India Punya ‘Partai Kecoak’ yang Mengusik Pemerintah
3 Juni 2026
Beberapa pekan lalu muncul ‘partai’ baru di India yakni Cockroach Janta Party atau 'Partai Kecoak'. Sesaat setelah dicetuskan, ‘partai’ yang dibentuk di media sosial ini jadi viral. Pendirinya adalah Abhijeet Dipke, alumnus Boston University, Amerika Serikat, yang merasa perlu menyuarakan keresahan terhadap situasi politik dan sosial lewat gerakan satire.
Agenda gerakan ‘Partai Kecoak’ saat ini adalah menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan supaya undur diri karena diduga melakukan penyelewengan dalam praktik penyelenggaraan ujian masuk kedokteran nasional India.
"Sudah saatnya kita semua bersatu, mengikuti jalur Konstitusi India, dan menyuarakan tuntutan pengunduran diri Dharmendra secara damai," kata Abhijeet dalam video yang diunggah di akun Instagram Partai Kecoak. "Jika kita bersuara bersama, mereka pasti harus mendengarkan kita," lanjut Abhijeet yang berencana melakukan protes damai turun ke jalan pada 6 Juni nanti.
Kemunculan ‘Partai Kecoak' terinspirasi dari Ketua Mahkamah Agung India
‘Partai Kecoak’ dibentuk pasca Surya Kant, Ketua Mahkamah Agung India, menganalogikan pengangguran muda di India dengan kata ‘kecoak’ dan ‘parasit’.
Pernyataan itu diklarifikasi Kant dengan mengatakan bahwa sesungguhnya kata ‘kecoak’ dan ‘parasit’ ditujukan kepada orang-orang yang menggunakan ijazah palsu.
Namun, itu pun tetap menyinggung orang muda di India karena isunya sangat sensitif. Saat ini India sedang menghadapi tingginya tingkat pengangguran, skandal dalam pelaksanaan ujian, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
‘Partai Kecoak’ yang awalnya ditujukan sebagai proyek satire di dunia maya pun jadi berkembang pesat melampaui media sosial atau dunia daring.
“Kelompok anak muda India merasa bahwa sistem politik saat ini tidak benar-benar peduli pada mereka, baik partai yang berkuasa maupun oposisi,” kata Abhijeet kepada The New York Times.
Menyatukan humor dan kritik politik
Gerakan ‘Partai Kecoak’ bertujuan membentuk kelompok-kelompok di berbagai daerah, merekrut relawan, dan mengkampanyekan berbagai isu sosial mulai dari pengangguran, kebocoran soal ujian, reformasi pendidikan, hingga akuntabilitas pemerintah.
Gerakan tersebut telah terbukti berhasil membangun basis pengikut yang sangat besar di media sosial.
Akun Instagram mereka kini memiliki lebih dari 22 juta pengikut. Angka ini jauh melampaui Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang memiliki 9,5 juta pengikut. ‘Partai Kecoak’ juga unggul dibanding partai oposisi di India yang memiliki 13,9 juta pengikut.
Sayangnya, otoritas India memblokir akun X milik ‘Partai Kecoak’ dengan alasan keamanan nasional. Keputusan tersebut direspons dengan gugatan hukum dari tim ‘Partai Kecoak’.
Sejumlah politisi India menuduh ‘Partai Kecoak’ mendapat dukungan dari pihak-pihak asing yang dianggap memusuhi India.
Rajeev Chandrasekhar, politikus senior dari BJP, menyebut ‘Partai Kecoak’ sebagai “operasi pengaruh lintas batas” yang bertujuan mengganggu stabilitas India.
Sementara itu, Menteri Kabinet Senior Kiren Rijiju menuduh ‘Partai Kecoak’ berupaya meraih dukungan di media sosial dari Pakistan yang merupakan musuh bebuyutan India. Kiren juga menyebut ‘Partai Kecoak’ sebagai “geng anti-India”.
Di sisi lain, Abhijeet yang tinggal di Amerika Serikat selama dua tahun terakhir, mengaku dipantau ketat dan diintimidasi akibat aktivitasnya di ‘Partai Kecoak’.
Ia mengatakan keluarga dan teman-temannya khawatir dirinya bisa ditangkap apabila kembali ke India.
Kesenjangan kian meluas
Sosiolog, Avijit Pathak, mengatakan kepada DW bahwa masih terlalu dini untuk menilai apakah tuntutan ‘Partai Kecoak’ mampu direalisasikan.
“Apakah gerakan ini akan bertahan atau tidak, mustahil diprediksi,” kata Avijit. “Yang jelas, ‘Partai Kecoak’ sudah menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara warga dan kelompok elit yang nampaknya semakin enggan mendengarkan.”
Ia turut menambahkan bahwa gerakan ‘Partai Kecoak’ pada dasarnya hanya menyalurkan keresahan yang sebenarnya sudah lama dirasakan masyarakat.
Avijit juga melihat ada pelajaran yang lebih mendalam dari cara gerakan ini menggunakan humor sebagai alat politik.
“Humor tidak pernah sesederhana yang terlihat,” katanya. “Sepanjang sejarah, satire telah menjadi instrumen yang sangat kuat untuk menyampaikan kritik politik."
Bangkitnya perlawanan di ranah digital
Avijit juga berargumen bahwa yang mengusik pihak berkuasa bukan hanya oposisi yang terorganisasi, melainkan kemampuan lelucon, meme, dan olok-olok kolektif untuk meruntuhkan citra kewibawaan yang dibangun pemerintah.
Melonjaknya popularitas gerakan ‘Partai Kecoak’ juga mencerminkan tren global tentang cara masyarakat mengekspresikan ketidakpuasan politik.
‘Partai Kecoak’ mengandalkan partisipasi digital, komunikasi viral, dan organisasi yang terdesentralisasi, alih-alih mesin politik konvensional. Para pendukungnya berkomunikasi melalui meme, video, dan kampanye media sosial, bukan lewat kantor partai atau struktur organisasi yang hierarkis.
Namun, keberhasilan ‘Partai Kecoak’ tidak bisa dijelaskan hanya oleh kekuatan media sosial.
Saat ejekan berubah jadi kritik sosial
Kritikus media dan ombudsman pers, Pamela Philipose, menyebut bahwa keberhasilan gerakan ‘Partai Kecoak’ ada pada kemampuannya mengubah simbol penghinaan menjadi simbol yang menarik perhatian publik.
“Yang menarik adalah bagaimana istilah yang awalnya digunakan untuk merendahkan anak muda pengangguran justru diambil alih dan diubah menjadi lambang perlawanan,” kata Pamela kepada DW.
Bagi Pamela, gerakan orang muda tersebut sukses menarik perhatian publik terhadap hal yang kerap luput dari sorotan dalam masyarakat India.
Mampukah dukungan online berubah jadi kekuatan politik?
Tim ‘Partai Kecoak’ mendorong para pendukungnya untuk membentuk berjejaring, membuat pertemuan anak muda, dan menggagas berbagai kampanye.
Namun, proses transformasi dari fenomena internet menjadi organisasi politik bukanlah perkara mudah.
Untuk terdaftar sebagai partai politik di India, sebuah organisasi harus memiliki struktur kelembagaan yang jelas, transparansi keuangan, serta dukungan akar rumput yang berkelanjutan.
‘Partai Kecoak’ juga menghadapi sejumlah tantangan sebelum masuk ke ranah politik formal. Regulasi pemilu di India menetapkan persyaratan ketat bagi partai politik. Hal itu bisa menghalangi gerakan tersebut menggunakan simbol kecoak sebagai lambang resmi dalam pemilu.
“Jumlah pengikut di media sosial dan mandat elektoral adalah dua hal yang berbeda. Itu penting untuk dipahami,” kata Tom Vadakkan, juru bicara BJP kepada DW.
Mereka yang terabaikan oleh media dan gerakan politik
Gerakan ’Partai Kecoak’ melakukan apa yang sejak lama menjadi fungsi satire: menyampaikan kebenaran kepada mereka yang berkuasa,” kata Sanjay Rajoura, satiris politik, kepada DW.
“Ketika ruang untuk menyampaikan perbedaan pendapat menyempit, bentuk-bentuk ekspresi alternatif pada akhirnya akan muncul,” lanjutnya.
Sanjay juga menilai gerakan ini mendapat momentum dari kekecewaan publik terhadap sebagian media arus utama. Para pengkritik menuduh media terlalu fokus pada elit politik sementara isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti pengangguran dan persoalan pendidikan kurang mendapat perhatian.
Dalam situasi seperti itu, para ahli menilai gerakan satire dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar hiburan.
Meski kemampuan gerakan ‘Partai Kecoak’ untuk bertransformasi menjadi kekuatan politik yang nyata masih menjadi tanda tanya, gerakan anak muda ini telah meninggalkan jejak penting: mengubah sebuah lelucon menjadi percakapan nasional.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diterjemahkan oleh Joan Rumengan
Editor Prihardani Purba
Apabila Anda mengandalkan tim kami untuk memperoleh laporan yang tepercaya, klik di sini dan pilih tombol "bintang" atau "ikuti" untuk mendapatkan laporan terverifikasi kami di Google News.