1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiTimur Tengah

Pariwisata Timur Tengah Lesu akibat Konflik di Jalur Gaza

Mohamed Farhan | Cathrin Schaer
5 Desember 2023

Pariwisata berperan penting menggerakkan perekonomian Timur Tengah. Tapi konflik di Jalur Gaza kian menjauhkan wisatawan mancanegara. Dampaknya mulai terasa membebani kas sejumlah negara.

Parwisata di Mesir
Parwisata di MesirFoto: Mohamed Abd El Ghany/REUTERS

Julukan sebagai Madinah al-Salam atau "kota perdamaian” tidak menyelamatkan Sharm el-Sheikh di Mesir dari dampak perang di Jalur Gaza. Tahun ini, kawasan wisata di tepi Laut Merah itu dhindari wisatawan mancanegara, terutama dari Israel dan Eropa yang saban musim dingin berbondong-bondong mencari kehangatan di selatan.

Pariwisata sejatinya menyumbang antara 10 hingga 15 persen kepada pendapatan negara tahunan di Mesir. Perannya sebagai penggerak ekonomi terutama diperlukan saat ini, ketika Mesir kesulitan merangsang pertumbuhan di tengah beban utang yang tinggi.

"Pariwisata bukan cuma menjadi sumber pendapatan utama bagi para pekerja di sektor pariwisata, tetapi juga ikut menafkahi bagi sektor lain, seperti di layanan taksi, supermarket dan taman hiburan," kata Moustafa Hassan, seorang manajer restoran di Sharm el-Sheikh.

Saat ini, penurunan angka wisatawan belum terlihat mencolok, terutama karena didorong larangan pembatalan bagi paket wisata murah yang sudah dipesan. Namun jumlah reservasi sudah berkurang drastis sejak dua bulan terakhir. Tren ini diyakini akan menetap untuk sementara waktu.

Prospek muram di kawasan

Menurut konsultan keuangan di Dubai dan Beirut, Nasser Saidi & Associates, sejak awal Oktober pembelian tiket pessawat menuju Mesir telah turun sebanyak 26 persen. Adapun pemesanan tiket ke Yordania anjlok sebesar 49 persen dan ke Lebanon 74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lebanon sudah kehilangan daya tarik sejak ledakan di pelabuhan Beirut tahun 2020 yang dibarengi krisis ekonomi berkepanjangan. Belum lama ini, pemerintah AS menerbitkan peringatan perjalanan ke Lebanon dengan alasan konflik antara Israel dan Hizbullah.

Akibatnya, pada musim panas 2023 lalu jumlah wisatawan asing di Lebanon anjlok. Media lokal melaporkan, tingkat hunian hotel berkisar antara nol hingga tujuh persen, dibandingkan dengan masa normal di mana setidaknya seperempat kamar hotel terisi. 

Pariwisata Yordania ‘lesu'

Yordania juga menerima pembatalan untuk hampir separuh reservasi hotel pada bulan Oktober, menurut Hussein Helalat, juru bicara Asosiasi Hotel Yordania.

Setelah akhirnya pulih dari dampak pandemi COVID-19, pelaku bisnis perhotelan berharap tingkat hunian akan mencapai 95 persen pada kuartal terakhir tahun ini. Namun harapan itu meleset jauh dengan tingkat hunian yang mentok di angka 80 persen, kata Helalat.

Anjloknya jumlah wisatawan mancanegara di Yordania diyakini diakibatkan absennya pelancong dari Eropa dan Amerika Serikat.

Di Yordania, sektor pariwisata secara rutin menyumbang antara 11 hingga 15 persen pada pendapatan negara.

Pengusaha pariwisata Yordania, Najwan al-Masri, juga mengakui adanya penurunan jumlah wisatawan. Menurutnya, jumlah wisman telah berkurang dari 760.000 pada bulan September menjadi 730.000 pada bulan Oktober.

Bedouins in Egypt's Sinai return to small-scale farming

03:38

This browser does not support the video element.

Ancaman eksistensial

Sejumlah negara jiran lain di kawasan juga merasakan dampak perang di Gaza. Dua negara Arab di Afrika Utara, Maroko dan Tunisia, misalnya sama-sama mencatatkan penurunan jumlah pemesanan antara 15  hingga 20 persen, lapor surat kabar Prancis, Le Monde, awal bulan ini.

Fenomena serupa diwaspadai oleh pemerintah Siprus, di mana wisatawan Israel sebelumnya berjumlah rata-rata 15 persen dari total jumlah wisatawan.

Tren ini diyakini akan memicu gelombang kebangkrutan jika berlangsung lama. "Jika terjadi perang yang berkepanjangan, seluruh industri pariwisata dan terutama usaha kecil yang didominasi generasi muda Yordania, akan menderita," kata pengusaha pariwisata Yordania al-Masri.

Periode Natal selalu menjadi waktu yang penting bagi pariwisata dan jika konflik terus berlanjut, "bahaya akan meluas ke musim berikutnya," katanya.

rzn/hp

 

Jangan lewatkan konten-konten eksklusif yang kami pilih setiap Rabu untuk kamu. Daftarkan e-mail kamu untuk berlangganan Newsletter mingguan Wednesday Bite.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait