1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pembicaraan Koalisi di Jerman

30 September 2005

Pembicaraan antara dua fraksi terbesar di Jerman mengenai pembentukan koalisi pemerintahan masih belum membuahkan hasil. Kedua pihak masih saling mencari taktik dan waktu yang tepat untuk fase perundingan koalisi yang sebenarnya.

Symbolbild Kleine Parteien ganz groß
Foto: Fotomontage/AP Graphics/AP/DW

Hari Minggu di distrik pemilhan kota Dresden masih akan dilangsungkan pemilihan susulan. Jadi, CDU maupun SPD masih menunggu hasil penghitungan suara dari Dresden untuk menyusun tuntutannya dalam perundingan koalisi. SPD kelihatannya akan mengulur waktu. Sedangkan CDU berulangkali menegaskan tuntutan utama mereka: Angela Merkel harus menjadi kanselir Jerman dalam koalisi besar. Kedua pihak sepakat untuk meneruskan pembicaraan mereka Rabu depan. Tarik menarik alot memperebutkan kursi kanselir di Jerman tetap menjadi salah satu sorotan utama di Eropa, terutama di negara-negara tetangga Jerman.

Di Inggris, perkembangan politik di Jerman mendapat sorotan luas. Harian The Daily Telegraph yang terbit berkomentar:

Sejak 11 hari Gerhard Schröder menyatakan, ia punya mandat pemilih untuk terus memerintah sebagai kanselir Jerman. Ia bersikeras, sejak pemilu ia berhasil mengejar ketinggalan partainya dari partai CDU. Dalam situasi normal, Presiden Jerman Horst Köhler akan meminta Angela Merkel membentuk pemerintahan. Namun hal ini cukup rumit, karena pemungutan suara belum selesai. Hari Minggu di Dresden akan dilaksanakan pemungutan suara susulan. Hasil pemungutan suara di Dresden tidak akan mempengaruhi hasil pemilu secara keseluruhan. Tapi sebelum ada hasil Dresden, Schröder tidak akan menerima kekalahan. Tapi ada petunjuk bahwa Schröder mulai kehilangan kekuasaan. Kurt Beck, salah seorang Wakil Ketua SPD, tidak menutup kemungkinan terbentuknya koalisi besar tanpa kanselir saat ini. Juga mitra koalisinya yang dulu, Partai Hijau, mengusulkan agar Schröder mundur saja. Selama tujuh tahun pemerintahannya, Schröder hanya melakukan pembaruan kecil. Ia juga tidak bisa memenuhi janjinya dalam kampanye untuk menurunkan angka pengangguran. Masa Schröder sudah berlalu. Lebih cepat ia meninggalkan jabatan kanselir, lebih baik.”

Perebutan kursi kanselir antara Schröder dan Merkel memang jadi fokus utama berbagai ulasan. Harian Swiss Tages-Anzeiger yang terbit di Jenewa menulis:

“Dalam 10 hari terakhir terlihat jelas, apa yang membuat politik di Jerman saat ini jadi sangat rumit: Semuanya terfokus pada masalah kekuasaan, jabatan dan siapa orangnya. Para politisi maupun wartawan hanya berkonsentrasi pada soal ini. Selama kampanye, partai-partai sibuk menyerukan soal arah politik. Tapi sejak hari pemungutan suara, politik beralih ke satu persoalan saja: Siapa yang akan menjadi kanselir Jerman?”

Harian konservatif Swedia Svenska Dagbladet membandingkan situasi di Jerman dan Inggris:

“Jerman sedang dilanda ketakutan reformasi dan setelah pemilihan umum, mereka juga kehilangan kanselir reformasi. Sangat berbeda nada pidato Perdana Menteri Tony Blair pada kongres Partai Buruh. Dalam pidatonya ia berbicara tentang perbaikan yang telah dicapai selama masa pemerintahannya, namun pesan terpentingnya adalah, ia belum akan mundur, malah akan mendorong terus upaya pembaruan. Blair memang politisi yang punya tekad dan visi untuk menyongsong masa depan.”

Hal lain yang terus menjadi sorotan media adalah situasi konflik Israel-Palestina. Setelah penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, ternyata konflik tidak mereda. Harian Austria Salzburger Nachrichten menulis:

“Pemerintahan otonomi Palestina dalam kasus Gaza belum membuktikan kemampuan memerintah. Malah sebaliknya, Presiden Abbas kelihatan tidak berniat dan juga tidak mampu mengendalikan kelompok Hamas. Pelucutan senjata maupun integrasi politik kelompok-kelompok ekstrim belum jadi bahan pembicaraan serius. Hamas kelihatannya bertekad memperluas perlawanan bersenjata ke Tepi Barat. Sementara Perdana Menteri Sharon terus menciptakan fakta. Melalui pembangunan tembok pemisah di kawasan Palestina dan melalui peluasan pemukiman Yahudi di Tepi Barat. Ini semua bisa menyulut Intifada ketiga. Perdamaian masih jauh.”