1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Paus Fransiskus Minta Perdamaian di Dunia

Julia Kammler1 April 2013

Paus "yang berasal dari ujung dunia" merayakan Pesta Paskah pertamanya di Roma dan menerobos tradisi lama. Ia disambut umat dan dikritik pihak konservatif. Di Vatikan berhembus angin baru.

Faithful gather in St. Peter's Square at the Vatican during the Easter Mass celebrated by Pope Benedict XVI, Sunday, April 8, 2012. Pope Benedict XVI celebrated Easter Sunday Mass in sun-drenched, flower-adorned St. Peter's Square, before tens of thousands of people. Easter is Christianity's most joyous day. Faithful celebrate their belief that Christ rose from the dead. At the end of Easter Mass, Benedict will go to the central balcony of the basilica to deliver a speech. Benedict, who turns 85 on April 16, was wrapping up stamina-taxing Holy Week ceremonies that drew huge crowds to Rome. (Foto:Pier Paolo Cito/AP/dapd)
Basilika Santo Petrus VatikanFoto: dapd

Protokol dan formalitas tidak penting bagi pria Argentina itu. Seringnya pertemuan spontan dengan umat menjadi tantangan bagi bodyguard-nya. Juga setelah misa Paskah pertama di Roma yang dihadiri sekitar 250 ribu orang, dengan jip terbuka Paus Fransiskus mengelilingi Lapangan Basilika Santo Petrus, menyapa para umat dan melakukan kontak langsung dengan mereka.

Akhirnya Paus baru mengumumkan pesan Paskah yang ditunggu-tunggu. Ia mengecam egoisme, mabuk keuntungan dan perdagangan manusia, serta meminta diakhirinya kekerasan di Timur Tengah, Afrika dan Semenanjung Korea. Dengan cemas Fransiskus melukiskan situasi di Afrika yang masih menjadi tempat konflik berdarah, yang mengancam kehidupan orang tak berdosa. Semenanjung Korea tetap menjadi medan krisis, dimana perbedaan ini harus diatasi dan jiwa baru perdamaian harus berkembang.

Misa Paskah pertama Paus FransiskusFoto: AFP/Getty Images

Selain itu Paus meminta "Perdamaian di Irak, agar setiap kekerasan berakhir dan terutama untuk Suriah. Bagi penduduknya yang dilanda bencana akibat konflik dan untuk banyak pengungsi yang menunggu bantuan dan hiburan. Berapa banyak darah yang tumpah di sana." Demikian Paus Fransiskus.

Misa di Penjara

Sebelumnya, jamuan Kamis Putih dirayakan Fransiskus di penjara remaja. Dengan 38 tahanan pria dan 11 tahanan perempuan, Paus mengenang makan malam terakhir Yesus. Belum pernah dilakukan sebelumnya oleh seorang Paus, memilih penjara remaja di Roma Casal del Marmo untuk merayakan misa jamuan makan malam itu.

Pada saat misa, 12 narapidana dari berbagai kebangsaan dan agama dipilih untuk dicuci kakinya oleh Sri Paus, termasuk diantaranya dua perempuan. Pendahulunya Benediktus XVI untuk acara ini memilih pastor. Namun Fransiskus memutuskan lain dan mendulang kritik dari lingkungan konservatif. Akhirnya juru bicara Vatikan Federico Lombardi menengahi dan menekankan, bahwa itu merupakan pengecualian.

Jalan Salib di KoloseumFoto: Reuters

Jalan Salib di Koloseum

Pada hari Jumat Agung, Paus Fransiskus dalam tradisi prosesi Jalan Salib di Koloseum Roma, mengenang penderitaan dan wafatnya Yesus. Dengan mengenakan jubah dari satin putih dan mantel putih di atasnya Fransiskus mengikuti dengan hikmat Jalan Salib sekitar dua jam itu. Di akhir Jalan Salib ia mengatakan kepada umat, warga Kristen harus menjawab kejahatan dengan jawaban yang baik, seperti yang bersedia dilakukan Yesus di kayu salib.

Dalam misa malam Paskah pertamanya di Basilika Santo Petrus Sabtu (30/3), saat ia memberikan sakramen permandian dan sakramen penguatan bagi empat pria muda, Paus sekaligus menyemangati umat untuk tidak takut terhadap sesuatu yang baru dan tidak dikenal, karena Tuhan selalu memberi kejutan kepada manusia.

"Urbi et orbi" di Lapangan Santo Petrus

Dalam tradisi berkat Paskah "Urbi et orbi", dari kota ke seluruh dunia, pada Minggu Paskah, Paus kembali membuat kejutan. Berbeda dari pendahulunya, salam Paskah Fransiskus tidak disampaikan dalam berbagai bahasa, melainkan hanya dalam Bahasa Italia.

Berkat Paskah "Urbi et Orbi"Foto: Getty Images

Dengan berbagai sikap dan aksen baru Paus Fransiskus selama Paskah menegaskan, bahwa ia ingin sebuah Gereja lain, yang baru. Sebuah Gereja yang mewartakan dan sederhana, bukan Gereja yang egois dan egosentris. Dan dalam pesan Paskahnya Fransiskus mengatakan, "Kristus wafat untuk semua dan bangkit, kekuatan kebangkitan ini, jalan keluar dari perbudakan kejahatan menuju kebebasan yang baik harus setiap saat ada dalam ruang konkrit keberadaan kita, yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari."

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait