Lim Kimya, mantan anggota parlemen oposisi di Kamboja, tewas ditembak di Bangkok pada 7 Januari.
Istri Lim Kamya menyerukan agar semua pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawabanFoto: Chanakarn Laosarakham/AFP/Getty Images
Iklan
Seorang pembunuh bayaran asal Thailand yang membunuh seorang politikus oposisi Kamboja di Bangkok dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada Jumat (03/10) atas tuduhan pembunuhan.
Lim Kimya, mantan anggota parlemen oposisi di Kamboja, tewas ditembak di kawasan tua Bangkok pada 7 Januari.
Kimya ditembak di bagian dada tak lama setelah tiba di ibu kota Thailand dengan bus dari Kamboja. Istrinya yang berkewarganegaraan Prancis juga berada di sana dan menyaksikan langsung pembunuhan suaminya.
Tersangka asal Thailand, yang ditangkap di Kamboja sehari setelah penembakan, sebelumnya terancam hukuman mati atas tuduhan pembunuhan berencana. Namun, karena mengaku bersalah, hukumannya dikurangi menjadi penjara seumur hidup.
Siapa Lim Kimya?
Kimya, 74 tahun, memiliki kewarganegaraan ganda Kamboja dan Prancis serta pernah menjadi anggota Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (Cambodia National Rescue Party/CNRP) pada 2013 hingga 2017.
CNRP merupakan gerakan oposisi utama di Kamboja, namun dibubarkan oleh Mahkamah Agung pada 2018 menjelang pemilu dengan tuduhan melakukan konspirasi pengkhianatan. Saat itu, CNRP membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya rekayasa.
Monumen Mengenang Korban Rezim Komunisme
Hingga Tembok Berlin runtuh tahun 1989, sekitar sepertiga warga dunia masih hidup di bawah rezim komunis. Melalui monumen dan karya seni, negara-negara berikut ingin menegaskan kalau para korban tidak dilupakan.
Foto: Bundesstiftung zur Aufarbeitung der SED-Diktatur
Kamboja: Korban Khmer Merah
Diperkirakan 2,2 juta orang Kamboja dibunuh selama pemerintahan teror Khmer Merah yang berhaluan komunis. Jumlah ini setara dengan separuh populasi negara itu. Setelah diinvansi oleh tentara Vietnam yang juga komunis, sisa-sisa jenazah manusia dan tengkorak dipamerkan kepada masyarakat guna memperingati kejahatan perang. Bahkan hingga kini, diduga masih ada kuburan massal yang belum ditemukan.
Foto: Bundesstiftung zur Aufarbeitung der SED-Diktatur
Jerman: Memorial Hohenschönhausen
Lebih dari 11.000 orang dipenjara antara tahun 1951 hingga 1989 di pusat penahanan polisi rahasia Jerman Timur (Stasi). Sebelumnya, bangunan di area Berlin Hohenschönhausen ini digunakan oleh tentara pendudukan Soviet sebagai kamp khusus untuk orang-orang yang dituduh melawan rezim. Dari sana, para tahanan diangkut ke kamp kerja paksa Gulag, banyak yang mati karena kelaparan dan kelelahan.
Foto: picture alliance/dpa/P. Zinken
Korea: "Jembatan Kebebasan"
Jembatan di atas Sungai Imjin ini didirikan awal abad ke-20, dan menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan Korea Utara dengan Selatan. Jembatan ini juga memegang peran besar bagi kepentingan militer selama Perang Korea tahun 1950-1953. Dari sisi selatan melalui dermaga kayu Anda dapat mencapai perbatasan. Banyak pengunjung yang meninggalkan bendera dan pesan pribadi di tempat ini.
Foto: Bundesstiftung zur Aufarbeitung der SED-Diktatur
Republik Ceko: Memorial untuk para korban
Tujuh patung perunggu berdiri di tangga putih di kaki Bukit Petřin di Praha. Diresmikan tahun 2002, monumen ini dibuat oleh pematung yang juga mantan tahanan politik, Olbram Zoulbek. Monumen ini tidak hanya didedikasikan bagi mereka yang "dipenjarakan atau dieksekusi tetapi juga bagi semua orang yang hidupnya hancur oleh rezim totalitarian."
Foto: Bundesstiftung zur Aufarbeitung der SED-Diktatur
Kazakhstan: Korban kelaparan
Sekitar 1,5 juta orang dari etnis Kazakh mati karena kelaparan tahun 1932-1933. Tragedi ini terjadi diantaranya karena kegagalan sistem pertanian kolektif yang dipaksakan oleh rezim Soviet. Patung di Ibukota Astana ini dibuat untuk mengenang para korban dan diresmikan 31 Mei 2012, yang merupakan hari nasional untuk memperingati para korban penindasan politik.
Foto: Dr. Jens Schöne
Georgia: Museum pendudukan Uni Soviet
Di kota kelahirannya di Gori, Georgia, diktator Soviet Joseph Stalin menjadi pahlawan dan ada museum yang memakai namanya. Ini terjadi dalam jangka waktu 65 tahun setelah kematiannya dan 27 tahun setelah Georgia kembali merdeka. Namun saat ini ada rencana untuk mengubah isi pameran di museum karena kejahatan Stalin menjadi isu sentral di Museum Nasional Georgia di Tbilisi sejak 2006.
Foto: Bundesstiftung zur Aufarbeitung der SED-Diktatur
Amerika Serikat: Para korban di desa Katyn
Pada 1940, Soviet membunuh sekitar 4.400 tahanan perang Polandia, utamanya para perwira, di sebuah hutan dekat desa Katyn di Rusia. Di Polandia, pembantaian ini identik dengan serangkaian pembunuhan massal. Inisiatif pendirian monumen di New Jersey ini diawali oleh seorang migran Polandia di AS untuk mengenang semua korban komunisme Soviet. (ae)
Foto: Dr. Jens Schöne
7 foto1 | 7
Dua tersangka masih buron
Dua pria lain yang diduga warga negara Kamboja masih diburu terkait kasus ini. Salah satu dituding sebagai pihak yang menyewa pembunuh bayaran, sementara lainnya disebut sebagai pengintai yang berada di bus bersama korban dan istrinya.
Salah satu tersangka diketahui pernah menjadi ajudan pemimpin partai berkuasa sebelumnya, Hun Sen. Partai berkuasa di Kamboja kemudian merilis pernyataan bahwa tersangka tersebut diberhentikan dari jabatannya pada Maret 2024.
Hun Sen sendiri memimpin Kamboja hampir empat dekade hingga 2023. Sejumlah negara Barat dan organisasi hak asasi manusia selama ini menuduh pemerintahannya menggunakan sistem hukum untuk membungkam oposisi.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris