1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Panti Jompo Waria di Jakarta

23 Februari 2013

Puluhan perempuan baya berkumpul di depan rumah berwarna merah jambu di sebuah gang sempit di pinggiran kota Jakarta. Bersama-sama mereka menjahit, membuat kue dan berkelakar.

Foto: picture-alliance/dpa

Sekilas mereka tampak seperti sekelompok nenek di panti jompo biasa. Tapi pipi kempot dan garis-garis muka mereka menyimpan cerita kehidupan yang berat. Rumah ini merupakan panti jompo waria pertama di Jakarta.

Sebuah pemandangan yang tidak lazim. Hingga 2 tahun lalu, pemerintah Indonesia masih menilai para transgender mengidap penyakit mental.

Sebagai bagian dari langkah menuju perubahan, Maret mendatang pemerintah akan mulai memberi dukungan kepada panti jompo waria, yang resmi dibuka November lalu, dengan sebuah program gizi mendasar serta menawarkan dana untuk modal bisnis kepada 200 transgender di Jakarta.

Namun, dana terbesar untuk menjalani panti jompo waria tetap harus datang dari sang pendiri Yulianus Rettoblaut, seorang waria dan aktivis yang terkenal dengan nama Mami Yuli. Gedung panti jompo itu masih menjadi rumah Rettoblaut hingga tahun lalu.

"Kami fokus kepada waria lansia karena LSM umumnya fokus kepada yang muda," jelas Rettoblaut (51) kepada kantor berita AFP.

Kaum transgender ikut shalat di mesjid transgender di YogyakartaFoto: DW

Terinspirasi oleh sesama

Mami Yuli tergerak bertindak setelah melihat banyak sesama waria lansia di jalanan, sakit-sakitan, pengangguran dan terpaksa tinggal dengan kondisi kotor.

Sementara beberapa di antara mereka menjadi selebriti domestik sebagai pemandu acara bincang-bincang, kebanyakan waria di Indonesia dikucilkan oleh keluarga, yang umumnya bertanggung jawab mengurus anggota keluarga yang sudah berumur.

"Kehidupan mereka sangat berat dan banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka kerap tidak punya pilihan selain tidur di kolong jembatan," ungkap Mami Yuli.

Meski panti jompo waria sangat kekurangan dana, Mami Yuli selalu berusaha memberi makanan tiga kali sehari kepada para penghuni, yang juga belajar menjahit, membuat kue dan menata rambut kalau memang berstatus pengangguran.

Kondisinya masih jauh dari ideal. 12 waria yang tinggal di panti jompo, tidur di atas matras tua berdesakan dalam satu kamar tidur.

Saat Mami Yuli gagal menggalang dana 350.000 Rupiah per hari yang diperlukan untuk menjalankan panti jompo, ia menggelar pertunjukan jalanan yang menampilkan para penghuni menyanyi dan menari. Walau sudah tua, mereka tetap diharapkan bekerja selama mampu.

Sebagai penganut agama Katolik, Mami Yuli menyatakan 70 gereja di Jakarta turut membantu panti jompo dengan menawarkan tempat untuk mengungsi saat banjir.

Kaum Muslim transgender di YogyakartaFoto: DW

Pelecehan dan intimidasi

Sekitar 35.000 warga Indonesia adalah transgender. Setidaknya menurut laporan Koalisi Asia-Pasifik untuk Kesehatan Seksual Lelaki. Namun kalangan aktivis menilai jumlahnya jauh lebih banyak.

Waria tidak jarang menjadi target pelecehan dan intimidasi. Walau mulai bermunculan tanda-tanda penerimaan dari masyarakat.

Diskriminasi mendorong banyak waria terjun ke lahan pekerjaan seksual. Ini memicu naiknya tingkat HIV dari 6 % menjadi 34% antara 1997 hingga 2007 di antara kaum transgender di Jakarta, menurut data Kementerian Kesehatan.

Front Pembela Islam (FPI) adalah lawan paling vokal waria, kerap menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk menutup acara-acara transgender yang menurut mereka mengancam nilai-nilai Islam di Indonesia. Termasuk kontes Miss Waria, Desember lalu.

"Kami menutup kontes itu dan kami bersedia untuk menutup pertemuan waria lainnya," tegas ketua FPI Jakarta Habib Salim Alatas.

Namun tampaknya masa depan cukup cerah bagi komunitas yang termarginalisasi ini. Tahun 2008, sekolah Islam pertama khusus untuk transgender berdoa dan belajar Al-Qur'an dibuka di Yogyakarta. Berdirinya panti jompo waria milik Mami Yuli juga menjadi wujud terobosan baru.

CP/DK (afp)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait