Paus Leo menunjukkan gaya dan sinyal baru setelah dua bulan menjabat. Lewat gestik, gaya berpakaian hingga penampilannya. Apa yang berbeda dari Paus sebelumnya dan bagaimana perubahan terkait gereja Katolik?
Paus Leo XIV menyalami umat yang berkumpul setelah misa di gereja St.Thomas Villanova di dekat Castel Gandolfo, ItaliaFoto: Vatican Media/IPA/ZUMA/dpa/picture alliance
Iklan
Dia adalah paus pertama dalam 13 tahun terakhir yang mengambil libur. Setelah dua bulan menjabat, Paus Leo XIV menginap di Castel Gandolfo untuk menghindari cuaca panas pada bulan Juli di Roma. Castel Gandolfo adalah kediaman musim panas kepausan yang terletak 460 meter di atas permukaan laut, tempat yang ideal ditinggali saat gelombang panas melanda kota. Selama hampir dua minggu, Paus Leo tinggal di sana.
Paus sebelumnya, Fransiskus (2013-2025), tidak pernah berlibur ke Castel Gandolfo, dan dengan itu tidak menjalankan tradisi yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Hal ini mengecewakan penduduk setempat , dan juga berdampak pada menurunnya pariwisata lokal. Tapi sekarang, Paus Leo datang!
Sejak pemilihannya oleh para kardinal, banyak yang membuat perbandingan: Apa yang dilakukan Paus Leo secara berbeda dari paus sebelumnya? Berlibut ke Castel Gandolfo hanyalah salah satu contohnya. Contoh yang paling terlihat adalah penampilan pria asal Amerika Serikat ini setelah terpilih sebagai Paus dalam konklaf.
Paus Leo XIV Menyerukan Kebebasan Pers
00:59
This browser does not support the video element.
Paus Fransiskus vs. Paus Leo
Saat terpilih menjadi Paus, Fransiskus tampil sederhana dengan jubah putih polos pada 13 Maret 2013, Sementara Paus Leo tampil dengan pakaian megah tradisi kepausan setelah terpilih pada 8 Mei 2025. Sebagai paus, ia mengenakan jubah yang dirancang secara elegan. Mobil kepausan Fiat putih yang biasa digunakan Fransiskus untuk berkeliling Roma dan saat bepergian ke luar negeri, tidak lagi terlihat.
Banyak yang berharap Paus Leo akan pindah ke Istana Apostolik setelah musim panas. Ini berarti tradisi lama akan kembali dilanjutkan.
Namun, terlepas dari beberapa simbol yang menggambarkan citra konservatif, Paus Leo telah mengekspresikan dirinya selama 70 hari pertamanya lewat gagasan konkrit yang "mencuatkan” euforia sejumlah umat Katolik konservatif terutama di Amerika Serikat. Keputusan Paus Leo dalam penunjukan beberapa uskup turut mendukung hal ini.
Paus Fransiskus berada di Indonesia dalam rangka perjalanan apostolik di Asia Pasifik. Ini adalah kali ketiga Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia sekaligus Kepala Negara Vatikan mengunjungi tanah air.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Dari Roma menuju Jakarta
Selasa, 3 September 2024, Paus Fransiskus mendarat menggunakan pesawat komersil ITA Airways di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dari Roma, Italia. Melansir AFP, kepada 80 orang wartawan yang ikut dalam kunjungan ini, ia mengaku perjalanan selama 13 jam ke Indonesia merupakan penerbangan paling panjang sejak ia menjadi Paus di Vatikan.
Foto: VATICAN MEDIA/AFP
Penantian setelah 35 tahun
Kedatangan Paus yang memiliki nama asli Jorge Mario Bergoglio pada hari Selasa (03/09) ini disambut oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas hingga Ketua Panitia Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia, Ignatius Jonan. Lawatan kali ini merupakan penantian 35 tahun setelah Paus Yohanes Paulus II berkunjung pada tahun 1989.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Tolak hotel berbintang dan naik mobil mewah
Paus Fransiskus memilih untuk menginap di Kedutaan Besar Vatikan daripada di hotel bintang lima. Selain menolak menginap di hotel, Paus juga memilih untuk tidak menggunakan mobil mewah selama berada di Indonesia. Sebagai gantinya, ia memilih Toyota Innova, kendaraan yang biasa digunakan masyarakat Indonesia.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Bertemu Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut kedatangan Paus Fransiskus yang tiba di halaman Istana Merdeka pada hari Rabu (04/09) pukul 09.35 WIB. Upacara kenegaraan digelar untuk menyambut kedatangan Paus Fransiskus. Setelah penyambutan selesai, dilanjutkan dengan perkenalan para menteri. Jokowi kemudian mengarahkan Paus menuju Ruang Kredensial untuk berdialog.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE
Kerukunan, kemajemukan, hingga perdamaian
Dalam pidatonya di Istana Negara, Paus Fransiskus berbicara soal kerukunan, kemajemukan, hingga perdamaian. "Kerukunan di dalam perbedaan dicapai ketika perspektif-perspektif tertentu mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan bersama dari semua orang dan ketika seluruh kelompok suku dan agama bertindak dalam semangat persaudaraan," ujarnya dalam bahasa Italia.
Foto: Muchlis Jr/Indonesia Presidency
Menanti Paus Fransiskus
Ratusan umat Katolik memadati area depan Gereja Katedral Jakarta (depan Masjid Istiqlal). Mereka tampak berkerumun untuk menunggu kedatangan Paus Fransiskus pada Rabu (04/09) sore.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/Fakhri Fadlurrohman
Pesan Paus di depan para rohaniwan
Paus Fransiskus melakukan pertemuan dengan uskup, imam, diakon, seminaris, dan katekis di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (04/09). Dalam kesempatan itu, Paus menyinggung soal bela rasa. "Yang membuat dunia bergerak maju bukanlah perhitungan kepentingan pribadi, yang umumnya berujung pada kerusakan ciptaan dan pemecah belahan komunitas, tapi mempersembahkan kasih kepada sesama," ucapnya.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE
Gerakan Scholas Occurrentes
Paus Fransiskus bertemu dengan remaja dari Scholas Occurrentes di Graha Pemuda Komplek Gereja Katedral Jakarta, Rabu (04/09). Gerakan pendidikan global ini diinisiasi oleh Paus pada tahun 2013 saat ia masih menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires di Argentina. Scholas Occurrentes hadir di Indonesia sejak diundang dalam agenda G20 Summit di Bali pada tahun 2022.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE
Deklarasi Bersama Istiqlal 2024
Paus Fransiskus tiba di Masjid Istiqlal pada pukul 09.15 WIB. Bersama Imam Besar Nasaruddin Umar, Paus mengunjungi Terowongan Silaturahim yang menghubungkan halaman Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Kemudian keduanya menandatangani Deklarasi Bersama Istiqlal 2024: “Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama untuk Kemanusiaan”.
Ada momen menarik saat Paus Fransiskus mengunjungi Masjid Istiqlal, Kamis (05/09). Paus tampak terlihat sangat akrab dan dekat dengan Nasaruddin Umar. Keduanya saling bersalaman saat hendak berpisah. Nasaruddin tampak mengecup dahi Paus Fransiskus sebanyak dua kali.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Dibalas cium tangan
Nasaruddin lebih dulu mencium kepala Paus Fransiskus, lantas dibalas cium tangan oleh Kepala Negara Vatikan tersebut. Momen akrab dua pemuka agama ini terjadi di halaman Masjid Istiqlal.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Paus temui penyandang disabilitas
Setelah mengunjungi Masjid Istiqlal, Paus Fransiskus menemui sekelompok orang sakit, penyandang disabilitas, dan orang miskin di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Mereka juga diberi kesempatan untuk menyampaikan ungkapan hatinya kepada Paus.
Foto: Iwan Jayadi/Indonesia Papal Visit Committee
Lautan manusia di Stadion GBK
Misa Agung di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada hari Kamis (05/09) menjadi puncak kegiatan dari rangkaian perjalanan apostolik sekaligus kunjungan kenegaraan Paus Fransiskus di Indonesia. Lebih dari 86 ribu umat Katolik menyambut kedatangan Paus yang berkeliling menaiki mobil Maung MV3 buatan PT Pindad.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Paus ingatkan umat untuk berbuat baik
Saat memimpin misa, Paus Fransiskus kembali berpesan soal pentingnya menjaga perdamaian. "Dengan dibimbing oleh sabda Tuhan, saya mendorong Anda semua untuk menaburkan kasih, dengan penuh keyakinan menempuh jalan dialog," ucapnya. Paus juga menyebut berbuat baik memang tidak selalu berbalas kebaikan. Namun, upaya untuk menjadi aktor perdamaian harus terus dilakukan.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Paus bertolak ke Papua Nugini
Paus Fransiskus tiba di Bandara Soetta pada hari Jumat (06/09) pukul 10.00 WIB diiringi oleh pengawalan. Paus menaiki pesawat komersial Garuda Indonesia untuk menuju Papua Nugini. Ia akan berada di Papua Nugini pada 6 hingga 9 September 2024 dan melanjutkan perjalanan ke Timor Leste pada 9 hingga 11 September. (ha/yf)
Foto: Tatan Syuflana/AP Photo/picture alliance
15 foto1 | 15
Momen-momen penting pada minggu pertama di Castel Gandolfo
Minggu pertama Paus di Castel Gandolfo menarik banyak perhatian, terutama setelah sebelumnya Vatikan mengumumkan rencana Paus Leo berlibur. Tidak ada audiensi dan pidato penting yang diekspektasikan terjadi di sana.
Namun kemudian Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky datang ke Bukit Alban untuk menemui Paus. Paus Leo lebih vokal daripada pendahulunya tentang penderitaan penduduk sipil Ukraina, menegaskan kembali kesediaannya untuk menerima perwakilan Rusia dan Ukraina untuk berunding di Vatikan. Berkali-kali, Paus Leo menyerukan perdamaian dunia, tak hanya berpidato ia pun memprogram kerja konkrit menciptakan perdamaian di dunia.
Paus Leo menemui Presiden Volodymyr Zelenskyy di Castel Gandolfo Foto: Vatican Media/IPA/ZUMA/picture alliance
Selain itu, selama hari-hari liburannya di Castel Gandolfo, Paus Leo mengirimkan pesan untuk konferensi "AI for Good Summit 2025” di Jenewa, yang membahas regulasi global dan etika kecerdasan buatan (AI). Paus Leo memperingatkan, dalam menggunakan kecerdasan buatan, diperlukan prinsip-prinsip yang jelas, seperti pengakuan bersama martabat dan kebebasan fundamental manusia yang tidak dapat diganggu gugat”. Tema ini sepertinya menjadi perhatian utama Paus Leo.
Paus Leo melanjutkan kontroversi teologis di Castel Gandolfo, dengan membahas kepemimpinan AS. Dalam khotbah Minggu di gereja desa setempat, ia berkothbah tentang, "Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati”. Namun, justru khotbah inilah yang melambangkan kontroversi antara Gereja Katolik dan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menjadi anggota Gereja Katolik beberapa tahun yang lalu.
Paus Fransiskus menentang pandangan Vance, yang menganggap seorang migran bukanlah "sesama” yang perlu diberi bantuan. Vence menekankan bahwa keluarga, dan orang terdekatnya sajalah yang pantas dipedulikan, kepedulian terhadap para migran dan kaum yang terpinggirkan tidak diperlukan. Leo XIV tidak setuju bahwa hanya orang-orang satu keluarga, bangsa, dan agama yang dapat disebut sesama. Baginya, belas kasih Kristiani tidak memandang latar belakang.
Paus Leo XIV bertemu dengan JD Vance dan Marco Rubio di VatikanFoto: Vatican Media/Simone Risoluti/Handout via REUTERS
Sinyal paling penting dalam lingkungan Gereja Katolik di bulan-bulan pertama Paus Leo menjabat, disampaikan bersamaan dengan keberangkatan ke Castel Gandolfo. Paus Leo meretui kelanjutan Proyek Paus Fransiskus. Vatikan mengumumkan, proyek reformasi Sinode Dunia, yang bertujuan untuk menciptakan dialog antar lapisan dalam Gereja, akan dilanjutkan hingga tahun 2028.
Iklan
"Bukan hal yang lazim”
Jörg Ernesti, Sejarawan Gereja dari Augsburg, Jerman, dalam wawancara dengan DW menjelaskan, Paus Leo XIV sejak awal kepausannya berkomitmen untuk melanjutkan warisan pendahulunya, yang secara khusus mewujudkan semangat sinodalitas, yaitu keterlibatan bersama dalam pengambilan keputusan Gereja.
Jörg Ernesti Sejarawan Gereja di Universitas AugsburgFoto: Nicolal Kaestner
Namun, Ernesti juga mengatakan, ini bukan hal yang lazim, sebab secara aturan, semua proses sinode (pertemuan uskup dan juga perwakilan awam) atau konsili (pertemuan resmi uskup Gereja katolik sedunia), biasanya ditangguhkan atau dibatalan jika seorang paus wafat. Tidak ada paus yang wajib meneruskan program atau proses yang sudah dimulai oleh pendahulunya.
Ernesti menyebut hal yang menarik bahwa "Pertemuan Gerejawi” di Vatikan direncanakan pada tahun 2028 sebagai acara puncak. Ia menambahkan, pertemuan "Konsili dan sinode merupakan momen yang penting” dalam penentuan arah gereja ke depannya.
Jadwal yang akan dilakukan pada tahun 2026 dan 2027.adalah kembali melakukan dialog dan konsultasi dengan keterlibatan eksplisit kaum awam di tingkat keuskupan masing-masing, dan konferensi para uskup nasional. Dilanjutkan konferensi gereja antar benua pada awal 2028 dan puncaknya konferensi gereja sedunia di Vatikan bulan Oktober 2028,
Namun sejumlah tema tetap menjadi bahan perdebatan terbuka, seperti pertanyaan tentang kemungkinan jabatan tahbisan bagi perempuan. Selama masa kepausannya, Paus Fransiskus terlihat semakin berhati-hati bahkan cenderung menghindar dalam memberikan ruang bagi perempuan untuk ditahbiskan dalam jabatan gerejawi. Kini, persoalan tersebut akan menjadi salah satu tantangan yang harus dibahas paus penerusnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman