1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikIndia

Oposisi India Gugat Revisi Daftar Pemilih ke Mahkamah Agung

13 Oktober 2026

Kontroversi revisi daftar pemilih masih memicu gelombang protes di India. Polisi memperketat pengamanan dan menahan ribuan demonstran, sementara oposisi dan kaum muda mengubah strategi demi menjaga momentum gerakan.

Partai oposisi India berunjuk rasa menuju Mahkamah Agung memprotes revisi daftar pemilih, Senin (12/10)
Ribuan demonstran India bergerak menuju Mahkamah Agung di New Delhi, Senin (12/10)Foto: Priyanshu Singh/REUTERS

Pemimpin partai-partai oposisi India  ikut menggelar aksi unjuk rasa di dengan gedung Mahkamah Agung pada Senin (12/10) untuk memprotes revisi daftar pemilih yang mereka nilai menguntungkan Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Aksi tersebut berlangsung setelah polisi menahan ribuan aktivis dalam operasi pengamanan besar-besaran di New Delhi selama akhir pekan.

Ribuan pendukung bersama sejumlah anggota parlemen oposisi menyerahkan petisi kepada Ketua Mahkamah Agung. Mereka menuduh adanya penyimpangan dalam proses revisi daftar pemilih yang dilakukan secara nasional.

Gelombang protes di India sejatinya dipimpin oleh gerakan anak muda Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak. Aksi mereka terus meluas sejak otoritas pemilu mulai merevisi daftar pemilih tahun lalu. Dalam proses tersebut, lebih dari 130 juta nama dihapus dari daftar pemilih, memicu kritik dari oposisi dan kelompok masyarakat sipil. Para demonstran menuntut Ketua Komisi Pemilihan Umum Gyanesh Kumar mengundurkan diri.

Revisi daftar pemilih dinilai bermotif politik dan berisiko menghilangkan hak pilih warga yang sebenarnya memenuhi syarat. Namun, BJP dan Komisi Pemilihan Umum India membantah tuduhan tersebut. Mereka menyatakan langkah itu diperlukan untuk menghapus nama ganda serta pemilih yang tidak lagi memenuhi syarat.

Pemimpin oposisi dari Partai Kongres, Rahul Gandhi, menyebut gelombang protes yang terus membesar sebagai perjuangan untuk mempertahankan konstitusi India. "Kami tidak akan mundur,” kata Gandhi kepada wartawan di New Delhi.

Gandhi, yang berasal dari salah satu keluarga politik paling berpengaruh di India, berupaya mengubah gelombang protes ini menjadi gerakan yang lebih luas untuk menantang Modi.

Dalam aksi tersebut, Gandhi sempat menaiki bus terbuka sambil mengangkat salinan Konstitusi India. Ribuan pendukung Partai Kongres, aktivis mahasiswa, dan demonstran lainnya mengikuti di belakangnya.

Ribuan demonstran yang dipimpin Rahul Gandhi turun ke jalan di New Delhi untuk menuntut pengunduran diri kepala komisi pemilihan umumFoto: Priyanshu Singh/REUTERS

Besarnya massa yang hadir menjadi kontras dengan situasi akhir pekan lalu, ketika pihak berwenang menahan ribuan orang, termasuk para pemimpin dan aktivis Partai Kecoak serta sejumlah jurnalis. Saat itu, sebagian besar wilayah ibu kota juga ditutup untuk mencegah aksi protes berskala besar.

Modi belum memberikan komentar publik mengenai gelombang protes tersebut. Namun, sejumlah pemimpin BJP meremehkan aksi itu dan bahkan ada yang menyebut para aktivis sebagai anarkis.

Di tengah memanasnya situasi, Kepolisian New Delhi pada Senin (12/10) mengumumkan bahwa Jantar Mantar, yang selama puluhan tahun menjadi lokasi utama berbagai aksi unjuk rasa di ibu kota, tidak lagi ditetapkan sebagai lokasi resmi demonstrasi. Sebagai gantinya, polisi telah menyiapkan tiga lokasi lain untuk kegiatan unjuk rasa.

India tahan aktivis Partai Kecoak

Partai Kecoak pada Selasa (13/10) mengatakan sejumlah pemimpin utama mereka telah ditahan setelah memasuki Jantar Mantar.

Dalam sebuah video yang diunggah pemimpin CJP, Abhijeet Dipke, memperlihatkan para pengunjuk rasa memanjat barikade, berlari memasuki area Jantar Mantar yang kosong, lalu mengibarkan bendera India. Tak lama kemudian, polisi mengejar dan menahan mereka.

"CJP berhasil masuk untuk merebut kembali Jantar Mantar,” tulis kelompok tersebut di media sosial.

CJP juga menyebut sejumlah tokoh yang ditahan, antara lain Saurav Das, Ashutosh Ranka, dan Ajinkya Shinde. "Semuanya telah ditahan oleh Polisi Delhi,” tambah mereka.

Polisi India menahan sekitar 2.000 orang saat demonstrasi menuntut Ketua KPU mundurFoto: Abiraj Kumar Arulgnanakumar/DW

Di tengah memanasnya protes, Perdana Menteri Narendra Modi berbicara dalam sebuah konferensi bisnis di New Delhi, Selasa (13/10). Meski tidak menyinggung aksi demonstrasi secara langsung, ia menyebut India sebagai "ibu dari demokrasi”.

"Di negara kami, masyarakat secara terbuka memperdebatkan berbagai isu dan mendiskusikan beragam sudut pandang,” ujar Modi.

Anak muda India ubah strategi protes

Para demonstran muda di India mencari berbagai cara kreatif untuk menghindari pengawasan dan menjaga aksi protes tetap berlangsung di tengah pengamanan ketat polisi di New Delhi.

Salah satu upaya yang dilakukan demonstran datang dari Meghnad S., seorang kreator konten berusia 36 tahun. Bersama sekitar 170 relawan, ia membantu melacak lokasi para demonstran yang ditahan polisi. Bermodalkan telepon genggam, para relawan memantau pergerakan kendaraan polisi. Begitu mengetahui ke mana para tahanan dibawa, mereka segera mencocokkan lokasi tersebut dengan relawan pengemudi yang tersedia.

"Begitu kami tahu para tahanan berada di mana, kami menggunakan grup WhatsApp untuk mencari relawan pengemudi yang berada di dekat lokasi. Kami juga memastikan kendaraan mereka memiliki cukup makanan, air minum, dan bahan bakar,” kata Meghnad kepada AFP.

Dalam beberapa kasus, relawan dokter juga ikut membantu. "Setelah semuanya siap, kami mencoba mengajak dokter dari jaringan kami untuk ikut bersama pengemudi, jika para tahanan membutuhkan bantuan medis,” ujarnya.

Menghindari kamera pengawas

Pemimpin mahasiswa Neha Bora sempat menjadi perbincangan di media sosial setelah polisi salah menangkap seseorang yang wajahnya mirip dengannya. Sementara itu, Bora yang sebenarnya, berusia 29 tahun, berhasil melewati barikade keamanan dan berlari menuju pusat kota New Delhi sebelum akhirnya ditangkap.

Belakangan, ia mengunggah foto bersama orang yang mirip dengannya dan bercanda bahwa kemiripan itu "murni kebetulan, bukan strategi.”

Dalam insiden lain, sejumlah demonstran terlihat saling berpegangan saat diseret ke bus polisi. Namun, beberapa di antaranya kemudian berhasil meloloskan diri melalui kursi pengemudi atau jendela belakang. Seperti dilansir AFP, sejumlah demonstran mengenakan topeng Batman agar tidak mudah dikenali aparat.

Aktris Bollywood Richa Chadha bahkan membagikan tips untuk menghindari teknologi pengenal wajah. Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial, ia menyarankan para demonstran menggunakan riasan wajah untuk mengurangi kemungkinan dikenali kamera pengawas.

"Para pengunjuk rasa, karena kalian direkam tanpa persetujuan, cobalah menggunakan riasan untuk menghindari kamera pengawas atau teknologi pengenal wajah,” tulisnya.

Editor: Rizki Nugraha

Demonstran "Kecoak" di India Tolak Perubahan Daftar Pemilih

01:17

This browser does not support the video element.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait