Gerakan perdamaian di Jerman bersiap menyambut tradisi lama mereka: Pawai Perdamaian Paskah. Namun tahun ini, bayang-bayang perang di Timur Tengah serta rencana pengaktifan wajib militer menuai kegelisahan.
Tradisi pawai perdamaian di Jerman telah berlangsung kuat selama beberapa dekadeFoto: Jens Kalaene/dpa/picture alliance
Iklan
Ribuan orang diperkirakan turun ke jalan dalam rangkaian pawai Paskah yang digelar antara tanggal 2 hingga 6 April, tersebar di puluhan kota dengan lebih dari seratus acara. Sejumlah surat kabar Jerman bahkan memuat iklan untuk menggerakkan partisipasi publik.
Beragam kegiatan telah dijadwalkan, mulai dari tur sepeda bertajuk "Bikes for Peace”, konser, hingga pertemuan panjang yang diisi pidato-pidato tentang konflik di Iran, Gaza, dan Ukraina, juga situasi di Rojava, Suriah utara, serta isu hak asasi manusia dan keadilan iklim.
Tahun ini, pawai diperkirakan dipengaruhi oleh keputusan pemerintah Jerman yang mulai menghidupkan kembali sebagian aturan wajib militer. Sejak awal tahun, semua warga berusia 18 tahun menerima kuesioner dari militer untuk menilai "motivasi dan kelayakan” mereka dalam menjalani dinas semacam itu. Kaum pria diwajibkan mengisinya, sementara perempuan yang dibebaskan dari wajib militer oleh konstitusi dapat berpartisipasi secara sukarela.
Kebijakan ini memicu gelombang aksi mogok sekolah di berbagai wilayah, dan diperkirakan akan menggiring lebih banyak kaum muda ke dalam pawai Paskah tahun ini. Kristian Golla, juru bicara jaringan gerakan perdamaian Jerman, menyebutkan bahwa sekitar 20 aksi akan secara khusus menyoroti isu wajib militer.
Perang di Ukraina telah terbukti memecah belah warga Jerman, bahkan di antara anggota gerakan perdamaianFoto: John MacDougall/AFP/Getty Images
Gerakan yang tersebar, kegelisahan yang menyatu
Golla mengakui, alasan untuk tetap menggelar pawai perdamaian hari ini tak pernah surut.
Iklan
"Ukraina dan Rusia, kawasan Teluk, Israel dan Palestina, hingga pengeboman Iran, semua itu akan menjadi tema utama, bersama upaya memperkuat hukum internasional,” ujarnya.
Pawai ini tidak digerakkan secara terpusat. Tidak ada satu organisasi pun yang mengatur agenda dari atas. Tiap kelompok menentukan fokus dan pembicara masing-masing. Namun secara umum, gerakan ini menyerukan agar pemerintah Jerman mengedepankan diplomasi untuk mengakhiri perang, memperkuat hukum internasional, serta meningkatkan dukungan bagi para korban konflik.
Pernyataan resmi mereka juga mengkritik keras apa yang disebut sebagai "penafsiran selektif terhadap hukum internasional” oleh pemerintah, dengan menilai bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran seharusnya dikutuk setara dengan serangan Rusia ke Ukraina.
Namun, tidak semua pihak yakin jumlah peserta akan melonjak drastis. Hendrik Hegemann, peneliti senior di Institut Penelitian Perdamaian dan Kebijakan Keamanan di Hamburg, menilai bahwa banyak orang kini bersikap lebih ambivalen terhadap konflik global.
"Situasi seperti Ukraina jauh lebih kompleks dibanding Irak pada 2003, ketika mayoritas orang sepakat bahwa invasi itu salah,” ujarnya. "Kini, setelah tragedi seperti Bucha, mobilisasi menjadi jauh lebih sulit.”
Bundeswehr butuh lebih banyak relawan buat memenuhi misi NATO
02:59
This browser does not support the video element.
Tradisi lama, urgensi baru
Pawai perdamaian Paskah di Jerman berakar sejak awal 1960-an, terinspirasi oleh gerakan perlucutan senjata nuklir di Inggris. Dari hanya ribuan peserta, gerakan ini membesar menjadi ratusan ribu pada puncaknya di era Perang Dingin.
Sejak dulu, gerakan ini dihimpun oleh beragam elemen, yakni gereja, serikat pekerja, partai kiri, hingga kelompok pasifis, seperti Perhimpunan Perdamaian Jerman , Persatuan Penolak Wajib Militer atau Deutsche Friedensgesellschaft, Vereinigte KriegsdienstgegnerInnen (DFG-VK). Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok ini juga semakin aktif memberi dukungan bagi kaum muda yang menolak wajib militer.
Namun menurut Hegemann, daya mobilisasi mereka kini tak lagi sekuat dulu. Sebagian organisasi bahkan telah mengubah sikapnya terhadap kebijakan perdamaian. Selain itu, keterlibatan unsur sayap kanan dan figur politik kontroversial seperti Sahra Wagenknecht juga membuat sebagian masyarakat enggan bergabung.
Meski demikian, pasifisme tetap memiliki tempat dalam ruang publik Jerman. "Pengaruhnya memang tak sebesar dulu, tetapi tetap penting, terutama di tengah kecenderungan remiliterisasi, sebagai pengingat bahwa selalu ada alternatif,” tandas Hegemann.
Tokoh politik seperti Sahra Wagenknecht juga telah menyuarakan penentangan terhadap militerisasi, tetapi terkadang pandangan mereka memecah belahFoto: Christian Mang/REUTERS
Rasa aman yang kian rapuh
Dalam beberapa tahun terakhir, rasa aman masyarakat Jerman menurun tajam. Laporan terbaru menunjukkan hanya 55% warga yang merasa aman turun dari lebih dari 70% pada 2019. Sekitar dua pertiga kini khawatir Jerman bisa terseret langsung ke dalam perang.
Kepercayaan terhadap NATO pun melemah, terutama karena berkurangnya keyakinan terhadap peran Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan Eropa. Hanya 42% yang percaya aliansi itu mampu menahan serangan Rusia.
Wajib Militer di Berbagai Negara
Isu wajib militer di Indonesia mengemuka ketika Badan Pemeriksa Keuangan mengusulkannya ke Kementerian Pertahanan. Di Eropa, 21 negara telah meninggalkan program ini. Negara mana yang masih aktif?
Foto: picture-alliance/dpa/V. Moilanen
Prancis: penggagas wamil
Wajib militer atau wamil pertama kali diberlakukan pemerintah Prancis pada masa Revolusi Prancis. Program itu sempat dihentikan tahun 1996, sebelum dimulai lagi oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron, April 2019. Berbeda dengan sebelumnya, peserta wamil berusia 16 tahun, dan hanya mengikuti pelatihan sebulan. Mereka juga bisa memilih ikut kegiatan militer atau mengikuti kegiatan sosial.
Foto: Getty Images/AFP/L. Marin
Swiss: bebas jika tinggal di luar negeri
Semua laki-laki Swiss yang berbadan sehat dan mencapai usia dewasa, maka harus mengikuti Militärdienst atau wajib militer, sementara perempuan bisa mengikutinya secara sukarela. Setiap tahun Swiss membutuhkan 18.000 tentara baru. Bagi yang tinggal di luar negeri tidak harus ikut wamil pada masa damai, sementara mereka yang memiliki kewarganegaraan ganda masih harus ikut.
Foto: Fabrice Coffrini/AFP/Getty Images
Denmark: minat tinggi tapi...
Denmark, negara Skandinavia berpopulasi 5,7 juta jiwa, memiliki angkatan berbasis wajib militer berjumlah 15.500 tentara aktif. Setelah usia 18, semua pemuda dipanggil untuk dinilai apakah mereka cocok untuk dinas militer. Perempuan Denmark tidak diwajibkan secara hukum untuk masuk militer. Meski minat tinggi, survei tahun 2017 mengungkap 48% pemuda tidak layak ikut karena alasan kesehatan.
Foto: picture-alliance/ dpa/T. Borchert
Finnlandia: denda menanti
Data dari Angkatan Bersenjata Finnlandia menyebutkan 80% pria di negara itu saat sampai usia 30 tahun telah menyelesaikan program wamil. Jika warga menolak baik wajib militer atau layanan sosial, maka ia akan dikenai sanksi berupa ditahan selama 173 hari, dikurangi masa pelayanan. Masa pelatihan militer beragam mulai dari 165, 255 atau 347 hari.
Foto: picture-alliance/dpa/V. Moilanen
Rusia: demi pengembangan mental
Negara yang dipimpin Vladimir Putin ini mengharuskan semua warga negara di umur 18 sampai 27 tahun untuk mengikuti wajib militer tanpa kecuali. Mulanya, jangka waktu dalam pengembangan mental dan karakter pemuda asal Rusia ini adalah 18 bulan, namun sejak 2008 dipangkas menjadi 12 bulan.
Foto: picture-alliance/dpa/G. Zimarev
Mesir: dilarang ke luar negeri
Di Mesir warga negara berusia 18 sampai 30 tahun wajib mengikuti pelatihan militer, dengan kurun waktu 12 hingga 30 bulan. Untuk menghindari pelanggaran, pemerintah Mesir tidak mengizinkan warganya yang berumur kurang dari 25 tahun bepergian ke luar negeri tanpa persetujuan Kementerian Pertahanan dan Keamanan.
Foto: picture-alliance/Photoshot/M. Tao
Uni Emirat Arab: ijazah penentu durasi wamil
Pria berusia 17 tahun diizinkan mendaftar untuk wajib militer secara sukarela karena program ini baru wajib setelah 18 tahun. Jika mengikuti wamil hingga usia 30 tahun, maka masa pengabdian adalah sembilan bulan. Namun, bagi mereka yang tidak memiliki ijazah SMA, peserta harus mengabdi selama dua tahun. Sementara itu, wajib militer bagi perempuan bersifat sukarela.
Foto: Getty Images/AFP/K. Sahib
Singapur : daftar dini
National Service di Singapura wajib bagi seluruh pria. Mereka harus mendaftar ketika berusia 16,5 tahun, namun baru akan mengikuti wamil saat berusia 18 tahun. Program national service ini memiliki jangka waktu 22 hingga 24 bulan di seluruh matra tentara atau kepolisian.
Foto: picture-alliance/robertharding
Thailand: ikut wamil lewat undian
Negeri Seribu Pagoda ini mewajibkan warga berumur 21 hingga 27 tahun ikut pelatihan militer, termasuk transgender. Data Univesitas Hong Kong, 1 dari 165 pria di Thailand menjadi transgender. Mereka bisa bebas wamil, karena ada dua yang diterapkan yakni sukarela dan Draft Day. Peserta wajib militer dapat ambil satu kartu, jika kartu hitam artinya bebas, jika kartu merah harus mengabdi dua tahun.
Foto: Reuters/A. Perawongmetha
Korea Selatan: boyband tak bisa lolos
Pria berusia 19 tahun hingga 35 tahun akan mendapat surat panggilan untuk masuk militer di Korea Selatan. Semua tanpa terkecuali! Termasuk anggota boyband dan aktor-aktor Korea. Mereka boleh menunda wamil yang berdurasi sekitar 21 bulan itu, dengan alasan belajar, atau ada anggota yang masih wamil. Namun, bila menolak, jeruji besi sudah siap menunggu.
Foto: picture alliance/ZUMAPRESS
Korea Utara : wajib militer terlama
Baik laki-laki maupun perempuan harus mengikuti wajib militer di negara yang dipimpin Kom Jong Un ini. Bahkan laki-laki harus mengikuti wajib militer hingga 10 tahun, sementara perempuan harus menjalani program ini selama tujuh tahun. Korea Utara adalah negara dengan wajib militer terlama di dunia.
Foto: picture-alliance/Newscom
Turki: program askerlik
Wajib militer di Turki dikenal dengan sebutan 'askerlik'. Semua warga yang memiliki KTP Turki, maupun diaspora yang memegang paspor Turki, wajib mengikuti program wamil. Sejak 2018, parlemen Turki beri kelonggaran, wamil bisa diselesaikan dalam waktu 21 hari, alih-alih 12 bulan bila mereka lulusan universitas dan membayar sejumlah uang kepada pemerintah sebagai gantinya.
Foto: picture-alliance/AA/A. Izgi
Israel: peraturan wamil yang unik
Tak seperti negara lainnya yang menerapkan wamil, perempuan di Israel diizinkan menduduki semua posisi termasuk untuk bertempur. Selain itu, umur seseorang saat pertama kali ikut dinas militer, menentukan durasi pelatihan. Jika peserta berusia 18 tahun, maka wajib ikuti wamil hingga 32 bulan, namun bila berusia 28 tahun maka bisa dibebastugaskan. Ed:ts/hp (dari berbagai sumber)
Foto: picture-alliance/Zuma/N. Alon
13 foto1 | 13
"Orang-orang merasa terancam oleh situasi global yang kian tidak menentu,” ujar Golla.
Meski ia berharap jumlah peserta meningkat tahun ini, ia tetap tak banyak berharap. "Cuaca juga jadi faktor, prakiraannya tidak terlalu baik, tapi saya tetap optimistis, setidaknya akan ada lebih banyak orang dibanding tahun lalu,” pungkasnya.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris