1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemilihan Presiden di Iran

12 Juni 2009

Inilah pemilu terpenting sejak revolusi Islam. Untuk pertama kalinya para calon presiden berdebat secara terbuka. Publik Iran antusias ikut pemilu.

Symbolbild Presseschau Pers Internasional

Harian Inggris Times menulis:

Selama 30 tahun sejak revolusi Islam 1979, tidak ada pemilihan umum yang begitu terbuka seperti kali ini. Diiringi perdebatan sengit antara para kandidat, pemilu presiden ini sangat menentukan masa depan Iran. Nada politik dan perkembangan negara ini akan tergantung dari hasil pemilu. Para pemimpin revolusi Islam yang intoleran telah menggiring politik luar negeri Iran ke situasi isolasi internasional. Amerika Serikat dan sekutunya sekarang menanti, apakah sengketa atom bisa diselesaikan lewat perundingan. Dan apakah Iran terus mendukung teror dan mengancam negara-negara tetangganya dan Israel.

Harian Perancis Liberation berkomentar:

Angin kebebasan sedikit berhembus di Iran. Pemilu Presiden ini mungkin merupakan pemilu terpenting sejak revolusi Islam. Selama tiga minggu masa kampanye, negara ini benar-benar tergetar. Ada demam yang menjalar, yang lama tidak dialami warganya. Penduduk Iran tiba-tiba tertarik lagi pada politik. Terutama kaum muda rindu perubahan.

Harian Austria Kurier dalam tajuknya menulis:

Kalau kita lupakan dulu, bahwa para calon presiden diseleksi oleh sebuah dewan pengawas yang begitu berkuasa, maka suasana di Iran hari-hari terakhir ini bisa mengesankan suasana demokratis. Para pimpinan agama dan tokoh-tokoh masyarakat ramai-ramai menyerukan pada warganya agar ikut memberikan suara. Bagi rejim yang berkuasa, tingginya tingkat partisipasi bisa jadi alasan legitimasi sebuah sistem yang stabil, tapi kosong gagasan. Banyak warga muda yang berpaling dari politik. Padahal 70 persen penduduk Iran berusia di bawah 30 tahun. Jadi, siapa pun yang menang pemilu, perlu melakukan perubahan. Hal ini dipahami juga oleh kelompok konservatif yang mendominasi kekuasaan.

Harian Jerman Süddeutsche Zeitung menilai:

Di negara-negara Barat, presiden Iran saat ini dianggap sebagai politisi dengan retorika kacau. Namun di negaranya, ia punya peluang menjadi presiden untuk kedua kali. Tema pemilu ini memang bukan sengketa atom atau soal holocaust. Ini mungkin tema penting bagi perspektif Barat. Bagi warga Iran, tema yang penting adalah situasi ekonomi, kesejahteraan dan kebebasan sehari-hari.

Harian Spanyol Corriere della Sera menyoroti peran masyarakat internasional dan menulis:

Tugas masyarakat internasional adalah turut menyelamatkan Iran, apapun hasil pemilunya. Menyelamatkan Iran maksudnya, mencari kesepakatan serius mengenai rencana nuklir Teheran. Tentunya tanpa melupakan, bahwa program penggunaan nuklir untuk tujuan sipil, yang selama ini dituntut Ahmadinejad, juga didukung oleh pesaing terkuatnya Mir Hossein Mussavi. Jika Ahmadinejad kalah, berbagai opsi akan terbuka.

SL/HP/afp/dpa