Industri pertahanan Jerman bakal mengalami lonjakan besar, seiring investasi Eropa yang mengalir dalam jumlah miliaran untuk persenjataan. Peluang emas bagi para pekerja industri otomotif yang sedang terpuruk?
Industri pertahanan Jerman bakal mengalami lonjakan besar, seiring investasi Eropa yang mengalir dalam jumlah miliaran untuk persenjataanFoto: Stefan Puchner/dpa/picture alliance
Iklan
Keputusan parlemen Jerman Bundestag untuk meningkatkan anggaran pertahanan secara masif dalam beberapa tahun mendatang berpotensi mengubah seluruh peta industri Jerman.
Kebijakan ini dapat menyebabkan perpindahan pekerjaan, misalnya, dari perusahaan otomotif yang tengah bergumul dengan kesulitan keuangan menuju industri senjata yang tengah berbenah diri.
Sementara perusahaan-perusahaan industrialis unggulan Jerman seperti Volkswagen tengah mengurangi tenaga kerjanya di tengah penurunan penjualan, produsen tank seperti Rheinmetall, dan rudal jelajah seperti Diehl justru berjuang keras mencari tenaga kerja yang kompeten.
Bagaimana ledakan anggaran Eropa akan memengaruhi pekerjaan?
Sebuah studi yang dilakukan oleh firma konsultan EY dan bank Jerman DekaBank mengenai "Dampak Ekonomi dari Investasi Pertahanan Eropa" menghitung bahwa anggota NATO Eropa akan mengucurkan dana sekitar €72 miliar setiap tahunnya untuk memperkuat pertahanan militer mereka.
Investasi tersebut akan menciptakan atau mengamankan sekitar 680.000 lapangan pekerjaan di Eropa, demikian temuan dari studi tersebut.
Sebuah survei yang dilakukan oleh firma konsultan Kearney di Jerman juga menunjukkan bahwa pekerjaan di sektor ini akan mengalami ledakan di seluruh Eropa.
Namun, survei tersebut mencatat, jumlah pasti pekerja terampil yang dibutuhkan bergantung pada seberapa besar negara-negara NATOdi Eropa akan meningkatkan belanja pertahanan mereka.
Jika negara-negara tersebut mengalokasikan 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka untuk belanja pertahanan, sebagaimana disarankan oleh pedoman NATO, sekitar 160.000 pekerja terampil akan dibutuhkan di Eropa pada tahun 2030, demikian menurut analisis dari Kearney.
"Jika ada peningkatan moderat (2,5% dari PDB), sekitar 460.000 posisi mungkin tetap kosong, dan dengan peningkatan signifikan (3%), angka tersebut bisa mencapai hingga 760.000 posisi (di Eropa)," tulis para penulis tersebut, seraya menambahkan bahwa para spesialis dalam kecerdasan buatan dan big data sangat dibutuhkan.
Militer Jerman Bundeswehr Dalam Misi NATO
Sejak Jerman Barat bergabung dengan NATO, militer Jerman Bundeswehr telah dilibatkan dalam berbagai misi dan operasi NATO. Sejak tahun 1990, Bundeswehr juga dikerahkan untuk misi "out of area".
Foto: picture-alliance/dpa/M. Hanschke
Peran militer Jerman di NATO
Republik Federal Jerman Barat resmi bergabung dengan aliansi trans-Atlantik NATO pada tahun 1955. Namun baru setelah penyatuan kembali tahun 1990, militer Jerman dikerahkan dalam misi "out of area" NATO. Sejak itu, Bundeswehr telah ditempatkan di beberapa kawasan di seluruh dunia.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Hanschke
Bosnia-Herzegovina, misi NATO pertama Bundeswehr
Tahun 1995, pertama kali Bundeswehr terlibat dalam misi "out of area" NATO sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian di Bosnia-Herzegovina. Selama penempatan tersebut, tentara Jerman bergabung dengan anggota pasukan NATO lainnya untuk menjaga keamanan setelah terjadinya Perang Bosnia. Misi ini mencakup lebih dari 60.000 tentara dari negara anggota dan mitra NATO.
Foto: picture alliance/AP Photo/H. Delic
Menjaga perdamaian Kosovo
Sejak dimulainya misi perdamaian yang dipimpin NATO di Kosovo, sekitar 8.500 tentara Jerman telah ditempatkan di negara itu. Tahun 1999, NATO melancarkan serangan udara terhadap pasukan Serbia yang dituduh melakukan tindakan brutal terhadap separatis etnik Albania dan penduduk sipil. Sekitar 550 tentara Bundeswehr sampai sekarang masih ditempatkan di Kosovo.
Foto: picture-alliance/dpa/V.Xhemaj
Patroli di Laut Aegean
2016, Jerman mengerahkan kapal perang "Bonn" untuk memimpin misi NATO di Laut Aegean. Tugasnya termasuk melakukan "pengintaian, pemantauan dan pengawasan penyeberangan ilegal" di perairan teritorial Yunani dan Turki itu pada puncak krisis pengungsi di Uni Eropa.
Foto: picture alliance/AP Photo/M.Schreiber
Lebih satu dekade di Afghanistan
2003 parlemen Jerman menyetujui pengiriman pasukan Bundeswehr ke Afghanistan dalam misi PBB International Security Assistance Force (ISAF). Jerman saat itu menjadi kontributor ketiga terbesar dan ditunjuk sebagai Komando Markas Regional Utara. Lebih 50 tentara Jerman tewas selama misi ini. Sekarang masih ada hampir 1.000 tentara Jerman yang ditempatkan di Afghanistan sebagai kekuatan pendukung.
Foto: picture alliance/AP Photo/A.Niedringhaus
Panser Jerman untuk Lithuania
Sejak 2017, 450 tentara Bundeswehr telah dikirim ke Lithuania sebagai bagian dari bantuan penjagaan keamanan perbatasan setelah Rusia menduduki Krimea. Selain Jerman, pasukan Kanada, Inggris dan AS juga bergabung dalam satuan pertahanan kolektif NATO di sayap timur.
Foto: picture alliance/dpa/M. Kul
Mengambil alih tongkat komando VJTF
Bundeswehr akan memimpin pasukan gerak cepat baru NATO mulai tahun 2019 yang dinamakan Very High Readiness Joint Task Force (VJTF). Kebijakan baru NATO ini adalah reaksi langsung atas agresi Rusia di Krimea.
Foto: S. Gallup/Getty Images
7 foto1 | 7
Siapa yang dapat manfaat dari belanja pertahanan Eropa yang lebih besar?
Basis industri pertahanan Eropa sebagian besar berpusat di Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Swedia.
Jerman, sebagai negara pengekspor senjata terbesar kedua di Eropa, diperkirakan akan menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari pembaruan persenjataan Eropa.
Sektor pertahanan negara ini saat ini mempekerjakan sekitar 60.000 orang, dengan tambahan 90.000 orang yang bekerja di pemasok industri, menurut Klaus-Heiner Röhl, seorang pakar industri dari German Economic Institute yang berkantor di Kota Köln, Jerman.
Dari mana pekerja akan didatangkan?
Mengingat lonjakan permintaan akan perangkat keras militer seperti artileri, teknologi radar, atau kendaraan lapis baja, para produsen tidak hanya mencari pekerja baru, tetapi juga lokasi produksi yang mampu menangani gelombang pesanan yang datang.
Oleh karena itu, sangat masuk akal untuk merekrut dari industri Jerman yang saat ini tengah menghadapi kesulitan dan mungkin tengah memangkas tenaga kerja mereka.
Oliver Dörre, CEO Hensoldt, sebuah perusahaan pertahanan terkemuka yang berbasis di Jerman, dengan tegas mengakui dalam wawancara dengan kantor berita Reuters bahwa Hensoldt akan "mendapat manfaat dari kesulitan di sektor otomotif."
Hensoldt berfokus pada teknologi sensor untuk misi perlindungan dan pengawasan. Radar mereka yang berperforma tinggi, misalnya, digunakan dalam sistem pertahanan udara Ukraina, bahkan mampu mendeteksi pembom siluman seperti F-35 buatan AS.
Dalam wawancara tersebut, Dörre menyatakan bahwa percakapan sudah dimulai dengan pemasok otomotif Jerman seperti Continental dan Bosch untuk mempekerjakan pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja.
Perusahaan pertahanan KNDS mengumumkan pada Februari bahwa mereka berencana untuk mengambil alih sebuah pabrik di Jerman dari produsen kereta Alstom, yang dijadwalkan untuk ditutup pada 2026.
KNDS ingin mempertahankan sekitar setengah dari 700 pekerja Alstom di sana dan berencana untuk memproduksi komponen dan modul untuk tank Leopard 2 mereka, serta untuk kendaraan lapis baja Puma dan Boxer di pabrik kereta tersebut, dengan produksi yang dijadwalkan dimulai pada 2025.
Produsen senjata Jerman Rheinmetall juga bergantung pada pekerja yang hijrah dari industri otomotif. Laporan terbaru dari media Jerman NDR menyebutkan bahwa setidaknya satu pekerja yang sebelumnya memproduksi komponen khusus untuk industri minyak kini memproduksi laras untuk tank Rheinmetall di sebuah pabrik di Jerman bagian utara.
Iklan
Apa yang berhasil dan apa yang tidak?
Namun, beralih dari pekerjaan sipil ke pekerjaan di sektor pertahanan tidaklah selalu mudah, ujar Direktur Utama dari perusahaan perekrutan Jerman Heinrich & Coll Eva Brückner: "Peralihan hanya mungkin terjadi pada posisi-posisi tertentu dan peran-peran khusus," ujar Brückner, yang mengkhususkan diri dalam perekrutan untuk industri keamanan dan pertahanan.
Seorang pekerja perakitan yang terampil di Volkswagen tentu bisa melakukan pekerjaan yang sama di perusahaan pertahanan, ungkap Brückner. Demikian pula, seorang insinyur pengembangan dapat beralih ke sektor pertahanan setelah pelatihan ulang.
Namun, untuk peran-peran lainnya, transisinya tidak semudah itu, terutama dalam bidang penjualan atau pengadaan, tambah Brückner.
"Seorang pembeli dari industri otomotif, yang terbiasa dengan pemasok yang selalu siap melaksanakan perintah mereka, tidak bisa begitu saja ditempatkan di sektor pertahanan," ujarnya kepada DW.
Inilah Persenjataan Jerman yang Disuplai untuk Perang Ukraina
Jerman mulanya dikritik mitra NATO, karena dinilai lamban memasok persenjataan berat ke Ukraina. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, persenjataan modern dari Jerman sudah dikirim dan dikerahkan dalam perang di Ukraina.
Foto: Marcus Brandt/dpa/picture alliance
Tank artileri pertahanan udara Gepard
Sedikitnya 30 tank pertahanan udara tipe Gepard dari Jerman sudah ikut bertempur di Ukraina. Dipersenjatai meriam ganda kaliber 35 mm, Gepard mampu menembak sasaran pesawat tempur, helikopter tempur, atau drone hingga ketinggian 3.500 meter. Tank ini juga bisa dikerahkan menyasar tank atau panser di darat.
Foto: Carsten Rehder/dpa/picture alliance
Howitzer - Panzerhaubizte 2000
Panser Howitzer 2000 dari Bundeswehr ini sedikitnya sudah 10 unit dikirim ke medan tempur di Ukraina. Dilengkapi meriam kaliber 155 mm, panser artileri otonom ini mampu menghancurkan sasaran pada jarak hingga 40 km. Panser bisa melaju hingga kecepatan 60 km/jam dan dapat melewati genangan air hingga kedalaman 1,5 meter.
Foto: Michael Kappeler/dpa/picture alliance
Pelontar rudal MARS 2
Sedikitnya tiga unit pelontar rudal multi MARS 2 sudah dikirim ke Ukraina. Bersama dengan sistem artileri jarak menengah itu, juga dikirim ratusan rudalnya yang mampu mencapai sasaran sejarak 80 km. Pelontar mampu menembakkan hingga 12 roket dalam semenit, untuk menyasar terget pada jarak 16 hingga 85 km.
Foto: Sebastian Gollnow/dpa/picture alliance
Sistem artileri pertahanan udara IRIS T SLM
IRIS T SLM mampu menangkal serangan rudal, roket, drone, atau helikopter tempur pada ketinggian hingga 20 km. Satu unit sistem pertahanan udara paling modern yang harganya sekiar 145 juta euro ini sudah dioperasikan di Ukraina. Ironisnya, angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr, hingga kini belum punya sistem arhanud ini.
Foto: Joerg Carstensen/picture alliance
Tank pembangun jembatan Biber
Pemerintah di Berlin menjanjikan pengiriman 16 unit tank pembangun jembatan tipe Biber. Enam unit dijanjikan dikirim hingga akhir tahun 2022, sisanya tahun depan. Rentang jembatan hingga 22 m, lebar 4 m, dan hanya dalam hitungan waktu menit. Jembatan mampu menahan bobot hingga 55 ton atau setara satu unit tank Gepard.
Foto: Patrik Stollarz/AFP via Getty Images
MANPADS Stinger
Sistem pertahanan udara portabel Stinger sudah dikirim saat awal pecah perang di Ukraina. Berlin sudah mengirim sedikitnya 500 unit Stinger ke medang perang Ukraina. Senjata ini dipuji sangat efektif menghancurkan sasaran pesawat tempur atau helikopter hingga ketinggian 4.000 m. Roket yang ditembakkan akan mengejar sasaran secara otonom dan biasanya meledakkan tanki bahan bakar pesawat.
Foto: Ingo Wagner/dpa/picture alliance
Senjata penghancur Bunker dan Panser
Jerman sudah mengirimkan ribuan unit senjata portable penghancur bunker dan panser ini sejak awal perang Ukraina. Ditembakan dari pundak serdadu, amunisi bisa menyasar objek diam hingga 400 m atau objek bergerak hingga 300 m. Amunisinya bisa menembus baja pelindung panser setebal 300 mm atau mengancurkan bunker beton bertulang baja setebal 240 mm. (as/ha)
Foto: Sebastian Gollnow/dpa/picture alliance
7 foto1 | 7
Pemeriksaan keamanan dan kesempatan di AS
CEO Asosiasi Industri Keamanan dan Pertahanan Jerman, Hans Christoph Atzpodien, mengungkapkan tantangan lain yang dihadapi oleh perusahaan pertahanan ketika merekrut tenaga kerja baru adalah izin keamanan. "Waktu pemrosesan untuk izin tersebut saat ini terlalu lama untuk memungkinkan transisi personel yang cepat," paparnya kepada DW.
Selain itu, Undang-Undang Pemeriksaan Keamanan Jerman, yang mengatur izin bagi karyawan yang bekerja di industri pertahanan, mengacu pada daftar negara (disebut Staatenliste dalam bahasa Jerman) yang dianggap memiliki risiko besar terhadap keamanan nasional, seperti Afganistan, Cina, Vietnam, Irak, Iran, Suriah, dan Rusia.
Potensi karyawan yang merupakan warga negara dari negara-negara yang tercantum dalam daftar tersebut, atau bahkan warga negara Jerman yang telah tinggal lama di salah satu negara tersebut, mungkin akan kesulitan memperoleh izin keamanan.
Banyak pakar setuju bahwa dorongan untuk pembaruan persenjataan Eropa mungkin akan melambat karena kurangnya tenaga kerja terampil di benua ini.
Namun, apa yang bisa membantu, papar Eva Brückner, adalah kebijakan dari Presiden AS Donald Trump.
"Karena Trump mengumumkan pemotongan dana untuk lembaga penelitian dan universitas, peluang baru kini terbuka untuk Eropa," tandasnya, seraya mencatat bahwa persepsi tentang AS dan universitas-universitas elite yang didanai dengan baik mungkin akan berubah di kalangan talenta terbaik dunia.
"Jika dana dipotong, Eropa memiliki kesempatan untuk memposisikan dirinya sebagai pusat inovasi dan merekrut peneliti."
Brückner menambahkan bahwa ia telah menerima pertanyaan dari para profesional di AS yang kartu hijau mereka tidak diperpanjang atau yang merasa tidak dihargai dalam pekerjaan mereka di AS.
Banyak di antara mereka yang kini mempertanyakan apakah mereka ingin menyelaraskan diri dengan arah politik dan geopolitik AS yang baru.
"Ini adalah peluang besar, dan kesempatan ini harus dimanfaatkan. Eropa bisa menarik beberapa pikiran paling cemerlang," tambahnya.
Kembali Berkuasa, Trump Bikin Kebijakan Baru yang Kontroversial
Setelah dilantik kembali pada 20 Januari 2025, Donald Trump memperkenalkan kebijakan kontroversial seperti tarif tinggi, pembekuan dana internasional, hingga perubahan kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan global.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Deportasi migran ilegal
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niat mendeportasi 'jutaan dan jutaan' migran ilegal. Pada minggu pertama Trump menjabat, hampir 2.400 migran ditangkap ICE, terutama yang pernah terjerat kasus hukum. Kongres AS juga telah meloloskan Lakes Riley Act, yang memungkinkan penahanan migran tanpa status sah untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Foto: Isaac Guzman/AFP
AS mundur dari Perjanjian Paris
Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menarik AS dari Perjanjian Paris, yang kedua kalinya ia lakukan. Tindakan ini menuai kontroversi. "Emisi AS berperan besar dalam menentukan apakah kita bisa tetap di bawah batas 2 derajat dan 1,5 derajat," kata Laura Schäfer dari LSM lingkungan dan HAM, Germanwatch.
Foto: JIM WATSON/AFP
Hengkang dari WHO
Trump menarik Amerika Serikat keluar dari WHO. Para ahli memperingatkan langkah ini akan menghambat penanganan wabah penyakit dan masalah kesehatan global. Namun, resolusi kongres mengharuskan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan kewajiban sehingga perintah ini baru berlaku penuh Januari 2026. Trump juga menghentikan transfer dana AS ke WHO, yang berdampak pada pendanaan organisasi tersebut.
Foto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance
Ganti nama Teluk Amerika
Presiden Trump menandatangani dekret untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengembalikan nama Gunung Denali di Alaska menjadi McKinley. Dalam posting di X pada 27 Januari 2025, Google menyatakan akan mengikuti praktik lama untuk menerapkan perubahan nama lokasi sesuai pembaruan resmi pemerintah yang merujuk pada Geographic Names Information System (GNIS).
Foto: Roberto Schmidt/AFP/Getty Images
Rencana setop hibah dan pinjaman federal
Pada Senin (27/01), Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk menghentikan sementara pencairan hibah dan pinjaman federal di seluruh AS. Kebijakan ini dianggap mengancam program vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bantuan bencana. Namun, seorang hakim federal memblokir sementara rencana tersebut beberapa menit sebelum kebijakan dijadwalkan berlaku pada Selasa (28/01) malam.
Foto: Jim Watson/AFP/Getty Images
Larang atlet transgender di olahraga perempuan
Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender berkompetisi dalam olahraga perempuan dan anak perempuan, Rabu (05/02). Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan untuk membatasi hak LGBTQ+. Perintah ini juga menyatakan bahwa negara hanya akan mengakui dua jenis kelamin, pria dan perempuan. Sekolah yang melanggar aturan ini berisiko kehilangan dana federal.
Foto: Andres Caballero-Reynolds/AFP
Pembekuan dana USAID ke 130 negara
Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan dana bantuan USAID telah menghentikan proyek-proyek di sekitar 130 negara, termasuk Indonesia, berdampak dramatis pada jutaan orang dan pekerja bantuan. Trump menuduh USAID melakukan pemborosan, dengan menulis di Truth Social, "Sepertinya miliaran dolar telah dicuri di USAID.” Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun.
Foto: Sofia Toscano/colprensa/dpa/picture alliance
Satgas DOGE untuk efisiensi
Satuan Tugas Department of Government Efficiency (DOGE) dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk merombak sistem birokrasi federal. DOGE, yang dipimpin oleh Elon Musk, bertujuan mengurangi peraturan, pengeluaran, dan staf pemerintah. Banyak pihak mengkritik minimnya transparansi dalam perekrutan tim DOGE dan mempertanyakan jika tim tersebut telah melalui pemeriksaan terkait kesesuaian dan keamanan.
Foto: Andrew Harnik/Getty Images via AFP
Keinginan AS ambil alih Gaza
Presiden Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza. Usulan ini disampaikan saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS, Selasa (04/02). "AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami juga akan melakukan sebuah pekerjaan. Kami akan memilikinya. Dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di tempat tersebut," kata Trump.
Foto: Khalil Ramzi/REUTERS
Kenaikan tarif impor baja dan alumunium
Trump mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, berlaku Maret 2025. Kebijakan ini bertujuan "membuat Amerika kaya kembali," kata dia. Namun, banyak ekonom menolak asumsi ini, dan menyatakan justru merugikan semua pihak. Tarif dimaksudkan melindungi produsen dalam negeri, tetapi industri AS masih bergantung pada impor logam, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.
Foto: IMAGO/Newscom / AdMedia
10 foto1 | 10
Profesional 'tersembunyi' dan ahli digital yang dibutuhkan
Brückner percaya bahwa sektor pertahanan perlu segera memikirkan kembali strategi perekrutan mereka, serta melibatkan lebih banyak perempuan dalam peran kepemimpinan di industri yang masih didominasi oleh mantan perwira militer, yang sebagian besar adalah pria.
Analisis Kearney menyoroti bahwa laju digitalisasi yang cepat dalam industri pertahanan mengubah profil pekerjaan dan persyaratannya.
Spesialis teknologi informasi dan ahli kecerdasan buatan (AI) untuk menghubungkan sistem senjata modern dan menggunakan big data untuk analisis situasional sangat dibutuhkan, tetapi sangat langka, demikian temuan analisis tersebut.
"Industri pertahanan secara tradisional bersifat analog. Sekarang, mereka kekurangan talenta digital yang sangat dibutuhkan," tulis Nils Kuhlwein, salah satu penulis analisis Kearney.
Gaji yang lebih tinggi dari perusahaan sipil akan dibutuhkan untuk menarik para spesialis yang sangat dibutuhkan, catatnya, sambil menambahkan bahwa "perusahaan-perusahaan harus menaikkan skala gaji mereka lebih jauh lagi."