1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Akankah Pakistan Bantu Arab Saudi Lawan Houthi?

30 Juli 2026

Pakistan dan Arab Saudi sejak belum lama ini menjalin aliansi pertahanan bersama. Namun, sejauh mana Islamabad harus membantu Riyadh dalam merespons ancaman Houthi yang didukung Iran?

Ribuan pendukung Houthi berunjuk rasa di ibu kota Yaman untuk mendukung pernyataan juru bicara militer Houthi Yahya Saree yang mengumumkan "blokade maritim" terhadap Arab Saudi. Para demonstran juga membawa spanduk anti-AS, anti-Israel, dan anti-Saudi serta menyuarakan dukungan bagi Palestina
Milisi Houthi pekan lalu menyatakan akan memberlakukan "blokade maritim" terhadap Arab SaudiFoto: Mohammed Hamoud/Anadolu/picture alliance

Pakistan mengecam serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah yang dilakukan oleh milisi Houthi Yaman yang didukung Iran pada pekan lalu. Serangan itu memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Pakistan memperingatkan bahwa setiap ancaman Houthi terhadap kepentingan maritim Pakistan di Laut Merah bisa saja ditanggapi dengan "penggunaan kekuatan yang sah menurut hukum".

Pakistan memiliki hubungan dagang dan keamanan dengan Arab Saudi. Kapal berbendera Pakistan juga kerap singgah di pelabuhan Saudi di Laut Merah. Pada September tahun lalu, kedua negara menandatangani perjanjian pertahanan bersama yang memuat klausul "keamanan kolektif", yang berarti serangan terhadap salah satu negara dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.

Setelah Houthi meluncurkan rudal ke wilayah selatan Arab Saudi pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa komitmennya terhadap pakta keamanan tersebut "tak tergoyahkan".

Di saat yang sama, Pakistan juga memiliki hubungan dengan Iran dan menjadi mediator penting antara Teheran dan Washington dalam upaya mengakhiri perang Iran.

Setiap aksi militer terhadap Houthi yang didukung Iran berpotensi menempatkan Islamabad dalam salah satu dilema kebijakan luar negeri paling rumit dalam beberapa tahun terakhir.

Dilema Pakistan antara Arab Saudi dan Iran

Secara historis, Arab Saudi dan Pakistan memiliki hubungan militer dan strategis yang erat. Para jenderal serta penasihat militer Pakistan telah membantu negara kerajaan itu selama beberapa dekade terakhir.

Farea Al-Muslimi, pengamat isu-isu Yaman di lembaga Chatham House yang berbasis di London, mengatakan kepada DW bahwa pasukan dari Pakistan sudah berada di Yaman untuk mendukung Arab Saudi "menjalankan tugas-tugas keamanan dan pelatihan bersama pasukan dari Arab Saudi."

Seorang pejabat dari Pakistan yang diwawancarai DW membantah klaim tersebut dengan tegas.

Meski demikian, jika serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak dan pelayaran komersial di Laut Merah meningkat, Arab Saudi bisa saja meminta bantuan Pakistan.

"Pakistan adalah salah satu mitra pertahanan terdekat Riyadh, dan pakta pertahanan bersama mereka membuat permintaan seperti itu masuk akal. Setelah pernah menjadi sasaran serangan Iran, Arab Saudi mungkin semakin melihat Islamabad sebagai sumber bantuan militer jika merasa menghadapi tekanan keamanan yang meningkat," kata Michael Kugelman, peneliti senior di Atlantic Council yang berbasis di Washington, D.C., kepada DW.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berpelukan setelah menandatangani perjanjian pertahanan pada September 2025Foto: Saudi Press Agency/REUTERS

Namun, membaiknya hubungan Pakistan dengan Iran serta perannya sebagai mediator untuk mengakhiri konflik AS-Iran dapat mempersulit keterlibatan militer Pakistan atas nama Arab Saudi.

"Pakistan dan Iran memiliki hubungan yang rumit, yang didasari perhitungan kepentingan taktis masing-masing pihak. Namun, Pakistan telah beberapa kali menegaskan kepada Iran bahwa jika terjadi konflik, Islamabad akan mendukung Arab Saudi," kata Ayesha Siddiqa, analis militer Pakistan dan peneliti senior di King's College London, kepada DW.

Pada 2024, Iran dan Pakistan sempat mengalami ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ketika kedua negara saling melancarkan serangan rudal lintas perbatasan. Namun, keduanya kini telah memulihkan hubungan diplomatik dan memperkuat kerja sama melawan kelompok militan di wilayah perbatasan Iran-Pakistan.

"Dukungan militer dalam skala terbatas kepada Arab Saudi belum tentu akan merusak hubungan Pakistan dengan Iran. Namun, ketika Islamabad berupaya menampilkan diri sebagai mediator netral, peningkatan dukungan persenjataan kepada Riyadh dapat memperdalam kecurigaan Teheran dan melemahkan peran diplomatik Pakistan," kata Kugelman.

Seberapa besar dukungan yang bisa diberikan Pakistan?

Jika Arab Saudi meminta bantuan, para analis menilai kontribusi Pakistan kemungkinan besar akan berfokus pada perlindungan kepentingan Saudi, alih-alih terlibat dalam operasi militer.

"Pakistan kemungkinan akan mengambil peran defensif, karena keterlibatan yang lebih luas di Laut Merah dinilai terlalu berisiko," ujar Siddiqa.

Dukungan yang diberikan Pakistan bisa berupa pertukaran intelijen, kerja sama pertahanan udara, pengawasan maritim, serta perlindungan infrastruktur vital milik Arab Saudi. Langkah ini memungkinkan Islamabad membantu Riyadh tanpa harus terlibat dalam operasi militer.

"Meski memiliki hubungan militer yang sangat erat dan pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi, kecil kemungkinan Pakistan akan mengirim senjata atau pasukan. Islamabad berfokus mencegah eskalasi regional dan mempertahankan perannya sebagai mediator dalam konflik Iran, sehingga setiap dukungan militer kepada Riyadh berisiko secara politik dan berpotensi merusak hubungan Pakistan dengan Teheran," kata Kugelman.

Para Senator AS Pertanyakan Strategi Hegseth dalam Perang Iran-AS

01:36

This browser does not support the video element.

Akankah Arab Saudi meningkatkan eskalasi?

Sejak mengurangi operasi militer berskala besar di Yaman, Arab Saudi relatif menahan diri. Namun, serangan Houthi yang terus berulang terhadap infrastruktur minyak dan kapal niaga dapat mendorong Riyadh mengambil langkah yang lebih tegas.

"Serangan Houthi yang terus berlanjut terhadap kapal-kapal Saudi dapat mendorong Riyadh untuk mengambil tindakan militer," kata Al-Muslimi.

Analis King's College, Ayesha Siddiqa, mengatakan belum jelas apakah Arab Saudi saat ini memiliki kapasitas untuk menjalani perang berkepanjangan melawan Houthi.

"Meskipun Arab Saudi dapat meningkatkan intensitas serangan udara, mungkin saja itu tidak cukup untuk membuat kerajaan itu lebih aman," ujarnya.

Para analis menyepakati kemungkinan bahwa Islamabad bisa saja mendukung keamanan maritim dan kebebasan pelayaran di kawasan konflik, sembari menghindari serangan langsung terhadap target Houthi di tengah membayangnya konflik AS-Iran. Namun, jika ketegangan di Laut Merah terus meningkat, akan semakin sulit bagi Pakistan untuk mempertahankan posisi netral di bawah tekanan Riyadh maupun Teheran.

"Arah perkembangan konflik dengan Iran akan menentukan sejauh mana Arab Saudi bersedia menoleransi serangan Houthi," kata Kugelman.

"Jika jeda ketegangan antara AS dan Iran saat ini bertahan, Riyadh kemungkinan akan memilih menahan diri alih-alih memperbesar eskalasi. Namun, Arab Saudi akan tetap memandang Pakistan sebagai mitra keamanan penting karena serangan Houthi kecil kemungkinan akan berhenti, bahkan jika konflik dengan Iran berakhir," tambahnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Pratama Indra

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait