Paus Leo XIV menyerukan agar AI diatur lebih ketat karena dapat memicu penyebaran disinformasi dan menormalisasi perang. Selain itu, dia juga meminta maaf terkait peran Gereja Katolik dalam perbudakan.
Paus Leo XIV mengatakan bahwa kemunculan AI turut berkontribusi dalam menciptakan "bentuk-bentuk perbudakan baru"Foto: Alberto Pizzoli/AFP
Iklan
Paus Leo XIV memanfaatkan manifesto pertamanya, yang diterbitkan pada Senin (26/05), untuk mendesak para pemerintah "melucuti" artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan berpegang pada kebaikan bersama, bukan pada kekuasaan atau keuntungan.
Paus pertama asal Amerika Serikat (AS) ini menekankan bahwa meskipun AI dapat menjadi alat yang berharga, tetapi kecerdasan buatan juga menimbulkan banyak bahaya bagi umat manusia.
"Kecerdasan Buatan kini perlu dilucuti, dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi alat dominasi, pengucilan, dan kematian," kata Paus Leo XIV dalam sebuah presentasi khusus di Vatikan mengenai dokumen tersebut, yang dikenal sebagai ensiklik.
Ensiklik dianggap sebagai bentuk pengajaran yang otoritatif dari seorang paus kepada 1,4 miliar umat Gereja Katolik.
"Magnifica Humanitas" atau dalam terjemahan bahasa Indonesia artinya "Kemanusiaan yang Luar Biasa" adalah ensiklik pertama Paus Leo XIV. Ensiklik tersebut merupakan hasil dari penelitian bertahun-tahun yang dilakukan Gereja mengenai teknologi terkait kecerdasan buatan.
Isi "Magnifica Humanitas" tentang AI dan perang
Dalam naskah tersebut, Paus Leo XIV juga secara spesifik mengkritik peran perkembangan teknologi yang berkembang pesat, dalam penggunaannya di ranah konflik. Dia berpendapat bahwa AI telah membuat perang menjadi "lebih mudah terjadi."
Iklan
Paus Leo mengatakan kalau penggunaan AI dalam peperangan "harus tunduk pada batasan etis yang terketat," sambil menekankan bahwa keputusan yang mematikan "tidak boleh" diserahkan kepada sistem AI.
Leo menekankan, bahwa "melucuti senjata tidak berarti menolak teknologi, melainkan mencegah teknologi tersebut mendominasi umat manusia."
Ini berarti bahwa "kelompok-kelompok kecil yang sangat berpengaruh dapat membentuk pola informasi dan konsumsi, memengaruhi proses demokrasi, serta mengarahkan dinamika ekonomi demi keuntungan mereka sendiri," tulisnya.
Paus Fransiskus berada di Indonesia dalam rangka perjalanan apostolik di Asia Pasifik. Ini adalah kali ketiga Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia sekaligus Kepala Negara Vatikan mengunjungi tanah air.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Dari Roma menuju Jakarta
Selasa, 3 September 2024, Paus Fransiskus mendarat menggunakan pesawat komersil ITA Airways di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dari Roma, Italia. Melansir AFP, kepada 80 orang wartawan yang ikut dalam kunjungan ini, ia mengaku perjalanan selama 13 jam ke Indonesia merupakan penerbangan paling panjang sejak ia menjadi Paus di Vatikan.
Foto: VATICAN MEDIA/AFP
Penantian setelah 35 tahun
Kedatangan Paus yang memiliki nama asli Jorge Mario Bergoglio pada hari Selasa (03/09) ini disambut oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas hingga Ketua Panitia Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia, Ignatius Jonan. Lawatan kali ini merupakan penantian 35 tahun setelah Paus Yohanes Paulus II berkunjung pada tahun 1989.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Tolak hotel berbintang dan naik mobil mewah
Paus Fransiskus memilih untuk menginap di Kedutaan Besar Vatikan daripada di hotel bintang lima. Selain menolak menginap di hotel, Paus juga memilih untuk tidak menggunakan mobil mewah selama berada di Indonesia. Sebagai gantinya, ia memilih Toyota Innova, kendaraan yang biasa digunakan masyarakat Indonesia.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Bertemu Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut kedatangan Paus Fransiskus yang tiba di halaman Istana Merdeka pada hari Rabu (04/09) pukul 09.35 WIB. Upacara kenegaraan digelar untuk menyambut kedatangan Paus Fransiskus. Setelah penyambutan selesai, dilanjutkan dengan perkenalan para menteri. Jokowi kemudian mengarahkan Paus menuju Ruang Kredensial untuk berdialog.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE
Kerukunan, kemajemukan, hingga perdamaian
Dalam pidatonya di Istana Negara, Paus Fransiskus berbicara soal kerukunan, kemajemukan, hingga perdamaian. "Kerukunan di dalam perbedaan dicapai ketika perspektif-perspektif tertentu mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan bersama dari semua orang dan ketika seluruh kelompok suku dan agama bertindak dalam semangat persaudaraan," ujarnya dalam bahasa Italia.
Foto: Muchlis Jr/Indonesia Presidency
Menanti Paus Fransiskus
Ratusan umat Katolik memadati area depan Gereja Katedral Jakarta (depan Masjid Istiqlal). Mereka tampak berkerumun untuk menunggu kedatangan Paus Fransiskus pada Rabu (04/09) sore.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/Fakhri Fadlurrohman
Pesan Paus di depan para rohaniwan
Paus Fransiskus melakukan pertemuan dengan uskup, imam, diakon, seminaris, dan katekis di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (04/09). Dalam kesempatan itu, Paus menyinggung soal bela rasa. "Yang membuat dunia bergerak maju bukanlah perhitungan kepentingan pribadi, yang umumnya berujung pada kerusakan ciptaan dan pemecah belahan komunitas, tapi mempersembahkan kasih kepada sesama," ucapnya.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE
Gerakan Scholas Occurrentes
Paus Fransiskus bertemu dengan remaja dari Scholas Occurrentes di Graha Pemuda Komplek Gereja Katedral Jakarta, Rabu (04/09). Gerakan pendidikan global ini diinisiasi oleh Paus pada tahun 2013 saat ia masih menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires di Argentina. Scholas Occurrentes hadir di Indonesia sejak diundang dalam agenda G20 Summit di Bali pada tahun 2022.
Foto: INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE
Deklarasi Bersama Istiqlal 2024
Paus Fransiskus tiba di Masjid Istiqlal pada pukul 09.15 WIB. Bersama Imam Besar Nasaruddin Umar, Paus mengunjungi Terowongan Silaturahim yang menghubungkan halaman Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Kemudian keduanya menandatangani Deklarasi Bersama Istiqlal 2024: “Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama untuk Kemanusiaan”.
Ada momen menarik saat Paus Fransiskus mengunjungi Masjid Istiqlal, Kamis (05/09). Paus tampak terlihat sangat akrab dan dekat dengan Nasaruddin Umar. Keduanya saling bersalaman saat hendak berpisah. Nasaruddin tampak mengecup dahi Paus Fransiskus sebanyak dua kali.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Dibalas cium tangan
Nasaruddin lebih dulu mencium kepala Paus Fransiskus, lantas dibalas cium tangan oleh Kepala Negara Vatikan tersebut. Momen akrab dua pemuka agama ini terjadi di halaman Masjid Istiqlal.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Paus temui penyandang disabilitas
Setelah mengunjungi Masjid Istiqlal, Paus Fransiskus menemui sekelompok orang sakit, penyandang disabilitas, dan orang miskin di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Mereka juga diberi kesempatan untuk menyampaikan ungkapan hatinya kepada Paus.
Foto: Iwan Jayadi/Indonesia Papal Visit Committee
Lautan manusia di Stadion GBK
Misa Agung di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada hari Kamis (05/09) menjadi puncak kegiatan dari rangkaian perjalanan apostolik sekaligus kunjungan kenegaraan Paus Fransiskus di Indonesia. Lebih dari 86 ribu umat Katolik menyambut kedatangan Paus yang berkeliling menaiki mobil Maung MV3 buatan PT Pindad.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Paus ingatkan umat untuk berbuat baik
Saat memimpin misa, Paus Fransiskus kembali berpesan soal pentingnya menjaga perdamaian. "Dengan dibimbing oleh sabda Tuhan, saya mendorong Anda semua untuk menaburkan kasih, dengan penuh keyakinan menempuh jalan dialog," ucapnya. Paus juga menyebut berbuat baik memang tidak selalu berbalas kebaikan. Namun, upaya untuk menjadi aktor perdamaian harus terus dilakukan.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Paus bertolak ke Papua Nugini
Paus Fransiskus tiba di Bandara Soetta pada hari Jumat (06/09) pukul 10.00 WIB diiringi oleh pengawalan. Paus menaiki pesawat komersial Garuda Indonesia untuk menuju Papua Nugini. Ia akan berada di Papua Nugini pada 6 hingga 9 September 2024 dan melanjutkan perjalanan ke Timor Leste pada 9 hingga 11 September. (ha/yf)
Foto: Tatan Syuflana/AP Photo/picture alliance
15 foto1 | 15
Oleh karena itu, sangatlah penting bahwa AI diatur secara ketat dan dihadapkan pada "kerangka hukum yang kokoh, pengawasan independen, pengguna yang terinformasi, serta sistem politik yang tidak melepaskan tanggung jawabnya," tegas Paus Leo.
Presentasi di Vatikan tersebut dihadiri oleh para pakar AI, termasuk Chris Olah, salah satu pendiri perusahaan raksasa AI yang berbasis di AS, Anthropic. Perusahaan tersebut saat ini terlibat dalam perselisihan hukum dengan pemerintahan Donald Trump terkait penolakannya untuk memberikan akses ke model AI-nya.
Dalam presentasi tersebut, Olah mengakui bahwa perusahaan AI beroperasi "di dalam serangkaian keuntungan dan batasan, yang terkadang dapat bertentangan dalam melakukan hal yang benar."
Dia menambahkan bahwa pihaknya menyambut masukan dari sumber luar seperti Gereja Katolik, untuk "membuat perkembangan ke arah yang lebih baik."
Permintaan maaf atas perbudakan
Dalam ensiklik itu, Paus Leo memperingatkan bahwa kehadiran AI juga disertai dengan "bentuk-bentuk baru perbudakan," misalnya seorang moderator konten dipaksa menonton materi yang membuat tidak nyaman, hingga anak-anak menjadi penambang mineral tanah jarang, yang sangat dibutuhkan untuk ekonomi digital.
"Tubuh orang-orang ini penuh luka, disakiti, dan dikuras habis agar aliran data dapat terus berlanjut tanpa henti," ungkap Paus Leo XIV. "Kenyataan ini sangat menentang hati nurani dan moral zaman kita."
Dalam kesempatan itu, Paus Leo juga menyampaikan permintaan maaf, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, terkait peran Vatikan dalam perdagangan budak Transatlantik dan menyebutnya sebagai "luka dalam ingatan Katolik."
Dia menyesalkan bahwa baru pada abad ke-19 "penolakan formal, mutlak, dan universal terhadap perbudakan diungkapkan dengan jelas" oleh Gereja Katolik.
"Untuk hal tersebut, atas nama Gereja Katolik, saya memohon maaf dengan sepenuh hati," tulis Paus Leo XIV.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris