1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemilihan Parlemen di Rusia

30 November 2007

Pemungutan suara bagi Putin untuk membentuk pemerintahan baru dengan pola lama, pemerintahan otoriter.

Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato lewat televisi.Foto: AP

Hari Minggu (02/12) diselenggarakan pemilihan parlemen di Rusia. Harian Italia La Repubblica menilai, Presiden Putin akan menjadikannya sebagai referendum. Karena dalam pidato lewat televisi, Putin meminta dukungan bagi politik yang dijalankannya.

"Itu adalah pesan agar pada hari Minggu besok warga Rusia memilih Partai Rusia Bersatu, dengan calon utamanya Putin sendiri. Inti pesan itu adalah: karena Rusia kembali menjadi berbobot di bawah pimpinannya, dan keadaan wargapun bertambah baik, maka wajarlah bila ini dilanjutkan. Tanpa dirinya akan terjadi kekacauan.
Dan sangat kebetulan pula bahwa kejaksaan kota Moskow pada saat bersamaan mengumumkan, bahwa Boris Beresowski, pengritik Kremlin yang tinggal di pengasingan, digugat karena dianggap menggelapkan 6,1 juta Dollar dari perusahaan penerbangan Aeroflot. Apa yang diperlihatkan Putin adalah rapat raksasa pemilu yang berlangsung di semua panggung. Televisi merupakan 'perekat' bagi Rusia. Putin hendak menjadikan pemilihan parlemen sebagai referendum."

Menanggapi keadaan di Rusia menjelang pemilihan parlemen, harian liberal Swedia Dagens Nyheter punya pendapat serupa:

"Pemilihan Duma dapat dianggap sebagai pemungutan suara rakyat bagi Putin. Pemimpin Kremlin itu sedang merakit bentuk pemerintahan baru berpola lama, yaitu pemerintahan yang otoriter. Berbagai aksi berlebihan dilakukan terhadap kelompok oposisi yang lemah. Pada saat bersamaan mereka dikatakan mewakili kepentingan asing. Yang dimaksudkan adalah AS. Pemilu ini mengingatkan orang pada pemungutan suara serupa yang dijalankan oleh Jendral de Gaulle di Prancis dulu, dimana ia meminta mandat pada warga Prancis. Sekarang Kremlin menginginkan mandat dengan sekurangnya 80 persen suara. Itu akan merupakan legitimasi pemerintahan di mata hampir semua warga Rusia. Pada saat bersamaan legitimasinya di mata negara lain semakin pupus."

Harian Prancis La Croix yang terbit di Paris juga membahas keadaan di Rusia menjelang pemilu:

"Kedua mandat presiden bagi Putin, yang diawali dengan kesederhanaan, kini akan berakhir bersama dengan mimpi akan kembalinya kekuatan Rusia yang lama. Itu merupakan belaian bagi rakyat dan menjamin kekayaan bagi kalangan oligarkhi di balik bayangan sang presiden. Pakta antara politik dan ekonomi merupakan upaya untuk menghentikan pengobralan negeri Rusia yang dimulai pada masa kekuasaan Boris Jeltsin. Perekonomian Rusia memulihkan diri dengan ditunjang pendapatan dari penjualan minyak bumi dan gas. Keuntungan besar diperoleh dari melonjaknya harga di pasaran bahan baku dunia. Oleh sebab itu banyak yang mengandalkan Vladimir Putin, walaupun ia memerintah dengan tangan besi, kurangnya keamanan dalam negeri, merebaknya penyalah-gunaan minuman beralkohol dan usia harapan hidup yang setara dengan di negara-negara berkembang."

Sedangkan harian Jerman Die Zeit dalam edisi onlinenya menulis:

"Di bawah Putin Rusia mengalami perubahan slogan. Pilihannya hanya dua, 'Rusia yang besar, atau tidak ada sama sekali'. Negara yang kuat, adidaya dan patriotisme merupakan penyelesaian yang dikombinasikan dengan reformasi perekonomian. Untuk menciptakan ilusi, bahwa dunia harus memperhitungkan Rusia yang bersatu, para perancang politik di Kremlin membenarkan semua langkah yang dilakukan. Tetapi harus diingat adanya ancaman, bahwa semua yang sudah berjalan tidak dapat dihentikan lagi. Sistem kekuasaan Putin yang dianggap stabil itu sudah mengandung kegagalan."