Eropa pada tahun 2024 mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat, dampaknya mengkhawatirkan. Namun, masih ada harapan, menurut laporan iklim Copernicus terbaru Uni Eropa.
Kota-kota besar di Eropa makin sering dilanda bencana banjir atau kekeringan ekstrem. Banjir di Valencia, Spanyol tewaskan puluhan orang dan hancurkan infrastruktur kota.Foto: Emilio Morenatti/AP/dpa/picture alliance
Iklan
Tidak ada benua lain yang memanas secepat Eropa. Laporan Kondisi Iklim Eropa 2024, yang dirilis Selasa (15/04) menunjukkan, pada tahun lalu, Eropa memecahkan rekor suhu terpanas. Cuaca ekstrem pun mengubah kehidupan hampir setengah juta orang.
Laporan yang disusun oleh sekitar 100 peneliti dari Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa, Copernicus, dan Organisasi Meteorologi Dunia ini menunjukkan, suhu rata-rata di seluruh Eropa telah meningkat sekitar 2,4 derajat Celsius sejak Revolusi Industri pada pertengahan abad ke-19. Kecuali Islandia, yang lebih dingin dari rata-rata, seluruh benua mengalami suhu di atas rata-rata.
Secara global, suhu rata-rata meningkat sebesar 1,3 derajat Celsius, menjadikan tahun 2024 sebagai tahun terhangat sejak pencatatan cuaca dimulai.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
"Suhu lautan sangat tinggi, permukaan air laut terus meningkat, lapisan es dan gletser terus mencair," Samantha Burgess, salah satu penulis utama laporan tersebut, mengatakan kepada wartawan.
"Semua ini terjadi karena konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer terus meningkat, mencapai rekor tertinggi lagi pada tahun 2024. Sejak tahun 1980-an, Eropa telah memanas dua kali lipat dari rata-rata global," tambahnya.
Cuaca Ekstrem Mematikan Kejutkan Dunia
Dari Jerman, Kanada hingga Cina, gambar-gambar dramatis dari dampak buruk cuaca ekstrem telah mendominasi kepala berita baru-baru ini. Apakah krisis iklim yang menjadi penyebabnya?
Foto: AFP/Getty Images
Banjir bandang dahsyat di Eropa
Banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya ini disebabkan oleh hujan lebat selama dua hari berturut-turut. Aliran air yang sempit meluap menjadi amukan banjir hanya dalam hitungan jam dan menghantam perumahan warga. Sedikitnya 209 orang tewas di Jerman dan Belgia. Upaya pemulihan rumah, bisnis, dan infrastruktur yang rusak diperkirakan menelan biaya miliaran euro.
Foto: Thomas Lohnes/Getty Images
Musim hujan ekstrem
Banjir juga melanda sebagian wilayah di India dan Cina bagian tengah. Hujan turun sangat lebat, bahkan lebih deras dari yang biasanya turun di musim hujan. Para ilmuwan memperkirakan bahwa perubahan iklim akan menyebabkan curah hujan yang lebih sering dan intens, karena udara yang lebih hangat menahan lebih banyak air, sehingga menciptakan lebih banyak hujan.
Foto: AFP/Getty Images
Banjir menggenangi Cina bagian tengah
Curah hujan yang memecahkan rekor selama berhari-hari menyebabkan banjir dahsyat di seluruh provinsi Henan, Cina, pada akhir Juli. Puluhan orang tewas, ratusan ribu lainnya mengungsi, dan banyak warga masih dilaporkan hilang. Di Zhengzhou, ibu kota provinsi Henan, warga terjebak di rel kereta bawah tanah ketika banjir datang. Daerah pedesaan dilaporkan terkena dampak lebih parah.
Foto: Courtesy of Weibo user merakiZz/AFP
Rekor suhu panas di AS dan Kanada
Suhu yang semakin panas juga menjadi lebih umum terjadi. Seperti di negara bagian Washington dan Oregon di AS dan provinsi British Columbia di Kanada pada akhir Juni lalu. Ratusan kematian terkait suhu panas dilaporkan terjadi di sana. Desa Lytton di Kanada bahkan mencatat suhu tertinggi hingga 49,6 Celcius.
Foto: Ted S. Warren/AP/picture alliance
Kebakaran hutan memicu badai petir
Gelombang panas mungkin sudah berakhir tetapi kondisi kering telah memicu salah satu musim kebakaran hutan paling intens di Oregon, AS. Kebakaran yang dijuluki Oregon’s Bootleg Fire itu menghanguskan area seluas Los Angeles hanya dalam waktu dua minggu. Saking besarnya, asap dari kebakaran dilaporkan sampai ke New York.
Foto: National Wildfire Coordinating Group/Inciweb/ZUMA Wire/picture alliance
Amazon mendekati ‘titik kritis’?
Brasil bagian tengah dilaporkan mengalami kekeringan terburuk dalam 100 tahun, sehingga meningkatkan risiko kebakaran dan deforestasi lebih lanjut di hutan hujan Amazon. Menurut para ilmuwan, sebagian besar wilayah tenggara Amazon telah berubah fungsi dari yang awalnya menyerap emisi, kini berubah menjadi memancarkan emisi CO2, menempatkan Amazon lebih dekat ke ‘titik kritis’.
Foto: Andre Penner/AP Photo/picture alliance
‘Di ambang bencana kelaparan’
Setelah bertahun-tahun alami kekeringan, lebih dari 1,14 juta orang di Madagaskar mengalami kerawanan pangan. Beberapa dari mereka terpaksa memakan kaktus mentah, daun liar, dan belalang, dalam kondisi yang mirip seperti ‘wabah kelaparan’. Nihilnya bencana atau konflik membuat situasi di sana disebut sebagai kelaparan pertama dalam sejarah modern yang semata-mata disebabkan oleh perubahan iklim.
Foto: Laetitia Bezain/AP photo/picture alliance
Melarikan diri dari bencana
Tahun 2020, jumlah orang yang melarikan diri dari konflik dan bencana alam mencapai level tertinggi dalam 10 tahun. Jumlah orang yang berpindah di dalam negera mereka sendiri mencapai rekor 55 juta, sementara 26 juta lainnya melarikan diri hingga melintasi perbatasan. Sebuah laporan dari pemantau pengungsi pada bulan Mei menemukan tiga perempat dari pengungsi internal adalah korban cuaca ekstrem.
Foto: Fabeha Monir/DW
London terendam banjir
Tidak hanya negara-negara di Eropa utara, Inggris juga dilanda banjir bandang. Beberapa bagian London dibanjiri oleh air yang naik dengan cepat karena hujan lebat dalam satu hari. Stasiun kereta bawah tanah dan jalan-jalan juga terendam banjir. Menurut Wali Kota London Sadiq Khan, banjir bandang menunjukkan bahwa “bahaya perubahan iklim kini bergerak lebih dekat ke rumah.”
Foto: Justin Tallis/AFP/Getty Images
Yunani ‘meleleh’ akibat gelombang panas
Sementara negara-negara di Eropa utara mengalami banjir, negara di bagian selatan seperti Yunani justru dicengkeram oleh gelombang panas di awal musim panas. Di minggu pertama bulan Juli, suhu melonjak hingga 43 derajat Celcius. Tempat-tempat wisata seperti Acropolis terpaksa ditutup pada siang hari, sementara panas ekstrem memicu kebakaran hutan di luar kota Thessaloniki.
Foto: Sakis Mitrolidis/AFP/Getty Images
Sardinia dilanda kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya
“Ini adalah kenyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Sardinia,” kata Gubernur Sardinia Christian Salinas tentang kebakaran hutan di sana. “Sejauh ini, 20.000 hektar hutan yang mewakili sejarah lingkungan selama berabad-abad di pulau kami telah hangus menjadi abu," tambahnya. Sedikitnya 1.200 orang dievakuasi akibat kebakaran tersebut. (gtp/hp)
Foto: Vigili del Fuoco/REUTERS
11 foto1 | 11
Banjir, panas ekstrem mengancam kehidupan
Rekor suhu tersebut berdampak luas pada tahun 2024. "Ini bukan sekadar angka suhu rata-rata global. Ini benar-benar berdampak pada skala regional dan lokal," ujar Florence Rabier, Direktur Jenderal Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa, yang berkontribusi pada Copernicus.
Banjir besar, gelombang panas, badai, atau kekeringan, serta cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim akibat aktivitas manusia, semakin memengaruhi kehidupan sekitar 750 juta orang di Eropa.
Banjir besar di wilayah Valencia, Spanyol, pada Oktober dan November lalu menewaskan lebih dari 220 orang. Arus hujan lebat, yang memecahkan semua rekor sebelumnya hanya terjadi dalam beberapa jam. Akibatnya, rumah, mobil, dan infrastruktur hancur. Pemerintah Spanyol sejauh ini menjanjikan bantuan rekonstruksi dan kompensasi sebesar €16 miliar.
Hanya satu bulan sebelumnya, hujan tanpa henti akibat Badai Boris menyebabkan banjir besar di kota-kota di delapan negara di Eropa tengah dan timur. Pada tahun lalu, diperkirakan 413.000 orang terkena dampak di seluruh Eropa karena banjir dan badai, dengan sekitar 335 orang kehilangan nyawa.
Waspada Serangan Panas!
01:00
This browser does not support the video element.
Sementara di saat musim panas, Eropa dilanda panas terik dengan jumlah hari tertinggi kedua dan tekanan panas ekstrem yang pernah tercatat. Eropa timur, khususnya, sangat panas dan kering, dan Eropa selatan dilanda kekeringan panjang, bahkan di bulan-bulan musim dingin.
Sebaliknya di Eropa barat, hujan turun lebih banyak dibandingkan rata-rata sejak 1950. Hujan lebat, dikombinasikan dengan kondisi kekeringan, dengan drastis meningkatkan risiko banjir. Tanah kering yang lama terpanggang matahari tidak mampu menyerap air dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Hal ini dengan cepat memicu kondisi banjir yang berbahaya.
Iklan
Kota di Eropa perlu adaptasi iklim
"Setiap kenaikan suhu tambahan sebesar satu derajat itu penting, karena hal itu memperparah risiko bagi kehidupan kita, bagi perekonomian, dan bagi planet ini," kata Celeste Saulo, Kepala Organisasi Meteorologi Dunia. "Adaptasi adalah suatu keharusan."
Di tengah tren cuaca yang mengkhawatirkan ini, emisi gas rumah kaca yang memanaskan planet terus meningkat. Namun, laporan tersebut menyoroti secercah kabar baik. Pada 2024, produksi energi terbarukan di Eropa mencapai titik tertinggi, dengan sekitar 45% energi berasal dari sumber yang ramah iklim, seperti tenaga surya, angin, dan biomassa.
Laporan tersebut juga memperingatkan negara-negara Eropa perlu memperkuat sistem peringatan dini dan langkah-langkah adaptasi iklim, sesegera mungkin.
Sistem Peringatan Dini untuk Mitigasi Banjir
04:26
This browser does not support the video element.
Menurut penulis laporan Samantha Burgess, pemanasan global jangka panjang lebih dari 1,5 derajat Celsius dapat menyebabkan setidaknya 30.000 kematian tambahan di Eropa akibat panas ekstrem pada tahun 2100.
Para peneliti mencatat, lebih dari separuh kota-kota Eropa kini telah mengadopsi rencana adaptasi iklim khusus untuk menghadapi cuaca ekstrem dan melindungi warganya. Jumlah kota dengan rencana ini meningkat dari hanya 26% kota pada tujuh tahun lalu.
Paris, Milan, Glasgow, dan kota-kota di Belanda berada di urutan terdepan. Di antara inisiatif lainnya, para pemimpin kota menciptakan fasilitas untuk melindungi warganya dari panas ekstrem, memperluas ruang hijau untuk membantu mendinginkan daerah perkotaan, dan membangun langkah-langkah perlindungan banjir.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Arti Ekawati
Editor: Agus Setiawan