1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemilu Jerman Menurut Warga Migran

21 September 2009

Sekitar 19 persen penduduk di Jerman memiliki latar belakang migrasi. Banyak di antaranya kini berkewarganegaraan Jerman. Tapi, apakah mereka memberikan pengaruh ke bidang politik di Jerman?

Wahlplakat des türkisch-stämmigen Özcan Mutlu
Poster seorang kandidat warga migran asal Turki untuk parlemen BerlinFoto: dpa

Partai-partai politik seperti Partai Sosialis Demokrat SPD, Partai Uni Kristen Demokrat CDU dan lainnya mencetak banyak sekali brosur kampanye yang bertemakan integrasi dan brosur dalam berbagai bahasa juga dicetak, dengan tujuan untuk menggerakkan para pemilih berlatar belakang migrasi untuk memberikan suaranya dalam pemilu di Jerman kali ini.

Ahmet Yazici, migran asal Turki, datang ke Jerman pada tahun 1969. Waktu itu dia datang sebagai pekerja tamu di perusahaan Siemens sebagai petugas di ban berjalan. Tujuh dari delapan anaknya lahir di Berlin. Pria berusia 63 tahun itu saat ini sudah pensiun dan sejak tahun 1999 menjadi warga negara Jerman. Tapi sejak dia memiliki paspor Jerman, dia baru sekali memberikan suaranya dalam pemilihan umum.

„Saya tidak merasa para politisi Jerman memperhatikan kami, para migran. Dalam pemilu terakhir dulu, saya, seperti juga banyak lainnya, memilih SPD, karena mereka berkampanye akan menerapkan sistem kewarganegaraan ganda. Pada akhirnya kami seperti orang bodoh, tidak ada yang terjadi. Dalam masa kampanye, mereka mengirim politisi Jerman berlatar belakang migrasi ke perkumpulan masyarakat Turki atau ke kafe-kafe. Tapi mereka tidak mendengarkan kami dengan sungguh-sungguh. Suara kami didengar hanya hingga hari pemungutan suara. Oleh sebab itu, kali ini saya tidak akan memilih,“ ungkap Ahmet Yazici.

Menurut Emine Eker, putri Ahmet Yazici, pemerintah Jerman gagal melibatkan generasi para pekerja tamu ke politiknya. „Saya lahir dan dibesarkan di Berlin. Hingga tahun 1996 saya memegang paspor Turki. Waktu itu saya merasa seperti harus memilih buah simalakama. Saya ingin membangun kehidupan di Jerman, tanpa melepaskan identitas Turki saya, dan saya tidak bisa. Karena penentuan pilihan politik sangatlah penting. Oleh sebab itu, 13 tahun lalu saya berganti kewarganegaraan. Tapi tahukah Anda, walau pun seseorang memegang paspor Jerman, dia tidak otomatis diperlakukan seperti orang Jerman asli.”

Emine, ibu dari dua anak, berprofesi sebagai penjahit dan muslimah yang taat. Dia ingin politik Jerman lebih terbuka terhadap agamanya, Islam. Baik itu di instansi pemerintah atau di kelas sekolah. Sudah dua kali Emine memberikan suaranya dalam pemilihan umum. Akhir September ini, dia juga akan memberikan suaranya.

“Bagi saya yang penting adalah politisinya, bukan partainya. Apa saya pikir mereka dapat dipercaya? Apakah kepentingan saya akan diwakili oleh mereka? Apakah dia otentik? Saya sangat memperhatikan hal-hal itu. Di partai mana dia berada, itu nomor dua. Makanya, bagi saya tidak penting, apakah dia adalah politisi dengan latar belakang migrasi, mungkin Turki, atau tidak. Yang penting, dia melakukan tugasnya dengan baik.”

Yavuz Akgül juga memiliki pendapat yang mirip. Pria berusia 37 tahun ini juga lahir dan besar di Jerman. Akgül saat ini berprofesi sebagai pengusaha tingkat menengah yang bergerak di bidang komputer. Putra pekerja tamu asal Turki ini menjadi warga Jerman ketika berusia 17 tahun. “Menurut kami, kerja yang bagus harus dihargai dengan upah yang adil. Untuk itu kami berjuang untuk upah minimum resmi.”

Sambil rehat minum kopi, Yavuz Akgül membuka situs internet sebuah partai politik besar, dan mencari tahu program kampanye partai itu, mulai dari kebijakan lapangan kerja hingga pendidikan. Sarjana informatika ini sangat serius dalam menentukan pilihan politiknya. Menurut Akgül, kampanye Partai Sosialis Demokrat SPD yang dikelola konsultan marketing dan Partai Hijau yang berkampanye dalam bahasa Turki dan Rusia, bukanlah cara yang baik menyambut warga migran, namun cenderung membatasi diri dari migran.

“Saya hidup di negara ini dan saya merasa sebagai orang Jerman. Untuk itu mereka tidak harus berbicara lain dengan saya. Mereka tidak perlu menyiapkan kisah ekstra untuk saya. Saya mengerti bahasanya dan saya juga dapat mengeluarkan pendapat saya dengan baik. Saya sangat terganggu jika orang berbicara pada saya sebagai migran. Saya ingin diperlakukan seperti pemilih Jerman lainnya. Poster-poster kampanye berbahasa Turki, sepertinya malah menekankan perbedaan daripada persamaan.”

Yavuz Akgül juga tahu, saat ini sangat sulit mengajak warga Jerman berlatar belakang migran untuk ikut memilih dalam pemilu. Mulai dari akademisi hingga pensiunan yang tidak berbahasa Jerman. Mereka sebenarnya ingin dihargai secara politis dan diajak berdialog dengan sejajar. Mereka ingin diperlakukan sama seperti warga berhak pilih lainnya di Jerman, baik dia bernama Müller atau Türkoglu.

Aygül Cizmecioglu/Luki Setyarini

Editor: Yuniman Farid