1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

OSCE Batal Kirim Pengamat ke Rusia

27 Februari 2008

Tarik ulur antar Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) dan Moskow berujung pada pembatalan pengiriman tim pengamat pemilu OSCE ke Rusia.

Russland Wahlen
Poster pemilu Presiden Putin (kiri) dan calon presiden Dmitry Medvedev (kanan) di St. PetersburgFoto: picture-alliance/ dpa
Rusia marah saat mendengar Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) menolak untuk mengirim tim pengamat pemilu ke Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergej Lavrov menyatakan OSCE tidak menyepakati usulan kompromi yang diajukan Rusia. Sebelumnya kedua pihak memang membahas prasyarat bagi suatu misi OSCE di Rusia. Tapi, hasil perundingan tersebut dinilai mengecewakan oleh pihak OSCE. Diungkap Jens-Hagen Eschenbaecher, juru bicara Badan HAM dan Demokrasi (ODIHR) yang merupakan bagian OSCE: “Kami ingin menjamin, misi pengamatan pemilu ini tetap kredibel dan terpercaya. Tapi gerak kami dibatasi oleh Rusia, jangka waktu misi terlalu pendek dan jumlah pengamat yang diizinkan masuk Rusia terlalu sedikit. Karena itu kami terpaksa membatalkan pengiriman komisi pengamat pemilu ke Rusia." Misi komisi pengamat pemilu seharusnya tak hanya terbatas pada hari pemilihan saja. Sementara Rusia baru mengizinkan tim Badan HAM dan Demokrasi (ODIHR) masuk Rusia tiga hari sebelum pemilu. Menanggapi dari pihak OSCE, Rusia memajukan tenggat waktunya menjadi 20 Februari atau hampir dua minggu sebelum pemilu presiden Rusia yang digelar 2 Maret mendatang. Biasanya, komisi pengamat pemilu dari ODIHR terdiri dari tim inti yang ditempatkan di ibu kota negara yang akan menggelar pemilu. Tim tersebut mencakup pakar media, ahli perundang-undangan pemilu dan konstitusi. Tim inti ini dibantu oleh oleh sejumlah kelompok pengamat jangka panjang dan pendek yang tersebar di daerah-daerah. Mereka mulai bertugas enam sampai delapan minggu sebelum pemilu digelar. Mereka akan berhubungan dengan politisi, para calon, media dan wakil masyarakat sipil untuk membahas persiapan pemilu. Rusia menuduh, Barat mencoba mempengaruhi politik dalam negeri Rusia melalui pengiriman komisi pengamat pemilu. Argumen tersebut ditepis juru bicara Badan HAM dan Demokrasi Jens-Hagen Eschenbaecher: “Setiap negara anggota OSCE, termasuk Rusia, bertanggung jawab untuk memenuhi standar tertentu. Salah satunya adalah penyelenggaraan pemilu ynag demokratis. Tugas kami adalah mengamati apakah standar tersebut dipenuhi atau tidak." Sama halnya dengan pemilu parlemen Desember lalu, pemilu presiden di Rusia 2 Maret mendatang pun akan berlangsung tanpa tim pengamat dari OSCE. Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa tidak akan meluncurkan laporan menjelang pemilu presiden kali ini. Lalu, bagaimana dengan pemilu-pemilu mendatang di Rusia? Juru bicara Badan HAM dan Demokrasi Eschenbaecher mencoba menjawab pertanyaan ini dengan diplomatis: “Kami akan melanjutkan dialog dengan pihak berwenang Rusia. Di masa lalu kami mengamati pemilu di negara itu dan kerja sama dengan pemerintah berjalan lancar-lancar saja. Kami berharap kerja sama positif ini akan berlanjut di masa depan." (zer)