1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemilu Regional di Rusia

13 Maret 2007

Menjelang pemilu parlemen di akhir tahun ini dan pemilu presiden pada tahun depan, pemilu regional merupakan barometer bagi situasi politik di Rusia.

Poster kandidat dalam pemilu regional Rusia belum lama ini
Poster kandidat dalam pemilu regional Rusia belum lama iniFoto: picture-alliance/dpa

Hasil pemilu regional di Rusia yang dimenangkan partai-partai yang dekat kepada pemerintah pusat di Moskow dikomentari sejumlah harian Eropa.

Harian Swiss Basler Zeitung yang terbit di Basel dalam tajuknya menulis: Di Rusia terjadi manipulasi pemilu secara sinis.

"Pemungutan suara di Rusia sudah lama hanya sedikit berkaitan dengan pemilihan umum. Akan tetapi, kecurangan yang ditunjukkan Kremlin dalam pemilu kali ini, baik dalam seni manipulasi politik maupun penghinaan kepada warganya sendiri, sudah sangat keterlaluan. Dalam pemilu-pemilu sebelumnya, Moskow selalu berusaha agar paling tidak di luar negeri hal itu dinilai sebagai peristiwa demokrasi. Sekarang semua sudah berlalu. Manipulasi kini dilakukan secara kasar. Dan partai-partai yang tidak disukai Kremlin dilarang ikut pemilu."

Sementara harian Austria Salzburger Nachrichten menulis:

"Pemilu regional ini merupakan demokrasi bohong-bohongan di bawah presiden Vladimir Putin. Era di mana ketua-ketua partai yang kharismatis saling bersaing, sudah jadi sejarah masa lalu. Kini masalahnya adalah, siapa yang paling cocok dengan gaya kepemimpinan dari penguasa tertinggi di Kremlin. Semua yang berkaitan dengan langkah pengamanan bagi sistem kekuasaan yang dijalankan presiden di Kremlin, kini tidak perlu diragukan lagi. Cuma satu hal yang belum dilakukan, yakni menentukan penerus Putin."

Harian Italia La Repubblicca yang terbit di Roma dalam tajuknya menulis:

"Hasil pemilu kali ini merupakan etappe cukup penting. Para pemilih sudah memutuskan, mendukung strategi yang dijalankan pemerintah di Moskow. Warga menerima pemerintahan tangan besi, menimbang kenyataan sebelumnya yang penuh kekacauan. Warga Rusia menilai, dengan Putin di puncak kekuasaan, Rusia mencapai stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi. Juga Rusia kini berkiprah kembali di panggung internasional. Semua itu berkat hegemoni brutal terhadap sumber energi, yang hendak dimanfaatkan sebagai senjata politik Kremlin."

Sementara harian Jerman Hannoversche Allgemeine Zeitung yang terbit di Hannover menulis:

"Putin menjanjikan stabilitas. Mengapa warga Rusia tidak memprotes hasil pemilu yang sudah diatur? Tentu ada sebabnya. Kebebasan di tahun 90-an berdampak pada runtuhnya ekonomi dan kekacauan. Sebaliknya sistem kekuasaan Putin menjanjikan stabilitas dan peluang ekonomi. Rakyat Rusia dengan melihat ke dekade kacau, kini lebih memilih stabilitas ketimbang kebebasan. Hal itu dapat dimengerti. Namun stabilitas semacam itu dapat berdampak sebaliknya. Yakni memunculkan kekuasaan negara yang amat kuat, yang tidak dapat dikendalikan oleh siapapun."