1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pasukan Darat AS Serbu Desa di Suriah

as28 Oktober 2008

AS untuk pertama kalinya melakukan serangan darat ke Suriah. Invasi militer ini berdampak buruk bagi Irak maupun kawasan sekitarnya.

Helikopter tempur AS lancarkan serangan udara dan menurunkan pasukan darat menyerbu desa Al Sukkariya di Suriah.Foto: picture-alliance/dpa


Serangan pasukan komando AS ke wilayah kedaulatan Suriah yang menewaskan delapan warga sipil, dikomentari sejumlah harian internasional.

Harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar :

Amerika Serikat mengirimkan sinyal penting kepada pemerintah di Damaskus. Tahun sebelumnya sudah ditegaskan, perbatasan ke Suriah memainkan peranan besar dalam percaturan politik di Timur Tengah. Pesawat terbang AS dan Israel sudah berulangkali melanggar kedaulatan udara Suriah. Bahkan pesawat tempur AS membomi sebuah instalasi militer di Damaskus, karena dicurigai mengembangkan teknologi nuklir. Tapi serangan terbaru memiliki pesan amat berbeda. Karena untuk pertama kalinya pasukan darat AS dikerahkan menyerang sasaran di wilayah kedaulatan Suriah.

Sementara itu sejumlah surat kabar di Irak juga mengecam serangan pasukan AS dari wilayahnya ke Suriah. Harian Irak Al Sabah Al Jadid yang terbit di Bagdad berkomentar :

Operasi militer AS itu berdampak buruk bagi Irak dan bagi kawasan sekitarnya. Serangan ke Suriah itu tidak akan menghasilkan apa-apa dan tidak dapat dibenarkan oleh hukum manapun. Serangan pasukan komando AS itu bahkan membebani hubungan diplomatik antara Irak dan Suriah yang mulai pulih kembali.

Harian Jerman Sächsische Zeitung yang terbit di Dresden berkomentar :

Presiden AS George W.Bush dalam perang tanpa batas melawan terorisme, secara diam-diam pada bulan Juli lalu sudah mengizinkan tentaranya menyerang sasaran di Pakistan. Padahal negara di Asia selatan itu merupakan mitra terpenting Bush dalam perang melawan terorisme di kawasan tsb. Sekarang pasukan komando AS menyerbu Suriah. Setelah itu negara mana lagi yang akan dijadikan sasaran operasi militer tentara AS? Apakah Iran menjadi giliran berikutnya? Tidak peduli, apakah tentara Amerika benar-benar mengejar teroris dan membunuhnya, namun sasaran yang mereka gembar-gemborkan untuk menciptakan stabilisasi di Timur Tengah, sudah berkali-kali secara terarah diselewengkan.

Harian Jerman Neue Osnabrücker Zeitung yang terbit di Osnabrück berkomentar :

Kemana sekarang Suriah melangkah sudah jelas. Yakni menjalin perdamaian. Menggelar perundingan dengan Israel dengan penengahan Turki. Mengakui kedaulatan Libanon. Memulihkan hubungan diplomatik dengan Irak. Damaskus sudah menegaskan kepada Eropa, hendak keluar dari citra buruknya sebagai pendukung terorisme dan faktor destabilisasi Timur Tengah. Tapi pemerintahan George W.Bush tidak terkesan dengan semua langkah Suriah itu. Bush tetap ngotot menjalankan politik keamananya yang dalam banyak hal kontra-produktif hingga akhir masa jabatannya. Serangan kilat ke wilayah kedaulatan Suriah, secara militer memang amat logis. Tapi dari segi politik merupakan sebuah ketololan yang kelewat batas.

Terakhir harian sosialis Jerman Neues Deutschland yang terbit di Berlin berkomentar :

Serangan pasukan komando AS ke sebuah desa kecil di Suriah, merupakan pelanggaran kedaulatan sebuah negara sekaligus berbahaya dan tidak dapat dibenarkan. Serangan ini merupakan provokasi yang akan meningkatkan ketegangan di kawasan tsb. Pengalaman sudah membuktikan, bagaimana dampak provokasi serangan pasukan Bush di kawasan perbatasan Pakistan ke Afghanistan. Semua itu hanyalah peringatan berdarah kepada presiden Suriah, Bashar el Assad yang oleh Washington dituduh mengkespor teroris. Sama halnya dengan tuduhan kepada Iran, sebagai negara poros kejahatan. Pada intinya, program perang melawan terorisme yang digagas Bush tidak mengenal lagi batasan apapun.