Pagelaran Karya Komponis Kontemporer Indonesia
13 September 2007
Yang sering disebut sebagai musik kontemporer atau musik baru adalah karya-karya yang biasanya bersifat eksperimental, keluar dari langgam musik yang umumnya dikenal masyarakat luas. Karena sifat eksperimentalnya, musik kontemporer ini tidak dibuat untuk menggebrak pasar, tetapi lebih sebagai upaya menemukan dimensi baru dalam kombinasi bunyi.
Eksperimen yang kemudian bisa melahirkan inovasi-inovasi baru. Sifat inilah juga yang membuat musik kontemporer jadi ajang yang cocok untuk dialog berbagai tradisi musik. Dalam rangka Minggu Asia Pasifik, kelompok modern art ensemble di Berlin menggelar rangkaian konser musik kontemporer yang diberi judul: Soundbridges, Jembatan-jembatan bunyi.
Karya komponis Indonesia Slamet Abdul Syukur yang dimainkan oleh modern art ensemble. Selain karya Slamet Abdul Syukur, malam konser ini menampilkan karya komponis Paul Gutama dan Dieter Mack, nama-nama komponis kontemporer yang di kalangan pemusik Indonesia sudah tidak asing lagi sebagai komponis musik kontemporer.
Manajer modern art ensemble Klaus Schoepp menjelaskan gagasan rangkaian konser Soundbridges:
“Ini adalah komunikasi antara musik Jerman dan Indonesia dan Asia Timur. Hari ini digelar karya 2 komponis Indonesia dan komponis Jerman yang lama hidup dan mengajar di Indonesia, Dieter Mack. Ini memang gagasan Soundbridges, dalam konser ini kami komponis Jerman dan komponis Indonesia.“
Karya komponis Indonesia Paul Gutama Soegijo yang menetap di Berlin yang dimainkan modern art ensemble diciptakan tahun 1994. Paul Gutama tahun 70-an mendirikan kelompok gamelan eksperimental dengan nama Banjar Gruppe Berlin yang masih giat sampai saat ini. Interaksi budaya baginya adalah hal wajar yang bisa memperkaya semua pihak:
"Musik adalah bahasa global, jadi bagi saya biasa saja kalau komponis eropa menulis komposisi dengan elemen asia atau sebaliknya, ini akan saling memperkaya.“
Komponis Jerman Dieter Mack mungkin sangat cocok dengan gambaran jembatan yang ingin disampaikan oleh penyelenggara Soundbridges. Ia lama bereksperimen dengan musik dari Indonesia, Jepang dan India. Karyanya berjudul musik kamar jilid, Kammermusik II.
Dieter Mack, selain menulis komposisi musik, juga mendalami bidang pendidikan dan teori musik. Ia pernah menjadi dosen di IKIP Bandung beberapa tahun dan menaruh perhatian besar pada pengembangan metode pembelajaran musik untuk sekolah-sekolah di Indonesia.
Lalu bagaimana sambutan penonton?
"Bagi saya tidak terlalu asing, karena semua dijembatani oleh musik modern”
“Ini sangat menarik. Saya adalah pemain piano klasik, jadi komposisi ini hal baru untuk saya, tapi saya sangat tertarik.”