WHO, UNICEF, dan aliansi vaksin Gavi mengungkapkan adanya lonjakan penyakit-penyakit seperti campak, meningitis, dan demam kunir. Pemotongan dana, misinformasi, dan krisis kemanusiaan telah memperburuk masalah ini.
Imunisasi di Lubbock, Texas, Amerika SerikatFoto: Ronaldo Schemidt/AFP/Getty Images
Iklan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), badan PBB yang mengurusi masalah anak-anak (UNICEF), dan aliansi vaksin Gavi mengeluarkan peringatan bahwa dunia kini menghadapi peningkatan jumlah wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak, meningitis, dan demam kunir atau demam kuning.
Pernyataan bersama ini dikeluarkan pada awal Pekan Imunisasi Dunia yang berlangsung dari tanggal 24 hingga 30 April 2025.
"Vaksin telah menyelamatkan lebih dari 150 juta nyawa dalam lima dekade terakhir. Namun, pemotongan dana untuk kesehatan global kini mengancam pencapaian yang telah diperjuangkan dengan susah payah ini,” ungkap Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah pernyataan.
Kurangnya vaksinasi telah menyebabkan meningkatnya wabah campakFoto: Mary Conlon/picture alliance
Campak yang kembali jadi ancaman
Pernyataan tersebut juga menyoroti kembalinya campak yang berbahaya, dengan kasus yang meningkat 20% dalam setahun, mencapai 10,3 juta pada tahun 2023. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun 2024 dan 2025.
Selama tahun lalu, 138 negara melaporkan kasus campak, dengan 61 di antaranya melaporkan wabah. Ini merupakan angka tertinggi yang tercatat sejak 2019.
"Krisis pendanaan global secara serius membatasi kemampuan kami untuk memvaksinasi lebih dari 15 juta anak rentan di negara-negara yang rapuh dan terdampak konflik dari penyakit campak," tambah Kepala UNICEF, Catherine Russell.
Iklan
Meningitis dan demam kuning: Ancaman yang semakin besar
Pada tiga bulan pertama tahun 2025, lebih dari 5.500 kasus meningitis dan sekitar 300 kematian dilaporkan di 22 negara Afrika. Pada tahun 2024, tercatat 26.000 kasus dan hampir 1.400 kematian di 24 negara.
Pernyataan tersebut juga mengungkapkan bahwa kasus meningitis dan demam kuning atau demam kunir terus meningkat di Afrika pada tahun 2024. Setelah penurunan kasus selama satu dekade terakhir, sebanyak 124 kasus demam kunir dilaporkan di 12 negara pada tahun lalu.
8 Virus Paling Berbahaya
Virus tetap jadi ancaman kesehatan bagi manusia. Walaupun ilmuwan sudah berhasil temukan vaksin untuk sejumlah virus, beberapa tetap menjadi ancaman. Berikut 8 virus yang paling berbahaya.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Corona SARS-CoV-2
Virus corona SARS-CoV-2 yang memicu pandemi Covid-19 tiba-tiba muncul di kota Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019. Ketika itu ratusan orang diserang penyakit misterius mirip pneumonia dengan angka fatalitas sangat tinggi. Virus corona menyebar cepat ke seluruh dunia, menjadi pandemi yang mematikan. Hingga akhir Juli 2021, sedikitnya 205 juta orang terinfeksi dan 4,32 juta meninggal akibat Covid-19.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Marburg
Virus paling berbahaya adalah virus Marburg. Namanya berasal dari kota kecil di sungai Lahn yang tidak ada hubungannya dengan penyakit tersebut. Virus Marburg adalah virus yang menyebabkan demam berdarah. Seperti Ebola, virus Marburg menyerang membran mukosa, kulit dan organ tubuh. Tingkat fatalitas mencapai 90 persen.
Foto: picture alliance/dpa
Ebola
Ada lima jenis virus Ebola, yakni: Zaire, Sudan, Tai Forest, Bundibugyo dan Reston. Virus Ebola Zaire adalah yang paling mematikan. Angka mortalitasnya 90%. Inilah jenis yang pernah menyebar antara lain di Guinea, Sierra Leone dan Liberia. Menurut ilmuwan kemungkinan kalong menjadi hewan yang menyebarkan virus ebola zaire ke kota-kota.
Foto: picture-alliance/NIAID/BSIP
HIV
Virus ini adalah salah satu yang paling mematikan di jaman modern. Sejak pertama kali dikenali tahun 1980-an, lebih dari 35 juta orang meninggal karena terinfeksi virus ini. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, dan melemahkan pertahanan terhadap infeksi dan sejumlah tipe kanker. (Gambar: ilustrasi partikel virus HIV di dalam darah.)
Foto: Imago Images/Science Photo Library
Dengue
Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Ada beberapa jenis nyamuk yang menularkan virus tersebut. Demam dengue dapat membahayakan nyawa penderita. Antara lain lewat pendarahan, kebocoran pembuluh darah dan tekanan darah rendah. Dua milyar orang tinggal di kawasan yang terancam oleh demam dengue, termasuk di Indonesia.
Foto: picture-alliance/dpa
Hanta
Virus ini bisa diitemukan pada hewan pengerat seperti tikus. Manusia dapat tertular bila melakukan kontak dengan hewan dan kotorannya. Hanta berasal dari nama sungai dimana tentara AS diduga pertama kali terinfeksi virus tersebut saat Perang Korea tahun 1950. Gejalanya termasuk penyakit paru-paru, demam dan gagal ginjal.
Foto: REUTERS
H5N1
Berbagai kasus flu burung menyebabkan panik global. Tidak heran tingkat kematiannya mencapai 70 persen. Tapi sebenarnya, resiko tertular H5N1 cukup rendah. Manusia hanya bisa terinfeksi melalui kontak langsung dengan unggas. Ini penyebab mengapa kebanyakan korban ditemukan di Asia, di mana warga biasa tinggal dekat dengan ayam atau burung.
Foto: AP
Lassa
Seorang perawat di Nigeria adalah orang pertama yang terinfeksi virus Lassa. Virus ini dibawa oleh hewan pengerat. Kasusnya bisa menjadi endemis, yang artinya virus muncul di wilayah khusus, bagian barat Afrika, dan dapat kembali mewabah di sana setiap saat. Ilmuwan memperkirakan 15 persen hewan pengerat di daerah Afrika barat menjadi pembawa virus tersebut. (Sumber tambahan: livescience, Ed.: ml)
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
Apakah anak-anak cukup mendapatkan vaksinasi?
Terdapat pula kenaikan jumlah anak yang terlewat dari dosis vaksin rutin mereka, meskipun upaya pemulihan dilakukan setelah pandemi. Sekitar 14,5 juta anak tidak menerima satu pun dosis vaksin rutin mereka pada tahun 2023.
Gavi menyerukan dana sebesar USD9 miliar menjelang konferensi tingkat tinggi pada tanggal 25 Juni nanti, "untuk melindungi 500 juta anak, menyelamatkan setidaknya 8 juta nyawa antara tahun 2026 hingga 2030.”
Seruan ini datang di tengah pemotongan besar-besaran dana vaksin, misinformasi, serta krisis kemanusiaan lainnya seperti perang di Gaza.
Presiden Amerika Serikat,Donald Trump, telah secara drastis mengurangi dana bantuan kemanusiaan kepada berbagai lembaga sejak menjabat lagi jadi presiden.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh: Ayu Purwaningsih
Editor: Hendra Pasuhuk
6 Bakteri Sangat Berbahaya Alias Superbug Yang Paling Mematikan
Penyalahgunaan antibiotik — dari pemakaian berlebihan sampai penyebaran bebas — dapat menimbulkan "superbug" mematikan dan resisten terhadap obat. Tanpa antibiotik efektif, kesehatan manusia akan terancam.
Foto: picture-alliance/BSIP/NIAID
Candida auris
Muncul di berita utama di Amerika Serikat, Candida auris adalah jamur yang resisten terhadap multi-obat anti jamur yang biasa digunakan guna mengobati infeksi Candida. Sejauh ini tersebar di lima benua dan sulit dibasmi, bahkan beberapa rumah sakit telah ditutup hanya untuk menyingkirkan jamur ini. Orang sehat biasanya tidak rentan, namun risikonya besar bagi yang sakit atau perlu operasi.
Foto: picture-alliance/dpa/N. Armer
Pseudomonas aeruginosa
"Nightmare bug" dengan tingkat resistan tinggi ini telah diklasifikasi WHO sebagai ancaman kesehatan manusia. Berkembang biak di tempat yang basah atau lembap menjadikannya termasuk bakteri yang paling sulit dibasmi. Biasanya menyerang manusia dengan sistem imun yang lemah, tapi yang sehat pun tetap bisa terkena infeksi telinga dan kulit jika ada kontak langsung, misalnya air yang terkontaminasi.
Foto: picture-alliance/BSIP
Neisseria gonorrhea
Tidak ada vaksinasi untuk gonorrhea, antibiotika hanyalah satu-satunya pilihan untuk mengatasi infeksi. Tapi, penyakit menular seksual ini akan semakin resisten terhadap obat-obatan yang biasanya digunakan untuk menyembuhkan penyakit tersebut — azithromycin, cefixime and ceftriaxone. Kasus penyakit super gonorrhea muncul di Australia and UK pada tahun 2018-2019. Makanya, selalu pakai pengaman ya!
Foto: picture alliance/BSIP
Salmonellae
Bakteri ini biasa dikenal karena menyebabkan infeksi non-tipus dari makanan, tapi juga bisa menimbulkan demam tipus pada manusia. Beberapa dekade yang lalu di wilayah Afrika dan Asia, jenis Salmonella baru yang mematikan dan resistan terhadap antibiotik baru ditemukan di air dan makanan yang terkontaminasi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/E. Thompson
Acinetobacter baumannii
Diklasifikasi sebagai patogen berisiko tinggi oleh WHO, bakteri ini banyak ditemukan di tanah dan air, dan bisa mengambil gen dari bakteri resistan yang lain. Ia bisa hidup di dalam tubuh manusia sehat tanpa gejala, namun dapat menyebabkan infeksi luka, paru-paru, dan darah di tubuh manusia yang sakit. Biasanya, penderita harus dirawat di ICU.
Foto: picture-alliance/BSIP/CDC
Drug resistant tuberculosis
Myobacterium tuberculosis adalah salah satu penyebab infeksi terbanyak di dunia yang menyebabkan 1,7 juta kematian setiap tahunnya. Sekitar 13 persen dari jenis tuberculosis baru bersifat resistan terhadap multi-obat — setidaknya tidak responsif di dua pengobatan yang paling ampuh — dan 6 persen lebih resisten terhadap banyak obat. (ck/yp)