Berbeda dengan pemilu sebelumnya, isu lingkungan tidak menonjol dalam kampanye pemilu dini Jerman tahun ini. Isu yang lebih dominan adalah bagaimana menekan imigrasi ilegal dan meningkatkan perekonomian Jerman yang lesu.
Jerman selama ini telah dilanda banjir besar yang dikaitkan dengan perubahan iklimFoto: Robert Michael/dpa/picture alliance
Iklan
Ketika koalisi pemerintahan yang terdiri dari Partai Sosial Demokrat (SPD) yang berhaluan kiri-tengah, Partai Hijau, dan Partai Liberal Demokrat (FDP), terbentuk setelah pemilu federal Jerman pada musim gugur 2021, kanselir terpilih saat itu, Olaf Scholz (SPD), tidak keberatan disebut sebagai "kanselir iklim." Tidak mengherankan, karena krisis iklim menjadi isu utama dalam kampanye pemilu.
Pemerintah baru saat itu menjadikan upaya melawan perubahan iklim sebagai tugas Kementerian Ekonomi dan menunjuk Wakil Kanselir Robert Habeck dari Partai Hijau sebagai kepala kementerian tersebut.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Namun, tiga setengah tahun kemudian, pidato kampanye hampir tidak lagi menyebut perlindungan iklim. Isu yang lebih dominan adalah bagaimana menekan imigrasi ilegal dan meningkatkan perekonomian Jerman yang lesu.
Hutan di Jerman Hadapi Kemusnahan Massal
Kesehatan hutan di Jerman merosot drastis. Pemanasan global dan manajemen yang buruk jadi faktor utama kematian banyak pohon di hutan seluruh negeri. Masalah kesehatan hutan kini jadi isu nasional.
Foto: DW/S. A. Diehn
Hutan sedang sekarat
Sebagian hutan di Jerman sekarat, karena musim panas yang sangat kering dan lebih panas. Wabah kumbang pengerek kulit kayu yang menyukai panas hancurkan hutan cemara di mana-mana. Lebih banyak pohon mati di Jerman pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, termasuk pohon beech yang ditanam secara luas dalam dekade terakhir terkait ketahanan iklimnya.
Foto: picture-alliance/dpa/Bildfunk/S. Pförtner
Iklim atau pengelolaan hutan yang harus disalahkan?
Ketika krisis iklim dan kumbang pengerek kulit kayu yang merajalela jadi penyebab utama yang dicemaskan, pertemuan puncak hutan di Jerman bertujuan mengkaji ulang dan menyelaraskan kembali cara pengelolaan hutan. Salah satu contohnya, penanaman luas pohon cemara konifer yang tumbuh cepat setelah Perang Dunia II di habitat bukan aslinya.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Stratenschulte
Setengah dari hutan bisa mati
"Ini hutan buatan yang sedang sekarat," kata rimbawan dan penulis Jerman, Peter Wohlleben. "Ini bukan hutan alami, bukan hutan purba," katanya kepada DW. "Dalam 10 tahun ke depan, kita bisa melihat 50% atau lebih hutan mati karena pengelolaan yang buruk." Hutan cemara hanya menyimpan sekitar 5% air hujan karena pemadatan tanah saat panen. Musim panas yang kering juga menambah faktor ini.
Foto: Jan Eifert/dpa/picture-alliance
Biarkan hutan hidup mandiri
"Untuk melawan perubahan iklim, yang terbaik adalah membiarkan hutan tumbuh dengan sendirinya" kata Wohlleben, penulis buku terlaris "The Hidden Life of Trees." "Ekosistem jika dibiarkan pada habitat sendiri akan jauh lebih tangguh." Wohlleben adalah pendiri Akademi Hutan di Jerman, yang jadi tuan rumah pertemuan puncak krisis hutan.
Foto: privat
Hutan juga punya jejaring sosial
Pohon punya kepedulian terhadap komunitasnya, mereka belajar dari yang lainnya, terutama di saat kekeringan, kata Wohlleben. Jika satu pohon mengetahui air mulai langka, pohon ini akan meneruskan informasinya ke pohon-pohon lain dan secara kolektif mengurangi konsumsi air. "Semakin kita mengganggu jejaring sosial ini, semakin lemah hutannya," kata penulis kepada DW.
Foto: picture-alliance/blickwinkel/R. Bala
Kuncinya adalah keanekaragaman hayati
"Perlindungan keanekaragaman hayati harus menjadi dasar untuk apa pun yang kita lakukan," kata Judith Reise, seorang peneliti di Institut ekologi Jerman, terkait strategi penyelamatan hutan. Ekosistem hutan yang beragam dan tangguh hadapi perubahan iklim, perlu waktu hingga 400 tahun hingga menjadi netral karbon. Sejauh ini baru 2,8% hutan di Jerman dilindungi biodiversitasnya.
Foto: Ina Fassbender/AFP/Getty Images
Jerman perlu hutan belantara alami
Hutan tertua yang tidak terganggu di pulau Vilm Jerman, usianya hanya sekitar 300 tahun, jelas Reise. "Kami tidak memiliki hutan belantara di Jerman," katanya. Hutan telah dikelola secara berlebihan untuk budidaya kayu, tapi juga karena kepercayaan budaya bahwa hutan juga untuk rekreasi. Itu memicu pembersihan kayu mati yang penting untuk biodiversitas.
Foto: picture alliance/dpa/S. Sauer
Kayu dapat membantu mitigasi perubahan iklim
Diperlukan dorongn untuk panen kayu yang berkelanjutan, untuk melawan perubahan iklim. Terutama memakai material kayu untuk menggantikan bahan bangunan dengan emisi karbon tinggi seperti baja dan beton. "Ini bisa menjadi solusi yang sangat kuat," kata Christopher Reyer, peneliti di Institut Penelitian Dampak Iklim di Potsdam.
Foto: DW/S. A. Diehn
8 foto1 | 8
Pandangan skeptis terhadap energi terbarukan
Ketua Uni Kristen Demokrat (CDU) yang berhaluan kanan-tengah, Friedrich Merz, yang menurut jajak pendapat kemungkinan besar akan menjadi kanselir Jerman berikutnya, sering menyatakan bahwa sekitar 29.000 turbin angin pembangkit listrik di Jerman sebagai sesuatu hal yang mengganggunya.
Iklan
Pada November 2024, Merz mengatakan kepada penyiar publik ZDF: "Saya bahkan percaya bahwa jika kita melakukan segalanya dengan benar, suatu hari kita bisa membongkar turbin angin itu, karena mereka jelek."
Blok CDU/CSU percaya pada energi nuklir sebagai sumber energi, meskipun perkembangan teknologi di bidang ini telah mengalami stagnasi selama beberapa dekade. Tahun lalu, pembangkit listrik dari sumber terbarukan seperti tenaga surya dan angin menyumbang sekitar 56% dari produksi energi Jerman.
Merz ingin menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir, yang terakhir kali beroperasi pada 2023. Namun, target negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 65% pada 2030 dibandingkan dengan tingkat tahun 1990 tidak termasuk dalam rencana CDU/CSU.
"Fakta bahwa krisis iklim yang semakin parah tidak termasuk dalam tiga isu utama kampanye pemilu ini sungguh tidak dapat dipahami dan tidak bertanggung jawab," kata Martin Kaiser, pakar iklim dari organisasi lingkungan Greenpeace, kepada DW. "Karena saat ini, kita membutuhkan kebijakan iklim yang konsisten dan berorientasi sosial."
Cuaca Ekstrem Mematikan Kejutkan Dunia
Dari Jerman, Kanada hingga Cina, gambar-gambar dramatis dari dampak buruk cuaca ekstrem telah mendominasi kepala berita baru-baru ini. Apakah krisis iklim yang menjadi penyebabnya?
Foto: AFP/Getty Images
Banjir bandang dahsyat di Eropa
Banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya ini disebabkan oleh hujan lebat selama dua hari berturut-turut. Aliran air yang sempit meluap menjadi amukan banjir hanya dalam hitungan jam dan menghantam perumahan warga. Sedikitnya 209 orang tewas di Jerman dan Belgia. Upaya pemulihan rumah, bisnis, dan infrastruktur yang rusak diperkirakan menelan biaya miliaran euro.
Foto: Thomas Lohnes/Getty Images
Musim hujan ekstrem
Banjir juga melanda sebagian wilayah di India dan Cina bagian tengah. Hujan turun sangat lebat, bahkan lebih deras dari yang biasanya turun di musim hujan. Para ilmuwan memperkirakan bahwa perubahan iklim akan menyebabkan curah hujan yang lebih sering dan intens, karena udara yang lebih hangat menahan lebih banyak air, sehingga menciptakan lebih banyak hujan.
Foto: AFP/Getty Images
Banjir menggenangi Cina bagian tengah
Curah hujan yang memecahkan rekor selama berhari-hari menyebabkan banjir dahsyat di seluruh provinsi Henan, Cina, pada akhir Juli. Puluhan orang tewas, ratusan ribu lainnya mengungsi, dan banyak warga masih dilaporkan hilang. Di Zhengzhou, ibu kota provinsi Henan, warga terjebak di rel kereta bawah tanah ketika banjir datang. Daerah pedesaan dilaporkan terkena dampak lebih parah.
Foto: Courtesy of Weibo user merakiZz/AFP
Rekor suhu panas di AS dan Kanada
Suhu yang semakin panas juga menjadi lebih umum terjadi. Seperti di negara bagian Washington dan Oregon di AS dan provinsi British Columbia di Kanada pada akhir Juni lalu. Ratusan kematian terkait suhu panas dilaporkan terjadi di sana. Desa Lytton di Kanada bahkan mencatat suhu tertinggi hingga 49,6 Celcius.
Foto: Ted S. Warren/AP/picture alliance
Kebakaran hutan memicu badai petir
Gelombang panas mungkin sudah berakhir tetapi kondisi kering telah memicu salah satu musim kebakaran hutan paling intens di Oregon, AS. Kebakaran yang dijuluki Oregon’s Bootleg Fire itu menghanguskan area seluas Los Angeles hanya dalam waktu dua minggu. Saking besarnya, asap dari kebakaran dilaporkan sampai ke New York.
Foto: National Wildfire Coordinating Group/Inciweb/ZUMA Wire/picture alliance
Amazon mendekati ‘titik kritis’?
Brasil bagian tengah dilaporkan mengalami kekeringan terburuk dalam 100 tahun, sehingga meningkatkan risiko kebakaran dan deforestasi lebih lanjut di hutan hujan Amazon. Menurut para ilmuwan, sebagian besar wilayah tenggara Amazon telah berubah fungsi dari yang awalnya menyerap emisi, kini berubah menjadi memancarkan emisi CO2, menempatkan Amazon lebih dekat ke ‘titik kritis’.
Foto: Andre Penner/AP Photo/picture alliance
‘Di ambang bencana kelaparan’
Setelah bertahun-tahun alami kekeringan, lebih dari 1,14 juta orang di Madagaskar mengalami kerawanan pangan. Beberapa dari mereka terpaksa memakan kaktus mentah, daun liar, dan belalang, dalam kondisi yang mirip seperti ‘wabah kelaparan’. Nihilnya bencana atau konflik membuat situasi di sana disebut sebagai kelaparan pertama dalam sejarah modern yang semata-mata disebabkan oleh perubahan iklim.
Foto: Laetitia Bezain/AP photo/picture alliance
Melarikan diri dari bencana
Tahun 2020, jumlah orang yang melarikan diri dari konflik dan bencana alam mencapai level tertinggi dalam 10 tahun. Jumlah orang yang berpindah di dalam negera mereka sendiri mencapai rekor 55 juta, sementara 26 juta lainnya melarikan diri hingga melintasi perbatasan. Sebuah laporan dari pemantau pengungsi pada bulan Mei menemukan tiga perempat dari pengungsi internal adalah korban cuaca ekstrem.
Foto: Fabeha Monir/DW
London terendam banjir
Tidak hanya negara-negara di Eropa utara, Inggris juga dilanda banjir bandang. Beberapa bagian London dibanjiri oleh air yang naik dengan cepat karena hujan lebat dalam satu hari. Stasiun kereta bawah tanah dan jalan-jalan juga terendam banjir. Menurut Wali Kota London Sadiq Khan, banjir bandang menunjukkan bahwa “bahaya perubahan iklim kini bergerak lebih dekat ke rumah.”
Foto: Justin Tallis/AFP/Getty Images
Yunani ‘meleleh’ akibat gelombang panas
Sementara negara-negara di Eropa utara mengalami banjir, negara di bagian selatan seperti Yunani justru dicengkeram oleh gelombang panas di awal musim panas. Di minggu pertama bulan Juli, suhu melonjak hingga 43 derajat Celcius. Tempat-tempat wisata seperti Acropolis terpaksa ditutup pada siang hari, sementara panas ekstrem memicu kebakaran hutan di luar kota Thessaloniki.
Foto: Sakis Mitrolidis/AFP/Getty Images
Sardinia dilanda kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya
“Ini adalah kenyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Sardinia,” kata Gubernur Sardinia Christian Salinas tentang kebakaran hutan di sana. “Sejauh ini, 20.000 hektar hutan yang mewakili sejarah lingkungan selama berabad-abad di pulau kami telah hangus menjadi abu," tambahnya. Sedikitnya 1.200 orang dievakuasi akibat kebakaran tersebut. (gtp/hp)
Foto: Vigili del Fuoco/REUTERS
11 foto1 | 11
Minyak dan gas dari AS
Baru-baru ini, kelompok lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF) merasa kecewa ketika Kanselir Scholz menyatakan dukungan terhadap impor minyak dan gas cair dari AS dalam sebuah wawancara dengan surat kabar bisnis Jerman, Handelsblatt. Scholz berargumen bahwa peningkatan impor akan menurunkan harga energi.
Namun, Heike Vesper, salah satu direktur WWF Jerman, mengatakan: "Lebih banyak minyak dan gas di pasar dunia hanya berarti satu hal: memperburuk krisis iklim. Konsekuensinya adalah kerusakan bernilai miliaran euro—dan ekonomi yang tidak stabil."
Meski begitu, perlindungan iklim tetap menjadi salah satu perhatian utama Partai Hijau.
"Saya merasa sangat ceroboh bahwa partai-partai lain sekarang justru menentang perlindungan iklim," kata Menteri Lingkungan Steffi Lemke dari Partai Hijau kepada DW. "Kita tahu bahwa kita membutuhkan perlindungan iklim dan adaptasi terhadap perubahan iklim."
Membuat Hutan Jerman Kebal Penyakit dan Tahan Krisis Iklim
03:54
This browser does not support the video element.
Kemunduran kebijakan iklim
Kaiser, pakar dari Greenpeace, menilai bahwa rekam jejak iklim koalisi pemerintahan SPD, Partai Hijau, dan FDP, yang kini telah berakhir, sangat mengecewakan. Ia mengatakan bahwa respons terhadap perang agresi Rusia terhadap Ukraina serta putusan Mahkamah Konstitusi yang menyebabkan pemotongan anggaran telah merusak kepercayaan, terutama dalam kebijakan iklim pemerintah.
Pada November 2023, pengadilan tertinggi Jerman itu memutuskan bahwa pemerintah tidak diperbolehkan menggunakan kembali sekitar €60 miliar (sekitar Rp1.025 triliun) dana yang awalnya dialokasikan untuk perlindungan iklim. Dana tersebut sebelumnya ditujukan untuk mengatasi dampak ekonomi pandemi COVID-19, tetapi pengadilan menyatakan bahwa penggunaannya untuk tujuan lain tidak diperbolehkan.
Sebagai tanggapan atas putusan itu, pemerintah memotong berbagai anggaran, termasuk subsidi pembelian mobil listrik, yang menyebabkan penurunan penjualan.
Pada 2023, rencana Menteri Ekonomi Habeck untuk undang-undang baru yang menghapus sistem pemanas berbahan bakar fosil bocor ke publik. Undang-undang tersebut menetapkan bahwa mulai 2024, sistem pemanas di bangunan baru harus menggunakan energi terbarukan. Rencana ini memicu perdebatan sengit selama berbulan-bulan di pemerintahan dan masyarakat sebelum akhirnya disahkan dengan sejumlah perubahan besar untuk mengurangi beban biaya bagi rumah tangga individu. Kepercayaan publik terhadap Habeck dan Partai Hijau pun merosot.
Kaiser menambahkan bahwa kementerian Transportasi dan Konstruksi yang dipimpin FDP juga gagal merancang langkah-langkah untuk mengurangi emisi CO2. Ia mengatakan bahwa mitra koalisi FDP, yaitu SPD dan Partai Hijau, justru membiarkan hal ini terjadi karena khawatir koalisi bisa runtuh jika terlalu menekan FDP.
Dalam kampanye pemilu sebelum pemungutan suara pada 23 Februari, perlindungan iklim tetap tidak menjadi prioritas meskipun sering terjadi badai dan bencana banjir yang dikaitkan dengan perubahan iklim serta meningkatnya suhu dan permukaan laut secara global.
"Kapan pun bencana cuaca ekstrem berikutnya terjadi, misalnya banjir berikutnya di Bayern, kita akan kembali menyadari bahwa semua ini terjadi sangat dekat dengan rumah kita," kata Lisa Badum, pakar iklim dari fraksi Partai Hijau di Bundestag, majelis rendah parlemen Jerman.
"Ketika kita melihat situasi di panggung internasional dan menyadari bahwa Donald Trump telah menarik diri dari perjanjian iklim PBB, menjadi semakin penting bagi Eropa untuk bergerak maju," tambahnya. "Dan itu tidak akan terjadi tanpa Jerman."