Gelombang kemarahan publik atas korupsi di Asia Tenggara kerap direspons dengan pendekatan keras. Pakar mengingatkan, langkah itu bisa disalahgunakan untuk menjatuhkan lawan politik dan melindungi kepentingan pribadi.
Foto ilustrasi korupsiFoto: Depositphotos/IMAGO
Iklan
Pada Jumat (13/02) lalu, dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto kembali mengangkat argumen lama yang kerap terdengar di Asia Tenggara: hanya negara yang kuat yang mampu mencabut korupsi hingga ke akar-akarnya. Ia membingkai penguatan kekuasaan eksekutif sebagai langkah praktis untuk memberantas praktik korupsi.
"Sebagian kelompok terus mengeluh, mengatakan hal seperti ‘Prabowo otoriter',” ujarnya dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026.
"Tapi kalau ditanya rakyat, jangan-jangan perlu juga sedikit-sedikit otoriter, jangan-jangan, untuk melawan koruptor-koruptor itu,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah rilis Indeks Persepsi Korupsi terbaru dari Transparency International pada 10 Februari lalu, yang menempatkan Indonesia di peringkat 109 dari 182 negara. Turun 10 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Ini bukan kali pertama Prabowo mengusung narasi kepemimpinan kuat dalam agenda antikorupsi. Ia juga beberapa kali menuai kritik karena merujuk pada masa otoriter Indonesia.
Sejak menjabat presiden, mantan jenderal yang pernah dituduh melakukan pelanggaran HAM itu sering menggambarkan Soeharto, mantan diktator sekaligus mertuanya, sebagai seorang pahlawan.
Iklan
Asia Tenggara bangkit melawan korupsi
Pertengahan tahun 2025 lalu, gelombang demonstrasi nasional yang dipimpin kalangan muda pecah di Indonesia, memprotes korupsi dan ketimpangan kekayaan. Kelompok hak asasi manusia menyebut respons aparat kepolisian berlangsung keras hingga menimbulkan korban jiwa, sementara para demonstran juga menghadapi intimidasi di ruang digital.
Aksi besar menentang korupsi juga terjadi di Filipina dan Timor-Leste pada periode yang sama.
"Di banyak negara Asia-Pasifik, tata kelola pemerintahan yang baik tergerus oleh lemahnya penegakan hukum, kepemimpinan yang tak akuntabel, serta minimnya transparansi pendanaan politik,” kata Ilham Mohamed, penasihat Asia-Pasifik untuk Transparency International, dalam sebuah pernyataan.
"Ketika generasi muda menuntut perubahan, para pemimpin harus segera bertindak untuk memberantas korupsi dan memperkuat demokrasi. Reformasi yang nyata dapat memulihkan kepercayaan publik dan menunjukkan bahwa penguasa benar-benar mendengar,” lanjutnya.
Namun, komentar terbaru Prabowo kembali memicu perdebatan soal konsentrasi kekuasaan dan dampaknya terhadap pemberantasan korupsi. Sejumlah pihak menilai pendekatan otoriter justru berisiko melahirkan penegakan hukum yang tebang pilih.
Yassar Aulia dari Indonesia Corruption Watch mengatakan kepada media Jakarta Post bahwa "keberhasilan pemberantasan korupsi tidak membutuhkan retorika di podium atau kepemimpinan otoriter.”
Meski demikian, bagi sebagian masyarakat Indonesia, sikap Prabowo dinilai masuk akal. Survei terbaru Indikator Politik menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Prabowo mendekati 80 persen, dengan persepsi langkah tegas melawan korupsi sebagai salah satu alasan utama.
Rangkaian Aksi Protes: Isu Tunjangan DPR hingga Patroli Aparat
Demonstrasi pecah sejak 25 Agustus 2025 setelah publik marah soal tunjangan rumah DPR Rp50 juta per bulan. Aksi meluas dan memuncak saat kendaraan taktis Brimob melindas pengemudi ojol Affan Kurniawan hingga tewas.
Foto: Dita Alangkara/AP Photo/picture alliance
Isu gaji fantastis DPR mencuat
Isu bermula dari pernyataan TB Hasanuddin soal gaji DPR yang bisa mencapai Rp100 juta per bulan. Publik lalu menyoroti tunjangan rumah Rp50 juta, yang dibenarkan Ketua DPR Puan Maharani sebagai pengganti rumah dinas. Pernyataan itu memicu kritik luas. Gelombang protes pun menyebar cepat, menuntut transparansi dan keadilan anggaran negara.
Foto: Levie Wardana/DW
Blunder pernyataan anggota DPR
Pernyataan kontroversial sejumlah anggota DPR memicu kemarahan publik. Nafa Urbach menyoroti kemacetan dari rumahnya di Bintaro sebagai alasan perlunya tunjangan rumah, sementara Ahmad Sahroni menyebut seruan pembubaran DPR sebagai ucapan “orang tolol sedunia”, memicu kritik luas di media sosial.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Awal gelombang protes
Gelombang unjuk rasa pertama pecah di Jakarta, Senin (25/08). Mahasiswa, buruh, dan aktivis mengecam kebijakan tunjangan rumah DPR. Tak satu pun anggota dewan menemui massa. Aksi ricuh berlangsung hingga malam hari, polisi blokir jalan utama dan bubarkan massa dengan gas air mata. Bentrokan juga terjadi di Medan dan Palu antara mahasiswa dan aparat.
Foto: Donal Husni/ZUMA/dpa/picture alliance
Brimob lindas pengemudi ojek online
Sejak Kamis (28/08) pagi, ribuan buruh turun ke jalan menuntut kenaikan upah, penghentian outsourcing, dan pembatalan tunjangan DPR. Usai bubar, mahasiswa lanjutkan aksi. Sore, bentrokan pecah saat massa panjat pagar DPR, meluas ke kawasan Asia Afrika dan Tanah Abang. Malam, mobil Brimob melindas pengemudi ojek online Affan Kurniawan (21) hingga tewas.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Pemakaman Affan dan eskalasi kerusuhan
Eskalasi aksi makin memanas. Pada Jumat (29/08) pagi, kabar tewasnya Affan Kurniawan viral. Ribuan ojek online kawal pemakamannya di Karet Bivak. Massa kemudian kepung Mabes Polri dan Markas Brimob Kwitang. Marinir dan Kostrad dikerahkan. Kerusuhan menjalar ke berbagai titik Jakarta, termasuk pembakaran Halte TransJakarta Senen dan perusakan fasilitas umum.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Suara dari Istana
Presiden Prabowo akhirnya angkat bicara soal kerusuhan. Ia menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Affan Kurniawan dan mengecam tindakan aparat yang dinilai berlebihan. Ia menjanjikan investigasi transparan, menjamin kehidupan keluarga korban, serta menyerukan ketenangan publik sambil memperingatkan pihak yang ingin memicu kekacauan.
Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
Kerusuhan di daerah
Kerusuhan meluas ke berbagai daerah. Di Makassar, gedung DPRD dibakar, menewaskan tiga orang dan melukai lima lainnya. Di Solo, tukang becak tewas diduga akibat gas air mata, sementara di Surabaya kericuhan merusak hotel dan toko. Total korban jiwa pada Jumat (29/08) sedikitnya lima orang, ratusan luka-luka. IHSG anjlok 2,27%, rupiah melemah hampir 1%.
Foto: Bilal Wibisono/REUTERS
Korban bertambah dan protes meluas
Di Yogyakarta, mahasiswa AMIKOM Rheza Sendy Pratama (21) tewas usai bentrok di Mapolda DIY. Di Makassar, pengemudi ojek online Rusdamdiansyah tewas dikeroyok massa karena disangka intel. Gedung DPRD NTB di Mataram dibakar. Aksi juga terjadi di Surabaya, Solo, Cirebon, dan kota lain.
Rumah Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya dirusak dan dijarah saat kerusuhan meluas. Presiden Prabowo perintahkan TNI-Polri bertindak tegas. Kapolri izinkan anggotanya menggunakan peluru karet. Eskalasi meningkat, aparat diberi ruang lebih keras. Fitur live TikTok pun diblokir, diduga untuk meredam penyebaran aksi secara real-time.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Pertemuan elite politik
Pada Minggu (31/08) dini hari, rumah Menkeu Sri Mulyani dijarah. Sementara massa sempat mendatangi rumah Puan Maharani, tetapi berhasil dihalau. Siang harinya, Presiden Prabowo mengumpulkan ketua umum partai dan menteri di Istana. Disepakati pencabutan tunjangan rumah DPR, moratorium kunjungan luar negeri, dan penonaktifan kader kontroversial.
Foto: BPMI Setpres
Prabowo: Kerusuhan mengarah pada makar dan terorisme
Prabowo memerintahkan aparat bertindak keras terhadap perusuh dan menyebut sebagian kerusuhan mengarah pada makar dan terorisme. Pernyataan ini dikritik Amnesty sebagai retorika berlebihan yang bisa membenarkan kekerasan aparat. YLBHI menilai presiden gagal menangkap akar kemarahan rakyat dan mendesak reformasi Polri, penghentian represifitas, serta pembebasan demonstran.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Jakarta mereda, Prabowo apresiasi aparat
Rencana aksi lanjutan di Jakarta batal, massa tidak terkonsentrasi. Presiden Prabowo mengunjungi RS Polri di Jakarta Timur. Ia memuji aparat, menjanjikan biaya pengobatan, kenaikan pangkat, bahkan beasiswa. Sikap ini menuai kritik karena lebih menonjolkan penghargaan pada polisi dibanding empati kepada korban sipil.
Foto: Firda/Detikcom
10 warga sipil tewas
Hingga Selasa (02/09), ratusan pendemo terluka dalam aksi di berbagai daerah. Sementara untuk korban jiwa, Tempo mencatat telah mencapai 10 orang, yakni Affan Kurniawan, Andika Luthfi Falah, Iko Juliant Junior, Rheza Sendy Pratama, Sumari, Septinus Sesa, Syaiful Akbar, Muhammad Akbar Basri, Sarinawati, dan
Rusmadiansyah. (rvs/ha)
Foto: Juni Kriswanto/AFP/Getty Images
13 foto1 | 13
Singapura sebagai model antikorupsi?
Sebagian besar negara dengan skor terbaik dalam Indeks Persepsi Korupsi merupakan demokrasi liberal Barat. Namun, salah satu dari tiga negara dengan tingkat korupsi terendah adalah Singapura, yang sangat makmur sekaligus dikenal dengan tata kelola yang ketat.
Dalam indeks demokrasi Freedom House, Singapura berstatus "sebagian bebas” dengan skor 48 dari 100, setara dengan Honduras dan Guatemala. Sejak merdeka pada 1965, negara tersebut diperintah oleh People's Action Party (PAP).
Di sisi lain, Singapura membangun reputasi penegakan hukum yang tegas, dengan Corrupt Practices Investigation Bureau sebagai ujung tombak dan sanksi berat bagi pelaku korupsi. Negara itu juga menempati peringkat atas dalam Rule of Law Index yang disusun World Justice Project.
Beberapa negara kecil lain dengan sistem otoriter, seperti Hong Kong dan Brunei, juga mencatat skor relatif baik dalam indeks antikorupsi. Hong Kong masih bertahan di 20 besar Indeks Persepsi Korupsi meski sistem politiknya kini berada di bawah kendali efektif Partai Komunis Cina. Brunei, monarki absolut yang terakhir menggelar pemilu pada 1962, berada di peringkat ke-31 dunia dan kedua tertinggi di Asia Tenggara.
Laos, yang dikelola pemerintahan komunis satu partai yang tergolong sangat otoriter, memiliki peringkat lebih baik dibanding Thailand dan Filipina yang demokratis. Vietnam, juga negara satu partai komunis, dinilai lebih bersih dibanding Indonesia.
Korupsi dan elite politik di Asia Tenggara
Pada 2016, Partai Komunis Vietnam menggencarkan kampanye antikorupsi bertajuk "tungku api menyala,” yang menjatuhkan sejumlah pejabat tinggi, termasuk mantan Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc dan Presiden Vo Van Thuong.
Upaya pemakzulan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr atas dugaan korupsi gagal bulan lalu. Namun, Wakil Presiden Sara Duterte sempat dimakzulkan oleh parlemen tahun lalu atas tuduhan penyalahgunaan dana rahasia, kekayaan tak wajar, serta ancaman terhadap presiden. Meski kemudian dibatalkan karena alasan teknis. Duterte, yang pekan lalu menyatakan akan maju dalam pemilihan presiden 2028, kini kembali menghadapi laporan pemakzulan baru.
Ratna Juwita, asisten profesor di Universitas Atma Jaya Yogyakarta sekaligus peneliti tamu di University of Groningen, mengatakan kepada DW bahwa efektivitas pemberantasan korupsi "tidak semata ditentukan oleh sistem politik, melainkan oleh faktor seperti supremasi hukum, meritokrasi, serta internalisasi nilai integritas melalui pendidikan dan norma sosial.”
"Demokrasi saja tidak otomatis menjamin mekanisme antikorupsi yang kuat, karena institusi demokratis formal bisa saja hidup berdampingan dengan jaringan patronase dan dominasi elite,” ujarnya.
Peringkat Korupsi Negara Anggota ASEAN
Indonesia bukan yang terkorup di Asia Tenggara. Tapi pemerintah di Jakarta tertinggal jauh dibandingkan negeri jiran dalam urusan memberantas praktik korupsi di tingkat pejabat tinggi.
Foto: Reuters
Singapura - Peringkat 7 dari 175 Negara
Negeri singa laut ini sejak lama dikenal minim korupsi. Dari tahun ke tahun Singapura nyaris tak pernah absen dari daftar 10 besar negara terbersih di dunia. Namun begitu beberapa sektor tetap dianggap rawan korupsi, antara lain media, industri dan partai politik.
Foto: AFP/Getty Images
Malaysia - 50 dari 175
Praktik korupsi di Malaysia didorong oleh sistem pemerintahan. Sumbangan buat partai politik misalnya, baik dari perusahaan maupun individu, tidak dibatasi dan partai tidak diwajibkan melaporkan neraca keuangannya secara terbuka. Kendati bergitu sejak 2013 Malaysia naik tiga peringkat dalam Indeks Persepsi Korupsi milik Transparency International.
Foto: Reuters/O. Harris
Thailand - 85 dari 175
Pertalian erat antara politik dan bisnis dinilai menjadi sumber terbesar praktik korupsi di Thailand. Tidak jarang posisi puncak di kementrian diambilalih oleh pengusaha yang bergerak di bidang yang sama. Thailand juga termasuk negara yang paling sedikit menjebloskan koruptor ke penjara.
Foto: Nicolas Asfouri/AFP/Getty Images
Filipina - 85 dari 175
Pemerintah negeri kepulauan di tepi laut Cina Selatan ini telah berbuat banyak buat mencegah praktik korupsi. Hasilnya posisi Filipina melejit dari peringkat 94 tahun 2013 lalu ke posisi 85 di tahun 2014. Pencapaian tersebut tergolong apik, mengingat tahun 2011 Filipina masih bercokol di peringkat 129 dari 175 negara.
Foto: picture-alliance/dpa
Indonesia - 107 dari 175
Indonesia berada di peringkat 114 tahun 2013 silam. Dibandingkan negeri jiran yang lain seperti Filipina, pemerintah di Jakarta masih tergolong lambat memberantas praktik korupsi di tingkat pejabat tinggi negara. Sejak awal berdirinya 2004 silam, Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) tercatat cuma mampu menangani sekitar 660 kasus dugaan korupsi, yang membuahkan 322 tuntutan di pengadilan.
Foto: R. Isabell Duerr
Vietnam - 119 dari 175
Negara komunis Vietnam adalah satu dari sedikit negara ASEAN yang tertinggal di bidang penanganan korupsi. Uniknya sebagian besar kasus dugaan korupsi di Vietnam terjadi di sektor swasta. Baru-baru ini empat pejabat perusahaan kereta api negara dipecat lantaran terlibat dalam kasus suap senilai 758.000 US Dollar. Maraknya korupsi menjadi alasan rendahnya keterlibatan investor asing di Vietnam.
Foto: DW/R. Ebbighausen
Laos - 145 dari 175
Laos tidak cuma tertinggal, malah merosot dari peringkat 140 di tahun 2013 ke posisi 145 tahun lalu. Pemerintah Laos berupaya menghadang gelombang korupsi dengan mendirikan lembaga anti rasuah 2011 silam. Namun hingga kini belum tercatat adanya kasus korupsi besar yang masuk ke pengadilan.
Foto: Global Witness
Kamboja - 156 dari 175
Sejak 2010 pemerintah Kamboja memiliki Undang-undang Anti Korupsi. Tapi perangkat hukum tersebut dinilai tidak melindungi individu yang melaporkan kasus korupsi. Pelapor bisa dihukum penjara jika tudingannya tidak terbukti. Selain itu Kamboja juga mencatat jenis korupsi paling barbarik, yakni menyuap aparat negara untuk melakukan penculikan dalam bisnis perdagangan manusia.
Foto: Reuters
Myanmar - 156 dari 175
Negara yang dikenal dengan nama Burma ini memperbaiki posisi satu peringkat dari 157 ke 156 dalam Indeks Persepsi Korupsi 2014. Berada di bawah kekuasaan militer yang korup selama berpuluh tahun, Myanmar yang kini berada di bawah pemerintahan sipil masih kesulitan menanggulangi maraknya korupsi. Sebanyak 60% perusahaan, baik lokal maupun internasional, mengaku harus menyuap buat mendapatkan izin.
Foto: Reuters
9 foto1 | 9
Mengapa Singapura dianggap pengecualian?
Singapura kerap dilihat sebagai anomali: secara de facto negara satu partai, tetapi konsisten menempati peringkat atas dalam hal supremasi hukum dan transparansi.
Salah satu penjelasan umum adalah faktor ukuran. Dengan populasi sekitar enam juta jiwa, struktur pemerintahan Singapura lebih ringkas dan birokrasi yang terpusat lebih mudah diawasi serta diaudit.
Faktor kepemimpinan juga berperan. Lee Kuan Yew, pendiri Singapura, menjadikan pemerintahan bersih sebagai sumber legitimasi utama.
Namun, menurut Joseph Pozsgai, pakar antikorupsi dari Osaka University, persoalannya juga terletak pada cara pengukuran. Indeks Persepsi Korupsi, misalnya, tidak memasukkan data aliran keuangan ilegal, pencucian uang, atau korupsi sektor swasta.
Lebih jauh, indeks tersebut mencerminkan cara pandang tertentu terhadap korupsi: yang lebih menekankan pada suap ketimbang penyalahgunaan kekuasaan publik dari perspektif republikan klasik.
Ia menjelaskan bahwa sejak 1970-an, ekonom dan pembuat kebijakan cenderung melihat korupsi sebagai persoalan tanggung jawab individu dan keuntungan finansial, bukan lagi sebagai isu integritas kehidupan publik dan pelayanan terhadap kepentingan umum.
"Pendekatan lama terhadap antikorupsi memandangnya melekat pada demokrasi, karena pembatasan akses terhadap kompetisi politik dan akuntabilitas vertikal juga merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan demi keuntungan pribadi,” kata Pozsgai.
Dalam konteks itu, Singapura tampak "bersih” menurut ukuran umum antikorupsi, tetapi tetap menunjukkan bagaimana elite politik dapat mempertahankan dan menikmati kekuasaan dengan cara yang, dari sudut pandang hak sipil, bisa dianggap bermasalah.
Sejumlah negara Asia Tenggara memang menunjukkan bahwa rezim otoriter mampu menghasilkan gebrakan besar dalam pemberantasan korupsi. Namun, para analis mengingatkan, upaya yang benar-benar efektif tetap membutuhkan peradilan independen, lembaga pengawas yang kuat, dan pers yang bebas. Tanpa itu, agenda antikorupsi berisiko menjadi alat untuk menyingkirkan lawan dan melindungi sekutu penguasa.
Artikel pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh: Alfi Milano Anadri
Editor: Tezar Aditya
Prabowo di Panggung Dunia, Apa Manfaat untuk Rakyat?