Kepala program UNAIDS memperingatkan jutaan orang akan meninggal akibat pemangkasan bantuan USAID oleh pemerintahan Trump. Ia juga mengatakan, pandemi AIDS bisa kembali ke tingkat tahun 1990-an.
Direktur Eksekutif UNAIDS Winnie Byanyima telah memperingatkan adanya kebangkitan kembali pandemi HIV/AIDSFoto: Fabrice Coffrini/AFP
Iklan
Kepala program Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mengatakan pada Senin (24/03), akan ada lebih dari 6 juta kematian tambahan akibat AIDS usai Amerika Serikat (AS) memangkas pendanaannya.
Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima menyebut, pemangkasan dana bantuan AS secara tiba-tiba oleh pemerintahan Trump, yang sebelumnya merupakan donatur terbesar untuk program ini, justru menjadi sesuatu yang "menghancurkan."
"Kita akan kehilangan pencapaian yang telah kita raih selama 25 tahun terakhir. Ini sangat serius," katanya kepada wartawan di Jenewa.
Tanda Seseorang Mengidap HIV
01:06
This browser does not support the video element.
Diprediksi lebih dari 6 juta kematian akibat AIDS
"Jika bantuan AS tidak segera dipulihkan dan tidak digantikan oleh sumber pendanaan lain, di mana sejauh ini kami belum mendengar adanya pemerintah lain yang bersedia menutup kekurangan tersebut, maka akan ada tambahan 6,3 juta kematian akibat AIDS dalam empat tahun ke depan," ujar Byanyima.
Iklan
Ia juga menekankan, pada 2023 telah tercatat ada sekitar 600.000 kematian akibat AIDS secara global. Byanyima juga memperingatkan, "akan ada perkiraan tambahan 8,7 juta infeksi baru.”
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Di luar dampak jangka pendek, kepala UNAIDS itu menambahkan, jika kekurangan dana ini tidak segera ditangani, pandemi AIDS bisa kembali ke jumlah yang mencapai rekor sejak tahun 1990-an.
"Bukan hanya di negara-negara berpenghasilan rendah di Afrika yang menjadi tempat paling terkonsentrasi untuk kasus HIV/AIDS ini sekarang, tetapi juga di kalangan populasi terpenting di Eropa Timur dan Amerika Latin," jelasnya.
"Kita akan melihat lonjakan besar dalam penyakit ini. AIDS akan kembali merajalela, dan makin banyak orang yang akan kehilangan nyawa, persis seperti yang terjadi pada tahun 1990-an dan 2000-an."
Rumah Aman untuk Penyintas HIV/AIDS dari Transpuan di Yogya
Yayasan Kebaya di Yogyakarta membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja termasuk penyintas, relawan yang ingin merawat penyintas HIV/AIDS, maupun mahasiswa yang ingin meneliti HIV/AIDS.
Foto: A. K. Ulung/DW
Stigma bagi ODHA masih tinggi
Yayasan Kebaya didirikan 2006 dan punya 5 kamar, tiap kamar diisi satu atau dua penyintas. Saat ini yayasan merawat 6 pengidap HIV/AIDS, empat di antaranya adalah waria. Selama tinggal di sini, mereka tidak membayar uang sepeser pun. Kebanyakan mereka ditolak oleh keluarga dan masyarakat. Stigma masyarakat menyebabkan tingginya perlakuan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Foto: A. K. Ulung/DW
Diusir dari kampung halaman
Widi Hartono, 34, tinggal di Kebaya sejak September 2020 setelah diusir oleh warga kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah. Mereka berpikir, HIV/AIDS adalah penyakit kotor dan menakutkan. Keluarga Widi tidak berani membelanya, sedangkan kedua orang tuanya telah meninggal. Setelah diusir warga, ia sempat tinggal di tempat pembuangan sampah selama 5 bulan atas instruksi kepala desa pada saat itu.
Foto: A. K. Ulung/DW
Antiretroviral (ARV), obat wajib bagi ODHA
Obat antiretroviral (ARV) wajib diminum penyintas HIV/AIDS setiap hari. ARV memang tidak bisa menyembuhkan infeksi virus HIV, tetapi terapi obat ini bisa memperlambat perkembangan virus di dalam tubuh sehingga penyintas bisa menjalani hidup lebih lama. Saat ini, perjuangan mereka lebih berat karena pandemi menyebabkan persediaan ARV menjadi langka.
Foto: A. K. Ulung/DW
Dipantau relawan dokter
Yayasan Kebaya memiliki relawan dokter yang secara rutin memberikan konsultasi medis kepada penyintas HIV/AIDS. Mereka dikirim oleh Dinas Sosial, tetapi di luar jam kerjanya, sering mengunjungi yayasan untuk merawat penyintas secara sukarela. Relawan dokter ini memastikan penyintas disiplin meminum obat antiretroviral (ARV) dan menjalani pola makan dan pola hidup sehat.
Foto: A. K. Ulung/DW
Berbaur bersama warga sekitar
Penyintas dan warga sedang asyik mengobrol di Yayasan Kebaya. Masyarakat di sekitar yayasan menerima baik keberadaan penyintas HIV/AIDS yang dirawat di sini. Mereka berbaur dan saling menolong. Di masa pandemi ini, yayasan mendapatkan bantuan sembako dari warga, dan sebaliknya yayasan juga memberikan bantuan sembako kepada mereka ketika memperoleh bantuan dana dari lembaga donor.
Foto: A. K. Ulung/DW
Pejuang ODHA terlantar
Akrab disapa Mami Vin, Vinolia Wakijo, pendiri dan direktur Yayasan Kebaya, merupakan mantan pekerja seks yang kini berjuang menghapus stigma terhadap penyintas HIV/AIDS (ODHA). Setelah melihat kawan-kawan sesama pekerja seks meninggal akibat virus HIV, ia mendirikan Yayasan Kebaya pada 2006 untuk menolong dan merawat ODHA yang ditelantarkan oleh keluarganya dan masyarakat.
Foto: A. K. Ulung/DW
Ruang kerja Vinolia Wakijo
Di ruang ini, Vinolia Wakijo, Direktur Yayasan Kebaya, menyusun proposal permohonan bantuan dan mengirimnya ke berbagai lembaga di dalam dan luar negeri untuk merawat penyintas HIV/AIDS yang terlantar. Baru-baru ini, ia mendapat bantuan dana senilai Rp340 juta dari ViiV Healthcare yang digunakan untuk berbagai hal, termasuk menebus obat-obat infeksi oportunistik yang diderita ODHA. (ae)
Foto: A. K. Ulung/DW
7 foto1 | 7
Kepala UNAIDS desak AS tinjau ulang pemangkasan bantuan
Presiden AS Donald Trump, bersama pembantu terdekatnya, Elon Musk, telah melakukan pemangkasan besar-besaran anggaran federal, termasuk bantuan luar negeri AS.
Keputusan untuk memangkas dana bantuan memerangi AIDS ini telah memicu banyak protes, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Byanyima mengakui, itu adalah hak AS untuk mengurangi pendanaannya seiring waktu, tetapi ia tetap mendesak Gedung Putih untuk mempertimbangkan ulang keputusannya.
"Hal yang wajar jika AS ingin mengurangi pendanaannya secara bertahap, tetapi penghentian mendadak pada bantuan yang menyelamatkan banyak nyawa ini memberikan dampak yang begitu besar," ujarnya.
"Kami mendesak adanya pertimbangan ulang dan pemulihan segera terhadap layanan-layanan penyelamatan banyak orang ini."