1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikGlobal

Paus Leo Kecam Penggunaan Nama Tuhan jadi Pembelaan Perang

Emmy Sasipornkarn sumber: AP, Reuters
30 Maret 2026

Paus mengatakan bahwa Tuhan menolak doa orang-orang yang melancarkan perang dan yang memiliki “tangan berlumur darah”. Paus Leo juga berdoa secara khusus untuk umat Kristiani di Timur Tengah dalam misa Minggu Palma.

Paus Leo XIV memimpin misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus di Vatikan pada 29 Maret 2026
Paus Leo XIV memulai pekan pra-Paskah pertamanya sejak terpilih pada Mei laluFoto: Pool/Catholic Press Photo/IPA/ZUMA/picture alliance

Paus Leo XIV menolak klaim bahwa Tuhan menjustifikasi perang, di saat perang Iran telah masuk bulan kedua. Pernyataan tersebut ia sampaikan lewat khotbahnya saat memimpin Misa Minggu Palma pada Minggu (29/03).

Berbicara di hadapan puluhan ribu orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Paus menekankan bahwa Yesus tidak boleh digunakan sebagai alat untuk melegitimasi segala bentuk peperangan.

"Saudara-saudari, inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, dan yang tidak bisa dijadikan pembenaran bagi perang oleh siapa pun,” ujar Leo.

"Ia tidak mendengar doa dari mereka yang melancarkan perang, tetapi menolaknya dengan mengatakan: ‘Walau kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarnya: tanganmu berlumur darah,” tambahnya, mereferensikan ayat Alkitab.

Paus yang lahir di Amerika Serikat ini tidak menyinggung secara khusus pemimpin dunia, tetapi dalam beberapa minggu terakhir, ia telah mempertajam kritiknya terhadap perang Iran yang sedang berlangsung.

Dalam imbauan di akhir misa, Leo mengatakan bahwa ia berdoa untuk umat Kristiani di Timur Tengah yang "menderita akibat dari konflik yang kejam. Banyak di antara mereka yang tidak dapat sepenuhnya menjalankan ibadah pada hari-hari suci ini.”

Paus telah berulang kali mendesak gencatan senjata dalam konflik ini.

Paus Leo: Tuhan Menolak Doa Mereka yang Memulai Perang

00:37

This browser does not support the video element.

Pada Senin (23/03), ia mengecam serangan udara militer sebagai tindakan yang tidak pandang bulu dan harus dilarang.

"Pesawat seharusnya selalu menjadi pembawa perdamaian, bukan perang. Tidak seorang pun seharusnya takut bahwa ancaman kematian dan kehancuran datang dari langit,” kata Leo, tanpa secara khusus merujuk pada perang di Iran.

Pejabat AS gunakan retorika Kristiani 

Beberapa pejabat Amerika Serikat telah menggunakan retorika Kristiani untuk membela serangan gabungan Amerika-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Dalam sebuah ibadah di Pentagon pada hari Rabu (25/03), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berdoa untuk "tindakan kekerasan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak layak mendapat belas kasihan.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Hani Anggraini

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya