1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahJerman

Pekerja Seks: Parasit Sosial, Escort atau Apa Sebutannya?

16 April 2026

Sebuah pameran di Bonn menelusuri sejarah budaya pekerja seks dan menunjukkan bagaimana kata-kata yang digunakan untuk menggambarkannya telah membentuk stigma, kebijakan, serta pengalaman hidup mereka yang menjalaninya.

Kelompok advokasi pekerja seks berjuang agar suara mereka didengar
Kelompok advokasi pekerja seks telah lama berjuang agar suara mereka didengar dalam narasi seputar pekerjaan merekaFoto: Vic Porter

"Lalun adalah anggota dari profesi tertua di dunia." Dengan kalimat itu, yang ditulis dalam cerpennya tahun 1888 berjudul On the City Wall, penulis Inggris Rudyard Kipling mencoba mempopulerkan salah satu eufemisme paling bertahan lama bagi "pekerja seks", sebuah ungkapan yang sering diulang sejak saat itu, meskipun secara historis tidak sepenuhnya jelas.

Alih-alih menyebut pekerjaan tersebut secara langsung, ungkapan itu mencerminkan iklim moral pada zamannya, ketika suatu istilah dalam bahasa tidak langsung membuat topik ini lebih mudah dibicarakan, sekaligus berjarak.

Sebuah pameran baru di Bundeskunsthalle, Bonn, Jerman berjudul "Sex Work: A Cultural History", menyoroti bagaimana pekerja seks direpresentasikan, diatur, dan dialami di berbagai masyarakat dan periode sejarah.

Para kurator menggambarkan topik ini sebagai "wilayah yang dipenuhi oleh wacana moral dan sangat politis." Dengan menggabungkan karya seni, arsip, dokumen hukum, dan suara kontemporer, pameran ini menunjukkan bagaimana kerja seks dibingkai dan terkadang disalahartikan dalam perdebatan publik.

Tanpa mengajukan pendekatan kebijakan tertentu, pameran ini mengajak pengunjung untuk merenungkan bagaimana pandangan mereka sendiri terbentuk, baik oleh media, norma sosial, maupun istilah-istilah yang mereka dengar sejak kecil.

Pameran 'Pekerjaan Seks - Sejarah Budaya' dikuratori bersama dengan sebuah kelompok peneliti yang mempelajari pekerja seksFoto: Kunstpalast - LVR-ZMB - Annette Hiller - ARTOTHEK

Dari "parasit” menjadi "pekerja seks"

Salah satu bagian pameran berfokus pada penggunaan kata: Sebuah glosarium menelusuri istilah-istilah yang pernah digunakan untuk menyebut pekerja seks dari masa ke masa, serta mengeksplorasi apa yang dibuat terlihat atau justru disembunyikan oleh istilah tersebut, termasuk bagaimana istilah itu membentuk gagasan tentang gender, moralitas, dan pekerjaan.

"Sejarah 'pekerja seks' sulit diteliti karena sebutannya itu berbeda di setiap era. Sementara dokumen sejarah sering memakai eufemisme yang samar,” ujar kurator sekaligus aktivis pekerja seks Ernestine Pastorello.

"Terminologi atau istilah-istilah dalam sejarah sering kali tidak akurat," tambahnya. "Pada abad ke-19, kata ‘prostitusi' bisa digunakan untuk menyebut perempuan mana pun yang dianggap ‘terlalu terlihat' di ruang publik, baik ia menjual layanan seksual atau tidak."

Label tersebut, jelasnya, dulu digunakan secara luas terhadap perempuan miskin, orang dengan kecanduan, atau mereka yang dianggap menyimpang secara sosial. Sehingga bisa dibilang kata tersebut tidak dapat diandalkan sebagai istilah dalam sejarah, sekaligus membawa konotasi negatif yang hingga kini masih memengaruhi cara pembahasan soal pekerja seks.

Sebuah lukisan karya Franz Wilhelm Seiwert tahun 1927 berjudul 'Freudlose Gassen' atau 'Gang-Gang Suram'Foto: Galerie Berinson, Berlin

Distorsi serupa juga muncul di konteks lain. Di bekas Uni Soviet dan negara-negara blok Timur, pekerja seks pernah dituntut berdasarkan hukum yang menargetkan apa yang disebut "parasit sosial.” Istilah ini merujuk pada orang dewasa yang dianggap tidak melakukan "pekerjaan yang bermanfaat secara sosial,” tetapi hidup dari pendapatan di luar sistem kerja resmi. Kategori ini termasuk bagi para "pekerja seks".

Istilah ini menunjukkan bagaimana otoritas menggunakan kata-kata untuk mengontrol perilaku dan menentukan siapa yang dianggap sebagai pekerja "sah."

Jika dilihat berdampingan, istilah-istilah dalam glosarium tersebut memperlihatkan bagaimana penamaan tersebut sekian lamanya membawa asumsi tentang kelas sosial, gender, dan nilai seseorang di masyarakat.

Beberapa label secara jelas bersifat merendahkan: "Stricher” adalah istilah slang Jerman yang bersifat menghina, umumnya digunakan untuk mengejek laki-laki yang menjual jasa seksual, istilah ini berasal dari ungkapan "auf den Strich gehen" atau "berjalan di jalanan untuk mencari klien."

Pada 1990-an hingga awal 2000-an, istilah ini erat dikaitkan dengan pekerja seks laki-laki di sekitar Stasiun Bahnhof Zoo di Berlin. Istilah tersebut melekat dengan marginalisasi urban dan stigma sosial.

Di era digital, istilah seperti "porn performer" mencerminkan perubahan cara pekerja seksual diorganisir. Dari situs berlangganan di era-era awal hingga platform berbasis kreator seperti OnlyFans, para pelaku kini dapat memproduksi dan mendistribusikan konten mereka sendiri secara langsung. Sebagian menyebut diri sebagai pekerja seks, sebagian lainnya tidak.

Sebuah lukisan karya Mareike Tocha berjudul 'Ryan Huggins, Hustler Bar di Düsseldorf'Foto: Ryan Huggins, Galerie Khoshbakht, Mareike Tocha

Merebut kembali dan memperdebatkan istilah

Pameran ini juga menunjukkan bagaimana pekerja seks membentuk terminologi atau istilah dalam bahasa yang digunakan untuk menggambarkan diri mereka sendiri.

Istilah ”pekerja seks” atau pertama kali diperkenalkan pada akhir 1970-an oleh aktivis AS Carol Leigh, yang menginginkan istilah yang menggambarkan aktivitas, bukan label moral. Perubahan ini membuka ruang bagi organisasi, visibilitas, dan advokasi.

Istilah ”pekerja seks" menurut kurator Ernestine Pastorello, lebih dipilih karena "tidak melebih-lebihkan dan tidak kurang dari apa yang sedang dibicarakan," yaitu pertukaran layanan seksual dengan uang atau barang sebagai sarana penghidupan. Menurutnya, ini memberikan dasar yang lebih jelas untuk berdiskusi dibandingkan istilah yang dibentuk oleh asumsi moral kuno.

Perubahan cara memandang ini tak berhenti pada wacana, tetapi menjelma dalam praktik. Di berbagai belahan dunia, para pekerja seks merebut kembali kata-kata yang pernah melukai. Mereka memilih sebutan seperti “escort” (menemani klien) atau “stripper” (penari telanjang), dan menentang istilah yang dipaksakan dari luar. Dengan demikian mereka menegaskan hak untuk menamai diri, dan kisah hidup mereka sendiri.

Namun, di sisi lain, para kritikus berpendapat bahwa istilah "pekerja seks" dapat mengaburkan perbedaan penting. Peneliti dan aktivis yang berfokus pada perdagangan manusia dan eksploitasi, termasuk organisasi seperti Global Alliance Against Trafficking in Women serta akademisi seperti Gunilla Ekberg dari Swedia, menyatakan bahwa istilah ini dapat menyulitkan pengenalan situasi ketika seseorang menjual seks bukan karena pilihan bebas, melainkan karena kemiskinan, tekanan, atau tidak adanya alternatif nyata.

Perdebatan ini menunjukkan bagaimana istilah atau terminologi dalam bahasa dapat memperjelas sebagian pengalaman, tetapi sekaligus menyembunyikan pengalaman lainnya.

Sebagian pekerja seks telah menggunakan kembali label seperti 'penari telanjang' untuk menegaskan kendali atas pekerjaan merekaFoto: Sarah Ainslie

Istilah dan hubungannya dengan hak pekerja

Bagi Pastorello, pengakuan terhadap pekerja seks sebagai jenis pekerjaan tetap penting dalam diskusi tentang hak. Meski mengakui bahwa tidak semua orang masuk industri ini secara sukarela, ia berpendapat bahwa menyebutnya sebagai pekerjaan memungkinkan timbulnya ruang diskusi tentang keselamatan pekerja, perlindungan terhadap mereka, dan pembentukan organisasi kolektif.

"Dengan menganggapnya sebagai pekerjaan, kita bisa melindunginya dari perspektif serikat pekerja," katanya. "Hal ini terkait dengan penghormatan dasar untuk mengakui bahwa kami adalah pekerja dan karena itu berhak atas perlindungan dan hak yang sama."

Ia menambahkan bahwa faktor pemberdayaan tidak boleh menjadi syarat untuk pengakuan atas eksistensi mereka sebagai pekerja: "Hak kami untuk melakukan kerja-kerja di bidang layanan seksual harus didasarkan pada hak ketenagakerjaan, bukan pada apakah itu dianggap memberdayakan atau tidak."

Secara keseluruhan, dengan mendekatkan pekerja seks melalui ranah budaya, istilah dalam bahasa, dan pengalaman hidup, pameran ini menyiratkan bahwa memahami topik ini harus dimulai dari pengakuan atas kompleksitasnya, serta dengan memperhatikan kata-kata atau istilah yang digunakan masyarakat, dan bagaimana orang-orang yang sering terabaikan akibat istilah-istilah tersebut.

Pameran "Sex Work – A Cultural History" berlangsung di Bundeskunsthalle, Bonn, hingga 25 Oktober 2026.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

Sekilas tentang Jeffrey Epstein

00:57

This browser does not support the video element.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya