1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Penegakan HukumKamboja

Pembunuh Eks Anggota Oposisi Kamboja Divonis Seumur Hidup

Kalika Mehta sumber: AFP, AP, Reuters
3 Oktober 2025

Lim Kimya, mantan anggota parlemen oposisi di Kamboja, tewas ditembak di Bangkok pada 7 Januari.

Anne-Marie Lim (tengah), janda mantan anggota parlemen oposisi Kamboja Lim Kimya yang ditembak mati di Bangkok, memegang foto mendiang suaminya saat berbicara kepada pers sebelum sidang saksi pertama di Pengadilan Pidana Bangkok pada 30 September 2025.
Istri Lim Kamya menyerukan agar semua pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawabanFoto: Chanakarn Laosarakham/AFP/Getty Images

Seorang pembunuh bayaran asal Thailand yang membunuh seorang politikus oposisi Kamboja di Bangkok dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada Jumat (03/10) atas tuduhan pembunuhan.

Lim Kimya, mantan anggota parlemen oposisi di Kamboja, tewas ditembak di kawasan tua Bangkok pada 7 Januari.

Kimya ditembak di bagian dada tak lama setelah tiba di ibu kota Thailand dengan bus dari Kamboja. Istrinya yang berkewarganegaraan Prancis juga berada di sana dan menyaksikan langsung pembunuhan suaminya.

Tersangka asal Thailand, yang ditangkap di Kamboja sehari setelah penembakan, sebelumnya terancam hukuman mati atas tuduhan pembunuhan berencana. Namun, karena mengaku bersalah, hukumannya dikurangi menjadi penjara seumur hidup.

Siapa Lim Kimya?

Kimya, 74 tahun, memiliki kewarganegaraan ganda Kamboja dan Prancis serta pernah menjadi anggota Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (Cambodia National Rescue Party/CNRP) pada 2013 hingga 2017.

CNRP merupakan gerakan oposisi utama di Kamboja, namun dibubarkan oleh Mahkamah Agung pada 2018 menjelang pemilu dengan tuduhan melakukan konspirasi pengkhianatan. Saat itu, CNRP membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya rekayasa.

Dua tersangka masih buron

Dua pria lain yang diduga warga negara Kamboja masih diburu terkait kasus ini. Salah satu dituding sebagai pihak yang menyewa pembunuh bayaran, sementara lainnya disebut sebagai pengintai yang berada di bus bersama korban dan istrinya.

Salah satu tersangka diketahui pernah menjadi ajudan pemimpin partai berkuasa sebelumnya, Hun Sen. Partai berkuasa di Kamboja kemudian merilis pernyataan bahwa tersangka tersebut diberhentikan dari jabatannya pada Maret 2024.

Hun Sen sendiri memimpin Kamboja hampir empat dekade hingga 2023. Sejumlah negara Barat dan organisasi hak asasi manusia selama ini menuduh pemerintahannya menggunakan sistem hukum untuk membungkam oposisi.

 

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid