1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikBangladesh

Jelang Pemilu Bangladesh, Koalisi Islamis Menguat

Anupam Deb Kanunjna
11 Februari 2026

Tanpa Liga Awami di surat suara, pemilu Bangladesh kali ini menandai pergeseran besar. Aliansi Islamis menguat, perdebatan sekularisme kembali mencuat, dan agenda reformasi terancam mandek di tengah polarisasi politik.

Bangladesh, Dhaka 2026 | Pemimpin aliansi 11 partai dalam kampanye akbar di Mohammadpur
Jamaat-e-Islami berupaya mengonsolidasikan suara Islamis dengan membentuk aliansi elektoral yang terdiri dari 11 partaiFoto: Mamunur Rashid/NurPhoto/picture alliance

Bangladesh akan menggelar pemilihan umum pada 12 Februari dalam kontestasi yang berbeda dari periode-periode sebelumnya.

Partai yang selama ini mendominasi, Awami League (AL), dilarang ikut serta. Dalam kekosongan politik tersebut, aliansi Islamis yang diperkuat Partai Warga Nasional (National Citizen Party/NCP) yang dipimpin mahasiswa, muncul sebagai penantang kuat. Untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan pada 1971, kekuatan Islamis diperkirakan mencatatkan perolehan suara terkuatnya, mengubah ekspektasi terhadap arah politik negara mayoritas Muslim itu.

Perubahan drastis ini terjadi setelah pemberontakan mahasiswa pada Juli 2024 yang mengakhiri pemerintahan keras Perdana Menteri saat itu, Sheikh Hasina. Sejumlah petinggi AL kini menghadapi persidangan atas kematian ratusan orang selama kerusuhan.

Pada November, Pengadilan Kejahatan Internasional Bangladesh memvonis Hasina bersalah atas tuduhan menghalangi keadilan, memerintahkan pembunuhan, dan gagal mencegah kekerasan. Hasina kini berada di pengasingan di India.

Dengan AL dibekukan sambil menunggu proses hukum, simbol ikonik partai tersebut, perahu, untuk pertama kalinya tidak akan muncul di surat suara.

Blok Islamis menguat

Di tengah kekosongan ini, Jamaat-e-Islami (JI), yang lama terpinggirkan karena menentang perang kemerdekaan 1971, berupaya mengonsolidasikan suara Islamis.

Meski mitra kunci Islami Andolan mundur di menit terakhir akibat sengketa pembagian kursi, 11 partai tetap bersatu di bawah kepemimpinan Jamaat.

Secara historis, partai-partai Islamis kesulitan meraih suara signifikan. Namun survei terbaru menunjukkan persaingan ketat. International Institute of Law and Diplomacy mencatat aliansi yang dipimpin Bangladesh Nationalist Party (BNP) memperoleh 44,1 persen, sedikit unggul dari blok Jamaat dengan 43,9 persen. Beberapa jajak pendapat lain memproyeksikan BNP meraih keunggulan kursi yang lebih nyaman.

Analis politik Altaf Parvez menilai Bangladesh telah bergeser dari tengah-kiri ke tengah-kanan, bahkan lebih jauh ke kanan. “Masyarakat sudah menerima bahwa siapa pun pemenang pemilu, mereka akan hidup dalam Bangladesh yang condong ke kanan,” ujarnya kepada DW.

BNP, yang sebelumnya bersekutu dengan Jamaat untuk melawan AL, kini bersaing langsung dengan koalisi Islamis, terutama dalam memperebutkan suara jutaan pemilih muda yang tergerak oleh pemberontakan 2024. Untuk menarik pemilih ragu-ragu, BNP kembali menyoroti warisan Jamaat pada 1971 dengan melabelinya sebagai “antikemerdekaan.”

Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), yang sebelumnya bersekutu dengan Jamaat untuk menghadapi Awami League (AL), kini berada dalam persaingan langsung dengan koalisi IslamisFoto: Zabed Hasnain Chowdhury/NurPhoto/picture alliance

NCP dan politik pragmatisme yang memecah internal

Kejutan terbesar dalam siklus pemilu ini adalah langkah NCP, kekuatan mahasiswa yang menjadi motor pemberontakan 2024. Setahun lalu, pimpinan NCP menyatakan akan maju sendiri secara nasional.

Pada Februari 2025, koordinator NCP Nahid Islam mengatakan kepada media India bahwa “pemilih tidak akan percaya pada kepemimpinan Jamaat.” Ia menilai politik Islamis “tidak memiliki masa depan di Bangladesh.”

Keputusan NCP bergabung dengan aliansi pimpinan Jamaat kurang dari setahun kemudian mengejutkan pendukungnya.

Dalam wawancara dengan DW pada Januari 2026, Nahid Islam menegaskan kerja sama itu “bukan ideologis, melainkan murni elektoral.” Ia menyebut tidak realistis membangun kehadiran nasional dalam waktu satu tahun. Aliansi tersebut, katanya, memberi “kesempatan memengaruhi reformasi pascapemilu.” Ia juga menilai Jamaat lebih dekat dibanding BNP dalam isu reformasi dan antikorupsi.

Namun langkah ini memicu perpecahan internal. Sejumlah pimpinan senior mengancam mundur dan secara terbuka menentang keputusan tersebut.

Wakil koordinator senior Samantha Sharmin mengatakan kepada DW bahwa banyak pemilih melihat NCP sebagai alternatif politik lama, tetapi kini ragu apakah masih perlu mendukung partai itu. Ia menilai Jamaat bukan mitra yang dapat diandalkan, mengingat dukungannya terhadap Pakistan pada 1971.

Perdebatan sekularisme kembali mencuat

Pemilu kali ini juga menghidupkan kembali perdebatan tentang identitas konstitusional Bangladesh.

Konstitusi pertama tahun 1972 menegaskan sekularisme sebagai prinsip dasar. Namun rezim militer kemudian mengubahnya: pada 1979 di bawah Ziaur Rahman ditambahkan frasa “Bismillahir Rahmanir Rahim” dalam pembukaan, dan pada 1988 Presiden Hussain Muhammad Ershad menetapkan Islam sebagai agama negara.

Pascapemberontakan 2024, tuntutan penulisan ulang konstitusi menyempit menjadi reformasi terbatas. Komisi Reformasi Konstitusi merekomendasikan Islam tetap sebagai agama negara dan sekularisme tidak dicantumkan.

Sekretaris Jenderal BNP Mirza Fakhrul Islam Alamgir mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sekularisme “tidak cocok” bagi Bangladesh yang mayoritas Muslim. “Jika hak mereka dapat dijamin, maka tidak ada masalah,” ujarnya.

Meski AL mengeklaim membela sekularisme, partai itu tidak pernah mencabut status istimewa Islam.

Empat partai kiri memboikot pertemuan penting pada Juli sebagai protes atas dihilangkannya sekularisme dari usulan reformasi.

Mahfuz Alam, salah satu penggerak pemberontakan dan penasihat interim yang baru mengundurkan diri, mengatakan kepada DW bahwa perpecahan antara kelompok sekuler dan Islamis telah mengeras menjadi konfrontasi terbuka tanpa ruang negosiasi.

Analis Pervez memperingatkan kelompok minoritas, agama, gender, maupun ideologi, berisiko semakin terpinggirkan. Ia menyebut parlemen berikutnya berpotensi menjadi “klub orang kaya” dengan representasi terbatas bagi pekerja, petani, perempuan, dan minoritas.

Representasi perempuan di titik terendah

Sejak 1991, Bangladesh dipimpin perdana menteri perempuan selama hampir tiga dekade, termasuk Khaleda Zia dari BNP dan Hasina. Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tidak ada partai besar yang dipimpin perempuan.

Hasina berada di pengasingan sejak 2024, sementara Zia wafat pada Desember 2025.

Partai-partai gagal mencapai kesepakatan dengan Komisi Konsensus Nasional terkait peningkatan representasi perempuan di parlemen. Meski menandatangani Piagam Juli untuk mencalonkan perempuan di 5 persen kursi, tidak satu pun memenuhi target. BNP hanya mencalonkan 3,5 persen perempuan, sedangkan Jamaat tidak mencalonkan satu pun.

Referendum nasional atas usulan reformasi konstitusi akan digelar bersamaan dengan pemilu.

Sekretaris Jenderal Jamaat Mia Golam Parwar menyebut partainya kekurangan kandidat perempuan yang “bersedia atau memenuhi syarat” dan menyatakan perempuan akan dicalonkan pada pemilu mendatang.

Kontroversi meningkat setelah pimpinan Jamaat Shafiqur Rahman mengatakan perempuan tidak dapat memimpin partai karena “Allah menciptakan setiap orang dengan entitasnya masing-masing (…) Ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Apa yang Allah ciptakan tidak bisa diubah.”

Sebelas organisasi perempuan mengajukan pengaduan atas dugaan misogini.

Mosherefa Mishu dari Partai Revolusioner Demokratik meminta Jamaat menghentikan pernyataan antiperempuan dan meminta maaf.

Profesor Universitas Dhaka Samina Lutfa memperingatkan pembiaran pernyataan tersebut akan menormalisasi penghinaan terhadap perempuan.

Mahfuz Alam menilai posisi Islamis soal hak perempuan tidak koheren dan dapat menghambat implementasi kebijakan.

Tantangan reformasi antikorupsi

Korupsi, isu utama pemilih, menjadi tema sentral kampanye.

Jamaat menuduh BNP memanfaatkan agama untuk kepentingan politik, sementara BNP menyoroti keterlibatan Jamaat dalam pemerintahan koalisi 2001–2006, ketika Bangladesh dinilai sebagai negara paling korup di dunia selama lima tahun berturut-turut dalam Indeks Persepsi Korupsi Transparency International.

Jamaat kini menjauh dari catatan tersebut, meski dua anggotanya pernah menjadi menteri.

Pemerintahan interim membentuk 11 badan reformasi, termasuk Komisi Reformasi Antikorupsi. Namun ketuanya, Iftekharuzzaman dari Transparency International Bangladesh, mengatakan sebagian besar rekomendasi tidak dijalankan.

Ia menyebut upaya memperkuat independensi Komisi Antikorupsi sempat disetujui, tetapi kemudian dibatalkan akibat tekanan birokrasi.

Mahfuz Alam menuding “kelompok lama” dalam pemerintahan menghambat reformasi dan memberi nilai kinerja pemerintahan interim tidak lebih dari 4 dari 10.

Para pemimpin mahasiswa yang menggulingkan AL tersingkir dari pemerintahan interim dalam waktu sebulan, yang disebut Alam sebagai “konspirasi istana.”

Dengan pemilu semakin dekat, keraguan tetap ada apakah partai mana pun akan melanjutkan agenda reformasi. Iftekharuzzaman menyebut implementasi akan sangat sulit, sementara Alam mengaku tetap meragukannya.

 

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait