Pak Guru TK di Tengah Stereotipe Gender
20 Februari 2026
Waktu belum genap pukul 7 pagi saat Faren Muhammad mengayuh sepedanya ke Taman Kanak-Kanak (TK) Al-Hasan, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tempatnya mengajar itu hanya berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.
Sebelum pelajaran dimulai, Faren mengajak murid-muridnya bermain dan menggerakkan badan. Selain melatih motorik anak, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan konsentrasi, termasuk bagi anak yang tergolong hiperaktif.
"Dulu saya sering mendapatkan anak yang hiperaktif, jadi ketika belajar cenderung tidak fokus karena memiliki energi berlebih, tapi alhamdulillah setelah kegiatan prabelajar dengan bermain, anak itu bisa mulai fokus karena energi yang berlebih itu tersalurkan melalui permainan," kata Faren.
Belajar sambil bermain, cara paling menyenangkan bagi anak
Menurut Faren, metode pembelajaran anak usia dini punya pendekatan tersendiri. Anak usia dini belum bisa berpikir secara abstrak. Jadi, agar bisa lebih paham akan satu hal, anak-anak perlu diajak untuk mengalaminya secara langsung.
"Metode yang paling menyenangkan bagi anak-anak (adalah) bermain sambil belajar, apa pun kegiatannya dan sifatnya konkret. Kalau bisa, diperlihatkan secara langsung kepada anak-anak," ujarnya.
Ini pula yang menjadi alasan Faren mengajak muridnya mendaki gunung untuk memahami soal alam dan lingkungan.
"Kemarin naik gunung, anak-anak belajar tentang flora fauna secara langsung dan juga yang memperlihatkan keindahan secara nyata. Terus juga bagaimana cara menjaga keindahan ini tetap terjaga dan tidak dirusak oleh siapa pun," ungkap Faren.
Pengalaman masa kecil dan cita-cita menjadi guru TK
Kepada DW Indonesia, Faren menyampaikan keinginannya menjadi guru TK berawal dari rasa penasarannya mengapa sangat jarang laki-laki yang menjadi guru TK. Hal ini dialaminya sendiri karena tidak ada guru laki-laki saat ia duduk di bangku TK.
Selain itu, keinginan Faren menjadi guru TK tak lepas dari pengalamannya di masa kecil. Selama enam tahun, ia tinggal bersama neneknya di Kebumen, Jawa Tengah, jauh dari orang tuanya yang bekerja di Jawa Barat.
"Waktu kecil, khususnya usia 6-12 tahun, (saya) kekurangan atau tidak mendapatkan pola pengasuhan dari ayah karena memang harus tinggal jauh di Jawa Tengah. Saya dititipkan oleh nenek dengan alasan keduanya sibuk bekerja yang memang pulangnya larut malam."
Dari pengalaman tersebut, Faren menyadari pentingnya pengasuhan orang tua dalam usia keemasan anak.
"Saya kadang berpikir bahwa hal yang saya butuhkan (saat kecil) itu adalah perlu didampingi, didengar, dari kecil hingga dewasa," kenang Faren.
Menjadi guru TK di tengah stereotipe gender
Faren menjadi guru TK sejak tahun 2017, profesi yang mungkin bukan pilihan kebanyakan laki-laki. Di sekolah tempatnya mengajar pun Faren adalah satu-satunya guru laki-laki.
Pengalaman Faren ini adalah potret dari minimnya jumlah guru laki-laki di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD). Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasme), ada sebanyak 12.516 guru laki-laki di tingkat PAUD. Angka ini hanya 2,45% dari total guru PAUD di Indonesia yang jumlahnya 510.288 orang.
Menurut Faren, faktor finansial menjadi salah satu penyebab minimnya laki-laki yang tertarik menjadi guru PAUD, meski ia juga mengakui ada sekolah memperhatikan gaji guru.
"Kita tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu secara finansial tidak jauh berbeda lah. Seperti honorer SD atau honorer yang lainnya, gaji yang tidak seberapa. Apalagi misalkan laki-laki dituntut sebagai tulang punggung," ujarnya.
Selain itu, stereotipe masyarakat yang masih menganggap bahwa beban pengasuhan hanya ada di perempuan juga menjadi tantangan. Ini dialaminya di saat pertama kali melamar sebagai guru TK.
"Pertama kali saya masuk ke sini, yayasan lama sempat meragukan saya. Jadi mereka memilih 'ya sudahlah kalau untuk guru perempuan saja jangan laki-laki' karena mungkin mereka beranggapan bahwa ketelatenan dan ketelitian bahkan kasih sayang dalam mendidik hanya milik perempuan, padahal tidak seperti itu."
Bagi Faren, pendidikan dan pengasuhan anak usia dini bukan hanya tanggung jawab perempuan.
Di tengah stereotipe yang masih melekat, kehadiran guru TK laki-laki justru berdampak positif bagi perkembangan anak. Menurut penelitian yang dilansir di Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini (2024), guru laki-laki mendukung perkembangan emosional dan identitas gender anak.
Kehadiran figur laki-laki dalam fase awal tumbuh kembang anak berkontribusi pada berkurangnya perilaku agresif, meningkatnya kemampuan mengelola emosi, serta terbentuknya relasi sosial yang lebih sehat.
'Sekolah bukan tempat laundry'
Ditemui di sela aktivitasnya mengajar, Faren juga bercerita tantangan dalam dunia PAUD yang dihadapi guru. Ia menuturkan masih ada orang tua yang belum memahami bahwa pendidikan anak usia dini juga tanggung jawab orang tua, tidak hanya sekolah.
"Tantangan hari ini adalah tentang kesadaran orang tua memahami bahwa mendidik itu bukan hanya milik sekolah karena sering kali ada beberapa orang tua yang anak-anaknya itu seperti seperti 'laundry', setelah lulus sekolah, ingin (anaknya) tiba-tiba bisa ini bisa itu, tanpa mereka terlibat. Ingin bersih saja."
Padahal, menurut Faren, elemen dasar pendidikan adalah rumah, sekolah, dan masyarakat. Ia berharap orang tua semakin sadar bahwa pendidikan anak usia dini bukan hanya tanggung jawab guru, melainkan tanggung jawab bersama sehingga perlu kolaborasi antarelemen.
"Pendidikan anak usia dini bukan hanya tanggung jawab kita sebagai guru, tapi tanggung jawab bersama (...) tugas kita adalah mendampingi dan juga mendukung apa yang anak-anak butuhkan dalam proses pembelajaran, " kata Faren sebelum menutup perjumpaan dengan DW Indonesia.
Editor: Arti Ekawati