1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pameran Seni di Tepi Sungai Rhein. Art Cologne

29 April 2010

Pameran seni Art Cologne di kota Köln (21-25/04), memamerkan berbagai karya seni modern dan menjadi gabungan beberapa elemen. Yaitu ajang untuk memamerkan, memperdagangkan dan berdiskusi tentang karya seni.

Lukisan tanpa judul dari Gerhard Richter, Galeri Salis & VertesFoto: Art Cologne

Art Cologne pertama kali digelar tahun 1967 dan menjadi pameran seni paling tua di dunia. Walaupun menjadi pameran tertua, Art Cologne untuk waktu lama citranya buruk sehingga kehilangan posisi kehormatannya, dan kalah pamor dari pameran-pameran internasional lain, misalnya pameran seni di London, New York, atau yang paling terkenal sekarang, pameran seni Art Basel di Swiss.  Tetapi sejak tahun 2009, kepala bagian seni pada Art Cologne diambil alih oleh Daniel Hug. Sejak itu, citra Art Cologne sebagai pameran karya seni modern mulai membaik.

Karya Seni Modern

Musisi yang mengenakan kostum menabuh genderang dan memainkan musik di jalan masuk utama areal pameran seni Art Cologne. Mereka adalah bagian dari proyek seni yang dikepalai seniman Denmark, Jeppe Hein. "Circus Hein“, demikian nama yang diberikan sang seniman atas karyanya yang berupa campuran antara lawak, performance dan instalasi seni yang memenuhi seluruh ruangan. Karya ini juga melibatkan arena sirkus serta kandang binatang buas.

Sebagian dari "Circus Hein", karya Jeppe HeinFoto: picture alliance/dpa

Pemimpin proyek Adelheid Teubner menjelaskan, "Ini ada benda seni yang disebut "ragdollboss", sebuah boneka besar yang bagian tubuhnya dapat digerakkan dengan tali. Boneka ini juga dapat mengeluarkan suara keras. Kami juga punya sebuah kandang, tetapi tanpa singa. Juga ada berbagai macam benda seni kontemporer, misalnya hiasan gantung dari cermin, sebuah ayunan dan benda-benda seni lain yang menggambarkan situasi dalam sebuah sirkus."

Dengan karya-karya seni seperti itu, Art Cologne yang digelar untuk ke-44 kalinya di kota Köln tampak hidup dan semarak, setelah citranya pudar untuk waktu lama. Ini berkat penanganan oleh direktur pameran Daniel Hug. Dalam sebuah wawancara ia mengatakan, "Bagi saya sangat penting, bahwa Art Cologne kembali punya wajah"

Sejarah Art Cologne

Pada musim gugur tahun 1967, pedagang barang seni Rudolf Zwirner dan Hein Stünke mengadakan Pasar Seni Köln, atau “Kölner Kunstmarkt“. Yang ikut hanya 18 galeri dan harapannya juga tidak terlalu tinggi. Di galerinya, Rudolf Zwirner memamerkan benda-benda seni modern yang ketika itu tidak banyak peminatnya. Semuanya termasuk apa yang disebut "Pop Art". Jenis seni yang berasal dari AS ini sudah dikenalnya sejak tahun 1959, dan ia mengikutsertakan karya-karya “Pop Art“ ini dalam Pasar Seni Köln.

Contoh seni Pop Art. Karya fotografi dari Gunter Sachs, yang berjudul "Augen und Gitter" (mata dan jeruji), dari tahun 1980Foto: Gunter Sachs

Rudolf Zwirner menceritakan tanggapan masyarakat ketika itu, “Reaksinya ketika itu sangat jelas. Generasi tua menolak pembukaan dunia seni menuju pasar terbuka, meninggalkan ruang galeri dan menunjukkan diri di pasar. Sedangkan generasi muda sangat gembira, karena dengan cara itu mereka dapat mengakhiri masa-masa, di mana galeri mereka kurang dikunjungi orang.“

Pasar Seni pertama itu sukses. Yang datang sampai 15.000 orang, padahal penyelenggara hanya memperhitungkan sekitar 1.000 orang. Pedagang seni juga meraup keuntungan besar. Sejak tahun 1984, Pasar Seni Köln menyandang nama Art Cologne. Tetapi banyak kritikus kemudian menilai kualitas barang seni di pameran itu sangat rendah, sehingga citra Art Cologne mulai merosot.

Kembali Berdatangan ke Köln

Direktur Art Cologne, Daniel Hug di Köln (20/04)Foto: picture alliance/dpa

Kini, hanya dalam dua tahun, Daniel Hug, warga Jerman asal AS yang berusia 41 tahun, berhasil mengasah pameran seni yang sudah dianggap mati, menjadi kembali berkilau. Banyak pemilik galeri kenamaan di dunia kembali datang ke Köln. Tahun ini peserta pameran datang dari 23 negara.

Daniel Hug bercerita, walaupun baru-baru ini ada larangan terbang di wilayah udara Jerman, hanya dua pemilik geleri yang tidak berhasil datang ke Köln. "Galeri Kalfean dari Athena naik mobil dari Yunani sampai Italia dan kemudian terus ke Köln. Zaki Rosenfeld dari Galeri Rosenfeld di Israel juga datang bersama senimannya. Mereka terbang dari Israel sampai Nice kemudian menyewa mobil sampai Köln," demikian Daniel Hug.

Memang beberapa kolektor penting tidak hadir di Art Cologne, seperti dikatakan pemilik galeri Eva Winkeler, "Kolektor yang datang dari luar negeri mengatakan, mereka tidak akan hadir. Atau juga yang dari Dresden, atau yang dari wilayah Jerman yang lebih jauh lagi. Mereka ragu untuk datang, dan saya pikir kerugiannya besar karena ketidakhadiran mereka."

Daerah Pemerhati Seni

Karya Edvard Munch, yang berjudul "Sitzende junge Frau" (perempuan muda yang sedang duduk) laku terjual 9,5 juta EuroFoto: ART Cologne

Namun demikian, wilayah sepanjang sungai Rhein yang disebut Rheinland dan daerah sekitarnya terkenal memiliki banyak pemerhati seni, dan yang lebih penting lagi, di daerah itu tinggal kolektor yang bersedia memberikan uang dalam jumlah besar untuk membeli karya seni. Sekitar 200 galeri mengundang pengunjung untuk menikmati karya dan sejarah seni. Karya-karya yang sudah menjadi klasik dalam kesenian modern, sekarang banyak digemari, terutama untuk menanamkan uang. Misalnya karya-karya yang termasuk Impresionisme dan Ekspresionisme.

Pada Art Cologne, Galeri Thomas dari kota München berhasil menjual sebuah karya pelukis Norwegia, Edvard Munch dengan harga 9,5 juta Euro. Karya yang sangat bernilai dan berharga tinggi seperti itu jarang terlihat beredar di luar museum. Heike Grossmann dari Galeri Thomas menceritakan sedikit sejarah karya Munch tersebut. "Lukisan itu dibuat tahun 1916. Yang tampak di lukisan adalah seorang teman dekat Munch, yang telah beberapa kali menjadi model bagi lukisannya. Antara tahun 1921 hingga 1937, lukisan itu menjadi milik Städel, begitu nama galeri milik pemerintah kota di masa itu. Setelah itu, lukisan dipindahkan dari museum dan dipamerkan di Swedia, kemudian dijual lagi."

Keistimewaan Art Cologne

Pelukis asal Leipzig Neo RauchFoto: picture-alliance/ZB

Yang istimewa pada Art Cologne adalah pertemuan dari seniman-seniman yang sudah punya nama dan yang masih bereksperimen. Salah satu karya yang paling mendapat perhatian dalam pameran tahun ini adalah lukisan karya Neo Rauch. Seniman asal Leipzig itu baru berusia 50 tahun dan sudah menjadi bagian sejarah kesenian. Untuk membeli lukisannya yang berciri neo-surealis, orang harus menunggu dalam antrian panjang.

Pemilik galeri Harry Lybke menetapkan harga 600.000 Euro untuk lukisan Neo Rauch yang panjangnya beberapa meter. Untuk karya seni modern itu sudah ditemukan pembeli. Harry Lybke mengatakan, "Yang berminat sangat banyak, dan kami yakin, di Köln di pameran ini kami akan dapat menjualnya dengan harga sesuai."

Karya Neo Rauch yang berjudul "Die Kontrolle" (kontrol)Foto: Art Cologne



Seperti banyak pemilik galeri lainnya, Harry Lybke dan galerinya "Eigen & Art" telah memalingkan muka dari pameran Art Cologne selama bertahun-tahun. Sekarang ia kembali lagi. Ini menjadi bukti, bahwa pameran seni di Köln itu kembali memikat seniman, penggemar seni dan penjual karya seni. Dan yang berminat datang dari dalam dan luar negeri.

Sabine Oelze / Marjory Linardy

Editor: Hendra Pasuhuk