1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Pawai Perdamaian Paskah di Tengah Bayang-Bayang Perang

4 April 2026

Gerakan perdamaian di Jerman bersiap menyambut tradisi lama mereka: Pawai Perdamaian Paskah. Namun tahun ini, bayang-bayang perang di Timur Tengah serta rencana pengaktifan wajib militer menuai kegelisahan.

Seseorang membawa bendera perdamaian berwarna pelangi, bertuliskan “Pace” di Gerbang Brandenburg, pada 12 April 2025, Berlin, Jerman
Tradisi pawai perdamaian di Jerman telah berlangsung kuat selama beberapa dekadeFoto: Jens Kalaene/dpa/picture alliance

Ribuan orang diperkirakan turun ke jalan dalam rangkaian pawai Paskah yang digelar antara tanggal 2 hingga 6 April, tersebar di puluhan kota dengan lebih dari seratus acara. Sejumlah surat kabar Jerman bahkan memuat iklan untuk menggerakkan partisipasi publik.

Beragam kegiatan telah dijadwalkan, mulai dari tur sepeda bertajuk "Bikes for Peace”, konser, hingga pertemuan panjang yang diisi pidato-pidato tentang konflik di Iran, Gaza, dan Ukraina, juga situasi di Rojava, Suriah utara, serta isu hak asasi manusia dan keadilan iklim.

Tahun ini, pawai diperkirakan dipengaruhi oleh keputusan pemerintah Jerman yang mulai menghidupkan kembali sebagian aturan wajib militer. Sejak awal tahun, semua warga berusia 18 tahun menerima kuesioner dari militer untuk menilai "motivasi dan kelayakan” mereka dalam menjalani dinas semacam itu. Kaum pria diwajibkan mengisinya, sementara perempuan yang dibebaskan dari wajib militer oleh konstitusi dapat berpartisipasi secara sukarela.

Kebijakan ini memicu gelombang aksi mogok sekolah di berbagai wilayah, dan diperkirakan akan menggiring lebih banyak kaum muda ke dalam pawai Paskah tahun ini. Kristian Golla, juru bicara jaringan gerakan perdamaian Jerman, menyebutkan bahwa sekitar 20 aksi akan secara khusus menyoroti isu wajib militer.

Perang di Ukraina telah terbukti memecah belah warga Jerman, bahkan di antara anggota gerakan perdamaianFoto: John MacDougall/AFP/Getty Images

Gerakan yang tersebar, kegelisahan yang menyatu

Golla mengakui, alasan untuk tetap menggelar pawai perdamaian hari ini tak pernah surut.

"Ukraina dan Rusia, kawasan Teluk, Israel dan Palestina, hingga pengeboman Iran, semua itu akan menjadi tema utama, bersama upaya memperkuat hukum internasional,” ujarnya.

Pawai ini tidak digerakkan secara terpusat. Tidak ada satu organisasi pun yang mengatur agenda dari atas. Tiap kelompok menentukan fokus dan pembicara masing-masing. Namun secara umum, gerakan ini menyerukan agar pemerintah Jerman mengedepankan diplomasi untuk mengakhiri perang, memperkuat hukum internasional, serta meningkatkan dukungan bagi para korban konflik.

Pernyataan resmi mereka juga mengkritik keras apa yang disebut sebagai "penafsiran selektif terhadap hukum internasional” oleh pemerintah, dengan menilai bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran seharusnya dikutuk setara dengan serangan Rusia ke Ukraina.

Namun, tidak semua pihak yakin jumlah peserta akan melonjak drastis. Hendrik Hegemann, peneliti senior di Institut Penelitian Perdamaian dan Kebijakan Keamanan di Hamburg, menilai bahwa banyak orang kini bersikap lebih ambivalen terhadap konflik global.

"Situasi seperti Ukraina jauh lebih kompleks dibanding Irak pada 2003, ketika mayoritas orang sepakat bahwa invasi itu salah,” ujarnya. "Kini, setelah tragedi seperti Bucha, mobilisasi menjadi jauh lebih sulit.”

Bundeswehr butuh lebih banyak relawan buat memenuhi misi NATO

02:59

This browser does not support the video element.

Tradisi lama, urgensi baru

Pawai perdamaian Paskah di Jerman berakar sejak awal 1960-an, terinspirasi oleh gerakan perlucutan senjata nuklir di Inggris. Dari hanya ribuan peserta, gerakan ini membesar menjadi ratusan ribu pada puncaknya di era Perang Dingin.

Sejak dulu, gerakan ini dihimpun oleh beragam elemen, yakni gereja, serikat pekerja, partai kiri, hingga kelompok pasifis, seperti Perhimpunan Perdamaian Jerman , Persatuan Penolak Wajib Militer atau Deutsche Friedensgesellschaft, Vereinigte KriegsdienstgegnerInnen (DFG-VK). Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok ini juga semakin aktif memberi dukungan bagi kaum muda yang menolak wajib militer.

Namun menurut Hegemann, daya mobilisasi mereka kini tak lagi sekuat dulu. Sebagian organisasi bahkan telah mengubah sikapnya terhadap kebijakan perdamaian. Selain itu, keterlibatan unsur sayap kanan dan figur politik kontroversial seperti Sahra Wagenknecht juga membuat sebagian masyarakat enggan bergabung.

Meski demikian, pasifisme tetap memiliki tempat dalam ruang publik Jerman. "Pengaruhnya memang tak sebesar dulu, tetapi tetap penting, terutama di tengah kecenderungan remiliterisasi, sebagai pengingat bahwa selalu ada alternatif,” tandas Hegemann.

Tokoh politik seperti Sahra Wagenknecht juga telah menyuarakan penentangan terhadap militerisasi, tetapi terkadang pandangan mereka memecah belahFoto: Christian Mang/REUTERS

Rasa aman yang kian rapuh

Dalam beberapa tahun terakhir, rasa aman masyarakat Jerman menurun tajam. Laporan terbaru menunjukkan hanya 55% warga yang merasa aman turun dari lebih dari 70% pada 2019. Sekitar dua pertiga kini khawatir Jerman bisa terseret langsung ke dalam perang.

Kepercayaan terhadap NATO pun melemah, terutama karena berkurangnya keyakinan terhadap peran Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan Eropa. Hanya 42% yang percaya aliansi itu mampu menahan serangan Rusia.

"Orang-orang merasa terancam oleh situasi global yang kian tidak menentu,” ujar Golla.

Meski ia berharap jumlah peserta meningkat tahun ini, ia tetap tak banyak berharap. "Cuaca juga jadi faktor, prakiraannya tidak terlalu baik, tapi saya tetap optimistis, setidaknya akan ada lebih banyak orang dibanding tahun lalu,” pungkasnya.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Prita Kusumaputri

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait