1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikTimur Tengah

PBB: Pasokan Makanan ke Gaza Masih Jauh dari Target

Prita Kusumaputri sumber: Reuters, dpa
22 Oktober 2025

Program Pangan Dunia mengatakan pasokan makanan yang sekarang masuk ke Gaza masih jauh dari target karena hanya dua jalur perbatasan yang dibuka. Banyak warga menyimpan bantuan yang mereka terima untuk situasi darurat.

Anak-anak Palestina berkumpul untuk menerima pasokan makanan dari dapur amal di kamp pengungsi Nuseirat, di Jalur Gaza tengah, pada 21 Oktober 2025
Anak-anak Palestina berkumpul untuk menerima pasokan makanan dari dapur amal di kamp pengungsi Nuseirat, di Jalur Gaza tengah, pada 21 Oktober 2025, seminggu setelah gencatan senjata mulai berlakuFoto: Eyad Baba/AFP

World Food Programme (WFP) atau Program Pangan Dunia PBB mengatakan pada Selasa (21/10) bahwa pasokan makanan ke Gaza yang seharusnya adalah 2.000 ton per hari, masih jauh dari target.

Sejak terjadinya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS), pasokannya mulai meningkat, tetapi tetap belum cukup.

Target itu belum terpenuhi karena saat ini hanya dua jalur perbatasan yang dibuka, dan tidak ada yang menuju wilayah utara Gaza yang dilanda kelaparan. Dua jalur perbatasan yang dikendalikan Israel itu adalah Kerem Shalom di selatan dan Kissufim di tengah.

WFP mengatakan sekitar 750 ton makanan kini masuk ke Jalur Gaza setiap hari, tetapi jumlah ini masih jauh dari kebutuhan setelah terjadinya dua tahun konflik antara Israel dan Hamas. Situasi ini telah mengubah sebagian besar wilayah Gaza menjadi gurun dan membuat hampir seluruh penduduknya kehilangan tempat tinggal. 

"Untuk bisa mencapai peningkatan pasokan sebesar ini, saat ini kami harus memanfaatkan setiap pos perbatasan yang ada,” kata juru bicara WFP, Abeer Etefa, dalam konferensi pers di Jenewa. 

Etefa menjelaskan, beberapa pasokan gizi untuk anak-anak dan ibu hamil telah mencapai wilayah utara melalui jalur selatan, tetapi jumlahnya masih jauh dari yang dibutuhkan.

"Kami belum melakukan konvoi berskala besar ke Kota Gaza atau ke wilayah utara Gaza,” ujarnya.

Pasokan makanan yang telah dikirim sejauh ini cukup untuk memberi makan sekitar setengah juta orang selama dua minggu, tambahnya.

Banyak warga Gaza menyimpan makanan yang mereka terima karena khawatir pasokan bisa habis lagi.

"Mereka memakan sebagian, kemudian membagi dan menyimpan sebagiannya untuk keadaan darurat, karena mereka tidak yakin berapa lama gencatan senjata akan bertahan dan apa yang akan terjadi selanjutnya,” katanya.

Ribuan Warga Gaza Berebut Bantuan

01:31

This browser does not support the video element.

Jalur perbatasan Gaza perlu dibuka untuk menambah pusat distribusi makanan

Sejauh ini, 26 dari 145 pusat distribusi yang direncanakan di wilayah pesisir yang sebelumnya diblokade telah dibuka, dan semuanya berada di Gaza bagian selatan atau tengah.

WFP menambahkan bahwa sulit membuka pusat distribusi makanan lebih banyak dan lebih cepat karena situasi di Gaza mengalami kehancuran parah dan banyak tumpukan reruntuhan di jalan. Untuk bisa menyalurkan makanan ke utara, sangat penting membuka jalur perbatasan terdekat.

Namun, Etefa mencatat bahwa sejak gencatan senjata, tidak ada laporan pembajakan truk, baik oleh orang-orang yang kelaparan maupun kelompok bersenjata.

“Orang-orang sekarang sedikit lebih optimistis bahwa makanan akan dikirim dan semua orang akan terpenuhi kebutuhannya, meski masih berhati-hati,” ujarnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Prita Kusumaputri

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait