erangan udara Pakistan menghantam Kabul dan beberapa provinsi perbatasan Afganistan semalam, menurut pejabat Taliban. Serangan dilaporkan mengenai sejumlah lokasi di ibu kota dan wilayah dekat perbatasan.
Afganistan dan Pakistan mengalami bentrokan di sepanjang perbatasan bersama mereka dalam beberapa bulan terakhirFoto: Abdul Khaliq Achakzai/REUTERS
Iklan
Pakistan melancarkan serangan baru terhadap Kabul dan provinsi-provinsi perbatasan semalam dari Kamis (12/3) hingga Jumat (13/3), menurut otoritas Afganistan.
Khalil Zadran, juru bicara kepolisian Kabul, mengatakan empat orang tewas dan 15 lainnya terluka dalam pemboman yang menghantam rumah-rumah di ibu kota, menurut kantor berita AFP.
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menulis di X bahwa serangan Pakistan juga menghantam provinsi selatan Kandahar serta provinsi timur Paktia dan Paktika yang berbatasan dengan Pakistan.
Dalam unggahan terpisah, Zabihullah mengatakan pesawat Pakistan juga menargetkan depot bahan bakar milik maskapai swasta Kam Air di dekat Bandara Kandahar.
Terlepas dari semua drama seputar pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban di Afganistan, kehidupan sehari-hari terus berlanjut. Namun kehidupan sehari-hari itu telah berubah drastis, terutama bagi kaum perempuan.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Dunianya laki-laki
Foto dan video yang muncul dari Afganistan menunjukkan kembalinya aktivitas di jalanan perkotaan, seperti restoran di Herat ini yang sudah menerima pelanggan lagi. Tapi ada satu perbedaan mencolok dari sebelumnya: di meja hanya ada laki-laki saja, sering kali mengenakan pakaian kurta tradisional, tunik selutut. Perempuan di ruang publik menjadi hal langka di perkotaan.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Harus terpisah
Di sebuah universitas swasta di Kabul. Ada tirai yang memisahkan mahasiswanya. Pemisahan antara perempuan dan laki-laki ini sekarang menjadi kebijakan resmi dan kemungkinan akan terus menyebar. "Pembelajaran campur, lelaki-perempuan, bertentangan dengan prinsip Islam, nilai-nilai nasional, adat dan tradisi," kata Abdul Baghi Hakkani, Menteri Pendidikan Taliban di Kabul.
Foto: AAMIR QURESHI AFP via Getty Images
Kebebasan yang hilang
Seperti para perempuan ini yang sedang dalam perjalanan mereka ke masjid di Herat, setelah 20 tahun pasukan sekutu memerangi Taliban, kebebasan yang dulu didapatkan perempuan dengan cepat terhapus. Bahkan olahraga akan dilarang untuk pemain perempuan, kata Ahmadullah Wasik, wakil kepala Komisi Kebudayaan Taliban.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Pos pemeriksaan di mana-mana
Pemandangan di jalan juga didominasi oleh pos pemeriksaan Taliban. Ketika orang-orang bersenjata berat mengintimidasi warga, warga berusaha keras untuk berbaur. Pakaian gaya Barat menjadi semakin langka dan pemandangan tentara bersenjata lengkap semakin umum.
Foto: Haroon Sabawoon/AA/picture alliance
Menunggu pekerjaan
Di Kabul, buruh harian laki-laki duduk di pinggir jalan, menunggu tawaran pekerjaan. Afganistan, yang sudah berada dalam situasi ekonomi yang genting bahkan sebelum pengambilalihan Taliban, sekarang terancam "kemiskinan universal" dalam waktu satu tahun, menurut PBB. 98% warganya tahun depan akan hidup dalam kemiskinan, dibandingkan dengan 72% pada saat ini.
Foto: Bernat Armangue/dpa/picture alliance
Tetap mencoba melawan
Perempuan Afganistan, meskipun ditindas secara brutal, terus menuntut hak mereka atas pendidikan, pekerjaan, dan persamaan hak. Namun PBB memperingatkan bahwa protes damai juga disambut dengan kekerasan yang meningkat. Para Islamis militan menggunakan pentungan, cambuk dan peluru tajam membubarkan aksi protes. Setidaknya empat orang tewas dan banyak lainnya yang cedera.
Foto: REUTERS
Ada juga perempuan yang 'pro' Taliban
Perempuan-perempuan ini, di sisi lain, mengatakan mereka senang dengan orde baru. Dikawal oleh aparat keamanan, mereka berbaris di jalan-jalan mengklaim kepuasan penuh dengan sikap dan perilaku Taliban, dan mengatakan bahwa mereka yang melarikan diri dari negara itu tidak mewakili semua perempuan. Mereka percaya bahwa aturan Islam menjamin keselamatan mereka.
Foto: AAMIR QURESHI/AFP/Getty Images
Menyelaraskan arah
Demonstrasi pro-Taliban termasuk undangan bagi wartawan, berbeda dengan protes anti-Taliban. Yang terakhir, wartawan melaporkan mereka telah diintimidasi atau bahkan dilecehkan. Ini adalah tanda yang jelas dari perubahan di bawah Taliban, terutama bagi perempuan. (kp/hp)
Foto: AAMIR QURESHI/AFP/Getty Images
8 foto1 | 8
Pakistan dalam “perang terbuka” dengan Taliban
Setelah berbulan-bulan ketegangan yang meningkat antara kedua negara serta bentrokan lintas batas yang intens, Pakistan menyatakan perang terbuka terhadap Afganistan pada 27 Februari, dengan menuduh Taliban melindungi kelompok teroris.
Iklan
“Kesabaran kami sudah habis,” kata Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif saat itu.
Sejak menyatakan “perang terbuka”, Pakistan telah “menargetkan fasilitas militer Taliban di Kabul, termasuk depot amunisi, serta lokasi di Kandahar, Paktia, dan provinsi lainnya,” tulis jurnalis Pakistan Umair Jamal dalam analisisnya untuk Eurasianet.
“Yang menonjol, serangan-serangan ini untuk pertama kalinya mencakup serangan langsung terhadap pusat-pusat kota,” katanya.
Namun, dalam beberapa hari sebelum serangan terbaru ini, tidak ada pihak yang melaporkan adanya serangan udara Pakistan di Afganistan.
Pertempuran darat di sepanjang perbatasan sepanjang 2.600 kilometer antara kedua negara juga sempat mereda.
PBB: Konflik yang berlanjut menambah derita di Afganistan
Kepala HAM PBB Volker Türk pekan lalu mendesak Pakistan dan Afganistan untuk segera menghentikan pertempuran.
“Warga sipil di kedua sisi perbatasan kini harus melarikan diri dari serangan udara, tembakan artileri berat, mortir, dan tembakan senjata,” kata Türk dalam pernyataan yang dirilis pada 6 Maret.
Kekerasan di Afganistan juga mempersulit PBB dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan, kata Türk.
Hampir 22 juta orang, hampir setengah dari populasi Afganistan, membutuhkan bantuan kemanusiaan.
“Ini menambah penderitaan di atas penderitaan,” kata Türk.
Hingga 66.000 orang telah mengungsi di Afganistan akibat pertempuran terbaru tersebut, menurut PBB pekan lalu.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid