1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

ISIS Gunakan Senjata Buatan Eropa?

15 Desember 2017

Lebih dari sepertiga senjata yang digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah berasal dari negara-negara Uni Eropa - termasuk Jerman. Hasil temuan CAR menunjukkan bahwa senjata mematikan seringkali tiba di tangan yang salah.

Syrien Kämpfer des Islamischen Staats
Foto: picture-alliance/Zuma Press

Sebagian besar senjata dan amunisi dalam kelompok teror Islamic State atau ISIS diproduksi di Uni Eropa. Demikian menurut penelitian yang diterbitkan pada hari Kamis (14/12) oleh Conflict Armament Research (CAR).

Dalam investigasi 200 halaman, organisasi pelacak senjata tersebut mengklaim bahwa lebih dari 30 persen senjata yang digunakan oleh ISIS di medan perang di Suriah dan Irak berasal dari pabrik-pabrik di Bulgaria, Rumania, Hungaria dan Jerman.

Rusia dan Cina memproduksi lebih dari separuh senjata yang dipegang oleh kelompok teror tersebut.

Studi berjudul "Weapons of the Islamic State” atau "Senjata IS” tersebut, merupakan hasil penelitian di lapangan selama tiga tahun kerja lapangan yang dilakukan oleh tim CAR di Irak dan Suriah. Antara tahun 2014 dan 2017, peneliti menganalisis lebih dari 40.000 senjata yang diperoleh dari posisi garis depan ISIS, termasuk senjata api, amunisi, dan komponen yang digunakan untuk membuat bahan peledak.

Bagaimana senjata bisa sampai ke ISIS?

Laporan tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan senjata ISIS dijarah dari tentara Irak dan Suriah. Namun, dalam banyak kasus, senjata yang dibeli oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat dari negara-negara Eropa timur dan kemudian dipasok ke pasukan oposisi Suriah - juga berakhir di tangan kelompok ISIS.

Temuan ini merinci bagaimana Arab Saudi dan Amerika Serikat sering melanggar klausul kontrak saat membeli senjata senilai miliaran dolar dari negara-negara Eropa timur sebelum menyerahkannya kepada milisi di Suriah.

"Banyak transfer senjata ini yang melanggar persyaratan penjualan dan ekspor yang disepakati antara eksportir senjata , khususnya negara-negara anggota Uni Eropa, dan pihak penerima di Arab Saudi dan Amerika Serikat," kata para peneliti CAR.

Hanya butuh waktu dua bulan dari Eropa ke ISIS

Dalam satu kasus, CAR mengatakan bahwa mereka melacak senjata anti tank jarak jauh (ATGW) canggih yang diproduksi di Uni Eropa. Senjata dijual ke Amerika Serikat, dan kemudian dikirim ke pihak berkonflik di Suriah, lalu sampai ke tangan pasukan ISIS di Irak hanya dalam waktu dua bulan setelah senjata meninggalkan pabrik.

"Pasokan senjata internasional ke faksi-faksi dalam konflik Suriah telah secara signifikan meningkat. Dari segi kuantitas dan kualitas senjata yang tersedia bagi pasukan IS IS, jumlahnya jauh melampaui jumlah yang mungkin tersedia bagi kelompok tersebut melalui penangkapan di medan perang saja," kata laporan tersebut.

Menurut CAR, pihak-pihak yang terlibat dalam transfer senjata ini sering berusaha menyembunyikan sumber senjata dengan mengubah kemasannya, dan menghapus atau menutupi tanda pabrik. Para peneliti menambahkan bahwa sebagian dari hasil riset mereka berhasil dilanjutkan ke proses pidana, termasuk penyelidikan polisi Belgia akan suplai bagian-bagian alat peledak improvisasi (IED).

CAR memperingatkan ISIS masih menimbulkan ancaman karena mereka telah memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata mereka sendiri yang sangat canggih.

"ISIS diuntungkan dengan jangkauan global, menunjukkan kapasitas logistik dan organisasi, dan siap merekrut anggota baru dari seluruh dunia. Faktor-faktor ini mendukung untuk melakukan pemberontakan dan terorisme jauh melampaui wilayah teror ISIS saat ini," demikian kesimpulan laporan tersebut.

Natalie Müller (vlz/hp)