1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiAsia

Pasar Saham Asia Tertekan, Demam Investasi AI Mulai Diuji

6 November 2026

Kekhawatiran terhadap besarnya biaya investasi dan masa depan industri Akal Imitasi (AI) di Amerika Serikat memicu aksi jual saham teknologi. Dampaknya terasa terhadap bursa saham di Asia.

Seorang pria sedang melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan, yang anjlok tajam saat pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada 13 Mei 2026
Investasi Akal Imitasi yang mulai diragukan menyebabkan bursa saham Asia berguguranFoto: Bay Ismoyo/AFP

Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan teknologi berlomba mengembangkan akal imitasi (AI). Investasi besar-besaran digelontorkan untuk membangun pusat data, membeli cip semikonduktor, dan menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan teknologi tersebut.

Namun, antusiasme terhadap AI kini mulai diikuti keraguan investor. Harga saham sejumlah perusahaan teknologi merosot tajam, memicu tekanan di pasar saham Amerika Serikat (AS) hingga Asia.

Saham Nvidia, salah satu pemasok utama cip untuk industri AI, turun 9,3 persen. Pada perdagangan Kamis (5/11), indeks S&P 500, yang mengukur kinerja sekitar 500 perusahaan besar di AS, turun 4,4 persen. Ini merupakan penurunan harian terbesar sejak April 2025, saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang dikenal sebagai "Liberation Day". Indeks Nasdaq, yang banyak diisi perusahaan teknologi, anjlok 5,5 persen.

Tekanan kemudian menjalar ke pasar Asia. Pada Jumat (6/11), indeks Nikkei 225, yang mengukur saham 225 perusahaan besar Jepang, turun 6,1 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi, yang mencerminkan pergerakan saham di pasar utama negara tersebut, merosot 6,3 persen. Sejumlah perusahaan teknologi di kedua negara ikut terdampak.

Tekanan juga terasa di Indonesia

Tekanan di pasar saham Asia turut dirasakan Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada Jumat (6/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,97 persen pada penutupan sesi pertama. Sebanyak 496 saham tercatat turun, sementara 118 saham menguat.

Namun, tekanan terhadap pasar saham Indonesia sebenarnya sudah terlihat sejak bulan sebelumnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat IHSG terkoreksi 16,7 persen sepanjang Oktober 2026. Pada periode yang sama, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp16,88 triliun. 

Tekanan di pasar saham Indonesia sudah terasa sejak Oktober 2026Foto: Agung Kuncahya B./Xinhua/IMAGO

OJK menyebut pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks saham global yang menjadi acuan investor internasional, terkait proposal reklasifikasi status pasar saham Indonesia sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan bursa domestik. Ketidakpastian global dan perubahan persepsi risiko investor juga turut menekan pasar.

Di sisi lain, perkembangan industri AI global juga relevan bagi Indonesia. Sejumlah perusahaan dalam negeri, seperti DCI Indonesia (DCII), Telkom Indonesia (TLKM), Indosat (ISAT), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA), memiliki bisnis yang berkaitan dengan pengoperasian atau pengembangan pusat data.

Riset Brights mencatat kapasitas pusat data Indonesia mencapai sekitar 580 megawatt pada semester pertama 2026 dan diperkirakan berpotensi meningkat menjadi 3,5 gigawatt pada 2030. Namun, perlambatan investasi AI global tidak otomatis berarti bisnis pusat data Indonesia akan ikut melemah. Dampaknya bergantung pada permintaan domestik, kontrak pelanggan, serta perkembangan proyek masing-masing perusahaan.

Investasi AI mulai dipertanyakan

Salah satu sumber kekhawatiran investor adalah besarnya biaya untuk membangun infrastruktur AI. Perusahaan teknologi membutuhkan dana besar untuk mendirikan pusat data, membeli chip semikonduktor, serta menyediakan listrik dalam jumlah besar.

Di tengah meningkatnya biaya pinjaman, investor mulai mempertanyakan apakah investasi sebesar itu nantinya akan menghasilkan keuntungan yang sepadan. Harga saham sejumlah perusahaan AI juga dinilai sudah meningkat terlalu tinggi dibandingkan prospek bisnisnya. 

Kekhawatiran ini muncul ketika perusahaan-perusahaan teknologi besar terus menggelontorkan dana untuk memperluas kapasitas AI. Namun, besarnya investasi belum tentu langsung menghasilkan pendapatan dan keuntungan dalam jumlah yang sama. 

Sementara, perkembangan politik di AS turut menambah ketidakpastian. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela pada Selasa (3/11) memunculkan kekhawatiran akan pengawasan dan pembatasan yang lebih ketat terhadap industri AI, terutama pembangunan pusat data.

Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Pembangunannya pun mendapat penolakan dari sebagian warga AS yang khawatir terhadap dampaknya pada tagihan listrik. Sejumlah politisi yang terpilih dalam pemilu menyatakan dukungan untuk memperlambat pembangunan fasilitas tersebut. Senator Bernie Sanders bahkan menyerukan moratorium nasional terhadap pembangunan pusat data.

Jika proyek-proyek tersebut melambat, permintaan terhadap chip AI, listrik, dan berbagai infrastruktur pendukungnya juga berpotensi berkurang. Hal ini dapat memengaruhi perusahaan-perusahaan yang selama ini mendapat keuntungan dari pesatnya investasi AI.

Presiden AS Donald Trump menanggapi kejatuhan pasar saham dengan menyalahkan kemenangan Partai Demokrat. Melalui platform Truth Social, ia menulis: "Pasar saham ambruk hari ini karena Partai Demokrat meraih kemenangan besar pada Selasa. Sedih sekali melihatnya, kalian hanya bisa menyalahkan diri sendiri!" 

Investor menunggu arah pasar

Di tengah aksi jual besar-besaran, analis Saxo Markets, Neil Wilson, menggambarkan situasi pasar dengan ungkapan: "Situasinya benar-benar berdarah, teman-teman."

Ia menilai aksi jual saham saat ini tampak berlebihan. Namun, menurutnya, investor perlu menunggu sampai pasar menunjukkan tanda-tanda stabilitas. Gejolak di pasar saham juga mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman.

Dolar AS mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan tersebut, meskipun penguatannya tertahan oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yen Jepang juga sempat menguat terhadap dolar AS.

Pelaku pasar kini turut mencermati laporan ketenagakerjaan AS. Data tersebut menjadi salah satu petunjuk bagi investor untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Editor: Ayu Purwaningsih

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait