Pakistan-Taliban Sepakati Gencatan Senjata Jelang Idul Fitri
Farid Zuchrinata sumber: AP, Reuters
19 Maret 2026
Pertempuran lintas batas Pakistan dan Taliban di Afganistan akan dihentikan sementara jelang akhir Ramadan. Kedua pihak menegaskan gencatan senjata ini bersyarat dan bisa dibatalkan jika dilanggar.
Jeda mendadak ini terjadi setelah pertempuran yang berlangsung selama berminggu-minggu antara Pakistan dan AfganistanFoto: Wakil Kohsar/AFP/Getty Images
Iklan
Pakistan dan pemerintah Taliban Afganistan pada Rabu (18/03) mengumumkan penghentian sementara serangan militer. Gencatan senjata ini disebut sebagai bentuk penghormatan untuk menandai berakhirnya bulan Ramadan.
Kedua pihak menyatakan, jeda untuk merayakan Idul Fitri ini diajukan oleh "negara-negara Islam sahabat," termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Turki.
Jeda serangan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai Rabu tengah malam hingga Senin tengah malam, menurut Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar.
Upaya Warga Afganistan Menyelamatkan Diri dari Taliban
Ribuan warga berusaha menyelamatkan diri dari Afganistan setelah Taliban mengambil alih kekuasan. Negara Barat berupaya menerbangkan warga sipil keluar dari bandara Kabul setelah penerbangan komersial dihentikan.
Foto: AFP/Getty Images
Warga Afganistan yang putus asa berusaha masuk bandara Kabul
Banyak keluarga di Afganistan semakin putus asa dan berusaha untuk masuk ke Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul. Terdapat anak-anak di antara kerumunan yang mencoba melakukan upaya terakhir untuk melarikan diri dari Taliban yang berhasil menguasai ibu kota Kabul dengan mudah.
Foto: REUTERS
Rakyat Afganistan hadapi masa depan yang tidak pasti
Sejak penarikan pasukan AS dan NATO dilancarkan, warga Afganistan menghadapi keputusan yang sulit: tetap tinggal dan berharap pasukan pemerintah menahan gerak maju milisi Taliban atau melarikan diri ke negara-negara tetangga. Setelah Taliban merebut Kabul dengan mudah, banyak warga terjebak dalam ketidakpastian, tanpa indikasi yang jelas tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Foto: REUTERS
Kerumunan warga di bandara Kabul
Bandara utama Kabul menjadi tempat kerumunan orang yang putus asa. Ribuan orang berharap bisa naik pesawat dan melarikan diri dari kekuasaan Taliban. Negara-negara Barat bergegas mengevakuasi warga mereka sendiri dan beberapa karyawan lokal. Penerbangan komersial dari dan keluar negara itu dihentikan total.
Foto: AFP/Getty Images
Taliban menguasi istana presiden
Setelah jatuhnya ibu kota Kabul dengan mudah, milisi Taliban langsung menguasai istana presiden Afganistan. Rekaman langsung menunjukkan komandan dan anggota Taliban duduk di dalam istana, menyatakan kemenangan mereka setelah pasukan Afganistan menyerah tanpa bertempur.
Foto: Zabi Karim/AP/picture alliance
Takut penerapan aturan Islam garis keras
Banyak yang takut penerapan aturan Islam garis keras. Walau dalam sebuah pernyataan Taliban mengklaim, tidak akan membalas dendam terhadap mereka yang mendukung aliansi dukungan AS. Perempuan sebagian besar dilarang ikut pendidikan selama pemerintahan Taliban sebelumnya di Afganistan (1996-2001). Warga di Kabul buru-buru hapus gambar yang mungkin tak disukai Taliban.
Foto: Kyodo/picture alliance
Melintasi perbatasan ke Pakistan
Di saat ribuan warga yang berusaha kabur menyerbu bandara Hamid Karzai, sejumlah warga Afganistan lainnya menyeberangi perbatasan memasuki Pakistan. Menteri Dalam Negeri Pakistan Sheikh Rashid Ahmed mengatakan kepada DW, pemerintah telah menutup perbatasan dengan Afganistan di Torkham.
Foto: Jafar Khan/AP/picture alliance
Taliban kembali berkuasa setelah penarikan pasukan AS
AS dan sekutunya memasuki Afganistan setelah serangan teror 11 September 2001, dan menaklukan Taliban. Ketika konflik 20 tahun berakhir secara tiba-tiba dengan penarikan pasukan AS dan NATO, pasukan pemerintah Afganistan dengan cepat runtuh tanpa dukungan.
Foto: Hoshang Hashimi/AP Photo/picture alliance
Kepemimpinan Taliban
Taliban memerintah negara itu dari tahun 1996 hingga 2001 dan memberlakukan interpretasi hukum Syariah Islam yang ketat. Taliban didirikan di bawah kepemimpinan Mullah Umar. Haibatullah Akhundzada sekarang menjadi pemimpin tertinggi, sementara salah satu pendiri lainnya Mullah Baradar (foto) mengepalai sayap politik.
Foto: Social Media/REUTERS
Taliban mengibarkan bendera mereka
Taliban mengklaim siap mengendalikan negara itu, dan menyatakan tidak akan membahayakan warga sipil yang telah bekerja sama dengan pasukan Barat. "Kami siap untuk berdialog dengan semua tokoh Afganistan dan akan menjamin perlindungan yang diperlukan," kata juru bicara politik Taliban Mohammad Naeem kepada Al Jazeera. Sebuah klaim yang agak sulit dipercaya semua pihak.
Foto: Gulabuddin Amiri/AP/picture alliance
Wanita dan anak-anak berisiko tinggi
Perempuan, anak-anak dan minoritas lainnya kemungkinan besar akan sangat menderita di bawah rezim Taliban. Perempuan dan anak perempuan dilarang menjalani pendidikan selama pemerintahan Taliban sebelumnya di Afganistan, situasinya berubah setelah dilancarkan invasi yang dipimpin AS pada 2001.
Foto: Paula Bronstein/Getty Images
Presiden Ghani melarikan diri
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kabur meninggalkan negara itu pada 15 Agustus. "Untuk menghindari pertumpahan darah, saya pikir yang terbaik adalah keluar," katanya, tetapi ia menekankan akan terus berjuang untuk negara.
Foto: Rahmat Gul/AP Photo/picture alliance
Mantan Presiden Karzai desak perdamaian
Para pemimpin Afganistan telah membentuk dewan untuk bertemu dengan Taliban dan mengelola transfer kekuasaan. Mantan Presiden Hamid Karzai, yang merupakan bagian dari dewan mengatakan, ini "untuk mencegah kekacauan dan mengurangi penderitaan rakyat," dan untuk mengelola "pengalihan kekuasaan secara damai".
Foto: Mariam Zuhaib/AP Photo/picture alliance
AS dan Eropa lakukan evakuasi
Jerman mengerahkan pesawat militer untuk membantu evakuasi diplomat, warga negaranya dan staf lokal dari Afganistan setelah menutup kedutaan besarnya di Kabul. AS, Inggris, dan Arab Saudi juga mengevakuasi pasukan, diplomat dan pejabat lain dari negara tersebut.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
13 foto1 | 13
Jeda sebagai "itikad baik"
"Pakistan melakukan langkah ini dengan itikad baik dan sesuai dengan norma-norma Islam,” tulis Tarar di X.
Namun ia memperingatkan bahwa "setiap serangan lintas batas, serangan drone, atau insiden teror apa pun di dalam Pakistan" akan memicu dimulainya kembali operasi militer "dengan intensitas yang lebih tinggi."
Islamabad lebih dulu mengumumkan jeda ini. Juru bicara pemerintah Afganistan, Zabihullah Mujahid, kemudian menyampaikan pernyataan serupa pada hari yang sama, disertai peringatan bahwa "jika terjadi ancaman apa pun," pasukan Taliban akan merespons "secara tegas."
Pakistan membantah menargetkan Rumah Sakit Omid Addiction Treatment. Islamabad menyatakan bahwa serangan di Kabul dan wilayah timur Afganistan ditujukan ke lokasi militer, serta menyebut laporan korban sipil dalam jumlah besar sebagai propaganda.
Pasukan Afganistan, seperti terlihat di sini, telah terlibat bentrokan dengan Pakistan sejak akhir FebruariFoto: Wakil Kohsar/AFP/Getty Images
Konflik memasuki pekan ketiga
Sejak akhir Februari, bentrokan kian memanas dengan tembakan lintas batas dan serangan udara yang menjangkau wilayah dalam Afganistan, termasuk ibu kota. Pakistan bahkan menyatakan berada dalam kondisi "perang terbuka" dengan Afganistan.
Pertempuran tersebut telah memicu kekhawatiran di kalangan komunitas internasional, terutama di wilayah perbatasan yang masih menjadi basis aktivitas kelompok militan seperti al-Qaeda, "Islamic State," dan kelompok lainnya yang berupaya bangkit kembali.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani dan Adelia Dinda Sani