Baliho raksasa berisi foto guru besar terpajang di jalan utama. Puncak kejayaan akademik yang patut dirayakan? Benarkah “guru besar” di Indonesia sama prestisiusnya dengan gelar profesor di kampus-kampus ternama dunia?
Gambar simbol akademisiFoto: Rainer Unkel/Imago Images
Iklan
Sejak tiba di Indonesia beberapa bulan terakhir ini saya dikejutkan dengan adanya baliho-baliho berukuran raksasa yang dipasang di ruas-ruas jalan utama di Kota Semarang.
Baliho-baliho itu berisi foto diri sejumlah orang disertai ucapan selamat kepada mereka yang telah meraih jabatan "guru besar” atau di Indonesia disebut "profesor.” Tersirat ada kebanggaan luar biasa karena telah meraih predikat "profesor” yang mungkin dianggap sebagai prestasi yang spektakuler.
Tetapi jika direnungkan secara mendalam sebetulnya apa sih yang patut dibanggakan dari "gelar” "profesor” di kampus Indonesia?
Apakah predikat "guru besar” itu sebuah prestasi gemilang yang sulit diraih oleh seorang dosen di perguruan tinggi sehingga perlu dirayakan secara berlebihan dengan memasang baliho-baliho berukuran jumbo dan dipajang di jalan-jalan dan tempat umum?
Dan kalaupun itu dipandang sebagai sebuah "prestasi,” perlukah itu dirayakan dengan memasang baliho-baliho besar semacam itu?
Penulis kolom:Sumanto al QurtubyFoto: S. al Qurtuby
Apakah fenomena ini mengindikasikan kalau dunia akademik Indonesia sudah terpapar "virus” dunia politik, bisnis, dan sosial masyarakat Indonesia yang hobi memasang spanduk dan baliho jumbo foto diri di ruang publik?
Dunia akademik seharusnya tidak perlu ikut-ikutan latah dunia politik, bisnis, dan sosial di luar kampus. Bahkah idealnya atau seharusnya dunia akademik ikut mengkritik "budaya baliho” dan "tradisi selebrasi” berlebihan masyarakat nonkampus yang identik dengan "budaya pamer.”
Selama kurang lebih dua puluh tahun saya mengajar atau meneliti di sejumlah kampus bereputasi dan berkualitas di sejumlah negara di luar negeri: Boston University, University of Notre Dame, National University of Singapore, King Fahd University of Petroleum & Minerals, dan terakhir Kyoto University, baru kali ini saya menjumpai fenomena "balihosasi” atau "spandukisasi” jabatan atau gelar profesor.
Di kampus-kampus ternama di luar negeri, professorship atau kenaikan pangkat jabatan akademik apapun adalah hal yang biasa saja yang tidak ada istimewanya sama sekali sehingga tidak perlu dirayakan secara berlebihan.
Kalaupun dirayakan, paling banter hanya mengtraktir teman dekatnya saja. Itupun kalau sohibnya tahu dan minta ditraktir. Pengumuman kenaikan pangkat paling-paling hanya dilakukan di email/grup internal terbatas atau di rapat dan website departemen. Tidak ada "pidato pengukuhan” guru besar misalnya apalagi sampai memasang spanduk dan baliho jumbo di jalan dan tempat umum.
Universitas Elit di Jerman
Jerman menjadi rumah bagi beberapa perguruan tinggi bergengsi, karena prestasi penelitian mereka dan rencana inovatifnya untuk masa depan. Berikut di antaranya.
RWTH Aachen
Pas untuk penggila teknik. RWTH Aachen berupaya mengatasi masalah kekurangan pekerja terampil -terutama di bidang teknik- dengan menelurkan lulusan-lulusan berkualitas tinggi. Dari sekitar 5000 mahasiswa asing yang menuntut ilmu di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule ini, sebagian besarnya berasal dari Asia.
Foto: Martin Lux
Universitas Terbuka FU Berlin
Freie Universität -FU Berlin- adalah yang terbesar dari empat universitas di Berlin dan yang pertama diizinkan menyandang status sebagai universitas elit. Perguruan tinggi ini bekerjasama dengan universitas-universitas terkemuka di Brüssel, Kairo, New-Delhi, New York, Moskow, Beijing und São Paulo.
Foto: Bernd Wannenmacher
Universitas Humbolt HU Berlin
Universitas di Berlin ini menghasilkan begitu banyak ilmuwan terkenal dan pemenang Hadiah Nobel. Mahasiswi memperoleh perhatian besar di universitas yang menggabungkan pendidikan dan penelitian ini. Dengan konsep: "Pendidikan lewat ilmu pengetahuan: kepribadian, keterbukaan, orientasi", universitas ini menyandang gelar sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di Jerman.
Foto: Heike Zappe/CC NY-NC-ND 3.0
Universitas Bremen
Padang rumput dan pertanian. Begitulah lahan kampus Bremen sebelum universitas dengan 20.000 mahasiswa ini berdiri. Kini, lebih dari 400 perusahaan dan lembaga berdiri di sekitar universitas elit ini. Menitikberatkan pada teknologi dan riset, universitas Bremen menjalin kerjasama dengan berbagai institusi terkemuka, di antaranya: Helmholtz dan Max Planck.
Foto: Universität Bremen
Universitas Teknik TU Dresden
Jurusan teknologi mikro menjadi andalan Universitas Dresden. Tapi itu bukan satu-satunya alasan mengapa ia bergelar "universitas elit". Melainkan juga dalam penelitian medis khususnya terapi regeneratif baru untuk penyakit kekebalan tubuh yang sebelumnya tak dapat disembuhkan. Sekitar 250 pascasarjana berbagai disiplin ilmu, kedokteran, mikrobiologi dan biokimia mendalami penelitian di sini.
Foto: TUD/Liebert
Universitas Heidelberg
Universitas Heidelberg peduli akan ilmuwan muda mereka. Universitas ini mempersiapkan profesor muda dalam pekerjaan mereka dan membantu mereka untuk mengatur pengajaran dan penelitian bersama-sama. Di sini terdapat pascasarjana untuk fisika dasar, metode matematika dan komputasi serta biologi molekuler dan sel. Sekitar satu dari lima siswa Heidelberg berasal dari luar negeri.
Foto: picture-alliance/Bildagentur Huber
Universitas Köln
Sewa kamar atau rumah di kota ini cukup tinggi, karena ruang hidup tergolong padat. Namun, ribuan siswa tiap tahunnya berduyun-duyun mendaftar di Universitas Köln. Universitas ini didirikan pada tahun1388. Sekitar 12 persen mahasiswanya merupakan mahasiswa asing. Enam persen tenaga pengajar didatangkan dari mancanegara.
Foto: Norbert Jaehrling
Universitas Konstanz
Kampus Universitas Konstanz menyediakan perpustakaan 24 jam. Ini adalah bagian dari model pembelajaran masa depan. Proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan individu mahasiswa dan mahasiswa pascasarjana dalam rangka mendorong penelitian yang kreatif. Penting bagi Universitas Konstanz: kerjasama yang intensif antara periset muda dan sarjana terkenal dari dalam dan luar negeri.
Foto: Peter Schmidt
Universitas Ludwig Maxmillian LMU München
LMU München menarik siswa Jerman maupun mancanegara. Dari hampir 49.000 siswanya, 14 persennya berasal dari luar negeri. Dan mereka semua yakin bahwa nama baik LMU München dapat meningkatkan kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Di sini, mereka memiliki pilihan antara sekitar 150 bidang studi di 18 fakultas. Dari Mesir Kuno sampai kedokteran gigi dapat dipelajari di LMU.
Foto: picture-alliance/dpa
Universitas Teknik München
Siapa yang ingin menjadi seorang profesor di Jerman, tak selalu mulus. Kontrak kerja dengan jangka waktu pendek dan posisi mengajar yang dibayar rendah. Universitas Teknik München berusaha melepaskan diri dari hambatan ini dengan memilih model seperti di Amerika Serikat. Ilmuwan muda yang dipilih dapat bekerja berjenjang dari asisten profesor hingga profesor dalam waktu tertentu.
Foto: TUM/Albert Scharger
Universitas Tübingen
Universitas Tübingen terkenal menghasilkan sastrawan dan pemikir. Sekarang mereka tidak hanya hidup dengan nama-nama besar dari masa lalu, tetapi juga dengan rencana besar untuk masa depan datang sebagai universitas elit.
Foto: picture-alliance/dpa
11 foto1 | 11
Bagaimana di luar negeri?
Padahal kenaikan pangkat akademik bukanlah perkara mudah di kampus-kampus ternama di luar negeri. Selama bertahun-tahun saya terlibat di komite kenaikan pangkat yang bertugas mengevaluasi berkas-berkas dosen yang melamar kenaikan pangkat ini sehingga sedikit tahu seluk-beluknya.
Iklan
Di kampus-kampus luar negeri, urusan kenaikan pangkat bukan dilakukan oleh negara (pemerintah) melainkan internal kampus.
Masing-masing kampus memiliki standar kelayakan yang berbeda. Karena perbedaan standar kelayakan ini, seorang dosen dengan pangkat tertentu di kampus tertentu belum tentu diterima atau diakui pangkatnya di kampus lain.
Saya tahu sejumlah teman dosen di kampus-kampus ternama di Amerika dan Eropa yang pangkat mereka tidak kunjung naik meskipun sebetulnya sudah memiliki banyak publikasi di jurnal-jurnal ilmiah bereputasi serta menulis sejumlah buku akademik yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit berkualitas.
Bisa dipastikan, jika di kampus Indonesia, daftar karya ilmiah mereka sudah lebih dari cukup untuk "menggurubesarkan” sejumlah dosen.
Mengenyam Pendidikan dan Teologi Islam di Münster
Di Jerman terdapat beberapa universitas yang menawarkan jurusan teologi Islam. Yang paling besar ada di Universitas Münster. Di jurusan ini dipersiapkan tenaga-tenaga pengajar untuk pelajaran agama Islam di Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa
Pusat pendidikan Islam terbesar di Jerman
Pusat Teologi Islam di Münster (Zentrum für Islamische Theologie, ZIT) adalah satu dari empat pusat pendidikan Teologi Islam di Jerman. Pusat pendidikan Islam lainnya terletak di Frankfurt, Tübingen dan Nürnberg. Tapi jurusan di Universitas Münster ini yang terbesar. Pusat pendidikan ini mendapat bantuan dana sekitar 20 juta Euro dari pemerintah Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa
Metode ilmiah dalam pendidikan teologi
Mouhanad Khorchide merupakan pimpinan jurusan ini. Dia menyebut dirinya sebagai seorang ilmuwan sekaligus ahli agama. Menurut Khorchide, sistem pendidikan di institutnya mengacu pada metode ilmiah yang juga diterapkan dalam pendidikan teologi umum.
Foto: Ulrike Hummel
Suasana belajar
Inilah suasana belajar di ruang kuliah studi Islam di Universitas Münster. Dewan Pengawas Pusat Teologi Islam di Münster diisi oleh anggota dari empat organisasi besar Islam yang ada di Jerman. Pimpinan pusat kajian Islam, Mouhanad Khorchide menolak interpretasi fundamenlistik dan menyebut Islam sebagai "agama yang murah hati."
Foto: Amal Diab Fischer
Tempat terbatas
Setiap tahun, ribuan orang melamar, tapi hanya sekitar 400 orang yang bisa diterima. Dua jurusan khusus yang ditawarkan adalah jurusan "Teologi Islam" dan jurusan "Pendidikan Keguruan Islam". Tampak beberapa perempuan Muslim mengikuti seminar dalam pembukaan jurusan teologi dan keguruan Islam di Universitas Münster.
Foto: picture-alliance/dpa
Ingin jadi guru
Mariam Sarwary termasuk yang berhasil masuk ke jurusan keguruan Islam. Ia bercita-cita untuk menjadi guru pelajaran agama Islam. Saat ini sudah ada mata pelajaran Islam yang ditawarkan di sekolah di beberapa negara bagian. Kebutuhan guru agama Islam di Jerman diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun depan.
Foto: Marie Coße
Mualaf yang ingin mendalami
Di universitas yang sama, Daniel Garske lebih memilih jurusan Teologi Islam ketimbang keguruan Islam. Dia seorang mualaf dan baru mulai belajar tentang Teologi Islam beberapa tahun belakangan. Dia mengatakan: "Dengan pengetahuan yang saya dapatkan di sini, saya nantinya ingin bekerja dalam bidang teologi. Saya juga ingin membantu agar wajah dan citra Islam dalam masyarakat menjadi lebih baik.
Foto: Marie Coße
Dikunjungi presiden Jerman
Dalam kunjungannya pada bulan November 2013, Presiden Jerman Joachim Gauck berbincang dengan kepala pusat studi Islam di Münster, Mouhanad Khorchide.
Foto: picture-alliance/dpa
Belajar toleransi
Masih banyak guru pelajaran Islam dibutuhkan di Jerman. Bulent Senkaragoz, di antaranya, mendidik siswa dalam pelajaran agama Islam di Münster. Sebagai pendidik kerohanian, ia menanamkan kepada murid-muridnya, tentang betapa pentingnya toleransi.
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
Proses kenaikan pangkat akademik biasanya diawali dengan penunjukkan sejumlah profesor (4-5 orang) oleh wakil rektor untuk duduk di "komite kenaikan pangkat” guna mengevaluasi berkas-berkas lamaran yang diajukan oleh dosen.
Ada tiga kriteria umum yang biasanya dipakai untuk mengevaluasi: jumlah publikasi akademik (artikel riset di jurnal dan buku), hasil evaluasi mengajar yang diberikan mahasiswa, dan keterlibatan di pengabdian kampus (misalnya urusan kepanitiaan dan administrasi tertentu).
Dari tiga kriteria ini, riset dan publikasi yang biasanya paling banyak persentase dan skor nilainya, kemudian disusul hasil evaluasi mengajar dan pengabdian. Kriteria yang dianggap tidak kalah penting adalah dosen harus memenangkan sejumlah kompetisi grant riset dari lembaga-lembaga kredibel. Mendapatkan penghargaan dari kampus dan lembaga-lembaga kredibel, meskipun bukan syarat utama, dianggap memiliki nilai plus. Untuk publikasi akademik, setiap kampus memiliki kebijakan dan standar sendiri, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas (jumlah).
Walaupun demikian, biasanya ada acuan umum yang dipakai, misalnya penerbit buku dan jurnal harus diakui secara umum kualitas dan reputasinya, bukan jurnal/penerbit buku "ecek-ecek” apalagi predator (bogus journals/publishers).
Kuliah Jurusan Filsafat di Jerman, Apa Saja yang Dipelajari?
Kelebihan kuliah jurusan Filsafat di Jerman adalah kultur saintifik yang kuat, pemikiran bebas dan literatur lengkap.
Foto: DW/Y. Pamuncak
Sistem perkuliahan berupa kuliah umum dan seminar
Di jurusan Filsafat Universität Bonn, di mana Arnold Budhi Prasetyo menuntut ilmu, terdapat dua sistem perkuliahan yaitu kuliah umum dan seminar. Pada semester musim dingin dosen akan memberikan kuliah umum Ilmu Filsafat Dasar. Lalu pada semester musim panas dosen akan mengadakan seminar-seminar dengan tema yang spesifik, contohnya ide seorang filsuf yang akan didalami.
Foto: DW/Y. Pamuncak
Empat modul yang harus dipelajari
Modul pertama adalah epistemologi yang membahas tentang hal yang abstrak, contohnya membicarakan tentang kebenaran. Modul yang lain adalah etika, yang bahas tentang apa itu baik dan buruk. Lalu berikutnya modul logika yang ajarkan tentang bagaimana cara berpikir dan berargumentasi. Dan yang terakhir adalah modul sejarah filsafat, yang bahas ide-ide filsuf dari zaman dahulu sampai zaman modern.
Foto: DW/Y. Pamuncak
Filsafat Jerman mengedepankan kelogisan dan kerasionalitasan
Menurut Arnold selama ia berkuliah jurusan Filsafat di Jerman, ia cukup banyak mempelajari bagaimana cara berpikir yang logis, sistematis, terstruktur dan rasional. “Filsafat di sini (Jerman-Red) sangat menekankan kelogisan dan kerasionalitasan,” katanya.
Foto: DW/Y. Pamuncak
Keuntungan berkuliah jurusan Filsafat di Jerman
“Karena Jerman ini dari dulu kultur pemikiran bebasnya dan kultur saintifiknya sangat kuat jadi di sini kita bisa berargumen bebas. Apa pun kita bisa bebas sampaikan itu di kelas atau di mana pun,” ujar Arnold. Keuntungan berikutnya adalah mengenai bantuan universitas yang kerap melengkapi bahan literatur berupa jurnal-jurnal internasional yang cukup komprehensif.
Foto: DW/Y. Pamuncak
Belajar di luar kelas: pentingnya berdiskusi dan baca buku
Menurut Arnold belajar di luar kelas sangat lah penting. “Karena di luar kelas misalnya kita jalan-jalan di alam, berdiskusi dengan teman, itu kita lebih bisa mendapatkan inspirasi dan akhirnya ajaran yang kita dapatkan di kelas itu bisa kita sambung-sambungkan idenya,” katanya. Selain itu yang tak kalah penting adalah memperkaya wawasan dengan banyak membaca buku-buku filsafat. (Ed:na)
Foto: DW/Y. Pamuncak
5 foto1 | 5
Jika pelamar diketahui menerbitkan karya mereka di jurnal atau penerbit buku predator tersebut (yaitu jurnal atau penerbit berbayar yang tidak menggunakan standar ilmiah dan prosedur akademik dalam mengevaluasi naskah/tulisan, misalnya tidak ada proses review memadai dari academic experts) secara otomatis berkas-berkas lamaran ditolak. Tulisan-tulisan di jurnal-jurnal yang tidak memiliki reputasi internasional juga tidak dihitung atau dianggap.
Jika seleksi internal kampus lolos, komite kemudian mengirim berkas-berkas lamaran, terutama daftar publikasi, ke para ahli, akademisi, atau profesor (minimal tiga orang) dari kampus lain untuk mengevaluasi atau mereview.
Kampus tempat akademisi tersebut berdomisili pun tidak bisa sembarangan melainkan harus memiliki reputasi akademik internasional. Jika hasil evaluasi positif, komite kemudian merekomendasikan ke pimpinan kampus yang mengurusi kenaikan pangkat untuk menyetujui kenaikan pangkat tersebut. Tetapi jika hasilnya negatif, maka secara otomatis lamaran ditolak.
Saya tahu kenaikan pangkat di kampus-kampus ternama di luar negeri bukanlah persoalan mudah karena itu wajar jika banyak dosen yang kesulitan naik pangkat meskipun sudah memiliki banyak publikasi akademik di jurnal/penerbit berkualitas dan bereputasi internasional. Karena itu seandainya mereka pada akhirnya mendapatkan "imbalan” kenaikan pangkat atas kerja-kerasnya, layak dirayakan, meskipun mereka tidak melakukannya.
Larangan Kuliah oleh Taliban, Hak Perempuan Afganistan Dirampas
Sejak merebut kekuasaan pada pertengahan 2021, Taliban semakin membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan Afganistan. Kini, mereka membatasi akses perempuan ke pendidikan tinggi hingga memicu kemarahan internasional.
Foto: AFP
Perpisahan untuk selamanya?
Perempuan tidak akan diizinkan untuk kembali berkuliah. Dalam pernyataan pemerintah pada hari Selasa (20/12), Taliban menginstruksikan semua universitas di Afganistan, baik swasta maupun negeri, untuk melarang perempuan mengenyam pendidikan. Sekarang ini semua mahasiswa perempuan dilarang masuk ke universitas
Foto: AFP
Perempuan disingkirkan
Pasukan Taliban menjaga pintu masuk sebuah universitas di Kabul, sehari setelah larangan untuk perempuan berkuliah diberlakukan. Para mahasiswi diberitahu bahwa mereka tidak bisa masuk kampus. Larangan diberlakukan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Namun, sudah ada aksi protes di universitas, di mana siswa laki-laki batal mengikuti ujian dan beberapa dosen laki-laki juga mogok mengajar.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Pendidikan tinggi hanya untuk laki-laki
Sejumlah pembatasan telah diberlakukan sebelum ini. Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021, universitas harus memisahkan pintu masuk dan ruang kuliah berdasarkan jenis kelamin. Mahasiswi hanya boleh diajar oleh dosen perempuan atau oleh pria tua. Gambar ini menunjukkan ada batas pemisah untuk mahasiswi di Universitas Kandahar.
Foto: AFP/Getty Images
Angkatan terakhir
Mahasiswi Universitas Benawa di Kandahar, masih bisa ikut wisuda Maret lalu dengan gelar di bidang teknik dan ilmu komputer. Pembatasan baru atas hak-hak perempuan di Afganistan mengundang kecaman keras dari dunia internasional. Human Rights Watch menyebut larangan kuliah bagi perempuan sebagai "keputusan yang memalukan", sementara PBB menyatakan keputusan itu melanggar hak asasi perempuan.
Foto: JAVED TANVEER/AFP
Dampaknya menghancurkan masa depan negara
Ribuan perempuan dan anak perempuan mengikuti ujian masuk universitas pada Oktober lalu, salah satunya di Universitas Kabul. Banyak yang ingin belajar kedokteran atau menjadi guru. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, larangan Taliban "tidak hanya melanggar persamaan hak perempuan dan anak perempuan, tetapi akan berdampak buruk pada masa depan negara."
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Tutup peluang pendidikan untuk perempuan
Larangan untuk perempuan berkuliah adalah satu lagi pembatasan pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan. Selama lebih dari setahun, gadis remaja hanya bisa bersekolah sampai kelas tujuh di sebagian besar provinsi. Gadis-gadis yang berjalan ke sekolah di Afganistan timur ini beruntung karena beberapa provinsi yang jauh dari pusat kekuatan Taliban mengabaikan larangan tersebut.
Foto: AFP
Negeri tanpa kehadiran perempuan
Perempuan dan anak perempuan sekarang disingkirkan dari sebagian besar aspek kehidupan publik Afganistan. Mereka tidak diizinkan mengunjungi gym atau taman bermain di Kabul selama berbulan-bulan. Taliban membenarkan larangan tersebut dengan berkilah, peraturan tentang pemisahan jenis kelamin tidak dipatuhi, dan banyak perempuan tidak mengenakan jilbab seperti yang diwajibkan oleh mereka.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Realitas distopia
Sejumlah perempuan mengumpulkan bunga safron di Herat. Ini adalah pekerjaan yang boleh mereka lakukan, tidak seperti kebanyakan profesi lainnya. Sejak berkuasa, Taliban telah memberlakukan banyak peraturan yang sangat membatasi kehidupan perempuan dan anak perempuan. Misalnya, mereka dilarang bepergian tanpa pendamping laki-laki dan harus mengenakan hijab di luar rumah setiap saat.
Foto: MOHSEN KARIMI/AFP
Sebuah aib yang memalukan
Banyak perempuan Afganistan menolak penghapusan hak-hak mereka dan berdemonstrasi di Kabul pada November lalu. Sebuah plakat bertuliskan "Kondisi Mengerikan Perempuan Afganistan Merupakan Noda Aib bagi Hati Nurani Dunia." Siapapun yang ikut protes perlu keberanian besar. Demonstran menghadapi risiko represi kekerasan dan pemenjaraan. Para aktivis hak-hak perempuan juga dianiaya di Afganistan.
Foto: AFP
9 foto1 | 9
Dunia akademik Indonesia tidak ketat?
Bandingkan dengan dunia akademik Indonesia yang bisa dikatakan tidak ketat atau bahkan "tidak jelas” proses atau prosedur kenaikan pangkat untuk mendapatkan "guru besar.”
Misalnya saya mendapatkan informasi kalau seorang dosen bisa mendapatkan pangkat "guru besar” hanya menerbitkan satu artikel di "jurnal Scopus.” Itupun bukan penulis tunggal, dan belum tentu tulisannya sendiri. Informasi lain, banyak guru besar yang sebetulnya tidak bisa menulis artikel ilmiah dalam bahasa Inggris.
Karena itu mereka membayar jasa penerjemah kemudian mengirim artikel terjemahan tersebut ke jurnal. Bahkan tidak sedikit informasi yang saya dapatkan para "guru besar” tersebut membayar orang lain untuk menulis atas nama dirinya (populer dengan sebutan "penulis hantu” atau ghost writers).
Karena itu kadang saya heran, ada dosen-dosen yang tidak diketahui sama sekali karya-karya akademiknya tiba-tiba mendapatkan embel-embel "guru besar.” Yang lain berburu jurnal-jurnal berbayar yang memasang tarif tertentu untuk tulisan. Tidak peduli kualitas jurnal tersebut. Yang penting tulisan dimuat.
Informasi lain, banyak "guru besar” yang menulis di jurnal-jurnal abal-abal atau penerbit predator tadi. Saya pernah membaca laporan media rangkuman hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai fenomena ini.
Tim periset BRIN meneliti artikel-artikel jurnal para "guru besar” (ada sekitar 4.742 artikel yang diteliti) di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Hasilnya? Sekitar 83 persen, para "guru besar” ini pernah menulis di jurnal-jurnal predator dan abal-abal.
Alumni Universitas Columbia Membakar Ijazah Sebagai Bentuk Protes
01:43
This browser does not support the video element.
Informasi lain lagi, proses mendapatkan "guru besar” juga banyak "rekayasa” (misalnya, pereview adalah teman-teman sendiri atau orang-orang yang sudah dikenal) dan bahkan hasil "kongkalikong” dengan pejabat pemerintah yang bertugas mengurusi proses seleksi kenaikan pangkat guru besar. Sangat memprihatinkan sekali. Jika prosesnya demikian, apa yang patut dibanggakan dari "guru besar” sampai-sampai dibuatkan baliho jumbo segala?
Bisa dikatakan dosen di Indonesia berlomba-lomba mengejar "guru besar” bukan dilatari oleh dedikasi keilmuan atau kesarjanaan melainkan karena motivasi keuangan, yakni untuk mendapatkan tunjungan yang lebih besar.
Oleh karena itu sangat wajar jika ada banyak guru besar tetapi ilmunya kecil dan wawasannya mini. Meski begitu bukan berarti semua guru besar di Indonesia demikian. Saya tahu ada cukup banyak guru besar, baik di lingkungan Kemendikbudristek maupun Kemenag, yang layak mendapatkan predikat itu sehingga patut diapresiasi karena karya-karya kesarjanannya yang cemerlang bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.
Sumanto Al Qurtuby
Direktur Nusantara Institute, Dosen Pascasarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana, dan penulis lebih dari 40 buku akademik, antara lain, Terrorism and Counter-terrorism in Saudi Arabia and Indonesia.