, keberuntungan orang lain memberikan inspirasi tentang apa yang juga bisa mereka peroleh.
Foto: imago/MITO
Menganggap Orang Lain Tak Bisa Dipercaya
Orang yang tidak bahagia tidak percaya siapapun. Mereka juga beranggapan orang yang tak dikenal tidak bisa dipercaya sama sekali. Orang yang bahagia percaya setiap orang punya sisi positif, dan tidak beranggapan orang lain pasti bermaksud buruk terhadap mereka. Orang bahagia juga bersikap ramah terhadap semua orang yang mereka temui, dan menerima semua orang dengan hati terbuka.
Foto: Colourbox
Pandang Masa Depan dengan Rasa Takut
Orang yang tidak bahagia mengisi pikiran dengan apa yang mungkin akan gagal, bukan apa yang mungkin akan sukses. Orang bahagia membiarkan diri sedikit berilusi, dan membiarkan diri melamunkan sukses apa yang mereka ingin peroleh dalam hidup. Orang tidak bahagia memenuhi tempat di otak mereka dengan kekuatiran dan rasa takut.
Foto: picture-alliance/Bildagentur-online
Berusaha Mengontrol Semua Hal Sepenuhnya
Ada perbedaan antara mengontrol dan berusaha sebaik mungkin mencapai cita-cita. Orang yang bahagia mengambil langkah konkret setiap hari untuk mencapai tujuan mereka, tapi sadar bahwa mereka tidak mungkin mengatur kesulitan yang akan mereka hadapi. Orang tidak bahagia berusaha mengatur hidup sepenuhnya sampai ke hal-hal paling kecil.
Foto: Fotolia/Adam Gregor
Mengisi Obrolan dengan Keluhan dan Gosip
Orang yang tidak bahagia hidup di masa lalu. Kesulitan jadi topik utama percakapan. Jika tidak ada bahan lagi, mereka akan bergosip. Orang bahagia hidup di masa kini dan bermimpi tentang masa depan. Mereka bersemangat bicarakan kesibukan saat ini, berterimakasih untuk apa yang dimiliki dan bermimpi akan masa depan yang cerah.
Foto: Imago/E. Audras/AltoPress
7 foto1 | 7
Kebahagiaan di usia tua, kekhawatiran di masa muda
Temuan tentang "kemakmuran" sepanjang perjalanan hidup sangat mengejutkan: banyak peneliti kebahagiaan berasumsi bahwa kepuasan hidup berbentuk U.
Namun, kesejahteraan subjektif bervariasi secara signifikan di berbagai negara sepanjang perjalanan hidup: misalnya, kemakmuran meningkat seiring bertambahnya usia di Australia, Brasil, Jepang, Swedia, dan AS.
Di Indonesia, Kenya, dan Turki angka tersebut tetap sama sepanjang siklus hidup, sedangkan di India dan Tanzania angka tersebut menurun sepanjang siklus hidup.
Ini menarik sekaligus membingungkan. Penulis tidak dapat memberikan penjelasan apa pun selain asumsi bahwa perkembangan baru tengah terjadi di sini.
Secara umum, studi baru ini menawarkan sedikit penjelasan tentang kemungkinan penyebabnya. Namun juga tidak memberikan rekomendasi apa pun.
"Berbagai perbedaan yang spesifik di tiap negara juga masih membingungkan. Ini karena konsep 'berkembang' ke arahsejahtera berbicara secara umum tentang konteks tanpa menjelaskannya secara rinci," ujar Steckenmeier.
Namun, data yang dikumpulkan dapat membantu untuk "merinci dan menjelaskan secara kausal" perbedaan nasional.
8 Hal Yang Dilakukan Orang Bahagia Setiap Hari
Dalam buku "Rich Habits, Rich Life", pakar sosial ekonomi Dr. Randall Bell menulis bahwa orang-orang yang bahagia memiliki banyak kebiasaan yang sama. 40 persen rasa bahagia seseorang berasal dari kebiasaan sehari-hari.
Foto: Fotolia/Robert Kneschke
Tidak Bergosip
Sulit menahan diri untuk tidak membahas kekasih baru rekan kerja, atau rahasia sahabat Anda. Tapi dengan menghindari gosip, Anda akan merasa lebih bahagia. Lain kali Anda merasa ingin bergosip, katakan sesuatu yang positif. Dr Bell: "Orang yang berbicara positif cenderung dikelilingi orang-orang dengan pandangan yang sama. Ini akan membuat kita lebih bahagia."
Foto: Fotolia/Faber Visum
Meja Kerja Rapih
Saat bekerja dengan tekanan tinggi, seringnya Anda melupakan kondisi meja kerja Anda. Menurut Dr Bell, meja kerja yang rapih menandakan cara kerja yang terorganisir dan ini akan membuat Anda tiga kali lebih bahagia di tempat kerja. "Banyak studi yang menunjukkan, tempat kerja yang rapih memungkinkan kita untuk bekerja secara lebih efektif dan fokus."
Foto: picture-alliance/dpa/M. Wüstenhagen
Tidak Marah-marah Saat Menyetir
Saat macet, pengemudi mobil yang tidak berhati-hati tentu membuat Anda kehilangan kesabaran. Tapi tetap tenang di balik kemudi adalah cara mudah untuk merasa lebih bahagia. Dr Bell: "Orang yang bahagia menyalurkan energinya ke hal-hal postif dan tidak meneriaki pengemudi lain atau mengeluhkan macet."
Foto: Colourbox
Makan Malam Bersama Keluarga
Keluarga yang sibuk mungkin sulit untuk bisa makan secara bersama-sama. Tetapi bagi Dr Bell ini hal yang penting. "Karena dengan menghabiskan waktu dengan orang yang paling penting bagi Anda, maka Anda akan merasa lebih baik. Jika hubungan yang penting diabaikan, maka Anda akan merasa stress dan tegang."
Foto: Kzenon/Fotolia
Tidak Lupa Menyapa Tetangga
Dr Bell yakin, orang yang tidak menyapa tetangganya cenderung merasa tidak bahagia. "Jika bertemu orang wajahnya tidak ramah, kita akan merasa tegang. Tapi jika bertemu orang yang memberi senyuman, kita juga ingin tersenyum. Dengan menyapa tetangga, Anda tidak hanya membuat bahagia orang lain, tetapi mereka akan menyapa balik dan Anda juga merasa senang."
Foto: picture-alliance/dpa/C. Klose
Berdansa
Saat berdansa atau menari dengan pasangan, Anda akan tidak hanya melepaskan hormon endorfin tetapi juga merawat hubungan dengan pasangan. Atau sekedar menari sendirian dengan musik kesayangan juga akan membuat Anda merasa bahagia.
Foto: Getty Images/W. McNamee
Olahraga
Tidak heran orang yang bahagia berolahraga setiap hari. Berjalan kaki selama 20 menit juga sudah termasuk olahraga. Dr Bell: "Saat berolahraga, endorfin akan masuk dalam aliran darah dan zat kimia yang mengalir dalam tubuh akan membuat Anda merasa bahagia."
Orang yang bermeditasi setiap hari, 50 persen merasa lebih bahagia dibanding yang tidak melakukannya. Demikian ujar Dr Bell. Saat aktif, gelombang dalam otak adalah gelombang beta. Saat bermeditasi, gelombang berubah menjadi alfa, sumber energi kreatif. Kedua gelombang otak sama pentingnya, tapi jika gelombang alfa diabaikan, energi kreatif akan menghilang. vlz/ml (dari berbagai sumber)
Foto: Fotolia/Robert Kneschke
8 foto1 | 8
Pemuda membentuk kehidupan
Yang paling menyedihkan dan mengkhawatirkan adalah generasi muda "secara signifikan tertinggal dari generasi sebelumnya dalam hal kesejahteraan subjektif dan mental," kata profesor muda sosiologi terapan di Universitas Kaiserslautern-Landau, Leonie Steckermeier.
Secara keseluruhan, "tingkat kemakmuran yang sangat rendah ditemukan pada kelompok usia muda. Hal ini, sebagaimana dicatat oleh penulis sendiri, mengejutkan dari perspektif ilmiah dan dari perspektif kebijakan.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
Ingin Bahagia? Tinggalkan Kebiasaan Ini!
Tetap bahagia walaupun nasib buruk menimpa? Atau jika kegagalan demi kegagalan datang silih berganti? Itu bukan tidak mungkin. Dan itu bisa dilatih lewat kebiasaan hidup sehari-hari.
Foto: picture-alliance/PhotoAlto/E. Audras
Ketergantungan
Memang setiap orang butuh hubungan dengan orang lain. Ini terutama menguntungkan jika orang butuh bantuan. Tetapi orang juga harus mampu berdiri sendiri. Karena ada masa, di mana tidak ada orang yang bisa dimintai tolong. Dan terlalu sering minta tolong menimbulkan ketergantungan, dan bisa mengganggu hubungan dengan orang lain.
Foto: picture alliance / Jan-Philipp Strobel/dpa
Tiap hari sama
Keteraturan dalam hidup sehari-hari membantu kita secara psikis, karena menawarkan kepastian juga ketenangan. Tetapi kadang kita juga butuh perubahan, dan input atau tantangan baru, untuk merasa bahagia. Jika tiap hari menyantap makanan yang sama, lama-kelamaan juga bosan.
Foto: picture alliance/Bildagentur-online/Yay
Terus-menerus di media sosial
Instagram, Facebook dan jejaring sosial lain kerap hanya menampilkan satu sisi saja dari hidup orang lain, misalnya hanya saat tampil keren, atau pergi berlibur ke tempat-tempat mentereng. Jika hanya ini yang kita "santap" setiap hari, kita semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya tidak selalu indah. Akibatnya kita semakin merasa tidak puas dengan diri sendiri atau hidup kita.
Foto: Shestakoff/Fotolia
Anggap diri paling penting di dunia
Mungkin yang Anda kerjakan memang penting. Tapi sekali-kali tidak merasa "paling penting di dunia" sangat membantu mengurangi stress dan tekanan untuk selalu memberikan yang terbaik. Lagi pula bisa juga, yang Anda lakukan tidak terlalu penting bagi orang lain.
Foto: Colourbox
Tubuh butuh pergerakan
Ini harus dilakukan terutama bukan untuk penampilan. Sejumlah studi sudah menunjukkan, tubuh harus digerakkan demi kesehatan. Bukan berarti orang harus segera mampu berpartisipasi dalam maraton atau berolah raga seperti olahragawan profesional. Hal yang bisa dipraktekkan misalnya: jika bisa menggunakan tangga, jangan gunakan lift. Jika bisa berjalan tidak usah naik mobil, dan sebagainya.
Foto: picture-alliance/dpa/B. pedersen
Memainkan "peran" tertentu
Dalam hidup, orang kadang harus memainkan "peran" tertentu. Ini penting dalam bersosialisasi dan bermasyarakat, agar segalanya berjalan lancar. Tetapi sebaiknya diperhatikan untuk tidak selalu hanya memainkan peran itu. Karena kebutuhan kita sendiri tidak akan terpenuhi, dan ide-ide tidak akan berkembang. Akibatnya: tidak bahagia. (Ed.: ml/hp, sumber: Brigitte, Huffington Post.)