Tanpa Liga Awami di surat suara, pemilu Bangladesh kali ini menandai pergeseran besar. Aliansi Islamis menguat, perdebatan sekularisme kembali mencuat, dan agenda reformasi terancam mandek di tengah polarisasi politik.
Jamaat-e-Islami berupaya mengonsolidasikan suara Islamis dengan membentuk aliansi elektoral yang terdiri dari 11 partaiFoto: Mamunur Rashid/NurPhoto/picture alliance
Partai yang selama ini mendominasi, Awami League (AL), dilarang ikut serta. Dalam kekosongan politik tersebut, aliansi Islamis yang diperkuat Partai Warga Nasional (National Citizen Party/NCP) yang dipimpin mahasiswa, muncul sebagai penantang kuat. Untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan pada 1971, kekuatan Islamis diperkirakan mencatatkan perolehan suara terkuatnya, mengubah ekspektasi terhadap arah politik negara mayoritas Muslim itu.
Perubahan drastis ini terjadi setelah pemberontakan mahasiswa pada Juli 2024 yang mengakhiri pemerintahan keras Perdana Menteri saat itu, Sheikh Hasina. Sejumlah petinggi AL kini menghadapi persidangan atas kematian ratusan orang selama kerusuhan.
Dengan AL dibekukan sambil menunggu proses hukum, simbol ikonik partai tersebut, perahu, untuk pertama kalinya tidak akan muncul di surat suara.
Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat
Heboh WhatsApp, Facebook dan Twitter tidak bisa diakses pasca-kisruh 22 Mei ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Negara lain ternyata juga pernah melakukan hal serupa. Negara mana saja dan apa alasan pemblokiran?
Foto: Reuters/W. Kurniawan
Indonesia
61.000 akun Whatsapp, 640 akun Instragram, 848 akun Twitter, 551 akun facebook diblokir pascakerusuhan akibat penolakan hasil Pemilu 2019. Warganet juga terkena imbas karena akses sosial media dibatasi. Meski ada saja netizen yang coba mengakses internet melalui VPN. Menurut Menkominfo Rudiantara ini adalah cara agar berita hoaks dan gambar provokatif tidak beredar memperkeruh suasana.
Foto: Reuters/W. Kurniawan
Sri Lanka
Akibat banyaknya berita hoaks tersebar pasca-peristiwa bom bunuh diri Paskah (21/04), pemerintah Sri Lanka menutup jejaring sosial Facebook, Twitter, YouTube, Instagram dan WhatsApp selama 9 hari. Bom yang menewaskan 258 orang dan menyebabkan 500 orang terluka diduga didomplengi ISIS. Banyak yang mengaku menggunakan VPN dan TOR agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat dekat.
Foto: Getty Images/L. Wanniarachchi
Bangladesh
Pemerintah menghentikan layanan internet 3G dan 4G sebelum pemilu untuk jaga keamanan negara dan mencegah penyebaran desas-desus, menurut Asisten Direktur Senior BTRC, Zakir Hossain Khan Desember 2018 lalu. Bangladesh bahkan menutup akses terhadap portal berita populer, Poriborton.com Selasa (21/05) karena laporannya menyebabkan kemarahan badan intelijen militer Bangladesh
Foto: DW/A. Islam
Sudan
Awal Januari 2019, pemerintah Sudan juga menutup akses media sosial populer setelah kerusuhan berlangsung selama dua minggu. Saat itu, warga protes agar Presiden Omar Al-Bashir turun dari jabatannya setelah berkuasa 20 tahun. Menurut Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Nasional Sudan, Salah Abdallah, pemblokiran sosial media sudah jadi bahan perbincangan sejak kisruh terjadi 21 Desember 2018.
Foto: Reuters/M. Nureldin Abdallah
Iran
Sejak 2018, aplikasi Telegram diblokir pemerintah karena dianggap telah digunakan sejumlah pihak anti-pembangunan di Iran. 40 dari 46 juta pengguna media sosial di Iran menggunakan Telegram untuk banyak hal, mulai dari berjualan pakaian hingga mencari dokter. Media sosial seperti Facebook dan Twitter sudah ditutup sejak tahun 2009.
Foto: picture alliance/dpa/D. Feoktistov/TASS
Rusia
Pertengahan tahun 2018, pemerintah Rusia juga menutup akses Telegram, aplikasi pesan instan yang dianggap aman dan terenkripsi baik. Bahkan pemerintah mengancam pemblokiran akses VPN untuk mengakses situs terlarang. Badan sensor Rusia telah mengirim notifikasi pemblokiran oleh 10 penyedia VPN di Rusia, di antaranya seperti KNordVPN, Hide My Ass! dan Kaspersky Secure Connection sejak April 2018.
Foto: picture alliance/dpa/V. Prokofyev
Cina
Cina memiliki platform media sosial sendiri yang dikelola oleh negara, seperti WeChat, Weibo, QQ dan YouKu. Media sosial besar seperti Facebook, YouTube dan WhatsApp tidak bisa diakses. Lewat sistem poin (scoring system), kebebasan berekspresi baik melalui media sosial maupun telepon kini dimonitor penuh oleh pemerintah. Ed: ss/ts (Reuters, AFP)
Foto: picture-alliance/dpa
7 foto1 | 7
Blok Islamis menguat
Di tengah kekosongan ini, Jamaat-e-Islami (JI), yang lama terpinggirkan karena menentang perang kemerdekaan 1971, berupaya mengonsolidasikan suara Islamis.
Iklan
Meski mitra kunci Islami Andolan mundur di menit terakhir akibat sengketa pembagian kursi, 11 partai tetap bersatu di bawah kepemimpinan Jamaat.
Secara historis, partai-partai Islamis kesulitan meraih suara signifikan. Namun survei terbaru menunjukkan persaingan ketat. International Institute of Law and Diplomacy mencatat aliansi yang dipimpin Bangladesh Nationalist Party (BNP) memperoleh 44,1 persen, sedikit unggul dari blok Jamaat dengan 43,9 persen. Beberapa jajak pendapat lain memproyeksikan BNP meraih keunggulan kursi yang lebih nyaman.
Analis politik Altaf Parvez menilai Bangladesh telah bergeser dari tengah-kiri ke tengah-kanan, bahkan lebih jauh ke kanan. “Masyarakat sudah menerima bahwa siapa pun pemenang pemilu, mereka akan hidup dalam Bangladesh yang condong ke kanan,” ujarnya kepada DW.
BNP, yang sebelumnya bersekutu dengan Jamaat untuk melawan AL, kini bersaing langsung dengan koalisi Islamis, terutama dalam memperebutkan suara jutaan pemilih muda yang tergerak oleh pemberontakan 2024. Untuk menarik pemilih ragu-ragu, BNP kembali menyoroti warisan Jamaat pada 1971 dengan melabelinya sebagai “antikemerdekaan.”
Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), yang sebelumnya bersekutu dengan Jamaat untuk menghadapi Awami League (AL), kini berada dalam persaingan langsung dengan koalisi IslamisFoto: Zabed Hasnain Chowdhury/NurPhoto/picture alliance
NCP dan politik pragmatisme yang memecah internal
Kejutan terbesar dalam siklus pemilu ini adalah langkah NCP, kekuatan mahasiswa yang menjadi motor pemberontakan 2024. Setahun lalu, pimpinan NCP menyatakan akan maju sendiri secara nasional.
Pada Februari 2025, koordinator NCP Nahid Islam mengatakan kepada media India bahwa “pemilih tidak akan percaya pada kepemimpinan Jamaat.” Ia menilai politik Islamis “tidak memiliki masa depan di Bangladesh.”
Keputusan NCP bergabung dengan aliansi pimpinan Jamaat kurang dari setahun kemudian mengejutkan pendukungnya.
Dalam wawancara dengan DW pada Januari 2026, Nahid Islam menegaskan kerja sama itu “bukan ideologis, melainkan murni elektoral.” Ia menyebut tidak realistis membangun kehadiran nasional dalam waktu satu tahun. Aliansi tersebut, katanya, memberi “kesempatan memengaruhi reformasi pascapemilu.” Ia juga menilai Jamaat lebih dekat dibanding BNP dalam isu reformasi dan antikorupsi.
Namun langkah ini memicu perpecahan internal. Sejumlah pimpinan senior mengancam mundur dan secara terbuka menentang keputusan tersebut.
Wakil koordinator senior Samantha Sharmin mengatakan kepada DW bahwa banyak pemilih melihat NCP sebagai alternatif politik lama, tetapi kini ragu apakah masih perlu mendukung partai itu. Ia menilai Jamaat bukan mitra yang dapat diandalkan, mengingat dukungannya terhadap Pakistan pada 1971.
Perdebatan sekularisme kembali mencuat
Pemilu kali ini juga menghidupkan kembali perdebatan tentang identitas konstitusional Bangladesh.
Konstitusi pertama tahun 1972 menegaskan sekularisme sebagai prinsip dasar. Namun rezim militer kemudian mengubahnya: pada 1979 di bawah Ziaur Rahman ditambahkan frasa “Bismillahir Rahmanir Rahim” dalam pembukaan, dan pada 1988 Presiden Hussain Muhammad Ershad menetapkan Islam sebagai agama negara.
Pascapemberontakan 2024, tuntutan penulisan ulang konstitusi menyempit menjadi reformasi terbatas. Komisi Reformasi Konstitusi merekomendasikan Islam tetap sebagai agama negara dan sekularisme tidak dicantumkan.
Sekretaris Jenderal BNP Mirza Fakhrul Islam Alamgir mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sekularisme “tidak cocok” bagi Bangladesh yang mayoritas Muslim. “Jika hak mereka dapat dijamin, maka tidak ada masalah,” ujarnya.
Meski AL mengeklaim membela sekularisme, partai itu tidak pernah mencabut status istimewa Islam.
Empat partai kiri memboikot pertemuan penting pada Juli sebagai protes atas dihilangkannya sekularisme dari usulan reformasi.
Mahfuz Alam, salah satu penggerak pemberontakan dan penasihat interim yang baru mengundurkan diri, mengatakan kepada DW bahwa perpecahan antara kelompok sekuler dan Islamis telah mengeras menjadi konfrontasi terbuka tanpa ruang negosiasi.
Analis Pervez memperingatkan kelompok minoritas, agama, gender, maupun ideologi, berisiko semakin terpinggirkan. Ia menyebut parlemen berikutnya berpotensi menjadi “klub orang kaya” dengan representasi terbatas bagi pekerja, petani, perempuan, dan minoritas.
Di Mana Perempuan Berkuasa
Di dunia ada 194 negara yang diakui secara internasional. Sebagian besar dipimpin pria. Perempuan jarang memimpin pemerintahan. Tapi mereka yang berkuasa benar-benar pemimpin yang kuat.
Foto: picture-alliance/dpa/Bildfunk
Angela Merkel
Merkel berusia 62 tahun, dan jadi kanselir sejak 2005. Ia adalah pemimpin perempuan pertama Jerman, dan sekarang sedang berkampanye untuk periode ke empat. Putri seorang pendeta, yang besar di negara komunis Jerman Timur itu punya gelar Doktor di bidang kimia, dan dijadikan "Tokoh 2015" oleh majalah Time.
Foto: picture-alliance/dpa/O.Hoslet
Theresa May
Theresa May adalah perdana menteri perempuan ke dua di Inggris, setelah Margaret Thatcher yang memimpin di tahun 1980-an. May (60) dulu menjabat menteri dalam negeri, dan resmi jadi perdana menteri Juli 2016, hanya beberapa pekan setelah Brexit. Berapa lama ia akan memerintah belum jelas. Tetapi sebuah jajak pendapat yang baru diadakan menunjukkan ketidaksukaan warga terhadapnya.
Foto: picture-alliance/dpa/H. Tyagi
Tsai Ing-wen
ia adalah perempuan pertama yang jadi presiden Taiwan. Inaugurasinya Mei 2016 menyebabkan Cina membekukan hubungan dengan negara pulau, yang dinilai Cina provinsi yang membangkang. Tsai menyatakan tidak akan tunduk pada tekanan untuk takluk kepada Cina.
Foto: Reuters/T. Siu
Ellen Johnson Sirleaf
Perempuan yang berusia 78 tahun ini sudah jadi presiden Liberia sejak 2006. Ia juga jadi perempuan pertama yang memimpin negara di Afrika. 2011, Sirleaf dan dua aktivis prempuan lain dari Liberia dan Yaman dianugerahi Nobel Perdamaian, untuk "perjuangan tanpa kekerasan untuk keamanan perempuan, dan hak-hak perempuan untuk berpartisipasi dalam penegakkan perdamaian."
Foto: Reuters/N. Kharmis
Dalia Grybauskaite
Dalia Grybauskaite adalah perempuan pertama yang memimpin Lithuania, di tepi Laut Baltik. Ia kerap disebut "Iron Lady" atau "Magnolia Baja" karena punya sabuk hitam dalam karate dan selalu berbicara dengan tegas. Grybauskaite (61) sudah memangku beberapa jabatan pemerintahan sebelum dipilih jadi presiden tahun 2009, kemudian untuk periode ke dua di tahun 2014.
Foto: Reuters/E. Vidal
Erna Solberg
Norwegia juga dipimpin perempuan. Erna Solberg (56) jadi perdana menteri 2013, dan jadi perempuan kedua yang memangku jabatan itu, setelah Gro Harlem Brundtland. Kebijakan suakanya yang ketat menyebabkan orang memberikannya julukan "Iron Erna."
Foto: picture-alliance/dpa/V. Wivestad Groett
Beata Szydlo
Ia adalah perdana menteri perempuan Polandia yang ketiga, dan memangku jabatan sejak November 2015. Fokus politiknya: menjamin keamanan bagi seluruh warga Polandia, dan berperan dalam keamanan Uni Eropa. Sebelum jadi perdana menteri, ia jadi walikota dan anggota parlemen.
Foto: picture-alliance/W. Dabkowski
Saara Kuugongelwa-Amadhila
Perdana menteri ke empat Namibia ini mulai menjabat tahun 2015. Kuugongelwa-Amadhila (49) hidup di pengasingan di Sierra Leone ketika remaja. Ia mendapat pendidikan tinggi di AS, tamat kuliah dengan gelar di bidang ekonomi, sebelum kembali ke Namibia tahun 1994, dan mulai aktif dalam politik. Ia perempuan pertama yang memimpin pemerintahan Namibia, dan jadi pendukung kuat hak-hak perempuan.
Foto: Imago/X. Afrika
Michelle Bachelet
Michelle Bachelet sudah jadi presiden di Chili sejak 2014. Ini periode ke dua. Ia sudah pernah jadi presiden Chili dari 2006-2010. Ketika muda ia pernah dipenjara dan mengalami penyiksaan di Chili. Ia kemudia tinggal di pengasingan di Australia dan Jerman Timur, di mana ia kuliah kedokteran. Setelah kembali ke Chili tahun 1979, ia mendorong diadakannya transisi menuju demokrasi.
Foto: Getty Images/AFP/C. Reyes
Sheikh Hasina Wajed
Majalah bisnis AS, Forbes menempatkan perempuan berusia 69 tahun ini dalam daftar 100 perempuan paling berkuasa tahun 2016. "Sheikh Hasina Wajed memimpin negara dengan populasi ke delapan terbesar di dunia, yaitu 162 juta. Dan ia mulai berkuasa sejak 2009." Demikian ditulis Forbes. Penulis: D. Breitenbach, C. Burack (ml/hp)
Foto: picture-alliance/dpa/Bildfunk
10 foto1 | 10
Representasi perempuan di titik terendah
Sejak 1991, Bangladesh dipimpin perdana menteri perempuan selama hampir tiga dekade, termasuk Khaleda Zia dari BNP dan Hasina. Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tidak ada partai besar yang dipimpin perempuan.
Hasina berada di pengasingan sejak 2024, sementara Zia wafat pada Desember 2025.
Partai-partai gagal mencapai kesepakatan dengan Komisi Konsensus Nasional terkait peningkatan representasi perempuan di parlemen. Meski menandatangani Piagam Juli untuk mencalonkan perempuan di 5 persen kursi, tidak satu pun memenuhi target. BNP hanya mencalonkan 3,5 persen perempuan, sedangkan Jamaat tidak mencalonkan satu pun.
Referendum nasional atas usulan reformasi konstitusi akan digelar bersamaan dengan pemilu.
Sekretaris Jenderal Jamaat Mia Golam Parwar menyebut partainya kekurangan kandidat perempuan yang “bersedia atau memenuhi syarat” dan menyatakan perempuan akan dicalonkan pada pemilu mendatang.
Kontroversi meningkat setelah pimpinan Jamaat Shafiqur Rahman mengatakan perempuan tidak dapat memimpin partai karena “Allah menciptakan setiap orang dengan entitasnya masing-masing (…) Ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Apa yang Allah ciptakan tidak bisa diubah.”
Sebelas organisasi perempuan mengajukan pengaduan atas dugaan misogini.
Mosherefa Mishu dari Partai Revolusioner Demokratik meminta Jamaat menghentikan pernyataan antiperempuan dan meminta maaf.
Profesor Universitas Dhaka Samina Lutfa memperingatkan pembiaran pernyataan tersebut akan menormalisasi penghinaan terhadap perempuan.
Mahfuz Alam menilai posisi Islamis soal hak perempuan tidak koheren dan dapat menghambat implementasi kebijakan.
'Ngerinya' Hukuman Bagi Pelaku Korupsi di Negara Lain
Berbagai macam hukuman dijatuhkan bagi para pelaku korupsi di berbagai penjuru dunia. Tak sedikit yang membuat ciut nyali. Simak daftarnya.
Foto: picture-alliance/K. Ohlenschläger
Hukuman Mati di Cina
Cina dikenal sebagai salah satu negara yang paling keras dalam menindak pelaku korupsi. Mereka yang terbukti merugikan negara lebih dari 100.000 yuan atau setara 215 juta rupiah akan dihukum mati. Salah satunya Liu Zhijun, mantan Menteri Perkeretaapian China ini terbukti korupsi dan dihukum mati. Vonis ini marak diberlakukan semenjak Xi Jinping menjabat sebagai presiden negeri tirai bambu tersebut
Foto: Reuters/M. Schiefelbein
Hukum Gantung di Malaysia
Sejak tahun 1961, Malaysia sudah mempunyai undang-undang anti korupsi bernama Prevention of Corruption Act. Kemudian pada tahun 1982 Badan Pencegah Rasuah (BPR) dibentuk untuk menjalankan fungsi tersebut. Pada 1997 Malaysia akhirnya memberlakukan undang-undang Anti Corruption Act yang akan menjatuhi hukuman gantung bagi pelaku korupsi.
Foto: Imago/imagebroker
Bunuh Diri di Jepang
Jepang tidak mempunyai undang-undang khusus mengenai korupsi. Di sini pelaku korupsi akan diganjar hukuman maksimal 7 tahun penjara. Namun karena budaya malu di negeri matahari terbit ini masih sangat kuat, korupsi bak aib besar bagi seorang pejabat negara. Tahun 2007 silam Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Toshikatsu Matsuoka melenyapkan nyawa sendiri di tengah skandal korupsi.
Foto: AP
Jerman Minta Balik Dana Korupsi
Korupsi juga terjadi di negara-negara maju di Eropa, salah satunya Jerman. Negeri di jantung Eropa ini sebetulnya sudah memiliki sistem transparansi keuangan yang baik. Namun, jika seseorang terbukti korupsi ia wajib mengembalikan seluruh uang yang dikorupsi dan mendekam rata-rata lima tahun di penjara.
Foto: Getty Images/M. MacMatzen
Dikucilkan di Korea Selatan
Di negeri ginseng ini para pelaku korupsi akan mendapatkan sanksi sosial yang luar biasa. Mereka akan dikucilkan oleh masyarakat bahkan oleh keluarganya sendiri. Salah satu contohnya mantan presiden Korea Selatan, Roh Moo Hyun. Karena dikucilkan oleh keluarganya dan tak kuat menahan rasa malu atas kasus korupsi yang menjeratnya, ia memilih bunuh diri dengan lompat dari tebing.
Foto: picture alliance/AP Photo/L.Jin-man
Denda Raksasa di Amerika
Amerika tidak menerapkan hukuman mati bagi para pelaku koruptor di negaranya karena alasan hak asasi manusia. Biasanya para pelaku koruptor akan divonis 5 tahun penjara plus membayar denda sebesar 2 juta dollar. Adapun mereka yang masuk kedalam kategori kasus korupsi berat, terancam hukuman kurung maksimal 20 tahun penjara.
Foto: Getty Images/AFP/O. Kose
Hukuman Ringan Ditambah Remisi di indonesia
Indonesia diketahui terus berbenah dalam memerangi tindak pidana korupsi. Salah satunya dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2002. Di Indonesia pelaku korupsi divonis maksimal 20 tahun penjara, namun terkadang itu juga tidak diterapkan sampai akhir. Nantinya mereka akan mendapatkan remisi. Tak sedikit juga yang divonis dengan hanya tiga atau empat tahun penjara. (rap/rzn)
Foto: Adek Berry/AFP/Getty Images
7 foto1 | 7
Tantangan reformasi antikorupsi
Korupsi, isu utama pemilih, menjadi tema sentral kampanye.
Jamaat menuduh BNP memanfaatkan agama untuk kepentingan politik, sementara BNP menyoroti keterlibatan Jamaat dalam pemerintahan koalisi 2001–2006, ketika Bangladesh dinilai sebagai negara paling korup di dunia selama lima tahun berturut-turut dalam Indeks Persepsi Korupsi Transparency International.
Jamaat kini menjauh dari catatan tersebut, meski dua anggotanya pernah menjadi menteri.
Pemerintahan interim membentuk 11 badan reformasi, termasuk Komisi Reformasi Antikorupsi. Namun ketuanya, Iftekharuzzaman dari Transparency International Bangladesh, mengatakan sebagian besar rekomendasi tidak dijalankan.
Ia menyebut upaya memperkuat independensi Komisi Antikorupsi sempat disetujui, tetapi kemudian dibatalkan akibat tekanan birokrasi.
Mahfuz Alam menuding “kelompok lama” dalam pemerintahan menghambat reformasi dan memberi nilai kinerja pemerintahan interim tidak lebih dari 4 dari 10.
Para pemimpin mahasiswa yang menggulingkan AL tersingkir dari pemerintahan interim dalam waktu sebulan, yang disebut Alam sebagai “konspirasi istana.”
Dengan pemilu semakin dekat, keraguan tetap ada apakah partai mana pun akan melanjutkan agenda reformasi. Iftekharuzzaman menyebut implementasi akan sangat sulit, sementara Alam mengaku tetap meragukannya.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris