1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perundingan Jenewa Tahap Kedua Dilanjutkan

Claudia Witte11 Februari 2014

Dialog perdamaian tahap kedua antara pemerintah dan oposisi Suriah dilanjutkan di Jenewa. Penduduk sipil berhasil diungsikan dari kota Homs, tapi harapan berakhirnya pertempuran sangat kecil.

Evakuasi penduduk sipil dari HomsFoto: Reuters

Wakil-wakil pemerintah Suriah dan oposisi mulai Senin (10/02) melanjutkan konsultasi perdamaian di Jenewa. Perundingan sebelumnya yang dilakukan akhir Januari lalu berakhir tanpa hasil.

Akhir minggu lalu, pertempuran sempat dihentikan di kota Homs untuk memberi kemungkinan bagi warga sipil yang terkurung meninggalkan kota itu. Konvoi PBB berhasil menyalurkan sedikit bahan makanan dan obat-obatan, sebelum baku tembak kembali terjadi antara pasukan pemerintah dan pemberontak. Kedua pihak saling menyalahkan ada pelanggaran gencatan senjata.

Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Lakhdar Brahimi mengatakan, ia pertama-tama akan melakukan pembicaraan terpisah dengan kedua delegasi. Menurut kalangan diplomatik, Brahimi ingin memastikan bahwa kedua pihak memang ingin melanjutkan perundingan.

Sedikit harapan

Pembicaraan sebelumnya di Jenewa menunjukkan betapa sulitnya perundingan antara kedua pihak. Namun kenyataan bahwa pihak-pihak yang bertikai mau melakukan pembicaraan, sudah merupakan kemajuan, kata Mohammad Ould Mohamedou dari lembaga Penelitian Politik Keamanan Jenewa, GCSP.

"Di satu pihak, ada kubu oposisi yang ingin memperkuat posisinya untuk menyingkirkan Assad, seperti yang mereka katakan. Di pihak lain ada rejim Assad, yang tadinya menolak segala bentuk perundingan", kata Mohamedou.

Karena itu ia memperingatkan, tidak akan ada kemajuan cepat dalam perundingan di Jenewa. Semua langkah hanya bisa dicapai dengan susah payah. Fokus utamanya adalah bagaimana menghentikan kekerasan yang masih terus berlangsung.

Wakil-wakil pemberontak menuntut agar segera dibahas langkah-langkah untuk membentuk pemerintahan transisi. Sementara rejim di Suriah bersikeras membicarakan dulu bagaimana menghentikan kekerasan, yang mereka sebut dengan "aksi terorisme". Pemerintah Suriah terutama mengangkat isu kegiatan kelompok jihadis yang makin meluas.

Masalah kemanusiaan mendesak

Pakar Timur Tengah Mohammad Ould Mohamedou menerangkan, konsultasi Suriah di Jenewa adalah salah satu perundingan yang paling rumit dan bisa berlangsung sampai berminggu-minggu atau bahkan beberapa bulan.

Padahal, situasi kemanusiaan di lokasi pertempuran, seperti di kota-kota besar Aleppo dan Homs, makin lama makin kritis. Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Jens Laerke mengatakan, situasi di Homs menunjukkan bagaimana sulitnya mencapai kemajuan yang sangat kecil pun.

Hampir seperempat juta orang di Suriah terkurung di kawasan-kawasan yang dikepung (pasukan pemerintah). Artinya, mereka sama sekali tidak punya akses pada bantuan kemanusiaan", kata Laerke. Ia menegaskan, menurut hukum internasional, pemerintah Suriah wajib membuka jalur untuk bantuan pada masyarakat sipil.

Laerke melanjutkan, masih ada jutaan warga Suriah yang perlu bantuan. "Sangat penting bagi kami untuk bisa mencapai 9,3 juta warga Suriah yang saat ini sangat memerlukan bantuan".

Perang saudara di Suriah sudah berlangsung selama hampir tiga tahun dan menewaskan sekitar 130.000 orang. Jutaan orang terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga. Sampai saat ini, Rusia dan Cina memblokir resolusi sanksi terhadap rejim Assad di Dewan Keamanan PBB. Namun Rusia mendukung perundingan di Jenewa.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait