Pembantaian di Sekolah Albertville, Jerman
12 Maret 2009
Peristiwa mengamuknya seorang siswa sekolah berusia 17 tahun di kota Winnenden di selatan Jerman, yang menewaskan 15 orang dan dirinya sendiri, menjadi sorotan tajam dalam tajuk harian-harian internasional.
Harian Swiss Basler Zeitung yang terbit di Basel dalam tajuknya berkomentar :
Amat sulit di saat seperti ini mempertanyakan alasan aksi tsb, jika rasa segan terhadap para korban memaksa kita harus bungkam. Tapi, pertanyaan ini tetap harus dilontarkan. Karena dalam dunia kita sekarang ini, dengan gambaran online bagi aksi semacam itu, semakin terlihat sikap main hakim sendiri, yang terdengar seperti dakwaan dan berbau balas dendam. Kita harus sabar. Mencari penyebab aksi kekerasan itu dengan teliti, dan menarik kesimpulannya. Kita harus tetap mempertahankan prinsip negara hukum. Jika kita mengkhianatinya berarti kita juga mengkhianati peradaban.
Harian Perancis La Croix yang terbit di Paris berkomentar :
Terdapat sederet pertanyaan yang harus dijawab. Mengapa pelaku menjadi begitu? Separah apa keputus asaan yang ia derita? Mengapa tidak ada seorangpun yang menyadari hal itu? Siapa sebetulnya yang harus memberikan peringatan bahaya? Sama saja apakah itu di Jerman, AS, Finlandia atau Perancis, masalahnya tetap serupa. Tentu saja undang-undang pemilikan senjata dapat lebih dipertajam. Atau sekolah juga dijaga lebih ketat. Akan tetapi, semua peraturan, pintu pengaman atau detektor logam, menimbang aksi kekerasan dan pembantaian dalam situasi putus asa semacam itu, tidak akan ada gunanya, selama kita tidak mengajukan pertanyaan : masyarakat macam apa yang kita ciptakan untuk anak-anak kita?
Harian Jerman Leipziger Volkszeitung yang terbit di Leipzig berkomentar :
Sekarang kembali permainan komputer dan internet yang dituduh paling bersalah, jika aksi kekerasan semacam itu terjadi lagi. Selain itu disebut-sebut, pengawasan di pintu sekolah amat diperlukan. Sekolah harus diawasi dengan kamera video dan undang-undang pemilikan senjata harus diperketat. Semua itu omong kosong. Karena hanya memberikan sugesti mengenai keamanan 100 persen, yang mustahil terwujud. Karena aksi semacam itu pasti memiliki latar belakang. Amat jarang, pelaku tiba-tiba saja mengamuk ibarat petir di siang hari bolong. Selalu terdapat pertanda awal, termasuk seruan minta tolong akibat keputus asaan. Hanya saja hal semacam ini amat jarang dicermati.
Harian Jerman lainnya Kölner Stadt Anzeiger yang terbit di Köln juga menulis komentar senada :
Untungnya, para politisi sekarang ini tidak lagi melontarkan tudingan bahwa permainan komputer yang bersalah dan harus dilarang. Bukan permainan semacam itu yang membuat remaja menjadi pembunuh. Melainkan defisit dalam keluarga dan lingkungannya. Yang mendesaknya melarikan diri ke dunia maya dengan jatidiri baru yang mengerikan, sebagai pelaku balas dendam. Bukan daya tarik tokoh jahat yang menyeret para remaja ke dunia maya semacam itu, melainkan defisit rasa percaya diri dan dalam waktu bersamaan juga perilaku ganjil terlalu tinggi menilai kemampuan diri sendiri.
Terakhir harian liberal Austria Der Standard yang terbit di Wina berkomentar :
Pemerintah Jerman telah berbuat banyak setelah aksi pembantaian pelajar di Erfurt tujuh tahun lalu. Undang-undang pemilikan senjata sudah diperketat. Pembelian permainan komputer juga dipersulit. Akan tetapi, juga banyak hal yang tidak dikerjakan. Usulan menempatkan seorang psikolog di setiap sekolah misalnya. Apakah dalam kasus Winnenden, hal itu juga ada gunanya, memang tidak ada jawaban tegas. Yang jelas, yang amat menyakitkan adalah, Jerman harus memulai lagi dari awal program pencegahan aksi kekerasan semacam itu.