Hampir 23 juta anak dilaporkan melewatkan vaksinasi rutin tahun lalu dikarenakan pandemi COVID-19. Direktur Jenderal WHO memperingatkan negara-negara tak mengorbankan vaksinasi anak demi mempercepat vaksinasi COVID-19.
Berdasarkan data yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (15/07), menunjukkan bahwa hampir 23 juta anak di dunia melewatkan vaksinasi rutin tahun lalu karena pandemi COVID-19. Angka tersebut 3,7 juta lebih banyak dibandingkan tahun 2019 dan merupakan yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Hal ini dikhawatirkan memicu wabah campak, polio, dan penyakit lain yang dapat dicegah.
Campak, salah satu penyakit paling menular di dunia, dapat berakibat fatal bagi anak-anak di bawah usia lima tahun, terutama di negara-negara Afrika dan Asia dengan sistem kesehatan yang lemah, demikian menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sementara penyakit polio dapat melumpuhkan anak seumur hidup.
'Badai sempurna'
Kesenjangan dalam cakupan vaksinasi global telah menciptakan "badai sempurna", membuat lebih banyak anak rentan terhadap patogen menular seperti banyak negara yang melonggarkan pembatasan COVID-19, demikian kata WHO dan UNICEF dalam laporan tahunan tersebut.
Hal ini berpotensi bukan hanya mendorong penularan COVID-19, tetapi juga memungkinkan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin untuk mulai menyebar.
"Ini adalah badai yang sempurna, kami membunyikan alarm peringatan tentang kondisi saat ini," ujar Kate O'Brien, direktur imunisasi WHO, dilansir AFP. "Kita perlu bertindak sekarang untuk melindungi anak-anak ini."
Virus tetap jadi ancaman kesehatan bagi manusia. Walaupun ilmuwan sudah berhasil temukan vaksin untuk sejumlah virus, beberapa tetap menjadi ancaman. Berikut 8 virus yang paling berbahaya.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Corona SARS-CoV-2
Virus corona SARS-CoV-2 yang memicu pandemi Covid-19 tiba-tiba muncul di kota Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019. Ketika itu ratusan orang diserang penyakit misterius mirip pneumonia dengan angka fatalitas sangat tinggi. Virus corona menyebar cepat ke seluruh dunia, menjadi pandemi yang mematikan. Hingga akhir Juli 2021, sedikitnya 205 juta orang terinfeksi dan 4,32 juta meninggal akibat Covid-19.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Marburg
Virus paling berbahaya adalah virus Marburg. Namanya berasal dari kota kecil di sungai Lahn yang tidak ada hubungannya dengan penyakit tersebut. Virus Marburg adalah virus yang menyebabkan demam berdarah. Seperti Ebola, virus Marburg menyerang membran mukosa, kulit dan organ tubuh. Tingkat fatalitas mencapai 90 persen.
Foto: picture alliance/dpa
Ebola
Ada lima jenis virus Ebola, yakni: Zaire, Sudan, Tai Forest, Bundibugyo dan Reston. Virus Ebola Zaire adalah yang paling mematikan. Angka mortalitasnya 90%. Inilah jenis yang pernah menyebar antara lain di Guinea, Sierra Leone dan Liberia. Menurut ilmuwan kemungkinan kalong menjadi hewan yang menyebarkan virus ebola zaire ke kota-kota.
Foto: picture-alliance/NIAID/BSIP
HIV
Virus ini adalah salah satu yang paling mematikan di jaman modern. Sejak pertama kali dikenali tahun 1980-an, lebih dari 35 juta orang meninggal karena terinfeksi virus ini. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, dan melemahkan pertahanan terhadap infeksi dan sejumlah tipe kanker. (Gambar: ilustrasi partikel virus HIV di dalam darah.)
Foto: Imago Images/Science Photo Library
Dengue
Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Ada beberapa jenis nyamuk yang menularkan virus tersebut. Demam dengue dapat membahayakan nyawa penderita. Antara lain lewat pendarahan, kebocoran pembuluh darah dan tekanan darah rendah. Dua milyar orang tinggal di kawasan yang terancam oleh demam dengue, termasuk di Indonesia.
Foto: picture-alliance/dpa
Hanta
Virus ini bisa diitemukan pada hewan pengerat seperti tikus. Manusia dapat tertular bila melakukan kontak dengan hewan dan kotorannya. Hanta berasal dari nama sungai dimana tentara AS diduga pertama kali terinfeksi virus tersebut saat Perang Korea tahun 1950. Gejalanya termasuk penyakit paru-paru, demam dan gagal ginjal.
Foto: REUTERS
H5N1
Berbagai kasus flu burung menyebabkan panik global. Tidak heran tingkat kematiannya mencapai 70 persen. Tapi sebenarnya, resiko tertular H5N1 cukup rendah. Manusia hanya bisa terinfeksi melalui kontak langsung dengan unggas. Ini penyebab mengapa kebanyakan korban ditemukan di Asia, di mana warga biasa tinggal dekat dengan ayam atau burung.
Foto: AP
Lassa
Seorang perawat di Nigeria adalah orang pertama yang terinfeksi virus Lassa. Virus ini dibawa oleh hewan pengerat. Kasusnya bisa menjadi endemis, yang artinya virus muncul di wilayah khusus, bagian barat Afrika, dan dapat kembali mewabah di sana setiap saat. Ilmuwan memperkirakan 15 persen hewan pengerat di daerah Afrika barat menjadi pembawa virus tersebut. (Sumber tambahan: livescience, Ed.: ml)
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
Vakin DTP untuk anak menurun tajam
Cakupan global untuk vaksin difteri, tetaus, dan pertusis (DTP) dilaporkan stabil pada angka 86 persen selama beberapa tahun terakhir, tetapi kemudian merosot ke angka 83 persen pada tahun 2020,
India dan Nigeria merupakan dua dari sepuluh negara teratas di mana anak-anak di sana tidak atau kurang mendapatkan akses vaksin DTP pada tahun 2020. Data juga menunjukkan anak-anak yang memperoleh vaksin DTP di Pakistan, Indonesia, dan Filipina menurun tajam.
Ada peningkatan yang mengkhawatirkan pada anak-anak "dosis nol", yakni mereka yang tidak mendapatkan vaksinasi apa pun, yang meningkat menjadi 17,1 juta anak tahun lalu dari yang sebelumnya 13,6 juta, ungkap Ephrem Lemango, kepala imunisasi UNICEF. Mayoritas mereka adalah yang tinggal di negara yang dilanda perang, terpecil, atau daerah kumuh.
Data juga menunjukkan sebanyak 66 negara tercatat menunda setidaknya satu kampanye imunisasi terhadap penyakit yang dapat dicegah, meskipun beberapa negara termasuk Meksiko telah memulai program untuk mengejar keterlambatan, lanjut laporan itu.
Iklan
WHO: Jangan korbankan vaksinasi anak
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan agar negara-negara tidak mengorbankan vaksinasi rutin anak demi mempercepat jalannya vaksinasi COVID-19.
"Bahkan ketika negara-negara berebut untuk mendapatkan vaksin COVID-19, kita telah meninggalkan vaksinasi lainnya, membuat anak-anak dalam risiko terjangkit penyakit yang dapat dicegah, seperti campak, polio, atau meningitis," jelas Ghebreyesus dalam pernyataannya.
"Beberapa wabah penyakit akan menjadi bencana besar bagi masyarakat dan sistem kesehatan yang sudah berjuang melawan COVID-19, membuatnya lebih mendesak daripada sebelumnya untuk berinvestasi di vaksinasi anak-anak dan memastikan setiap anak mendapatkannya," imbuhnya.
Data kasus harian COVID-19 per satu juta penduduk di beberapa negara di dunia